Pencarian pada:
 
Detail Cantuman Artikel
Judul : Film, Industri Perfilman, dan Budaya Kita
Penulis : Dr. Hasballah M. Saad
Sumber :
  • artikel&sub
  • detail&id
  • 94
Subjek : Perfilman

 Kenikmatan 
Film dan jenis tayangan hiburan lain di televisi tidak hanya enak ditonton, tetapi juga menarik untuk diperbincangkan. Jika “kenikmatan”  lebih banyak pada  adegan dan akting pemain, pakaian, aksesori yang seronok, serta dialog yang nyeleneh,  maka perbincangan  terhadap film dan produk industri perfilman akan menyuguhkan kenikmatan macam lain pula.
Film-film dari  kelompok Warkop merupakan contoh kenikmatan  pertama. Sementara memperbincangkan  film-film seperti Tjut Nyak Dien, RA Kartini, Tanah Air Beta, Laskar Pelangi, merupakan contoh kenikmatan macam lain. Film-film karya Ian Flaming di bawah “trade mark” bintang legendaris James Bond, dapat sekaligus menyuguhkan kenikmatan, kekaguman, keheranan dan surprise bagi penontonnya, sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi produsen dan pemainnya.
Bilamana film dilihat dari sisi lain, maka daya tariknya tidak kalah pula. Katakanlah  dilihat dari sisi pendidikan, kebudayaan, nasionalisme, teknologi, industri, ekonomi, dan moralitas bangsa.  Dalam kehidupan kebangsaan kita, telah sangat jelas rujukan normatif yang tersimpul dalam nilai-nilai luhur Pancasila. Namun, di sisi lain acapkali dunia realitas kehidupan kebangsaan kita masih tidak sepenuhnya mampu menerjemahkan nilai dasar kebangsaan kita itu ke dalam perilaku sehari-hari. Produk film dan industri perfilman nasional kita juga tidak terlepas dari problematika itu.
Hakikat Film dan Industri Perfilman
Suatu hal yang menarik adalah, kita tidak sadar, bahwa film sudah dapat memperpendek masa (waktu) dan memperdekat (sempit) ruang. Sebuah peristiwa yang terjadi dalam rentang waktu lama, dapat dinikmati dalam tayangan film hanya puluhan menit.  Saya teringat peristiwa Isra’ Mikraj Nabi Muhammad SAW, yang dalam perspektif ruang dan waktu biasa, akan memakan waktu dan jarak  yang  mustahil dapat dilakukan   dalam dua pertiga malam saja.  Film, dari sisi itu, telah membantu  menstimulasi  imajinasi manusia  untuk berkelana ke masa lampau, menembus ruang yang tak pernah disinggahi secara fisik, dan membangun masa depan yang penuh khayali.
Prinsip efisiensi sekaligus mengubah ruang dan waktu,  sudah dimulai dengan film dan industri film yang telah berhasil mengeksploitasi imajinasi menjadi komoditi bisnis yang bernilai ekonomi tinggi. Industri film malah lebih menjanjikan dibanding industri kuliner.  Industri film telah mampu memproduk  kebutuhan keindahan pandangan (mata), pendengaran (telinga), imajinasi (perasaan), pengetahuan (otak),  dan sebagai media komunikasi dan edukasi, termasuk propaganda tertentu.  Orang akan berubah pikiran setelah menonton film Anne Frank dan mampu melihat Yahudi dari sisi kemanusiaan serta tidak lagi melihat dari sisi kebencian dan dendam. Demikian pula orang akan melihat sisi lain  dari produk Iran, setelah menonton film The Children of Heaven yang mengisahkan penderitaan  yang “dinikmati” oleh keluarga miskin Iran dalam keteguhan hati untuk tidak mau korupsi.
Kebencian terhadap Aceh misalnya, karena dicap keras kepala, suka berontak, dan menakutkan orang luar, segera berubah ketika disuguhi film Tjut Nyak Dien atau Serambi setelahperang.
Misi Film dan Industri Film
Produk film, layar lebar, atau sinetron sudah menjadi komoditi penting dewasa ini. Nilai ekonominya cukup menggiurkan, apalagi dengan mengeksploitasi selera publik yang sedikit bersifat “hewaniah”. Saya tidak tahu persis berapa omzet yang diperoleh dari penjualan salinan CD film pendek yang dibintangi Ariel, Luna, dan Pocut kita. Namun, suatu hal yang sudah pasti, bahwa tontonan demikian akan laku keras di pasaran. Meskipun kita tahu bahwa hukum dan perundang-undangan kita  melarang, para penggemar produk tersebut berlomba-lomba  membelinya. Dan anehnya lagi, para petugas penegak hukum pun berlomba-lomba memeriksa kemiripan  “anatomi” Luna dan Pocut yang asli untuk dicocokkan dengan apa yang terekam dalam kamera itu. Apa ini bukan kesempatan untuk melihat “anatomi” yang aslinya?Dilihat dari perspektif  teknologi dan ekonomi produk film yang demikian telah meraup keuntungan  ekonomis, apakah dari sisi pendidikan, kebudayaan, nasionalisme, dan kemanusiaan telah tercapai?  Saya termasuk orang yang melihat bahwa film dan industri film nasional kita diwarnai oleh produk yang cenderung melupakan misi mulia dari industri perfilman.Namun, kita jangan kehilangan harapan. Dulu ketika masih remaja, saya pernah menonton film berjudul Bernafas dalam Lumpur karya Wim Umboh dengan pemain-pemain Suzanna dan Farouk Afero. Gedung bioskop meledak. Produsen dan pemain menikmati hasilnya. Namun, sejalan dengan itu, perilaku remaja, model dialog antarteman sebaya, cara berpakaian hingga pilihan rok dan celana anak muda waktu itu, sebagian besar diilhami oleh bintang-bintangpujaandalamfilm tersebut. Acapkali sisi pembentukan kebudayaan begini kurang disadari oleh komunitas perfilman. Padahal film dapat dijadikan model, dan industri film harus mampu mengubah perasaan dari kebencian menjadi inspirasi dalam membangun sebuah kebudayaan baru dengan belajar dan meniru, baik kelebihan maupun kesalahan dari sebuah tayangan. Dengan mengeksploitasi nafsu hewaniah dan selera penonton remaja saja, misi ekonomi cukup sukses, namun tidak dipandang selamanya sejalan dengan misi pendidikan dan kebudayaan. Apalagi manakala dilihat dari kacamata moral, etika, norma, dannilai-nilaisertanasionalismkebangsaankita. Film harus mampu mengkombinasikan kepentingan ekonomi, kepentingan politik, kebudayaan, pendidikan, dan saling mengenal budaya Nusantara dan dunia. Adalah mustahil bila film hanya menjadi alat atau media dakwah semata, atau media propaganda politik  tertentu saja. Film dan industri perfilman  merupakan unit ekonomi yang strategis, memerlukan modal besar, return yang tinggi. Namun, untuk mengejar return, tidak seharusnya mengeksploitasi selera hewaniah dengan gambaran perilaku buruk, seperti kekerasan, sikap kasar, perilaku aneh yang  lucu. 


Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia