Pencarian pada:
 
Detail Cantuman Artikel
Judul : Sunyinya Sound Design Film Indonesia
Penulis : Danif Pradana
Sumber : Rumah Film / http://old.rumahfilm.org/artikel/artikel_sounddesign.htm
Subjek : Perfilman

 Setelah beberapa lama saya browsing di forum-forum perfilman Indonesia, nampaknya memang pembahasan mengenai Sound Design masih minim sekali, bahkan sound design perfilman Indonesia terkesan sangat underappreciated. Umumnya korespondensi saya memang lebih banyak melalui email dengan orang-orang yang menggeluti sound design. Topik-topik di berbagai forum umumnya masih didominasi oleh bahasan-bahasan soal sinematografi, scriptwriting, tips-tips penyutradaraan, editing, dan juga "bagaimana cara bikin film indie". Padahal sound design adalah satu aspek film yang sangat krusial. Biasanya orang bilang, Lo bisa tahan gambar jelek, tapi kalo sound-nya jelek, jangan harap penonton bakal duduk anteng”. Sound bisa dikatakan sebagai elemen film yang mengambil 50% dari keseluruhan pengalaman menonton film. Tapi bagi sutradara-sutradara seperti David Lynch atau Takashi Miike sound bisa mengambil 60% bahkan lebih. Untuk apa semua ini dibahas? Semuanya kembali ke sound experience. Gambar memang menjadi medium umum untuk berkomunikasi. Tapi menurut saya, suara punya kemampuan yang kuat untuk menyentuh emosi dasar dan sub-conscious (bawah sadar) kita.

Kita lebih mudah mendapatkan efek sinestesia (bius) dari suara dibanding dengan gambar karena kapanpun dan di manapun kita berada suara akan selalu menyusup ke dalam telinga kita, tapi gambar hanya bisa terlihat dengan mata terbuka. Mungkin faktor dasar minimnya pembahasan topik ini adalah bahwa orang masih bingung dengan terminologi sound design itu sendiri. Bahkan mungkin masih ada orang yang mengganggap bahwa sound design itu sama dengan music composing yang tentu saja merupakan salah kaprah. Untuk mempermudah pengertian sound design, ingat aja graphic design. Nah! Bedanya dalam sound design mediumnya adalah suara. Prinsip kerjanya juga sama dengan graphic design. Kalau di graphic design kita mengolah gambar, maka di sound design kita mengolah suara. Jika graphic designer bekerja dengan ilustrator atau fotografer maka sound designer bekerja dengan music composer atau sound recordist. Di sini suara bisa berupa apa saja atau dengan kata lain SEGALA suara yang bisa terdengar dalam sebuah film/video, mulai dari pintu ditutup, ledakan nuklir, suara sub-sonik hingga kesunyian atau kehampaan suara. Maka dari itu sebetulnya musik hanyalah merupakan SATU dari milyaran tipe suara.

Kembali ke mengapa sound-design jarang dibahas, menurut seorang teman, umumnya film-film Indonesia baik film-film pendek maupun film-film besarnya, segala sesuatunya masih terlalu sering mengandalkan penggunaan musik. Ketika ingin meningkatkan ketegangan sebuah scene, maka biasanya musik selalu dijadikan medium untuk membangun ketegangan tersebut. Bisa dibilang film-film Indonesia masih minim sekali bermain dalam area sonic experimentation, yang artinya mencoba menciptakan sebuah mood khusus dengan sound design selain musik. Contoh gampangnya adalah film-film horor Indonesia. Sayangnya juga, film horor Indonesia sangat mengandalkan sound design yang sudah ada di film-film horor luar negeri seperti suara-suara ala film Ju-On, The Ring dan lain-lain sehingga suatu sound sudah memiliki arti sendiri karena kita terbiasa mendengar suatu suara yang terlanjur diasosiasikan dengan sebuah adegan atau objek/subjek. Mari kita lihat lebih dalam perbedaan sound design dengan ”sekadar” musik dalam film melalui contoh:

Contoh 1: Membangun Atmosfer dan Mood dengan Musik
Misalkan ada sebuah scene yang memperlihatkan sebuah montage bangunan tua yang kosong dan gelap. Umumnya di film-film horor Indonesia yang dilakukan adalah meng-compose sebuah scoring yang begitu haunting dan mencekam. Sebenarnya hal ini tidak apa asalkan cocok. Hanya saja klo kita lihat dari sudut pandang sound post creative techniques, kesannya sangat tidak kreatif karena hal-hal seperti itu sudah terlalu biasa. Padahal kita bisa mempermainkan suara-suara apa saja di dunia ini dan dirancang sedemikian rupa sehingga saat menonton kita kurang yakin kita mendengar suara apa tapi hal itu justru meningkatkan ketidaknyamanan kita dalam adegan itu.

Contoh 2: Membangun Atmosfer dan Mood dengan Sound Design
Dengan hanya mengandalkan sebuah hum ruangan (room noise) yang pitch-nya direndahkan begitu rendah dan sekaligus bereksperimen dengan equilizer pun kita bisa menciptakan sebuah reverbration yang bisa mencetuskan sebuah mood dan atmosfer tertentu. Ingat saja film The Silence of The Lambs, misalnya. Filmnya sendiri mempunyai komposisi music score yang benar-benar ciamik. Walau demikan sang sutradara tidak lantas membombardir penonton dengan kemampuan sang music composer untuk menciptakan score-score yang haunting di setiap scene-nya. Berikut adalah contoh penggunaan contoh ambience sound di film tersebut yang saya kutip dari 
filmsound.org:

”In The Silence of The Lambs, when Agent Starling (Jodie Foster) is down with Lecter in the dungeon, there were animal screams and noises built into the ambience. (One element of the ambience is a guy screaming in pain. The screaming was processed, slowed down and played in reverse)" Ambience tersebut memang tidak di perdengarkan dengan amplitude yang begitu tinggi. Mungkin istlahnya ”dengar gak dengar”. Tapi dari itupun kita bisa merasakan efek psikologis yang benar-benar luar biasa. Efeknya tentunya akan sangat berbeda jika scene itu dipaksakan dengan music score yang begitu mencekam. Pada intinya sih sebenarnya simple, yaitu sound design dan music composition harus seimbang, dan sang filmmaker harus benar-benar tahu momen yang tepat untuk mempergunakan musik. Jangan setiap adegan diisi dengan musik karena sound design jugalah penting. Kecuali kalau kita memang ingin membuat sesuatu yang benar-benar konseptual seperti film-film arthouse yang sama sekali tidak menggunakan musik, misalnya.Purely sound! Atau mungkin ingin membuat sesuatu yang dengan konsep visual poetry, di mana musik adalah medium dasar penceritaan film tersebut.

Having a balance between sound design and music composition is gonna be awesome!

Contoh ekstrimnya lihat saja film-film laga blockbuster Hollywood yang batas antara sound design dan music composition sudah benar-benar tidak jelas. Sound design bisa terdengar seperti music composition dan music composition bisa terdengar seperti sebuah sound design. Tentu saja itu bukanlah contoh terbaik, tapi setidaknya sang filmmaker benar-benar bisa memaksimalkan baik sound design maupun music composition. Semoga teman-teman bisa mengarahkan saya ke sebuah diskusi yang menarik tentang sound design di Indonesia. Karena budaya kita dari Sabang sampai Merauke memang sangat kaya akan visual arts, tapi ”suara-suara” di Nusantara juga tidak kalah banyak.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia