Pencarian pada:
 
Detail Cantuman Artikel
Judul : Merawat Arsip LSF, Merawat Peradaban
Penulis : Nunus Supardi
Sumber :
  • artikel&sub
  • detail&id
  • 33
Subjek : Perfilman

 Di luar dugaan, dari cultural visit – yang merupakan sampingan dari acara sosialisasi LSF di Semarang pada tanggal 10-12 Maret 2010 – Tim Sosialisasi LSF telah menemukan data penting tentang LSF. 

Ketika mengadakan kunjungan ke Yogyakarta dalam rangka sosialisasi LSF tahun 2009, sebelum pada acara pokok, saya mengajak tim ke situs Candi Plaosan, Candi Sewu, Prambanan, dan Museum Ulen Sentalu di Kaliurang. 

Kali ini, dalam kunjungan ke Semarang, saya mengajak teman-teman ke Museum Jamu Jago dan MURI (Museum Rekor-Dunia Indonesia). Teman-teman tampak terkesan, karena meskipun telah menjadi anggota ”tim garda budaya bangsa”, rata-rata baru pertama kali itulah melihat objek kunjungan budaya di luar film. 

Di Museum Jamu Jago dan MURI, teman-teman mendapatkan informasi baru tentang jamu dan berbagai rekor yang dicatat oleh MURI. Sayang, panitia tidak mengabarkan rencana kunjungan itu kepada pihak museum, sehingga pihak museum ”gelo” tidak dapat menerima kedatangan kami secara lengkap.

Temuan

Berkat ketajaman mata Pak Tedjo Baskoro, Ketua Komisi A di LSF yang menjadi ketua rombongan, kami ”menemukan” data penting bagi LSF berupa Surat Tanda Pemeriksaan (STP) dari Panitia Sensor Film (PSF, nama lama dari LSF) dan lampiran berupa ringkasan cerita dari film berjudul Rahasia si Djagoor Terbongkar. 

STP tersebut dikeluarkan pada tanggal 8 Januari 1955. Berarti STP – surat yang berfungsi sebagai tanda bahwa sebuah film dinyatakan layak untuk dipertunjukkan – itu, ketika kami temukan telah berusia 55 tahun lebih 61 hari. Tidak heran bila Pak Sarimin, salah seorang staf LSF, nyeletuk, ”Wah, berarti saya belum lahir.”

Dari ”temuan” itu ada beberapa hal yang patut dicatat. Pertama, judul film si Djagoor, mengingatkan pada si Jagur, nama meriam koleksi masterpiece Museum Sejarah Jakarta – museum yang dibuka oleh Gubernur Ali Sadikin pada 30 Maret 1974. 

Keistimewaan meriam tersebut, terletak pada bentuk pangkalnya berupa kepalan tangan dengan ibu jari yang dijepit oleh jari telunjuk dan jari tengah. Konon, posisi jempol tangan seperti itu melambangkan persanggamaan. Bagi wanita yang bersuami tetapi belum punya anak, meriam Si Jagur dipercaya sebagai lambang kesuburan. Dengan menyentuh meriam itu, wanita yang lama belum punya anak akan hamil. 

Mungkinkah, pemilihan nama si Djagoor tidak hanya identik dengan Djamu Tjap Djago yang akan membuat orang yang minum menjadi sehat dan perkasa, tetapi juga ”nebeng” ketenaran si Jagur yang juga melambangkan keperkasaan? Film tersebut memberikan indikasi jenis film iklan (iklan Djamu Tjap Djago). 

Kedua, dalam STP tersebut, tidak jelas siapa yang menandatangani, karena tidak mencantumkan nama terang. Namun, jika ditilik dari angka tahun 1955 pada STP, berarti pada saat itu PSF dipimpin oleh Mr. Maria Ulfah Santoso (1950-1964). Ia adalah perempuan Indonesia pertama yang lulus sarjana hukum dari Belanda. Salah satu anggota PSF dari periode Ibu Maria Ulfah yang ada datanya, adalah Armijn Pane, pengarang novel terkenal Belenggu.

Ketiga, bila dibandingkan format SLS (Surat Lulus Sensor) yang dikeluarkan LSF sekarang dengan format SPS pada tahun 1955, meskipun ada kesamaan dalam jumlah butir, tetap ada sedikit perbedaan di sana-sini. Perbedaannya, antara lain: (1) dalam SPS dicantumkan dasar UU, sesuai pasal 8 dari ”Filmbesluit 1940”, (2) dalam SPS tidak disebutkan klasifikasi umur, hanya ada tambahan kalimat ”Boleh dipertunjukkan untuk semua umum”, (3) dalam SLS tidak disebutkan jumlah babakan dan jumlah bahagian, (4) dalam SPS tidak dicantumkan batas waktu berlakunya SPS/SLS, serta (5) dalam SPS tidak dicantumkan jenis (genre), apakah film drama, horor, komedi atau yang lain. 

Untuk jelasnya, silakan simak perbandingan antara keduanya, seperti pada tabel di bawah ini.

Panitia Sensor Film (PSF)
Lembaga Sensor Film (LSF)
  1. Nama Film : .......................................
  2. Negeri Asal : ...................
  3. Didaftarkan dengan No. : ...................
  4. Panjangnya dalam meter : ...................
  5. Jumlah Babakan : ...............................
  6. Jumlah Bahagian : ...............................
  7. Lebarnya dalam mm : .........................
  8. Bahasa : ............................................
  9. Teks tulisan : ......................................
  10. Pemohon Pemeriksaan : ......................
  1. Nomor : .......................................
  2. Judul : .............................................
  3. Negara asal : ...................................
  4. Diluluskan Untuk : .........................
  5. Batas waktu berlaku : .....................
  6. Panjang/Lebar/Reel : ......................
  7. Bahasa:.........................................
  8. Teks terjemahan : ........................
  9. Jenis : ..........................................
  10. Pemilik Film : ...............................


Catatan keempat adalah tentang posisi ringkasan cerita atau sinopsis. Tampaknya, pada masa PSF sinopsis dinilai penting, sehingga menjadi keharusan bahwa apabila SPS akan dikeluarkan harus dilampiri dengan sinopsis. 

Adapun ringkasan cerita film Rahasia si Djagoor Terbongkar yang menjadi lampiran SPS, adalah sebagai berikut. 
”Djono, seorang anggota panitia perayaan hari besar yang karena telah banyak kerja ia merasa amat payah dan lagi pula zwak (bahasa Belanda, artinya lemah: penulis), telah jatuh pingsan. Kebetulan di antara penonton ada yang tahu akan seorang dukun yang manjur, ialah pak Djagoor. Sesudahnya Djono diobati pak Djagoor, ia menjadi sembuh dan dapat bekerja dengan lebih giat lagi, berkat pertolongannya obat pak Djagoor. Pada suatu hari pak Djagoor akan pndah tempat, tetangga dan kaum kerabatnya datang untuk mengucapkan selamat jalan dan mohon berkahnya. Djono yang datang hadlir pada saat itu, berkesempatan untuk menanyakan obat apakah yang dipergunakan oleh pak Djagoor untuk mengobatinya, ketika ia sakit. Dengan serba singkat diceritakan oleh pak Djagoor obat apakah dan dengan cara bagaimana ia dapat menolong sesamanya, di kampung tersebut. Bukan mantra-mantra dan do’a, tak lain dan tak bukan ialah: jamu “Tjap Djago”."

Patut ditambahkan, selain sinopsis, dalam lampiran itu juga dicantumkan nama-nama pemain, yakni: Otong sebagai Djono; Memong Soeratno sebagai Amat; Subardiman sebagai Pak Djagoor; dan Susilowati sebagai Minah. 

Kelima, di dalam SPS dicantumkan beberapa syarat dalam penyensoran. Syarat itu adalah: (1) Tanda Pemeriksaan ini setiap waktu harus bersama dengan filmnya; (2) Film ini diberi tanda pada bagian permulaan dan penghabisan dan juga di mana film itu dipotong; dan (3) Perubahan-perubahan menjadikan tanda pemeriksaan ini tidak sah, begitu juga jika di belakangnya tidak dilampiri cerita pendek film tersebut yang dibubuhi cap dari Panitia Sensor. Kopi ”temuan” itu dapat dilihat pada lampiran 1 dan 2. 

Selain ”temuan” data arsip penting di atas, di Museum Djamu Djago dan MURI juga masih tersimpan pita film tersebut dalam bentuk copy ke-2 sepanjang 98 m, lebar 16 mm. Dari balik kaca, tampak kondisi film itu sangat memprihatinkan, terburai diselimuti debu. Pak Paulus Pangka SH, selaku Senior Manager Museum MURI, tidak dapat memberikan kepastian apakah film tersebut masih bisa ditonton atau tidak, karena belum pernah dilakukan pemutaran. 

Garda Budaya Bangsa

Dokumen tertulis dan rekaman cerita film yang disimpan di Museum Jamu Jago dan MURI telah menjadi benda cagar budaya. Sesuai UU No. 5/1992 tentang Benda Cagar Budaya (BCB), benda itu telah melampaui usia lebih dari 50 tahun, memiliki nilai sejarah – baik bagi LSF, perfilman, periklanan, maupun jamu di Indonesia. Oleh karena itu, sangat tepat Museum Jamu Jago dan MURI menjadikannya sebagai koleksi museum.

Benda-benda ”temuan” dari Semarang itu, menjadi bukti sejarah dari keberadaan LSF. Tentu tidak hanya itu. Di mana tinggalan lain dari lembaga yang kini telah menginjak usia 94 tahun lebih (1916-2010) ini berada? Apabila jejak kaki sejarah itu dapat dirangkai tahap demi tahap, akan menjadi satu gambaran yang lengkap dan menarik tentang LSF. 
Sebagai lembaga yang telah memosisikan diri sebagai garda atau pengawal kemajuan budaya bangsa, tentunya tidak hanya mengawal agar isi pertunjukan film dan iklan tidak merusak nilai-nilai budaya bangsa, tetapi juga mengawal bukti-bukti sejarah yang ditinggalkan dalam perjalanan LSF itu sendiri. Artinya, LSF perlu menyimpan dan merawat arsip sebagai dokumen tertulis (surat, akta, dsb), lisan (pidato, ceramah, dsb), atau gambar (foto, film, dsb) dari waktu untuk menjadi sumber sejarah. 

Pertanyaan yang saya sampaikan kepada karyawan senior LSF tentang keberadaan benda-benda seperti ”temuan” dari Semarang itu, hanya dibalas dengan senyuman. Oleh karena Ketua LSF silih berganti setiap 3 tahun, maka Kepala Sekretariat LSF harus ”kenceng” dalam melakukan pembelaan terhadap arsip-arsip LSF. Semoga dengan ”temuan” itu, dapat mendorong dimulainya kerja mengawal arsip LSF sebagai bagian dari sejarah kebudayaan Indonesia. Merawat arsip LSF berarti merawat peradaban bangsa. 

Terima kasih kepada Pak Paulus atas kepedulian terhadap pelestarian dokumen, yang tampak sepele tetapi tinggi nilainya. Juga atas izinnya untuk ”membongkar” vitrin dan mengkopi ”temuan.”

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia