Pencarian pada:
 
Detail Cantuman Artikel
Judul : Geliat Industri Perfilman India dan Lembaga Sensor
Penulis : Yurnaldikan
Sumber :
  • artikel&sub
  • detail&id
  • 126
Subjek : Perfilman

Siang nan cerah, di kota Mumbai – kota berpenduduk sekitar 18 juta di India, bisa dibayangkan betapa sibuknya dengan beragam aktivitas manusia. Sebagai pusat perekonomian, kota tua yang terkesan kumuh itu, sepanjang pagi hingga tengah malam, tak henti-hentinya menggeliat. Kepadatan dan kemacetan arus lalu lintas, adalah pemandangan keseharian. Sekitar 6 juta warga setiap hari memanfaatkan moda transportasi kereta api.Walau banyak hal serba kontradiktif yang bisa kita saksikan, tetapi magnet Mumbai  yang demikian luar biasa, sulit dicarikan bandingannya dengan kota-kota lain di dunia. Tak hanya sebagai pusat perekonomian dan keuangan.
Kota dengan harga tanah termahal di dunia – sekitar Rp500 juta sampai Rp1 miliar per meter persegi, dan  salah seorang warganya, Lakshmi Mittal, produsen baja terbesar di  dunia masuk daftar orang terkaya di dunia --  ini, juga tersohor sebagai pusat industri perfilman. Industri perfilman India seringkali disebut sebagai Bollywood, untuk menganalogikannya dengan Hollywood, industri film raksasa di Amerika.  Berkunjung ke Bollywood, minggu ketiga November lalu bersama tim Lembaga Sensor Film (LSF) Indonesia yang dipimpin  Narto Erawan D, sekitar 15 menit perjalanan dari Bandara Internasional Chhatrapati Shivaji, atau sekitar 30 menit dari pusat kota Mumbai, sudah tampak kesibukan di kawasan yang dikenal dengan filmcity itu. Kawasan yang menjadi lokasi pembuatan film-film India, didukung  berbagai fasilitas lengkap. Di beberapa lokasi di kawasan pebukitan nan hijau, terlihat kesibukan insan perfilman India tengah melakukan pengambilan gambar.  Salah seorang aktor film muda India yang kini tengah populer, Abhay Deol (34), usai pengambilan gambar, sempat bertemu dengan timLSF.
“Selamat datang di filmcity. Senang bertemu orang Indonesia. Indonesia adalah salah satu pasar film India. Keberadaan film India juga tak terlepas dari peran LSF, sebagai lembaga yang berwenang melakukan penyensoran film-film.  Suatu kali, saya ingin berkunjung ke Indonesia,” kata Abhay Deol, ramah.
“Kegantengan dan akting Abhay Deol, yang juga keponakan bintang film terkenal India, Dharmendra,  tak kalah dengan Shah Rukh Khan,”  komentar  Tim LSF yang terdiri dari Amien Widiastuti, Goodwill Zubir, Hj. Zaitunah Subhan, Suyanto, Nyoman Widi Wisnawa, Kaharuddin Syah Thaib, Pudji Rahaju, dan Hartati Hasmawi. Rombongan LSF sempat mengintip permainan Abhay Deol  ketika shooting film Zindagi Na Milegi Dobara. Managing Director Maharashtra Film, Dadasaheb Phalke Chitranagari, Shyam Tagade dari pihak Filmcity, yang menjamu tim LSF mengakui, kesibukan kawasan pembuatan film-film India ini nyaris tampa henti, 24 jam. Semua proses bisa dilakukan di lokasi Filmcity yang dilengkapi dengan 19 studio.
“Apa pun kebutuhan shooting film, baik lokasi outdoor maupun indoor, ada fasilitasnya. Di samping terdapat 19 studio yang relatif luas, juga ada film training institute dan business center, sebuah danau yang artifisial, the teleport, bahkan fasilitas helipad,”  papar Shyam Tagade. Seusai mendapat penjelasan singkat tentang keberadaan dan fasilitas Filmcity, tim LSF juga berkesempatan mengelilingi kawasan, sambil mampir menyaksikan langsung persiapan shooting artis untuk membawakan tarian dan nyanyian, sebagaimana film-film India pada umumnya di sebuah taman. “Filmcity tak pernah sepi. Kawasan hijau dengan topografi yang bervariasi inilah yang umumnya menjadi lokasi-lokasi pengambilan film dan proses pembuatan film  sampai editing,” kata Shyam. Ketua rombongan LSF, Narto  Erawan, berkomentar, “Bollywood sungguh luar biasa.  Terbukti memang, industri film India adalah industri layar lebar terbesar di dunia.”
Sensor Film di India
Produksi film India dari dulu memang tiada bandingannnya, bahkan oleh Hollywood sekali pun. Industri perfilman India adalah yang terbesar di jagad ini. Bahkan, sejak kesuksesan film Slumdog Millionare yang disutradarai Briton Danny dan diangkat dari novel karya penulis India, Vikas Swarup, produksi film India semakin menunjukkan kegairahan. Terus berusaha menarik perhatian penggemar. Bahkan, Bollywood juga semakin agresif menawarkan fasilitas lebih murah untuk film animasi dan lainnya. “Slumdoq merupakan contoh hasil kerja India dalam proses musik dan tata suara, yang bisa menghasilkan Piala Oscar untuk AR Rahman dan Resul Pookuty untuk tata suara dan tema lagu terbaik, tahun 2009 lalu,” kata Chief Exsecutive Officer Central Board of Film Certification (CBFC) of India, Lembaga Penerangan dan Penyiaran di India, Pankaja Thakur. Seberapa banyak film India diproduksi setiap tahunnya? Pankaja Thakur melukiskan, dari tanggal 1 Januari 2009 sampai 31 Desember 2009, CBFC memberikan sertifikat sebanyak 1.288 film, sebagai pertanda lulus sensor. Sedangkan sepanjang tahun 2010 per 30 September 2010, sudah ada 927 film India yang mendapat sertifikat dari CBFC. Angka yang terlalu besar jika dibandingkan produksi film di Indonesia yang berada dalam kisaran di bawah 100 judul per tahun,  dan hanya pernah sekali meraih 150 judul setahun. Jika dibandingkan banyak produksi film India, keberadaan Lembaga Sensor Film India yang menempati gedung CBFC yang relatif kecil, berlantai tiga dan agak tersuruk di kawasan Bharat Bhavan, 91 E, Jalan Walkeshwar, Mumbai, hanya dengan plang papan nama kecil di pintu masuk, sudah sangat istimewa. Chief Executive Officer CBFC Pankaja Thakur menjelaskan, CBFC memiliki kantor perwakilan di negara-negara bagian, sehingga kantor pusat di Mumbai, terkesan seadanya. Walaupun demikian, yang lebih penting adalah fasilitas pendukung kinerja CBFCmemadai. Memang masing-masing ruang ukurannya hanya seluas 3 x 4 meter atau 4 x 6 meter, tapi yang lebih penting kerja bisa lebih optimal. Kesibukan, terlihat di semua ruangan.
Bahasa Bervariasi
RV Subra Mani, Administrative Officer CBFC, mengatakan bahwa yang membedakan film India dengan Indonesia antara lain, film India diproduksi dengan bahasa lokal yang beragam. Ada 24 bahasa lokal yang dominan digunakan di India, sehingga film-film pun diproduksi dengan bahasa seperti Hindi, Marathi, Gujarati, Tamil, Punjabi, Bengali, Bhojpuri. Juga dalam bahasa Inggris, Telugu, Kannada, Nepali, Rajasthani, Haryanvi, danOriya.
“Film India bisa lebih berkembang, karena bahasa dalam film lebih bervariasi dan berupaya bisa dimengerti oleh pasar. Dengan penggunaan bahasa lokal yang demikian, film berusaha mendekati masyarakat penggemar . Walau demikian, karena film karya budaya dan universal, masyarakat di mana pun di dunia, bisa menikmati film-film India,” jelasnya. Tidak hanya bahasa dalam film yang beragam, mencapai 24 jenis bahasa. Tema-tema film yang diproduksi juga sangat beragam. Paling tidak, setiap tahun itu ada 25 tema/klasifikasi film yang diproduksi . Tema yang digarap seperti tema sosial (1.022 film), kriminal (47 film), komedi (43 film), tema laga (31 film), thriller (26 film), Horor (23 film), feature anak-anak (17 film), tema fantasi (16 film), dan tema devotional (12 film). Itu pada tahun 2009. Pada tahun 2010, tema serupa juga mendominasi, seperti tema sosial (717 film), kriminal (44 film), komedi (38 film), laga/action (34 film), thriller (28 film), dan horor (19 film), serta fantasi  (10 film). Selain berbeda dalam bahasa, tiap industri film juga membawa karakteristik menurut budaya setempat serta memiliki aktor, aktris, komposer, dan sutradara yang juga berbeda. Misalnya, wilayah Bengal (Tollygunge) dikenal banyak melahirkan sutradara yang membuat film-film seni dan seringkali gagal dalam aspek komersial. Tahun 2009, ada 84 judul film India berbahasa Bengali yang lulus sensor dan peroleh sertifikat. Menurut Pankaja Thakur, perkembangan film India yang terus meningkat, tak lepas dari sektor pendukung seperti keberadaan bioskop yang berjumlah 13.000 dengan jumlah penonton lebih kurang 15 juta orang setiap hari. “Pendapatan sektor hiburan India, khususnya film, diperkirakan sebesar 2,2 miliar dolar AS. Diperkirakan angka pertumbuhan pendapatan 9 persen setiap tahun, untuk lima tahun ke depan. Karena harga tiket yang relatif murah, kurang dari satu dollar AS, pendapatan Bollywood, mungkin sepersepuluh dari pendapatan Hollywood. Namun yang lebih penting, film India tidak hanya menjadi tuan rumah di negeri sendiri, tetapi juga disukai banyak negara di Asia dan Eropa,” jelasnya. Bahkan, ada film India yang menjadi film box office di luar India, dan masuk jajaran top ten film terpopuler di Inggris, seperti Khabi Khushi Khabie Gham, yang berhasil meraup 7 juta dolar AS. Atau film Rang De Basanti, yang juga menjadi film sukses di dalam negeri, mampu mengumpulkan 4,4 juta dolar AS.  Ada juga film India yang dipasarkan di Hollywood seperti Moonsoon Wedding danEarth, yang dibuat sebagian atau seluruhnya di India.  Saking disukainya film-film India, sebagai gambaran, setiap tahun, sekitar 3,6 miliar tiket film India habis terjual di seluruh dunia.
Film India di Indonesia 
Tiap tahun ada puluhan film India yang diimpor ke Indonesia. Lembaga Sensor Film Indonesia mencatat, hingga September 2010, ada  26 film sesuloid India yang masuk ke Indonesia, seperti film Pyaar Impossible, Chance Pe Dance, Veer, Rann, My Name is Khan, To Baat Parki, Teen Party, Well Dona Abba, dan banyak judul lainnya.
“Walaupun sudah lulus sensor dan dapat sertifikat dari CBFC, lembaga sensor film di India, film-film India tersebut juga mengalami sensor oleh Lembaga Sensor Film Indonesia sebelum beredar. Di India, karena mengikuti perkembangan masyarakat,  film India dewasa ini juga agak lebih berani. Namun demikian, jika menurut budaya Indonesia itu tidak pas dan melanggar pedoman dan kriteria-kriteria yang kita miliki, maka LSF akan memotong bagian-bagian yang perlu disensor,” kata Amien Widiastuti, Pengkaji aspek nilai budaya, penelitian dan pengembangan di Lembaga Sensor Film Indonesia. Menurut Widiastuti, penyensoran dilakukan untuk melindungi masyarakat dari kemungkinan dampak negatif yang timbul dalam peredaran, pertunjukan dan/atau penayangan film dan reklame film yang tidak sesuai dengan dasar, arah dan tujuan perfilman Indonesia. Penyensoran untuk mencegah agar film dan reklame film tidak mendorong khalayak untuk bersimpati terhadap ideologi yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945. Kemudian agar tidak mendorong khalayak melakukan perbuatan-perbuatan tercela dan hal-hal yang bersifat amoral, yang bertentangan dengan ketertiban umum dan perbuatan-perbuatan melawan hukum, bersikap antiagama dan anti-Tuhan, serta melakukan penghinaan terhadap salah satu agama yang dapat merusak kerukunan hidup antar-umat beragama. Dibanding film Indonesia, film India tidak mengalami banyak bagian yang disensor. Film India jalan cerita lebih banyak dikemas dalam nyanyian dan tarian yang penuh erotisme.  Walau tak ada adegan telanjang , goyangan penari sering terlihat eksplisit. Kebanyakan film India mengandung  sekitar lima sampai enam  nyanyian, yang dinyanyikan para  penyanyi  tenar.  “Hal itulah yang menyebabkan film-film India disukai di Indonesia,” tandasWidiastuti. Yang membedakan Lembaga Sensor Film Indonesia dengan CBFC India, antara lain, di Indonesia sensor dilakukan oleh anggota LSF. Sedangkan di India, sensor dilakukan oleh produser film. Di Indonesia, Lembaga Sensor Film juga menyensor tayangan sinetron di televisi, selain film dan video/VCV/DVD. Lembaga sensor film di India, CBFC, tidak menyensor tayangan sinetron di televisi. Menurut Pengkaji aspek prosedur dan tata laksana LSF Indonesia, Narto Erawan, jika di India ada sensor di daerah/negara bagian, tidak terpusat di kantor pusat di Mumbai, maka ke depan dengan semakin banyaknya televisi lokal, perlu ada Lembaga Sensor Film Daerahdisetiapprovinsi. Konsul Jenderal RI di Mumbai, Indra Kesuma Oesman, berharap ada kerja sama yang saling menguntungkan di bidang perfiman antara Indonesia-India, karenaIndonesiamerupakanpasarfilm-filmIndia “Selama ini kerja sama di bidang perdagangan sudah berjalan bagus. Sekitar 100 pengusaha besar di Mumbai, pernah dibawa ke Indonesia untuk melakukan pembicaraan, penjajakan, dan kerja sama. Di bidang kebudayaan, mungkin bagus juga ada kerja sama, karena industri perfilman India adalah yang terbesar di dunia,” katanya.

  

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia