Pencarian pada:
 
Detail Cantuman Artikel
Judul : Ekskul dan Introspeksi Diri
Penulis : Teguh Purwanto
Sumber : Http://www.wikimu.com/News/displaynews.aspx?id644
Subjek : [ Tidak dicantumkan ]

9 Januari 2007

Pagelaran FFI sudah lewat, kontroversinya masih berlanjut menyusul pengembalian sejumlah piala Citra sebagai bentuk protes atas terpilihnya Ekskul sebagai film terbaik pada FFI 2006. Berbagai opini baik dari pihak panitia dan Masyarakat Film Indonesia (MFI) pun masih bergulir untuk membenarkan pendapatnya masing-masing.

Sebenarnya kasus ini patut disayangkan di tengah-tengah bangkitnya perfilman Indonesia yang banyak melahirkan film-film yang walaupun dari segi kualitas agak kurang namun banyak diminati masyarakat. Kebangkitan itu memang harus terus disikapi oleh kalangan film dengan meningkatkan kualitas karya mereka baik dari segi kualitas, orisinilitas dan manfaat yang dapat dipetik dari karya mereka.

Nah, kejadian pengembalian sejumlah piala Citra ini menunjukkan bahwa selaku pelaku industri film, ternyata mereka kritis dalam memberikan penilaian atas karya-karya film yang dinilai pantas masuk penilaian oleh Panitia FFI. Mereka sadar bahwa salah satu faktor yang dinilai dari suatu karya oleh panitia FFI adalah keorisinalitas sebuah karya. Orisinalitas itu bisa dari skenario, cerita, bahkan ilustrasi musik, hal terakhir inilah yang digugat oleh mereka sebagai hal yang dilanggar oleh film Ekskul yaitu ilustrasi musik yang menyadur atau mencontek film luar negeri.

Panitia juga seharusnya terbuka dengan kritikan tersebut, bukannya memberikan pembenaran atas keputusan mereka. Seharusnya kritik tersebut diterima, ditelaah, dan dipelajari dengan seksama baru memberikan keterangan secara luas. Apapun hasilnya, mereka tetap dengan keputusan semula atau merubah keputusan mereka, pihak panitia FFI harus memberikan argumen yang kuat dengan bukti-bukti yang mendukung, bukan dengan argumen yang mengada-ada.

Terus terang, saya jadi bingung dengan pendapat salah satu juri FFI, M Noorca Masardy yang mengatakan bahwa alasan pemilihan Ekskul sebagai film terbaik adalah karena cerita yang diangkat film ini banyak ditemui atau merupakan perwujudan kehidupan masyarakat sehari-hari. Benar kekerasan dalam rumah tangga banyak terjadi, tapi penyanderaan apakah juga bagian sehari-hari kehidupan masyarakat kita?

Sebenarnya, ada film-film lain yang mempunyai cerita dan manfaat yang dapat diambil yang lebih bagus dari Ekskul. Denias, Senandung di atas Awan misalnya, menurut saya jauh lebih baik dari Ekskul. Tapi panitia memiliki penilaian sendiri mengapa mereka memilih Ekskul.

Pada suatu kesempatan Butet Kartaredjasa, aktor monolog asal Yogyakarta, pernah mengatakan bahwa insan muda perfilman memang berbeda dengan senior-senior mereka dalam menyikapi suatu masalah dalam lingkup kerja mereka. "Cara bersikap dan berbicara kalangan insan muda perfilman memang seperti itu, dan mereka bereaksi memprotes dengan caranya sendiri bukan untuk kepentingan sendiri, tetapi sebagai wujud semangat dari idealisme mereka untuk ikut membenahi perfilman nasional," katanya.

Bila kita cermati , sebenarnya substansi persoalannya bukan hanya karena film Ekskul menang di FFI 2006, tetapi lebih dari itu mungkin FFI-nya juga menjadi `masalah` tersendiri bagi mereka yang melakukan protes tersebut. Mereka merasa ada yang tidak beres dalam tubuh FFI, yang notabene berisi orang-orang lama dalam dunia perfilm. Kaum muda mengharapkan FFI lebih terbuka dengan perkembangan dunia film yang berbeda dibanding masa senior-seniornya dulu.

Kita para pecinta film dalam negeri berharap dengan adanya kejadian ini agar tidak disikapi secara emosional oleh penyelenggara FFI, para pemegang otoritas perfilman nasional, dan pemerintah, tetapi hendaknya dijadikan momentum atau titik pijak untuk koreksi diri. Dengan kejadian ini sebenarnya sudah dua kali berturut-turut terjadi kontroversi perihal pemilihan pemenang yang dikategorikan oleh FFI. Tahun lalu insan perfilman juga dikagetkan dengan terpilihnya Marcela Zalianty sebagai aktris terbaik, mengungguli pesaingnya-Cornelia Agatha-yang banyak dijagokan oleh banyak pihak karena kualitas akting yang jauh melebihi Marcela yang terlihat datar-datar saja dalam film Brownies.

FFI sebagai lembaga resmi, harus segera melakukan pembenahan kinerjanya terutama dalam sistem maupun mekanisme yang selama ini diterapkan.Hal ini penting untuk dibenahi untuk mencegah terjadinya gesekan-gesekan yang akan kembali timbul dengan kinerja seperti sekarang ini. Selain itu, agar penyelenggaraan FFI tahun ini bisa dilaksanakan kembali tanpa adanya ancaman boikot dari pihak lain. Perlu kita ingat Pagelaran FFI baru kembali dilaksanakan setelah lama vakum, tentunya kita tidak ingin kejadian ini membuat FFI vakum kembali.

Selain itu, sepertinya model kompetisi perfilman nasional yang selama ini dipakai FFI memang sudah seharusnya dikaji ulang guna mendapatkan model yang lebih pas dan tepat dengan kondisi saat ini. Artinya, perlu dicari format yang lebih aspiratif terutama dalam kriteria penilaian yang dipakai. Persoalan yang kini mendera FFI tentu menjadi `ganjalan` bagi perfilman nasional yang sedang bangkit dari `tidur panjang` belasan tahun terakhir. Apalagi FFI pernah absen (tidak digelar) selama 12 tahun, semestinya itu menjadi renungan kalangan insan perfilman di negeri ini untuk bersama-sama menjaga agar FFI tetap eksis dan menjadi pendorong bagi kemajuan perfilman nasional.

Semestinya para insan muda perfilman yang memprotes keputusan tersebut sejak awal telah siap dengan apapun keputusan yang akan dihasilkan oleh pihak penyelenggara. "Artinya, kalau sudah siap ikut kompetisi atau film-nya diikutsertakan dalam FFI, harus pula siap dan ikhlas untuk dinilai dewan juri," ujar Butet .

Itu artinya, menurut Butet, harus pula mempercayai kredibilitas juri, dan siap menerima apapun keputusan dewan juri. Faktor subyektifitas yang mungkin mendominasi penilaian, adalah salah satu resiko dari kepercayaan terhadap kredibilitas juri.

Sedangkan adanya tuduhan dari berbagai kalangan bahwa film Ekskul sebagai karya jiplakan, menurut `Raja Monolog` ini biar masyarakat penonton yang menilainya. "Masyarakat penonton yang akan menilai apakah film tersebut jiplakan atau bukan," kata Butet. 

Namun kembali lagi penilaian masyarakat tentunya berbeda apabila sudah masuk ke lingkup kompetisi yang menilai banyak faktor yang harus dipenuhi oleh suatu karya untuk dibilang sebagai terbaik. Bagaimanapun, keputusan sudah diambil dan suka atau tidak suka dari suatu keputusan pasti akan timbul pro dan kontra. Sebagai manusia dewasa, inilah momentum bagi semua pihak untuk introspeksi diri, belajar menghargai, dan lebih banyak meningkatkan keikhlasan dan kebesaran hati.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia