Pencarian pada:
 
Detail Cantuman Artikel
Judul : Film Indonesia Paro Tahun 2010 : Kuantita Melejit-Animo Me
Penulis : Yan Wijaya
Sumber :
  • artikel&sub
  • detail&id
  • 93
Subjek : Perfilman

 Waktu berlalu secepat angin, tak terasa kita tiba ke paro tahun 2010. Apa kabar film Indonesia, adakah lebih sukses daripada tahun 2009 lalu? Menilik jumlah film yang diproduksi dan beredar, memang mesti dijawab “iya”. Namun, melirik sisibox office, hasil penjualan tiket serta animo penonton, mohon maaf, sangat tak menyenangkan.
Usmar Ismail & Jero Wacik
 Menurut catatan penulis, dari tanggal 1 Januari sampai 31 Juli 2010, beredar 52 judul film. Dari jumlah sebanyak itu, 21 judul meraih penghasilan di bawah (malah jauh di bawah) angka 100.000. Jadi boleh dibilang gatot (gagal total) alias flop habis-habisan. Yang cukup beruntung meraih 300.000 penonton plus, hanya 11 judul.  Satu-satunya yang menjuarai tahun ini dengan perolehan di atas 500.000 penonton, hanya 18+ (produksi StarVision, garapan sutradara paling produktif sedunia, Nayato Fionuala). Oke, jadi selain ke-12 film tersebut, sisanya belum bisa dibilang mendapatkan laba. Kecuali kalau pengembalian modal tak sepenuhnya tergantung hasil penjualan tiket, seperti dikatakan Riri Riza kepada saya, “Pada masa sekarang, terkadang sebuah film sebelum ditayangkan di bioskop, sudah balik modal.” Bagaimana mungkin? “Mungkin saja kalau keseluruhan bujet pembuatan film tersebut ditanggung oleh sponsor, jadi hasil penjualan tiket sekecil apa pun dianggap sebagai sekadar bonus belaka!” begitu salah satu kiat produser yang lihai untuk bersilat dalam situasi sesulit sekarang.
 Menurut penilaian penulis secara pribadi, film terbaik tahun ini adalah ALNI (Alangkah Lucunya Negeri Ini) besutan Deddy Mizwar. Hasil penjualan tiket tak mengecewakan, nyaris 400.000, tetapi ya masih di bawah Tiran dan Menculik Miyabi. Mau dibilang apa, hayo?! Bila Anda membuka halaman Klasika di harian Kompas setiap pagi, sekarang terpampang enam bahkan sampai delapan judul film Indonesia yang menguasai perbioskopan di Jakarta. Tak heran, karena setiap Kamis selalu ditayangkan dua judul baru. Kalau film yang sudah tayang sejak seminggu, dua minggu, bahkan tiga minggu lalu masih menangguk penonton cukup banyak, tentu saja akan diteruskan penayangannya. Jadi, kalau Usmar Ismail – Bapak Perfilman Indonesia – melihat kondisi ini, saya tidak tahu beliau akan tertawa atau terharu. Dulu, pada era 1950-an, Usmar sempat menampar manager bioskop Menteng, Jakarta Pusat, yang melecehkan dan ogah memutar filmKrisis karyanya. Padahal terbukti kemudian, film itu sangat menguntungkan karena menyedot perhatian penonton.
 Sekarang semua bioskop, bukan cuma Jaringan 21, melainkan juga Blitz Megaplex, memperebutkan film Indonesia untuk ditayangkan di bioskop masing-masing, lebih daripada film impor! Pintu terbuka lebar-lebar untuk film Indonesia jenis apa pun! Namun, membanjirnya film Indonesia membuat terjadinya persaingan sangat keras di antara sesama. Kurangnya layar membuat pengusaha bioskop bikin kebijakan baru. Bila dalam sehari terdapat enam kali jam tayang, maka dibagi dua: tiga jam tayang pertama untuk film A dan tiga jam tayang berikutnya untuk film B. Otomatis hal ini mengurangi jumlah penonton, tetapi langkah ini memang jitu, karena untuk film anak-anak misalnya, jelas nihil penonton pada pertunjukan pukul 21.00. Toh perihal ini belum disadari oleh Menbudpar Jero Wacik, yang mencanangkan utopia 200 judul film dalam setahun! Untuk slot 100 judul saja, sekarang sudah megap-megap tak karuan, bagaimana mau dibebani dua kali lipat? Jelas penonton akan sangat memilah film mana yang akan ditontonnya saat bertandang ke bioskop! Sungguh sebuah angan-angan seorang menteri yang tidak memahami masalah yang diceploskannya.
Menyambut Lebaran
 Oke, kembali pada masalah beredarnya film-film Indonesia baru. Memasuki bulan Agustus alias bulan puasa tahun ini, tampaknya papan bioskop bersih dari poster-poster film lokal. Iya dong, masa puasa-puasa dipameri gambar-gambar seronok, bisa ada pihak-pihak yang khilaf dan mengajak unjuk rasa! Jadi, selama Agustus, kembali bioskop dimeriahkan oleh film-film impor yang pasti akan mendapatkan sambutan bagus dari para penggemarnya. Sebut saja beberapa judul film pilihan yang sudah antre: Inception, The Sorcerers Apprentice, The Last Airbender, The Expendable, dan kemungkinan pula The Grand Master Ip Man, untuk menyebut sejumlah calon box-office dunia! Baru menjelang Lebaran, pada minggu pertama bulan September, film-film Indonesia jagoan kembali meluruk ke bioskop, meminggirkan Leonardo Di Caprio, Nicolas Cage, Sylvester Stallone, Jason Statham, Bruce Willis, Jet Li, Tony Leung dan kawan-kawan! Paling tidak, sudah disiapkan dari sekarang lima judul film gres untuk berlaga pada awal September 2010, antara lain:

-  Sang Pencerah, kisah hidup pahlawan nasional K.H. Ahmad Dahlan yang membenarkan kekeliruan arah kiblat di kampungnya di  Yogjakarta sepulang naik haji pada awal abad XX. Sebuah film yang  diangan-angankan oleh Hanung Bramantyo sejak terjun menyutradarai  film.

- Darah Garuda (Merah Putih II), perjuangan para tentara muda berlanjut menentang agresi Belanda di Tanah Air. Karya penyutradaraan kedua Yadi Sugandi dengan dukungan bujet kolosal dari Hashim Djojohadikusumo (Media Desa Indonesia) . Laskar Pemimpi, kelompok komedian Project Pop ternyata malihrupa menjadi barisan pejuang kocak dalam sebuah parodi dalam arahan Monty Tiwa untuk produser Chand Parwez Servia (StarVision).

- Dawai Asmara, drama – musikal yang merupakan film debut Ridho Rhoma, dengan dukungan sepenuhnya sang ayah, Rhoma Irama.

-  Madam X, produksi Nia Dinata yang memasang Aming sebagai superhero a la Cat Woman, penumpas kejahatan urban metropolis!

Bagaimana dengan para sineas unggulan lainnya? Riri Riza bersama Mira Lesmana masih sibuk menyiapkan film obsesinya, Bumi Manusia, berdasarkan novel larisnya Pramoedya Ananta Toer. “Syutingnya saja baru tahun depan, 2011,” janjinya, “sekarang masih tahap casting, pencarian para pemainnya. Siapa yang akan memerani Nyai Ontosoroh pun belum ketemu!” Rudi Sudjarwo pun tengah menyiapkan sebuah film perang. “Yang pasti lain dari yang lain!” begitu promosinya kepada penulis. Manoj Punjabi (MD Pictures) masih belum juga merampungkan dua film gacoan-nya, Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Love in Perth. Pamannya, Raam Punjabi (Multivision Plus), memang sudah membeli novelnya Damien Dematra, Demi Allah, Aku Menjadi Teroris, tapi kapan filmnya bisa dirilis masih tanda tanya. Nah, bagi Anda yang akan menjalankan ibadah puasa, penulis ucapkan selamat berpuasa, tahan dirilah untuk menahan nafsu, tidak menonton film Indonesia untuk sementara waktu dalam bulan Agustus ini. Nanti saat Lebaran, boleh puas-puasin lagi dengan film-film yang bagus-bagus!.


Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia