Pencarian pada:
 
Detail Cantuman Artikel
Judul : Karut-Marut Judul Film Indonesia
Penulis : Djamalul Abidin Ass
Sumber :
  • artikel&sub
  • detail&id
  • 31
Subjek : Perfilman

 Anda masih ingat lagu yang biasa dibawakan oleh duet Benyamin S-Ida Royani, yang salah satu bagian liriknya begini:

Benyamin : Ayo tancap, Neng! 
Ida : Awas, Bang, masih merah! 
Benyamin : Idih ude kelanjur masuk, Neng
Ida : Bahaye, Bang!
Benyamin : Udeh masuk nih, gimane lagi …

Lirik lagu tersebut adalah tentang mobil yang telanjur melanggar setopan lampu lalu-lintas, tetapi imajinasi pendengar justru menjurus pada peristiwa haid perempuan. Inilah, yang dalam ilmu komunikasi disebut ear-catching, yang oleh pencipta lagu sengaja dimanfaatkan untuk memancing perhatian pendengar.

Di dunia film, dikenal pula eye-catching power, yang akhir-akhir ini tampaknya dieksploitasi habis-habisan oleh produser film Indonesia. Untuk apa? Tak lain dan tak bukan, tentunya untuk memancing calon penonton yang bermuara pada box office. Baliho, poster, dan spanduk yang dicetak dalam format tiga sampai empat kolom surat kabar, dipampang besar-besar di luar gedung bioskop, memuat judul-judul film yang memancing reaksi masyarakat – termasuk bagi yang nyaris tidak pernah masuk gedung bioskop.

Contohnya, ketika ditanya, apakah pernah menonton film Buruan Cium Gue (BCG), Kiai AA Gym mengatakan “tidak”. Namun, beliau bersama-sama Ketua Muhammadiyah Din Syamsuddin dan tokoh-tokoh lain, berdemo ke LSF menuntut agar BCG ditarik dari peredaran. Alasan mereka, “Judul film tersebut jorok.” 

LSF juga pernah didemo oleh mahasiswa, antara lain dari ITB, UIN, IPB, UI, dan HMI, karena meluluskan film berjudul ML, walaupun produsernya ngotot bahwa kepanjangan ML adalah “Mau Lagi” bukan “Making Love”. 
Judul Film dan Konotasi
Bagi sebagian besar calon penonton, faktor judul adalah daya tarik utama dalam menentukan apakah sebuah film akan ditonton. Karenanya produser sangat concern terhadap judul sampai-sampai tidak jarang di antara mereka sendiri saling “berantem” memperebutkan judul. Ujung-ujungnya Direktorat Perfilman dan LSF yang dibikin repot. 
Saya masih ingat kasus beberapa judul yang sama. Antara lain dua judul FITRI dan dua judul ANDE ANDE LUMUT. Hingga akhirnya, supaya mendapat Surat Lulus Sensor, maka ada judul Fitri dan Cinta Fitri. Ada Ande Ande Lumut dan Ande Ande Loemoet Cinta. Ada pula Cinta dan Cinta Bunga. 
Terkait dengan konotasi, film “jadul” (jaman dulu), nyaris tidak ada yang beraroma “jorok”. Sampai tahun 1970-an, judul film-film drama maupun action masih baik-baik saja. Seperti Terang Bulan, Fatima, Darah dan Doa, Antara Bumi dan Langit, Untuk Sang Merahputih (drama) atau Delapan Jago Pedang, Rampok Preangan, Brandal Brandal Metropolitan (action).
Barulah sejak tahun 1980-an, judul-judul film Indonesia mulai aneh-aneh. Seperti Nafsu Gila, Nafsu Besar Tenaga Kurang, Ganasnya Nafsu, Goyang Sampai Tua, Saat Saat Kau Berbaring Didadaku, Gairah Yang Nakal. 
Puncak judul-judul film beraroma seks ada pada sekitar tahun 1990-an. Seperti Ranjang Yang Ternoda, Ranjang Pemikat, Godaan Membara, Wanita Dalam Gairah, Permainan Binal, Getaran Nafsu, Gairah Yang Panas, Bisikan Nafsu, Gadis Erotik, Gejolak Seksual, Puncak Kenikmatan. 
Keanehan ini justru terjadi ketika pemerintahan Orde Baru masih jaya-jayanya dan Direktorat Perfilman punya “kuasa” memfilter skenario serta jasa pembuat film. Barulah setelah Orde Baru rontok, judul-judul film Indonesia mulai “membaik” dengan munculnya judul-judul film seperti Petualangan Sherina, Bintang Jatuh, Bunga, Ada Apa Dengan Cinta, Biola Tak Berdawai, Pasir Berbisik, Tangisan Bidadari, Gie. 
Namun, sejak tahun 2008, penyakit memberi judul yang aneh-aneh, merebak lagi terutama untuk film-film berbau horor. Seperti Hantu Jeruk Purut, POCONG, Dendam Pocong, Leak, Terowongan Casablanca, Ada Hantu Disekolah. Sampai saat ini, film-film sejenis itu, masih berkeliaran di belantika perfilman Indonesia. Seperti Paku Kuntilanak, Suster Ngesot, Kutukan Suster Ngesot, Tali Pocong Perawan, Susuk Pocong, Diperkosa Setan, Rintihan Arwan Perawan, Kain Kafan Perawan, dan yang bikin heboh pada bulan Februari 2010 adalah Hantu Puncak Datang Bulan yang akhirnya diubah menjadi Dendam Pocong Mupeng.
Trendi Judul Berbahasa Asing
Menamai film “inlander” dengan nama asing sudah ada sejak tahun 1928, ketika dirilisnya film Lily van Java. Kemudian Jepang masuk ke Indonesia, muncul film-film berjudul Atma de Vischer, De Stem De, Bloed, Melati van Agam. Tidak saja mengambil bahasa Belanda, tetapi ada juga yang mengambil bahasa Cina, seperti Pat Kiam Hap, Ok Peh Tjoa, Poei Giok.
Anehnya, setelah Jepang hengkang dari Indonesia, muncul film-film dewek yang sok keren menggunakan kata-kata asing. Seperti Long March, Rodrigo de Villa, Big Village, River of Love, Last Tango in Jakarta, Virgin in Bali, I Love You Om, Jakarta Undercover, Missing Angel’s Cry, Anne van Jogya, Eiffel I am in Love.
Sampai Kapan?
Sampai kapan prahara judul film di Indonesia akan mereda? Ini patut dipertanyakan karena di dalam Undang-Undang Perfilman yang baru (Nomor 33, Tahun 2009), penelitian, penilaian, dan penentuan film yang dilakukan oleh Lembaga Sensor Film hanya meliputi tema, adegan visual, dan dialog sebuah film. Jadi karut-marut mengenai judul film, diperkirakan masih akan mewarnai kiprah perfilman Indonesia ke depan …

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia