Pencarian pada:
 
Detail Cantuman Artikel
Judul : Nasib Film Indonesia Akan Berdarah-darah
Penulis : Oleh Rahardjo (adalah Guru Kesenian, Pecinta Film Indonesia)
Sumber : Suara Pembaruan Prakarsa Rakyat
Subjek : Perfilman

 

Tanggal : 

02 Apr 2008

 Kini masa itu tiba, masa emas, yaitu film Indonesia dipuja. Mendapatkan tempat yang prestisius. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bahkan menangis saat melihat Ayat-Ayat Cinta (AAC) yang sebelumnya juga ditonton oleh Wakil Presiden Yusuf Kalla. Terlepas dari politik image menjelang pemilu, minimal kedua tokoh itu bisa menikmati, bahkan menangis.
 Keadaan saat ini sangat bertolak belakang dengan keadaan akhir 1980-an atau awal 1990-an, saat industri film Indonesia mengalami kemunduran. Padahal pada awal sampai pertengahan era 1980-an, film-film nasional sempat menguasai 50 persen sampai 60 persen box office film-film yang beredar di seluruh bioskop-bioskop di Indonesia.
 Nasib film Indonesia pun mulai berubah seiring makin banyaknya film-film impor yang masuk ke Indonesia, apalagi dengan ditiadakannya kuota impor film asing pada tahun 1998. Sejak itu film Hollywood dan Mandarin mampu menguasai lebih dari 80 persen box office Indonesia setiap tahunnya. Pada tahun 2002, dari 175 judul film yang dirilis beredar di bioskop-bioskop Indonesia, 100 judul film yang beredar merupakan film Amerika.
 Kini industri perfilman Indonesia mulai bangkit kembali. Industri perfilman Indonesia mengalami pertumbuhan pesat dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Produksi film Indonesia naik dua kali lipat menjadi 77 judul film pada tahun 2007 dari sebelumnya 35 judul pada tahun 2006, sehingga film Indonesia bisa kembali menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
 Dilihat dari sisi industri, perfilman Indonesia mempunyai nilai yang sangat besar dan masih punya potensi untuk meningkat lebih besar lagi. Berdasarkan Dodona Research, Cinema Going Asia (2000) yang menggunakan asumsi harga jual tiket rata-rata Rp 6.000, maka dengan estimasi jumlah tiket terjual pada tahun 2004 sebanyak180 juta, maka industri perfilman Indonesia meraup uang masyarakat sekitar Rp 1 triliun (US$ 100 juta).
 Seiring meningkatnya jumlah penduduk Indonesia, jumlah tiket pertunjukan film yang terjual pun dari tahun ke tahun semakin meningkat. Pada tahun 2000 tiket yang terjual 160 juta lembar, sedangkan pada tahun 2004 terjadi kenaikan menjadi 180 juta lembar. Oleh karena itu, potensi industri perfilman Indonesia untuk beberapa tahun ke depan diperkirakan masih sangat besar.
 Namun, jika kita bandingkan dengan negara-negara lain, posisi industri perfilman di Indonesia masih tertinggal jauh. Industri film Indonesia masih ketinggalan sekitar 8 tahun di belakang Korea. Dalam hal jumlah box office pun, industri film Indonesia masih tertinggal dibandingkan dengan negara lain. Pada tahun 2007 saat box office Indonesia mencapai US$ 100 juta, nilai ini ternyata hanyalah 2 persen jika dibandingkan dengan India yang bernilai US$ 3.600 juta. Nilai tersebut juga hanya sekitar 12 persen jika dibandingkan dengan box office Korea yang bernilai US$ 780 juta. Jangan pula bandingkan dengan Amerika yang kini nilai box office-nya telah mencapai US$ 9.600 juta.
 Dalam hal jumlah produksi film, Indonesia juga masih tertinggal jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Pada tahun 2007, jumlah produksi film Indonesia adalah 77 judul film, sementara Thailand mencapai 353 judul, Korea berhasil membuat 400 judul film, Amerika menghasilkan 630 judul film dan India mempunyai jumlah produksi film terbesar di dunia, yaitu 877 judul film.
 Sementara sektor produksi film nasional berkembang pesat, sektor distribusi dan eksebisi film belum bisa mengimbangi perkembangan sektor produksi sehingga sektor distribusi dan eksebisi perlu dibenahi untuk menyokong pertumbuhan di sektor produksi.
 Pada tahun 2006 jumlah produksi film Indonesia berada di angka 34 judul, film-film yang beredar hanya didistribusikan oleh satu distributor saja dan hanya ada dua jaringan eksibitor penayang film, yaitu Jaringan 21 dan Blitz Megaplex (berdiri November 2006). Sedangkan tahun 2008 ini, diperkirakan jumlah produksi film nasional akan meningkat menjadi 125 judul film, jumlah distributor maupun eksibitor film belum bertambah, masih tetap.
 Prediksi industri perfilman Indonesia, tahun ini seluruh film yang beradar diperkirakan mencapai 200 judul. Film Indonesia diperkirakan akan menyumbangkan 125 judul, sementara 5 studio utama Hollywood (Universal, Warner Brothers, Paramount, FOX, dan Disney) telah memesan tempat untuk paling sedikit 50 judul film milik mereka agar tetap bisa tayang di bioskop-bioskop Indonesia. Sedangkan 25 judul film sisanya berasal dari film-film independen, mandarin dan Eropa. Dengan adanya 200 judul film baru tersebut maka diperkirakan setiap minggu akan beredar 4 judul film baru.
 Saling Berebut
 Dengan asumsi rata-rata bioskop memiliki 4 layar sementara 1 layar sudah dipesan oleh 5 studio utama dari Hollywood, maka film-film Indonesia akan saling berebut dan bertarung untuk memperebutkan 3 layar tersisa dari masing-masing bioskop. Film-film Indonesia juga akan bertarung melawan film-film independen, mandarin dan Eropa. Ini berarti akan ada seleksi alam yang luar biasa dan eksebitor akan menjadi raja, mereka bisa tentukan seberapa lama umur film akan dipasang di gedung bioskop. Di sinilah akan terjadi "drama berdarah" film Indonesia. Film Indonesia yang jelek otomatis turun dan akan banyak produser yang uang produksinya tidak kembali. Film-film independen malah mungkin tidak bisa mendapatkan ruang, karena eksebitor akan berpihak pada uang.
 Saat ini biaya produksi rata-rata untuk film Indonesia diperkirakan Rp 3 miliar. Sementara untuk satu lembar tiket film Indonesia yang terjual, produser akan menerima US$ 1. Sehingga sebuah agar film bisa mencapai titik impas, film tersebut harus mamapu menarik penonton yang membayar tiket 300.000 orang. Jika biaya produksi lebih besar dari angka rata-rata itu, tentunya jumlah penonton film tersebut harus lebih banyak lagi. Apalagi kalau ternyata produser menerima kurang dari US$ 1untuk satu lembar tiket yang terjual.
 Karena itu, saya juga tidak habis pikir mengapa sangat sulit menonton film Indonesia yang bagus di Blitz Megaplex (di bioskop itu saya harus pulang, karena tidak mendapati AAC diputar). Alasannya, mereka tidak mendapatkan film Indonesia dari distributor dan produser. Ini tentu aneh dan tidak masuk akal, karena jika mereka paham hitung-hitungannya maka produser juga yang akan untung sekaligus dirugikan.
 Kalau itu soalnya, maka jelas monopoli seperti ini membuat hak rakyat untuk menonton di bioskop bagus terpotong. Oleh karena itu, persoalan perfilman dan perbioskopan di Indonesia agaknya tak bisa dipecahkan lewat mekanisme pasar semata. Dengan kata lain, dituntut kemauan politik dan visi yang jelas dari pemerintah dalam mengembangkan film Indonesia.
 Pemerintah perlu membenahi sektor distribusi dan eksebisi industri perfilman Indonesia. Dengan terciptanya iklim industri perfilman yang kondusif maka investor baru akan tertarik untuk turut serta meramaikan industri perfilman nasional, mulai dari sektor produksi, distribusi maupun eksebisi. Sehingga kesempatan emas booming film Indonesia tidak berakhir berdarah-darah hanya karena distributor tidak fair. Pikiran sehatnya, kita lebih memilih distributor yang harus mengalah demi prestasi film Indonesia yang dahsyat, dari pada mengorbankan talenta anak-anak bangsa yang hebat hanya untuk tunduk dan patuh pada sikap monopolistik sekelompok orang.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia