Pencarian pada:
 
Detail Cantuman Resensi
Judul : The Photograph, Kesetiaan Sang Mat Kodak Keliling atas Profesinya Hingga Akhir Hayat
Judul Film : The Photograph
Sutradara : Nan T. Achnas
Pemeran : Indy Barends; Lim Kay Tong; Lukman Sardi; Shanty
Publikasi : Jakarta: Triximages, Salto Films & Les Petites Lumières, 2007
Penulis : Bambang Eko Nugrahanto
Sumber :
  • 9&dn
  • 20071230173856
Subjek : [ Tidak dicantumkan ]
Film selama 95 menit. Sebuah film drama, sutradara dan skenario Nan T. Achnas produksi Triximages, Salto Films & Les Petites Lumières dengan dibintangi oleh para artis terkenal Shanty, Lim Kay Tong, Lukman Sardi, Indy Barends. The Photograph memerlukan waktu cukup lama agar dapat dinikmati publik di tanah air. Dimulai penulisan skenario (2002) hingga proses syuting (2006) dan akhirnya, dirilis pada Juli 2007 lalu mempunyai nilai lebih bagi sang sutradara sekaligus penulis skenario Nan T. Achnas. Mengingat, film ini diproduksi dengan dana yang terbatas, The Photograph ingin menegaskan posisi Nan sebagai seorang sutradara yang patut diperhitungkan setelah film sebelumnya, Pasir Berbisik (2000) yang juga, memperoleh pujian dan penghargaan internasional. Pada film ini proses produksi dan syuting dilakukan di Indonesia, sedangkan mixing final dan paskal final dilakukan di Perancis. The Photograph, film cerita seorang fotografer yang memiliki tiga keinginan sebelum dirinya meninggal. Pada akhirnya keinginan tersebut dapat tercapai, walaupun dirinya sampai meninggalkan dunia. Dikisahkan, Sita [Shanty], perempuan Jawa yang berprofesi sebagai penyanyi di sebuah karaoke bar, harus pindah dari rumah saudaranya, Rosi [Indy Barends], ke sebuah kamar di loteng sempit. Kamar itu terletak di sebuah rumah yang berfungsi juga sebagai studio foto milik Johan Tanujaya [Lim Kay Tong], seorang juru foto keliling keturunan Tionghoa. Demi ingin membayar hutangnya kepada Suroso [Lukman Sardi], germo yang membawanya ke kota, Sita juga, harus kerja sambilan sebagai pekerja seks komersil. Ia juga ingin mengumpulkan cukup uang untuk dapat bertemu dan membawa anaknya, Yani, yang harus ditinggalkan bersama neneknya yang sakit-sakitan. Suatu hari, ia diperkosa dan dipukuli oleh sekumpulan pelanggan yang mabuk. Melihat hal itu, Johan pun menyelamatkan Sita. Sita lalu memutuskan untuk tidak akan kembali bekerja di bar dan memohon untuk menjadi pembantu Johan karena ia tidak sanggup membayar sewa kamar. Sita mengetahui bahwa Johan hanya akan hidup beberapa bulan lagi. Ia pun membantu Johan memenuhi tiga keinginan terakhirnya, yang diwakili oleh keberadaan tiga potret. Salah satu keinginannya yang terpenting adalah pencariannya untuk mendapatkan juru foto pengganti dirinya. Suatu saat Johan murka lantaran Sita secara tak sengaja, menemukan masa lalunya yang suram dan mengusirnya. Minggu-minggu pun berlalu hingga suatu malam, Johan yang telah sakit-sakitan meminta Sita untuk memotret dirinya. Ketika Sita akan memotret, Johan pun menghembuskan nafasnya yang terakhir. Sita lalu memutuskan untuk tetap memotret dengan menggunakan pengatur waktu otomatis dan di foto terpampang dirinya sedang tersenyum dengan Johan yang duduk di depannya, seakan-akan ia masih hidup.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia