Pencarian pada:
 
Detail Cantuman Artikel
Judul : Kreatifitas Dalam Bingkai Moralitas
Penulis : Didi Junaedi HZ., M.A
Sumber : Http://kolumnis.com/kreativitas-dalam-bingkai-moralitas.html Sebagai seorang penikmat film
Subjek : Perfilman

  Baru-baru ini, wacana seputar pembubaran Lembaga Sensor Film (LSF) mencuat. Adalah sekelompok insan film yang tergabung dalam Masyarakat Film Indonesia (MFI) yang menggelindingkan wacana tersebut. Alasan mereka, LSF memasung kreativitas dan membatasi ruang gerak kebebasan berekspresi. Atas dasar itu, mereka mengajukan permohonan kepada Mahkamah Konstitusi untuk melakukan uji materiil (judicial review)terhadap Undang-Undang (UU) sensor film, yakni pasal 8 tahun 1992. UU itu mereka anggap bertentangan dengan UUD 1945. Melalui rubrik WACANA ini, penulis ingin urun rembug dalam menyikapi wacana yang tengah beredar seputar masih perlu atau tidak keberadaan LSF saat ini. Kalau kita menelisik ke belakang, LSF dibentuk melalui UU No. 8 Tahun 1992 tentang Perfilman (UU No. 8/1992). Adapun fungsi serta tugas lembaga tersebut, seperti termaktub dalam Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1994 tentang LSF, adalah menyensor film dan reklame film yang akan diedarkan, diekspor, dipertunjukkan dan/atau ditayangkan kepada umum. Dari landasan hukum di atas, jelas bahwa LSF dibentuk untuk mengemban tanggung jawab atas segala hal yang berkaitan dengan penayangan film di Tanah Air. Termasuk di dalamnya, menyunting sejumlah adegan yang tidak layak tayang, karena bertentangan dengan ajaran agama, norma budaya dan sosial, serta dapat melahirkan ekses negatif bagi masyarakat dan merusak moralitas bangsa ini. Menilik fungsi dan tugas LSF di atas, lantas apakah keberadaan LSF benar-benar memasung kreativitas? Apakah sensor sungguh-sungguh membatasi ruang gerak untuk berekspresi? Menyikapi hal ini, pada prinsipnya penulis sependapat dengan pandangan para insan film yang menegaskan bahwa kebebasan berekspresi dan berkreativitas adalah hak setiap warga negara yang dilindungi Undang-Undang. Persoalannya, apakah kebebasan berekspresi dan berkreativitas itu tetap menjunjung tinggi nilai-nilai moral, ataukah kreativitas yang lahir hanya didasarkan pada kebebasan berekspresi semata, tanpa memedulikan nilai-nilai moral? Pertanyaan ini penting, karena kreativitas serta ekspresi yang mereka—para insan film— lahirkan, pada gilirannya akan bersentuhan langsung dengan masyarakat dari berbagai latar belakang sosial dan tingkat pendidikan yang berbeda. Harus diakui bahwa tingkat pendidikan masyarakat kita secara umum masih tergolong rendah. Sehingga jika tayangan film—yang biasa dipenuhi dengan adegan seks, nuansa kekerasan serta aroma mistik—  yang hadir ke tengah-tengah masyarakat tanpa sensor, maka moralitas bangsa ini menjadi taruhannya.

Fakta di lapangan

Tidak dapat dipungkiri, bahwa akhir-akhir ini, hampir tidak ada ruang tersisa di layar kaca, yang tidak menyuguhkan tontonan yang sama sekali tidak mendidik. Sejumlah tayangan, alih-alih memberi nilai positif-edukatif, justru menghadirkan ekses negatif-destruktif. Simak saja sederet acara di televisi, maka kita akan mudah menjumpai tayangan-tayangan yang bernuansa pornografi dan pornoaksi, baik berupa sinetron, film, bahkan iklan. Di sisi lain, beragam tayangan juga kerap bernuansa kekerasan, serta beraroma mistik dan takhayul. Dampak negatif dari tayangan-tayangan tersebut begitu jelas hadir di depan mata kita. Setiap hari, sejumlah berita di media cetak dan elektronik tak pernah luput dari pelbagai persoalan moralitas. Pembunuhan, pemerkosaan, perzinahan dan sederet tindak kejahatan lainnya seakan tak pernah habis diberitakan oleh media, sebagai imbas dari tayangan-tayangan tersebut. Kondisi memperihatinkan ini, seharusnya menyadarkan para insan perfilman, para produser film dan sinetron, para entertainer, para artis dan selebritis, para pelaku seni, serta para pengelola stasiun televisi, bahwa tayangan-tayangan yang tidak mendidik tersebut justru akan melahirkan persoalan-persoalan sosial baru. Hal ini akan menambah problem moralitas bangsa yang sedang terpuruk ini.

Nilai Moral dalam Kreativitas

Kebebasan berekspresi yang pada gilirannya akan melahirkan kreativitas, adalah sebuah bentuk dinamika kehidupan. Hal yang sama juga terjadi dalam dunia perfilman. Munculnya kreativitas adalah sebuah tuntutan. Dengan kreativitas, maka karya seni berupa film akan menghadirkan sebuah tontonan yang menarik. Hanya dengan kreativitas yang tinggi, dunia perfilman nasional menjadi lebih ‘hidup’ dan bergairah. Satu hal yang patut menjadi perhatian para insan film adalah, bahwa kreativitas yang mereka hadirkan harus selalu berada dalam koridor moralitas. Nilai moral harus menjadi acuan mereka dalam menuangkan kreativitas berupa karya film. Hemat penulis, sejauh kreativitas yang dihasilkan para insan film di tanah air ini tetap menjunjung tinggi nilai-nilai moral, maka hal ini tentu menjadicredit point  tersendiri bagi dunia perfilman nasional. Sebaliknya, jika kreativitas yang mereka hadirkan justru menafikan nilai-nilai moral, maka hal ini tentu tidak dapat dibiarkan. Di sinilah peran LSF menemukan relevansinya. Kebebasan berekspresi dan berkreativitas bukan berarti kebebasan tanpa batas. Ada nilai moral yang harus dijunjung tinggi. Pembatasan juga dimaksudkan untuk memberikan jaminan pengakuan dan penghormatan terhadap kebebasan orang lain. Kreativitas, dalam ranah apapun, tidak akan bermakna ketika tidak mengindahkan sistem nilai dan norma yang berlaku di masyarakat. Kreativitas akan bernilai tinggi ketika mampu menyemaikan nilai-nilai positif serta menjunjung tinggi moralitas. Dengan demikian, nilai moral dalam kreativitas adalah harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia