Pencarian pada:
 
Detail Cantuman Artikel
Judul : Mengapa Kita Tak Lagi Membuat Film Superhero?
Penulis : Ade Irwansyah
Sumber : Http://old.rumahfilm.org/artikel/artikel_superhero.htm
Subjek : Perfilman

JIKA Anda rajin berselancar ke forum-forum tentang film di situs-situs macam Kaskus, Ruang Film, dan sejenisnya, Anda akan ketemu kabar seperti ini: Gundala, sang tokoh komik legendaris itu, akan segera dibuat versi filmnya. Kabar ini bermula dari kehadiran situs bernama www.gundalathemovie.com. Situs ini memasang poster film dengan judul pendek: GUNDALA. Di poster itu terlihat sosok Gundala dengan latar belakang gedung-gedung Jakarta. Di bawah posternya, ada susunan kru dan pemain, serta sinopsis pendek. Film ini akan diproduksi Bumi Langit Pictures Komentar yang bertebaran di forum-forum Internet menyambut baik kehadiran Gundala versi film. Mereka yang sudah gerah disuguhi film-film horor di bioskop mengharap betul kehadiran film ini. Tapi, apa iya film ini benar-benar ada dan akan edar Juni tahun depan seperrti disebutkan situs itu? Nanti saja dijawabnya. Yang pasti, film superhero bukanlah hal baru buat jagad sinema kita. Ya, sineas negeri ini pernah membuat film superhero, film yang bertema pahlawan berkekuatan super macam Superman atau Spider-Man. Pada 1974, sineas kita melahirkan Rama Superman Indonesia (Frans Totok). Judulnya sudah bercerita film ini berkisah tentang apa dan siapa. Tapi tak ada salahnya dikisahkan kembali. Alkisah, Andi (Boy Shahlani) seorang penjaja koran yang mendapat jimat kupu-kupu emas. Bila jimat itu dicium, ia bisa berubah jadi superhero yang bisa terbang, berkostum bak Superman, bernama Rama (diperankan August Melasz). Rama sering membantu orang yang kesusahan hingga jadi berita di koran. Kemudian, film mengisahkan pertautan Rama dengan wanita bernama Lia (Jenny Rachman), putri Profesor Hartoyo (Djauhari Effendi). Sang profesor jadi incaran komplotan penjahat Naga Hitam lantaran formula temuannya, yang bisa membuat bahan peledak berkekuatan sangat tinggi. Usaha merebut formula itu selalu digagalkan Rama. Karena gagal, Lia diculik. Rama muncul menyelesaikan masalah. Selang tujuh tahun kemudian giliran lahir Gundala Putra Petir (1981, Lilik Sudijo) dari tangan sineas kita. Kisahnya seputar Sancoko (Teddy Purba), seorang ilmuwan bergelar insinyur, berubah jadi Gundala, sang pahlawan berkekuatan super. Awalnya, Sancoko diam-diam menyuntikkan cairan anti petir. Hasilnya luar biasa. Tubuhnya jadi tahan terhadap arus listrik dan punya kekuatan luar biasa hal ini juga berkat bimbingan gurunya, Dewa Petir (Pitrajaya Burnama). Kehebatan Sancoko sampai ke telinga Gasul (WD Mochtar), seorang gembong narkotik. Bersama beberapa kawannya Gasul menculik Sancoko, memintanya menciptakan ramuan heroin sintetis. Minarti (Anna Tarias), tunangan Sancoko, dan Prof. Saelan (Ami Prijono) ikut diculik. Sancoko tetap bungkam dan menolak permintaan kawanan penjahat itu. Belakangan diketahui, dalang kejahatan itu Ir. Agus (August Melasz) rekan Sancoko sendiri. Rama Superman Indonesia lahir empat tahun lebih dulu dari film Superman (1978) karya Richard Donner yang mempopulerkan Christopher Reeve sebagai Superman. Di Amerika sana, Superman versi layar lebar hadir menandai era kebangkitan film-film superhero. Sebelumnya, genre ini kurang dilirik sineas Amerika. Kisah superhero hanya cocok jadi tontonan televisi di rumah (serial televisi Superman dan Batman populer di tahun 1950-an dan 1960-an). Kisah Superman layar lebar berlanjut hingga sekuel keempat di tahun 1980-an. Semakin bilangannya bertambah, kisah Superman versi layar lebar makin rendah mutunya dan o rang mulai jenuh dengan kisah manusia super dari planet Krypton ini. Meski begitu, bukan berarti genre ini ikut jenuh. Hollywood lantas menyodorkan sosok superhero baru Batman (Tim Burton) di penghujung 1980-an. Sosok Batman kemudian hadir sepanjang dekade 1990-an. Namun, lagi-lagi sekuel Batman makin buruk (rilisan 1997 [Batman & Robin] malah dianugerahi Razzie Awards, Oscar-nya film-film buruk). Hollywood lantas berpaling pada Spider-Man (2002, Sam Raimi). Si manusia laba-laba ini membangkitkan kembali kegairahan membuat film superhero di Hollywood. Usai Spider-Man sukses besar, berturut-turut hadir versi layar lebar Hulk, The X-Men, Dare-Devil, The Punisher, Elektra, Cat Woman, hingga Iron Man. Superman dan Batman sendiri di-rebootalias dipermak ulang untuk penonton generasi 2000-an (Superman Returns, Batman Begins,The Dark Knight). Di luar film-film superhero yang tergolong mainstream di atas, Hollywood berkreasi merilis film superhero yang tak lazim. Untuk ini kita perlu menyebut The Incredibles (2004, film superhero bertema keluarga), My Super Ex-Girlfriend (2006, film superhero di-mix and match dengan komedi romantis), dan terakhir Hancock (2008, film superhero dengan penggambaran pahlawan super yang lebih sering bikin masalah buat orang banyak hingga butuh perawatan segala). Fenomena di atas tak terjadi di Indonesia. Kelahiran kisah Superman versi Indonesia tak membangkitkan sineas lain untuk mengeksplorasi genre ini lebih jauh. Terbukti, sejak Rama hadir film-film bergenre superhero hanya muncul sesekali. Selain Gundala Putra Petir, ada Darna Ajaib (1980, Lilik Sudijo) yang berkisah tentang anak ajaib berkekuatan super. Lalu hadir pula Manusia 6 Juta Dollar (1981, Ali Shahab) dan Gadis Bionik (1982, Ali Shahab). Dua film yang disebut terakhir ini lahir menyusul kepopuleran serial televisi populer waktu itu. Manusia 6 Juta Dollar merupakan versi parodi dengan Warkop DKI (Dono, Kasino, Indro) sebagai bintang utamanya. Sedangkan Gadis Bionik memasang (keseksian) Eva Arnaz sebagai jualan utama.

II

Genre superhero tak pernah jadi genre populer. Bahkan hingga sekarang, saat sineas kita merilis lebih dari 40-an film dalam setahun. Kita sudah melihat beberapa film anak-anak, puluhan film horor dan percintaan remaja, belasan komedi seks, dan film religius. Tapi, film superhero? Sepertinya, belum ada produser yang berminat membuatnya. Mengapa begitu? Sebelum menjawab pertanyaan utama itu, ada baiknya menjawab pertanyaan yang ini dulu: mengapa produser era ’70-an dan awal ’80-an memutuskan membuat film superhero? Anda harus mengerti dulu iklim perfilman di tahun-tahun itu untuk menjawabnya. Memasuki 1970-an, pemerintah mengeluarkan kebijakan yang bertujuan memajukan perfilman nasional. Kala itu, Menteri Penerangan Budiardjo mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 40/Kep/Mempen/1971 yang lazim disebut SK 71. Isinya, pemerintah memberi pinjaman pada produser sebesar setengah ongkos produksi film yang sedang mereka buat, dengan jumlah maksimal pinjaman Rp 7,5 juta (angka yang lumayan besar di tahun 1971). Keputusan ini disambut hangat kalangan produser. Terbukti, angka produksi film melonjak dari 21 film di tahun 1970 naik jadi 52 pada 1971. Di satu sisi, kebijakan ini terbukti meningkatkan jumlah produksi film. Namun, di sisi lain peningkatan kuantitas tak diikuti dengan peningkatan kualitas. Misbach Yusa Biran, sebagaimana dikutip Salim Said, mengeluhkan lahirnya banyak film yang “mutunya makin lama makin sulit dipertanggungjawabkan.” Pangkal soalnya, SK 71 ini melahirkan para sineas dadakan. Kebutuhan akan tenaga perfilman serba cepat berdampak pada banyak bermunculan tenaga baru yang tak berpengalaman dan minim pengetahuan. Alhasil, film yang mereka hasilkan pun ala kadarnya, kebanyakan buruk. Nah, di tengah situasi seperti itu lahir Rama Superman Indonesia. Tidak ada catatan yang menyebutkan film ini bermutu baik. Buku Katalog Film susunan JB Kristanto (2005) tak menyebutkan film ini mendapat penghargaan FFI maupun disebut sebagai film laris. Sejarah pun mencatat, dampak kebijakan pemerintah yang mengakibatkan booming film, belakangan disambut dingin penonton. Orang makin jarang ke bioskop karena tahu lebih banyak film Indonesia yang jelek dari hari ke hari. Mereka baru akan menonton film Indonesia bila filmnya betul-betul baik. Film impor keluaran Hollywood, Hong Kong, atau India lebih jadi pilihan tontonan. Kejemuan orang pada film Indonesia, membuat banyak produser merugi. Produksi film nasional kembali melorot. Situasi ini mendorong para sineas bereaksi. Akan tetapi, alih-alih memperbaiki mutu film yang mereka bikin, kebanyakan sineas mengkambinghitamkan banjirnya film impor. Protes ini didengar pemerintah. Di jaman Menteri Penerangan Mashuri keluar Surat Kepututusan Menteri Pemerangan No. 51/Kep/Menpen/1976 yang mewajibkan importir film memproduksi film sebagai syarat untuk memasukkan film dari luar negeri. Kebijakan ini terbukti meningkatkan jumlah produksi film nasional. Pada 1977-1978 Direktorat Film Departemn Penerangan mengeluarkan 100 surat izin produksi film. Rupanya, importir yang jadi produser film dadakan ini tak mau melepaskan usahanya mengimpor film luar negeri. Demi mendapat ijin memasukkan film impor, mereka rela jadi produser film. Namun, lagi-lagi sejarah berulang. Banyak film, bukan berarti pula mutunya bagus-bagus. Produser film dadakan, yang “terpaksa” jadi produser lantaran ingin usahanya mengimpor film tetap jalan, dituding jadi biang kerok rendahnya mutu film nasional. Waktu itu produser yang importir film ini dituduh membuat film asal jadi. Sepeninggal Mashuri, giliran Ali Murtopo jadi menteri penerangan (dilantik Presiden Soeharto pada 1978). Ali Murtopo membebaskan para importir film dari kewajiban membuat film. Akibatnya, produksi film merosot. Salim Said mencatat, Ali tampaknya ingin terlebih dulu membersihkan dunia film Indonesia dari film-film bermutu rendah. Film-film yang dibuat golongan “produser terpaksa”. Ali Murtopo lantas mengadopsi kebijakan yang pernah dilakukan pendahulunya di awal Orde Baru, yakni membiayai film yang disebut proyek percontohan “seperti apa film yang baik itu”. Pada awal 1980-an proyek percontohan Ali Murtopo menghasilkan 5 film: Sorta, Titian Serambut Dibelah Tujuh,Halimun, Lima Sahabat, dan Woyla. Film superhero macam Gundala, Darna Ajaib hingga Gadis Bionik lahir di saat iklim perfilman mulai membaik dalam arti importir film yang jadi produser dadakan tak lagi diwajibkan membuat film. Namun, bukan berarti pula budaya membuat film asal jadi ikutan sirna. Gadis Bionik dan Manusia 6 Juta Dollar tak lebih dari reaksi latah produser film melihat kepopuleran serial televisi Bionic Woman dan The Six Million Dollar Man di TVRI saat itu. Sedangkan Gundala sebentuk reaksi sineas melihat komik yang tengah digandrungi masyarakat untuk kemudian di angkat ke layar lebar. Sah-sah saja mengangkat serial televisi atau komik ke layar lebar. Hollywood sudah lama melakukannya. Yang jadi persoalan, bila di Hollywood sana versi layar lebar dari komik atau serial televisi memberi pengalaman sinematik berbeda saat diangkat ke layar lebar, tak demikian dengan film-film superhero yang disebut di atas. Film superhero buatan lokal kalah jauh dari segi teknologi. Gundala, misalnya, efek visualnya ketinggalan jaman dibanding film Superman pertama yang hadir 3 tahun sebelumnya.

III

Bila ditilik, pangkal soalnya terletak pada uang. Membuat film superhero sungguhan tidaklah murah. Adegan yang memperlihatkan sang jagoan mengeluarkan kekuatan supernya membutuhkan dana yang tak sedikit. Sekedar tipuan kamera sederhana macam serial televisi Superman di tahun ’50-an jelaslah sudah usang. Di awal tahun 1970-an, film Indonesia dibuat dengan bujet rata-rata belasan juta rupiah. Di penghujung ’70-an rata-rata film nasional berbujet 40-an juta rupiah—film yang bujetnya ratusan juta rupiah sudah sangat mahal waktu itu. Angka-angka itu terlihat kecil bila dibandingkan film super hero bikinan Hollywood. Situs IMDB mencatat film Superman (1978) berbujet 55 juta dollar Amerika. Bujet membuat film superhero kini makin spektakuler. Film The Dark Knight berbujet 150 juta dollar Amerika. Itu jumlah standar di Hollywood sana untuk film yang membutuhkan banyak aksi spektakuler. Namun, sineas film-film superhero lain berani mengambil resiko dengan angka di atas 200-an juta dollar. Sekadar contoh, X-Men: The Last Stand (2006) berbujet 210 juta dollar, Spider-Man 3 (2007, $ 258 juta dollar), dan Superman Returns(2006, $ 270 juta). Angka-angka itu masih terlalu tinggi untuk ukuran film-film Indonesia sekarang. Rata-rata film Indonesia saat ini dibuat dengan bujet 2-3 miliar rupiah. Film yang dibuat di atas 5 miliar rupiah terhitung sedikit (Ayat-ayat Cinta konon dibuat dengan bujet 5 miliar rupiah,Gie konon berbujet 7 miliar rupiah).

IV

Di luar urusan uang, film superhero tak pernah benar-benar mengakar di jagad film nasional. Buktinya, sejarah mencatat kita hanya pernah melahirkan beberapa film superhero. Bila ditelusuri lebih jauh, kisah superhero bahkan bukanlah khas Indonesia. Mitologi pewayangan Mahabharata dan Ramayana yang sudah kita akrabi berabad-abad memang menyebutkan jagoan-jagoan berkekuatan super (Gatotkaca dan Hanoman, misalnya). Namun, apa yang disebut superhero muncul dan berkembang di tahun 1970-an lewat komik-komik lokal. Gundala, Godam, dan kawan-kawannya tumbuh subur di era itu. Hanya saja, superhero lokal tak lebih dari tiruan atau versi lokal dari jagoan-jagoan superhero Amerika. Goenawan Mohamad pernah memaparkan kalau Gundala dan Godam (serta beberapa tokoh superhero komik lokal lainnya) mirip ”saudara”-nya di Amerika sana. Godam mirip Superman dan Captain Marvel. Jika Captain Marvel adalah penjelmaan penjual koran miskin, yang kemudian bekerja di radio, yang dengan berteriak ”Shazam!” berubah jadi pria perkasa; Godam, karya Wid N.S., sehari-hari adalah supir berwajah buruk bernama Awang. Tiap kali ada kejahatan dan ia merasa perlu menolong, ia mengenakan cincin sakti lalu berubah jadi Godam. Sedangkan Gundala mirip Captain America. Gundala, karya Hasmi, berpakaian hitam-hitam berupa kaus ketat yang menutupi seluruh tubuh dan sebagian wajahnya. Kepalanya pun tertutup kedok hitam, dengan hiasan sayap atau bulu di masing-masing kupingnya (konon, sayap di kuping itu perlambang sayap burung garuda, lambang negara kita). Kostum ini mirip Captain America. Bedanya, Gundala tertutup pakaian warna gelap sedang Captain America—yang muncul di masa menjelang Perang Dunia II ketika patriotisme Amerika memuncak—berwarna merah-putih-biru, warna bendera Amerika. Baik Godam dan Gundala amat digemari di tahun ’70-an. Komik superhero telah menggantikan kepopuleran komik cerita silat di tahun sebelumnya. Saat komik silat populer, dunia film ikutan latah membikin versi filmnya. Komik Si Buta dari Gua Hantu karya Ganes TH difilmkan pada 1970 dengan bintang Ratno Timoer. Pola serupa rupanya terjadi pula pada komik superhero. Meski hanya Gundala yang resmi diadaptasi ke film, besar kemungkinan film lainnya, seperti Rama, dibuat setelah melihat komik superhero populer di masyarakat.

V

Masalahnya, ya itu tadi, film superhero lokal tak memberi pengalaman sinematis berarti pada penonton. Efek visualnya tak lebih tipuan kamera sederhana. Alhasil, orang jadi malas menontonnya. Buntutnya, filmnya tak laku. Dan kalau sudah tak laku, akan sulit mengharapkan ada produser lain membuat film sejenis. Padahal, ini budaya produser Indonesia sejak dulu. Sebuah film populer akan melahirkan epigon berupa film bergenre sejenis. Bukankah itu yang terjadi pada Jelangkung dan Ada Apa dengan Cinta? Beberapa tahun lalu, dan Quickie Express serta Ayat-ayat Cinta sekarang? Film-film itu telah melahirkan banyak film ikutan. Produser kita yang kebanyakan bermental pedagang memandang film murni sebagai barang dagangan. Cara berpikir mereka sederhana. Jika melihat dagangan tetangga sebelah laku, dagangan yang sama mereka jual juga. Padahal, jika menganggap film-film Hollywood sebagai tetangga sebelah, mestinya produser kita tergoda pula untuk ikut membuat film superhero. Film superhero keluaran Hollywood terbukti menguntungkan. Menurut data IMDB, untuk peredaran di seluruh dunia Spider-Man 3 memperoleh keuntungan lebih dari 885 juta dollar Amerika. Film Batman terbaru, The Dark Knight langsung bertengger di nomor satu box office. Modal yang dikeluarkan Warner Bros., produsernya, sudah balik belum sampai sebulan, bahkan berlipat jadi 314 juta dollar Amerika menurut data IMDB hingga akhir Juli 2008. Apa produser kita tak tergoda dengan angka-angka itu? Mestinya sih iya. Hanya saja, saya rasa tak ada produser kita yang berniat membuat film berbujet 100 juta dollar Amerika hingga saat ini. Mungkin juga mereka belum sekaya itu. Kecuali para pengemplang BLBI berniat jadi produser film. Kita mungkin akan melihat film superhero lokal yang tak kalah spektakuler dari trilogi Spider-Man.

VI

Lalu, bagaimana dengan kelanjutan film Gundala yang katanya akan edar Juni tahun depan? Maaf, sepertinya kabar itu diragukan kebenarannya. Majalah Cinemags edisi Juli memuat surat pembaca yang bertanya soal kebenaran kabar film Gundala. Redaksi Cinemags meragukan kebenaran kabar itu. Cinemags menulis, jika ditelusuri nama-nama yang tercantum tidak dikenal dan sosoknya tidak ada. Situs yang memuat kabar itu sepertinya buatan fans Gundala yang mengharap betul versi filmnya hadir kembali—dengan kualitas tak kalah dari film superhero bikinan Hollywood. Keinginan pembuat situs itu adalah keinginan kita bersama. Ya, kita sudah gerah dengan film horor cupu dan mulai bosan dengan komedi seks murahan. Bapak-bapak para pengemplang BLBI, adakah dari Anda yang berniat jadi produser film? ***

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia