Pencarian pada:
 
Detail Cantuman Artikel
Judul : Dunia Iklan dan Pekerja Asing
Penulis : Bimoyadi Soemarmo
Sumber : Http://www.apfii.com/screen/13_artikel_film.php?ID11
Subjek : [ Tidak dicantumkan ]

Masalah pekerja asing (bukan hanya orang Malaysia) memang sudah beberapa waktu belakangan ini jadi big issue, apalagi sejak peraturan made in Indonesia diterapkan pemerintah. Banyak sekali hal-hal yang berkaitan dengan masalah pekerja asing ini karena khusus untuk bidang periklanan, sebagian agency besar atau multinasional, merasa bahwa kita masih kekurangan tenaga yang dianggap qualified untuk mengerjakan film iklan untuk klien-klien kita. Tenaga yang dimaksud terutama adalah film director yang bisa membuat/eksekusi iklan menjadi lebih baik tanpa lari dari objective iklan itu sendiri. Saya masih ingat pertamakali bekerja di bidang periklanan, waktu itu ada 3 production house besar yaitu Katena, Axis dan Squarebox. Ketiganya dimiliki oleh asing dan menurut saya boleh dibilang mereka adalah pelopor tumbuhnya production house yang khusus membuat film iklan.
Pada masanya (1990an) production house adalah tempat ‘belajar’ bagi agency dan client. Production house yang (memang seharusnya) menguasai masalah teknis, lebih berperan dalam semua eksekusi. Agency dan client lebih mendengarkan. Kalaupun ada komentar, itu lebih kepada acting si tokoh yang harus seperti ini atau seperti itu. Selanjutnya, agency mulai involve dan ‘mengatur’ production house dalam pengertian ikut campur saat si film director mempresentasikan shootingboard-nya. Misalnya agency sering minta tambahan atau mengubah shot-shot tertentu yang dirasa akan menambah kuat pesan yang ingin disampaikan. Pada masa ini agency sudah mulai ‘memilih-milih’ film director yang dianggap paling cocok untuk mengerjakan film iklan tertentu.
Sekarang, client sudah dalam tahap involve dan ‘mengatur’ production house!!! dan tentunya client juga lah yang memiliki decision power untuk memilih siapa film director yang akan dipakai untuk mengerjakan film iklan mereka, terlepas dari siapa yang direkomendasi oleh agency. Sebenarnya film iklan yang bagus itu seperti apa sih sehingga agency dan client begitu selektif dalam memilih film director? Sama halnya seperti film cerita, pendapat orang beragam terhadap film yang baik itu seperti apa. Film iklan dibuat untuk memberi informasi tentang produk, misalnya ada sebuah produk baru. Bisa juga memberi informasi tentang keunggulan produk, promosi berhadiah, dan lain-lain. Semua informasi ini bisa disampaikan dengan cara hard selling, dengan cara simple ataupun dengan cara yang creative. Ini tergantung brief dari client dan siapa agencynya.
Kebanyakan iklan dibuat mengikuti format tertentu. Misalnya iklan produk obat-obatan sering sekali menggunakan format problem-solving. Ada orang sakit, dikasi obat lalu sembuh. Ada yang menggunakan storytelling seperti kebanyakan produk kecantikan. Ada yang menggunakan konsep vignettes dan memakai jingle/lagu, dan sebagainya. Client dan agency pasti ingin film iklan yang dibuat (dengan biaya besar) dilihat oleh penonton sebanyak mungkin dan pesan yang dibawakan sampai/dimengerti oleh penonton. Sementara kalau kita lihat di televisi, majalah, koran, dan lain-lain, iklan sudah sangat amat ‘cluttered’. Saya sendiri sering pindah channel saat commercial break . J Coba kalau lagi iseng, perhatikan majalah seperti Gadis, Femina, Cosmo dan lain-lain. Ada berapa iklan dalam satu majalah? Pasti ada banyak sekali dan hampir semua seragam !!!
Karena itu agency selalu membuat konsep iklan yang berbeda supaya bisa lebih ‘menonjol’, kreatif, sehingga bisa mencuri perhatian penonton/pembaca, serta menjadi bahan pembicaraan agency lain. Ada kecenderungan ‘eksklusifitas’ dalam membuat konsep. Agency akan bangga kalau bisa menjadi pelopor dalam menggunakan konsep/ide tertentu dan apalagi kalau menjadi trend. Misalnya penggunaan lokasi yang keren, penggunaan celebrity atau penggunaan talent dalam jumlah besar (colossal) sampai penggunaan slogan-slogan yang lucu. Belakangan ini banyak agency yang lebih mengarah kepada kreatifitas/ide dalam membuat iklan untuk client. Apalagi untuk iklan televisi. Akan sangat bergengsi apabila agency bisa membuat konsep yang award winning. Kalau agency memiliki konsep yang award winning, tentunya konsep/ide ini juga harus didukung oleh tim produksi yang bisa membuat hal ini (award winning idea) menjadi kenyataan.
Untuk konsep-konsep yang biasa, dalam artian bagus meski tidak award winning, agency juga selalu ingin mendapatkan hasil yang terbaik. Oleh karena itu agency (dan client) sangat amat memilih siapa film director-nya ketika akan membuat film iklan. Untuk memilih film director, agency dan client pertama-tama akan melihat dari showreel film director. Setelah itu cukup sering kita akan minta seorang film director yang kita suka, untuk membuat treatment, yaitu interpretasi awal dari film director tentang bagaimana dia akan eksekusi iklan tersebut. Treatment inilah faktor paling menentukan dalam memilih film director. Selain itu jadwal produksi juga seringkali menentukan karena hampir semua produksi film iklan memiliki deadline yang ketat. Tidak boleh terlambat.
Film director yang bagus akan memilih crew yang qualified. Crew yang bisa mendukung film director dan membantu mencapai apa yang ditargetkan, terutama dari segi kualitas. Dulu banyak crew yang datang dari luar negeri seperti Malaysia, Singapura, Hong Kong, Australia, bahkan Amerika. Mulai dari film director, director of photography, art director, executive producer, wardrobe stylist, make-up artist, food stylist, bahkan line producer-pun pernah ada yang datang dari luar negeri. Pada jaman itu ketersediaan tenaga lokal yang qualified memang masih sangat sedikit. Banyak sekali orang lokal yang belajar dari mereka (tenaga asing) dan sekarang sudah sukses pada profesinya. Sekarang, hampir semua posisi-posisi di atas sudah ada tenaga lokalnya. Tetapi kenapa masih ada tenaga asing?
Pertama, masalah bisnis. Seperti yang sudah disebutkan dalam e-mail salah seorang rekan di milis KFJP, pasar di Indonesia ini besar sekali. Dan jumlah tenaga yang ada saat ini masih belum mencukupi. Jadi banyak tenaga asing yang datang mencari peruntungan di sini. Ditambah lagi akibat globalisasi, sehingga membuat bisnis di negara-negara tertentu turun drastis. Contohnya Singapura dan Malaysia. Karena bisnis produksi film iklan di sana turun, banyak orang-orang yang berkecimpung dalam produksi ‘hijrah’ ke negara-negara lain di mana bisnis produksi masih besar atau sedang tumbuh, seperti Indonesia, China dan Vietnam. Lalu, masalah kualitas.
Seperti juga disebut sebut, orang Indonesia sering ‘silau’ kalau melihat bule. Bule sering dianggap ‘lebih’. Padahal nggak selalu benar. Film director yang bagus akan memilih siapa crew inti dalam produksinya. Yang terutama d.o.p. dan art director. Lebih jauh lagi film director juga akan memilih editor off-line/on-line, colourist-nya. Kalau si film director kelasnya sudah ‘premium’ dia akan bawa crew inti dari negaranya, atau crew inti yang dia sudah percaya. Biasanya, production house akan mengikuti kemauan film director karena at the end of the day, production house bertanggung-jawab terhadap proses produksi dan hasilnya. Kalau production house tidak bisa memenuhi tuntutan film director, ada resiko hasilnya akan kurang baik dan sangat berisiko bagi mereka. Apalagi kalau mereka berhubungan dengan agency besar/multinasional. Jangan sekali-sekali berbuat salah karena bisa-bisa tidak dipakai lagi. J
Jangan kan film director asing, film director lokal pun juga akan memilih crew intinya. Dimas Jay, untuk job-job dari agency besar selalu minta Roy Lolang (d.o.p.) dan Anto Sinaga (Art) untuk crew inti. :) Selanjutnya lagi, untuk beberapa profesi seperti film director, d.o.p., art director, food stylist, jumlahnya masih sangat kurang. Apalagi food stylist, boleh dibilang saat ini belum ada real food stylist lokal. Dulu pernah ada food stylist yang namanya Michelle dari Australia. Dia pulang ke Australia setelah kerusuhan 1998. Sayang asistennya yang orang lokal tidak mau meneruskan profesi tersebut. Padahal kalau dia mau pasarnya sudah pasti ada dan masih ‘lowong’. He he he….
Khusus untuk film director, jumlah film director lokal yang menurut saya mampu bersaing di pasal global masih di bawah 5 (lima) orang. Mereka pun sudah super duper sibuk!!! Selain itu, ada film director yang sangat specialist untuk produk-produk tertentu. Misalnya shampoo. Untuk membuat rambut betul-betul kelihatan bagus membutuhkan teknik tertentu yang sangat jarang expertnya. Director tahu tipe rambut seperti apa yang bagus. Sewaktu casting, director cuma memegang-megang rambut talent dan bilang ‘too light’ atau ‘too heavy’. Kalau talent sudah dipilih sementara kita perlu ‘hair beauty shot’ kita selalu menyediakan hair talent. Selain director, untuk shooting shampoo harus ada ‘hair expert’ yang tugasnya membuat rambut bergerak sesuai dengan keinginan director. Misalnya rambut dibuat bergelombang, atau saat dilepas ikatannya, akan jatuh dengan berputar-putar. ‘Hair expert’ akan menggunakan berbagai alat untuk membuat gerakan-gerakan tertentu. Dan yang juga tidak kalah pentingnya adalah ‘hair stylist’. Sebulan sebelum shooting, talent terpilih harus mulai melakukan treatment untuk rambutnya sehingga saat shooting rambutnya kelihatan bagus dan sempurna.
Kebanyakan film director yang pengalaman dalam membuat iklan shampoo berasal dari Thailand. Kalau shooting dilakukan di luar Thailand, film director ini akan membawa seluruh hair team-nya, termasuk d.o.p. dan art director. Ada lagi film director yang specialist dalam hal stop motion atau clay animation. Untuk tipe seperti ini Australia lebih banyak source-nya, cuma pasti mahal. Di Indonesia, ada film director asing yang ‘edgy’ dan keren seperti Bo Krabbe. Kalau kita liat iklan-iklan Gudang Garam, Dji Sam Soe, A Mild Soundrenalin versi kursi listrik, dan banyak lagi, semua didirect oleh Bo. Film director lokal kebanyakan masih bermain di area ‘storytelling’. Masih sedikit yang bermain di area ‘post’, animation.
Untuk profesi-profesi yang lain saya melihat orang lokal sudah ‘menguasai’ produksi. Tetapi kenapa masih ada profesi-profesi yang dilakukan tenaga asing?
Jawabannya, jumlah, kualitas dan fee.
Yang saya ketahui, sering sekali kita harus ‘import’ tenaga asing untuk profesi tertentu karena yang ada di Indonesia tidak available atau tidak qualified. Yang lebih seram adalah masalah honor (fee) yang ‘katanya’ semakin lama semakin tinggi. Maklum, hukum ekonomi mengatakan kalau demand tinggi sementara jumlah yang ada tidak/kurang mencukupi, otomatis mereka (crew) bisa mengontrol harga. Sudah cukup sering saya mendengar production house curhat, “setiap 3 – 6 bulan free crew naik!”.
Sekarang crew film sudah memiliki asosiasi (APFII). Dan production house juga sudah membuat asosiasi (IPFII). Hal ini sangat bagus untuk industri asalkan keduanya bisa kerjasama dan menjaga supaya harga-harga tidak menjulang tinggi.
(Saya jadi ingat dalam pementasan teater tentang becak ada pepatah “bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai kenaikan harga-harga! He he he… jangan sampai terjadi pastinya…) Konon kabarnya fee asisten sutradara, asisten kameramen, crew lighting sudah hampir menyamai fee tenaga kerja di luar. Sementara menurut sebagian orang, standar kerja di Indonesia masih di bawah standar kerja di luar negeri (Singapura, Malaysia, Thailand dan Hong Kong).
Saya sendiri sudah pernah mengalami shooting di Australia, Singapura, Malaysia, Thailand dan Hong Kong. Memang boleh saya katakan mereka sangat amat displin. Mulai dari hal yang sepele seperti larangan tidak merokok, kebersihan sampai cara kerja mereka yang tertib, selalu update setelah satu shot selesai dan memberitahu shot apa selanjutnya. Selain itu mereka sangat amat efisien. Jumlah crew tidak lebih dari 15 orang. Bahkan 10 orang. Misalnya kameraman merangkap supir truk yang membawa lighting equipment. Dia cuma punya 2 (dua) asisten lighting.
Yang juga kelihatan adalah ‘speed’. Ada salah seorang film director Australia yang cerita pengalamannya shooting di India. Dia bilang paginya mereka briefing ke team. Tiba-tiba pada malam harinya dia ditelepon oleh art director yang minta director datang ke studio untuk liat settingnya. Hanya dalam waktu kurang dari 1 (satu) hari set sudah siap dengan kualitas yang bagus lengkap dengan propertinya. Menurut pengalaman saya, biaya produksi di India kira-kira setengah dari biaya produksi di Indonesia. Dengan kualitas yang minimal sama atau bahkan di atas. Saya juga heran karena beberapa bulan yang lalu saya ke Mumbai, ternyata biaya hidup di sana sangat mahal. Untuk tinggal di hotel sekelas Grand Hyatt, biayanya 2½ kali lebih mahal daripada di Indonesia. Tapi kok produksi film bisa murah sekali?
Memang tidak pada tempatnya untuk membanding-bandingkan. Tiap-tiap negara pasti memiliki cara yang berbeda dan semua tergantung kondisi di masing-masing negara. Cuma mau nggak mau kita juga harus melihat sekitar untuk mengukur kemampuan diri. Kita nggak boleh terlena. Beberapa production house melatih in house karyawan menjadi art director, line producer supaya bisa lebih menekan harga produksi.
Salah satu klien besar seperti PT. Unilever, menyewa advertising production cost consultant yang tugasnya menjaga supaya harga produksi iklan (TV, print) tidak menjulang tinggi. Saya sering mendapat komplain dari mereka karena harga produksi di Indonesia naik luar biasa. Padahal dalam kacamata dia, seharusnya dengan bertambahnya jumlah produksi, production house, post production house, seharusnya biaya produksi turun karena persaingan. Yang terjadi malah sebaliknya !!! Biaya naik hampir di setiap item production cost. Film director Indonesia sebetulnya tidak kalah kreatif dengan film director dari luar negeri. Kita cuma kalah dari segi bahasa dan presentasi. Dua hal terakhir itu justru sangat amat penting dalam produksi iklan karena kita jualan ke client. Dalam salah satu training yang pernah saya ikuti ternyata presentation skill itu menduduki ranking no. 1 dalam menjual sebuah ide kepada client!!!
Director of Photography. Saya pikir sudah cukup banyak d.o.p. lokal yang qualified. Tetapi saya sering mendapat permintaan dari client untuk memakai special d.o.p. untuk food. Fee d.o.p. special untuk food bisa lebih mahal daripada fee director loh ! :)
Jumlah d.o.p. juga pada waktu-waktu tertentu juga dirasa kurang. Art director dari lokal yang bagus ada tetapi jumlahnya masih kurang banyak. Production house tidak punya pilihan kecuali import. Selain itu biaya art department mustinya bisa ditekan kalau ada bahan-bahan yang ‘re-usable’. Saya dengar di luar sana ada perusahaan yang special menyediakan set dan props. Misalnya kita perlu buat kamar, mereka sanggup menyediakan dinding dan jendelanya. Kita tinggal cat. Lalu isi props. Di sini, setahu saya, set lebih sering dibangun lalu dihancurkan (?) atau dikeep sama set builder (?).
Food stylist. Levelnya masih belum ‘food stylist’ tetapi masih taraf ‘tukang masak’ menurut komentar para kolega saya. Pernah saya pakai food stylist dari luar dan ‘clash’ dengan local food stylist karena local food stylist bilang cara masaknya bukan begini, tetapi begitu. Sementara tugas food stylist luar cuma mendandani makanan supaya kelihatan cantik dan appetizing, bukan cara memasaknya seperti apa. Ayo bagi yang tertarik untuk menjadi food stylist, buruan belajar !!! Ini ilmu langka.
Loncat ke Post Production.
Editor Off-line dan On-line. Orang lokal sudah ada, tetapi yang bagus masih kurang jumlahnya. Colourist? Ini profesi yang langka. Baru ada 1 (satu) colourist lokal di Indonesia. Bang Kamal dari Malaysia, yang sekarang di VHQ, seringkali menawarkan untuk mendidik lagi tenaga lokal untuk menjadi colourist. (Dia juga yang mendidik Adi- the only colourist in Indonesia).
Dari sisi client, semua keputusan ada di tangan client. Itu memang betul. Ada client yang sudah suka dengan film director tertentu maupun production house tertentu. Saya pernah mengalami agency dipaksa untuk menggunakan production house tertentu sementara film director yang diusulkan oleh production house tidak cocok dengan brief yang diberikan agency. Alhasil, client bekerja langsung tanpa keterlibatan agency dan setelah itu agency dipecat !!! Atau malah ada iklan testimonial dalam bahasa Indonesia, tetapi si client memilih film director dari luar negeri yang tidak bisa bahasa Indonesia!!! he he he…
Tetapi kita sedikit menyerap ilmu dari film director itu dan project selanjutnya sudah dikerjakan oleh film director lokal.
Agency besar/multinasional bukan tidak pernah menjual film director lokal. Saya pernah bersama tim kreatif berusaha menjual film director lokal, Ipang Wahid, untuk sebuah brand. Kita mati-matian menjual Ipang sampai detik-detik terakhir. Tetapi klien yang bule ternyata lebih memilih film director dari Malaysia… entah kenapa. Hasilnya? Kita semua berpendapat seandainya Ipang yang membuat, kita yakin hasilnya akan jauh lebih baik. Saya agak iri sewaktu mendengar dari Meng, senior agency producer dan eks Head AV produser dari McCann, bahwa dia berhasil menjual Ipang untuk direct Coca Cola versi Kabayan. Padahal sebelumnya iklan Coca Cola hampir selalu ‘dipegang’ oleh film director luar.
Terus-terang saya sangat setuju dengan pemikiran Ipang dan Luki (Squarebox) yang mempunyai prinsip bahwa film director lokal harus dihargai sama dengan film director luar. Lokal tidak berarti harus lebih murah. Sayangnya, masih ada client yang berpikir dengan diproduksi di Indonesia dan menggunakan film director orang Indonesia, maka biayanya jadi lebih murah.
Balik ke topik utama: Pekerja asing?
Saya sih berpendapat asal mereka bekerja sesuai aturan negara ini, qualified – memang betul-betul bagus sehingga kita semua bisa belajar – seharusnya tidak masalah. Ada banyak orang Malaysia rekanan kerja saya di Indonesia dan semua sudah merasa bahwa Indonesia adalah rumah mereka. Mereka ini tidak meninggalkan negeri ini sewaktu terjadi krisis. Saya ingat sekali banyak production house, film director yang hengkang sewaktu terjadi krisis. Dan mereka menganggap sudah tidak ada lagi bisnis di Indonesia. Ada yang menutup kantornya dengan cara-cara yang kurang baik, meninggalkan hutang kepada karyawan. Saya lebih menghargai mereka yang ‘stay’ di sini dan ikut merasakan pahitnya suasana waktu krisis tersebut.
Sekarang banyak production house, film director yang kembali lagi ke Indonesia setelah sadar bahwa bisnis di sini masih amat potensial.
Tantangan terbesar saat ini adalah globalisasi. Banyak client yang sudah memindahkan produksi mereka, khususnya iklan ke regional. Tujuannya efisiensi. Cukup bikin iklan di satu negara lalu negara-negara lain tinggal dubbing, taruh super/tagline dalam bahasa masing-masing dan tayang. Akibatnya, bukan hanya produksi iklan drop, tetapi juga pekerjaan di pihak agency. :(
Sedikit banyak, peraturan made in Indonesia akan membantu menarik kembali produksi iklan ke Indonesia.
Sudah ada beberapa agency dari luar Indonesia yang melakukan shooting di Indonesia. Mereka langsung menghubungi production house baik yang ada di Indonesia maupun production house yang memiliki cabang di Indonesia. Prediksi saya, tahun depan akan lebih banyak lagi produksi iklan dari luar Indonesia. Semoga kita bisa memanfaatkan kondisi ini untuk membuktikan bahwa kita mampu, bahkan jauh lebih mampu daripada orang luar dalam artian kualitas kerja, disiplin.
Kalau kita memang bagus, bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi basis produksi film di Asia, minimal Asia Tenggara. Kita punya support yang luar biasa besar, terutama dari segi kondisi alam. Banyak area yang belum ‘terjamah’ untuk jadi lokasi shooting iklan. Kita punya kota tua yang kalau ditata dengan baik bisa dijual. Kita punya jumlah orang yang lebih dari cukup.
Dalam hal equipment, kita memang masih kurang komplit. Dalam hal art department, masih banyak peluang untuk tumbuh, membuat bisnis yang lebih kompetitif. Dan dari segi peraturan, khususnya mengenai visa, kunjungan mungkin perlu dilihat kembali supaya bisa lebih memudahkan orang asing mendapat visa dan datang ke sini.
Agency tempat saya bekerja pernah pitching untuk sebuah konsep yang akan diterapkan di beberapa negara. Konsep yang ditawarkan oleh kreatif saya ternyata dipilih. Sebagai lead agency saya ingin membawa shooting itu ke Indonesia. Tetapi sayang hal ini tidak terlaksana karena: - kebutuhan akan talent yang ‘indian look’ agak kurang banyak - kalau kita membawa talent dari negara yang bersangkutan, susah sekali untuk mendapatkan visa. - client saya pun yang dari negara lain mengatakan hal yang sama, mereka susah mendapatkan visa. Kalau pun bisa akan memerlukan waktu lama.
Akhirnya kita shooting di Malaysia karena overall di sana lebih mudah untuk mendapatkan talent-talent yang looknya India, harga lebih murah, lebih mudah untuk client datang ke Malaysia daripada ke Indonesia. Terakhir, saya mau mengingatkan saja bahwa kita sebaiknya melihat globalisasi sebagai kesempatan. Kesempatan untuk mendapat pekerjaan dari berbagai negara, tidak hanya dari Indonesia. Kesempatan bagi profesi-profesi yang ada di perfilman untuk merambah ke luar, ke negara lain. Siapa tahu, suatu saat saya ke Mumbai lagi, terus bisa ketemu crew yang orang Indonesia !!!
Setahu saya (mohon dikoreksi kalau salah) sudah ada beberapa profesi perfilman yang melakukan pekerjaan di luar Indonesia, seperti Yadi Sugandi (d.o.p.) beberapa kali shooting di Filipina, Ipang Wahid mendirect film iklan untuk agency Lowe dari Mumbai, Dimas Jay juga mendirect film iklan untuk Lowe Mumbai. Kalau dari sisi agency, sudah banyak orang kreatif yang hijrah ke luar negeri dan bekerja untuk agency di luar negeri. Semoga mereka bisa membuat nama Indonesia lebih harum di luar negeri. Dan tentunya dari teman-teman di produksi juga punya kesempatan yang sama untuk membuat Indonesia lebih harum lagi.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia