Pencarian pada:
 
Detail Cantuman Artikel
Judul : Film Bicara
Penulis : Hendra
Sumber : Http://lsf.go.id/index.php?optioncom_
Subjek : [ Tidak dicantumkan ]

20 Februari 2009

`Indonesia’ memasuki era film bicara buatan ‘dalam negeri’ sejak tahun 1931,  lewat  film Atma De Vischer. Tentu saja  film bicara lebih menarik dibanding film bisu karena  mudah dipahami. Bahasanya Melayu campuran. Temanya pun lebih bervariasi seperti Bunga Roos dari Tjikembang, Indonesia Malaise, Sampek Eng Tay, Si Pitoeng, Raonah, Siloeman Babi kawin dengan Siloeman Monjet, Anaknya Siloeman Oeler, Anaknya Siluman Tikoes, Lima Siloeman Tikoes dan lain-lain. Bangsa siluman dan legenda  yang menyisipkan seni bela diri  ternyata memberi semangat pribumi untuk kembali menguasai seni silat warisan leluhur, ya mungkin pada suatu ketika  diperlukan untuk berjuang meraih kemerdekaan. Produser film keturunan Tionghowa, antara lain Wong Bersaudara, Tan Koen Yauw, The Teng Chun . Pada tahun 1937 cuma ada 2 film yang diproduksi oleh Java Industrial pimpinan The Teng Chun dengan judul Gadis Jang Terdjoeal yang disutradarai oleh Nelson Wong , bercerita tentang cinta Han Nio dan Oey Koen Peng. Artis dan aktornya kebanyakan keturunan Tionghwa. Ada juga film Terang Boelan (Het Eilan Der Droomen) produksi ANIF yang disutradarai  Albert Balink dengan bintang Roekiah dan Rd Mochtar yang kemudian melegenda.. Pada tahun 1940,  produk cerita drama amat digemari penduduk  seperti  Bajar Dengan Djiwa, Dasima, Harta Berdarah, Kartinah. Kedok Ketawa, Kris Mataram, Matjan Berbisik, Melati van Agam, Sorga Ka Toedjoeh, Sorga Palsoe, , Zoebaida. Berkibar lah nama Roekiah, Rd Mochtar , Rd  Djoemala, S Waldy dan  lainnya yang menjadi idola rakyat pribumi.

Pada tahun 1940 muncul Ordonansi Film Nomor 507 tentang Perubahan dan Penyempurnaan Komisi Film dan Susunan Keanggotaan Komisi Film. Ordonansi yang bertambah dan berubah-ubah menunjukkan bahwa Belanda amat concern  terhadap pengaturan film demi untuk menjaga ‘keamanan’ jajahannya. Film  Air Mata Ibu diproduksi tahun 1941, dimana Fifi Young mengukir nama besar. Genre  film  lebih beraneka ragam ada drama, crime, fiksi, laga, komedi dan lainnya. Ini tercermin pada film Air Mata Iboe, Jantoeng Hati, Elang Darat, Garoeda Mas, Ikan Doejoeng, Koeda Sembrani, Lintah Darat, Moestika dari Jenar, Mega Mendoeng, Noesa Penida, Pah Wongso Tersangka, Srigala Item, Tjioeng Wanara, Tengkorak Hidoep dll. Paling tidak ada 32 film diproduksi tahun itu. Ini prestasi. Sayang tahun 1942 cuma ada 3 produksi .  Maklum dunia mengalami masa sulit karena  berkecamuk  Perang Dunia ke II.  Jepang masuk ke Indonesia dengan menyebut dirinya saudara tua yang mengumbar janji palsu akan membantu Indonesia  meraih kemerdekaan . Ternyata lepas dari  jajahan Hindia Belanda diganti oleh Jepang yang sama kejam. Jepang masuk Indonesia tahun 1942. Semula kita ‘kesengsem’ dengan jargon baru yaitu Saudara Tua dan Asia Timur Raya. Walau demikian pada tahun 1942  masih ada  produksi film antara lain Boenga Sembodja, Seriboe Satoe, Berdjoang . Perang Dunia semakin menggila dan produksi film juga berkurang, tapi toh tahun 1943 Nippon Eiga Sha  memproduksi film yang merupakan propaganda Jepang tentang heiho . Masih ada 2 film lagi yang diproduksi yaitu Di Desa dan Di Menara . Menjelang kejatuhan Jepang di tahun 1944 ,  ada hal yang mengherankan yaitu diproduksi 6 film antara lain Djatuh Berakit, Gelombang, Hoedjan, Keris Poesaka, Ke Seberang, dan    film berjudul Koeli dan Romoesha, yang merupakan propaganda Jepang bahwa nasib romoesha lebih baik dan terhormat dibanding  kuli di zaman penjajahan Belanda! Terbukti antara film dan politik tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan!

Selama penjajahan Jepang ada paceklik  film asing sebab Jepang melarang film asing masuk, kuatir akan mempengaruhi rakyat Indonesia. Pemerintah Militer Jepang mengubah De Film Commissie menjadi Kainen Bunka Sidhoso Odohan Nippon Sodosho atau Pusat Kebudayaan dan Propaganda Pemerintah Militer Jepang (Sedenbu) di Indonesia   Ini berarti bahwa film lebih dititikberatkan pada propaganda Asia Timur Raya dan Saudara Tua. Menjelang  kejatuhan Jepang (tahun 1944) masih ada produser yang berani memproduksi film antara lain produksi Persafi yang dibiayai oleh Nippon Eiga Sha konon dengan sutradara Rustam St Palindih dan seorang pejabat Jepang yang menggunakan nama Indonesia . Produksi Persafi lainnya adalah Gelombang, Hoedjan, Keris Poesaka, Ke Seberang. Di masa itu ada  film Koeli dan Romoesha – tentang  nasib Romoesha  dari kacamata Jepang. Romoesha  dianggap jauh lebih mulia di masa pnjajahan Jepang dibanding para koeli di zaman penjajahan Belanda Jepang. Terus terang baik jadi koeli maupun jadi romusha sama menderitanya. Setelah tahun 1944, produksi film mengalami status pingsan!   Jepang menyerah pada Sekutu dan  kemerdekaan Indonesia diproklamirkan pada 17 Agustus 1945. Perang merebut kemerdekaan  mempengaruhi  produksi film yang ikut mengalami masa ‘perjuangan‘ alias sepi.

 Sejak tahun 1946 Pemerintah Indonesia menempatkan Badan Sensor Film berada dalam lingkungan Departemen Pertahanan Negara dan bertanggungjawab pada Menteri Penerangan. Apa yang tersirat dari yang tersurat dalam keputusan ini? Pentingnya perfilman dalam masa perjuangan yang  mampu  memberi penerangan dan mengobarkan semangat  rakyat yang sedang berjuang. Film merupakan alat perjuangan yang tepat untuk menyusupkan jiwa kejuangan. Setelah produksi film tertidur  - karena seluruh potensi rakyat tertumpah pada memperjuangkan kemerdekaan, baru tahun 1948 dunia perfilman menggeliat lagi  dengan 3 film yaitu Air Mata Mengalir di Tjitaroem (Tan & Wong Bros) Anggrek Boelan (South Pacific Film) dan Djaoeh Di Mata (South Pacific Film). Tahun 1949 kehidupan film bergairah  lagi  dengan 8 film.

Pemerintah kemudian menempatkan Badan Sensor Film dalam lingkungan Departemen Dalam Negeri dengan nomenklatur Panitya Pengawas Film. Itu terjadi pada tahun 1948 . Kalau diruntut penempatannya , Badan Sensor kembali seperti  ketika zaman jajahan Belanda. sebab Film Ordonantie  berada dalam naungan Binenland Bestuur – atau Urusan Dalam Negeri. Tersirat makna  bahwa film merupakan benang pemersatu masyarakat Indonesia. Film juga punya peran membangun jiwani bangsa.

Sejarah perfilman mulai merangkak lagi di tahun  1950. Jiwa merdeka mulai  menyusup dalam penciptaan cerita, termasuk merdeka  berkreatifitas. Ada  kejutan di dunia perfilman Indonesia dalam film Antara Bumi dan Langit – diproduksi oleh Stichting Hiburan Mataram dan PFN, disutradarai oleh Dr Huyung yang sejatinya  bernama Hinatsu Eitaro, yang dulunya pernah menjadi Kepala Jawa Engeki Kyokai  -sebuah sandiwara yang terkenal pada masa itu . Skenario ditangani oleh pengarang terkenal Armijn Pane sehingga getar susastra terasa. Namun terjadi kehebohan sebab untuk pertama kali dalam sejarah perfilman Indonesia karena berani  menampilkan adegan ciuman antara bintang tenar S Bono yang berciuman dengan Grace! Gelombang protespun membahana.   

54 tahun kurun waktu ‘Antara Bumi dan Langit’,  gelombang protes ini terulang lagi pada tahun 2004  dengan film Buruan Cium Gue, produksi Multivision Plus pimpinan Ram Punjabi dengan  ‘keberanian’  ciuman antara Masayu Anatasia dengan Henky Y Kurniawan. Saking hebohnya,  dai terkenal  Aa. Gym atau KH Abdullah Gymnastiar  ,  Professor Dr Din Syamsudin yang waktu itu menjadi Sekjen MUI beserta para pemuka lima agama datang ke kantor LSF,karena sudah  memberikan Surat Lulus Sensor. Juga  ibu-ibu dari berbagai organisasi melayangkan protes, termasuk Inneke Kusherawati yang dulunya berani menampilkan adegan panas dan beberapa artis lainnya.  Lembaga Sensor Film menjadi sasaran protes. Akhirnya oleh produser – demi menjaga kesatuan dan persatuan,  menarik film tersebut dari peredara sesuai dengan keputusan Menteri Budaya dan Pariwisata yang  pada waktu itu dijabat oleh Bapak I Gde Ardika menarik dari peredaran agar dapat direvisi  dan LSF kemudian membatalkan Surat Lulus Sensor.Film ini pun direvisi dan kemudian beredar kembali dengan judul baru yaitu Satu Kecupan. Kalau ada yang memprotes tentu saja ada yang membela, antara lain Pendukung Kebebasan Berekspresi karena  merasa kebebasan berexpresi hilang. Ya, jejak sejarah berulang kembali…          

Yang menggembirakan di tahun 1950  ada 24 produksi film nasional. Ini menunjukkan semangat membangun  film, luar biasa. Pada waktu itu Pemerintah Republik Indonesia menempatkan Badan Sensor Film dalam lingkungan Departemen Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan (PPK). Hal ini menunjukkan bahwa ‘titik berat’ perkembangan film  pada  budaya dan penddikan . Film merupakan  media  yang dianggap mampu mempengaruhi budaya bangsa, baik dari sisi positif maupun negatif. Film juga merupakan sarana  pendidikan bagi anak bangsa. Pada masa itu saingan berat film Indonesia  adalah  film dari India, Malaysia dan Philipina yang menguasai bioskop kelas ‘bawah’ dimana rakyat mampu menonton, sedangkan bioskop kelas menengah dan atas didominasi film Amerika, Eropa, dan Cina! Saingan film impor membuat perkembangan film Indonesia megap-megap. Untuk mengatasi  agar penduduk mau mencintai produksi film dalam negeri  diadakan Festival Film Indonesia, namun belum dalam bentuk seperti FFI sekarang . Walaupun demikian Festival Film menjadi upaya untuk meningkatkan apresiasi terhadap film karya bangsa sendiri sehingga kalau mungkin mampu bersaing. Paling tidak film karya bangsa sendiri disenangi rakyat sendiri.

Film import bagaikan bah datang menerjang, terutama dari Amerika . Dibentuk Association of Motion Picture of America di Indonesia (AMPAI). Film asing pun digandrungi, bagaikan raja di ranah perfilman Indonesia, bahkan menentukan selera. Film Indonesia yang masih lemah pun makin sulit berkembang. Untung ada sosok Usmar Ismail yang berhasil membuat film Darah dan Doa atau Long March yang mengisahkan perjalanan sewaktu long march para pejuang dari Jogya ke Jawa Barat. Shooting pertama dilakukan di Purwakarta, pada tanggal 30 Maret 1950. Tanggal bersejarah itulah kemudian ditahbiskan menjadi Hari Film Nasional. . Pada tahun itu ada 23 film yang diproduksi.  Perlu dicatat bahwa film Darah dan Doa sudah mengalami pemotongan oleh Badan Sensor Film , namun setelah beredar masih saja menunai protes dari berbagai daerah, antara lain dari kalangan ABRI karena dikaitkan dengan DI/TII di Jawa Barat.      

Masa yang menggembirakan datang ketika tahun 1951, dimana produksi film mencapai puncak perkembangannya. Di samping Golden Arrow, ada Persari, Bintang Soerabaya , PFN, Bintang , Thung Nam Film, Perfini dan lain-lainnya.. 64 film diproduksi tahun itu. Bintang-bintang baru bermunculan dan digandrungi masyarakat . Ada  film Enam Jam Di Jogya, Budi Utama, Bunga Bangsa, Hampir Malam di Jogya, Gadis Olahraga, Main-main Jadi Sungguhan, Pahlawan, Si Pincang, Terbelenggu dan masih banyak lagi. Bertambah produser berarti bertambah pula produksi dan ladang seni serta tema lebih bervariasi. Sampai sekarang jumlah ini belum tertandingi.  Pada tahun 1955  tepatnya 30 Maret – 5 April menjelang Pemilu pertama - diselenggarakan Festival Film Indonesia untuk pertama kalinya . Ketua FFI adalah Djamaluddin Malik dan wakilnya RM Sutarto. Ini merupakan kombinasi ynng baik sebab perpaduan  Djamaluddin Malik sebagai dedengkot  film dan RM Sutarto sebagai birokrat yang mengerti film. Ketua Kehormatan Juri adalah Profesor Bahder Johan dan Ketua Juri dipilih Sitor Situmorang – seorang budayawan. Ini merupakan tonggak sejarah dan  menjadi catatan tersendiri, sebab  Pemerintah mulai menaruh perhatian serius pada perkembangan duniaperfilman  yang punya dampak baik terhadap sosial budaya  maupun ekonomi. Sayang, FFI kemudian baru diadakan lagi setelah 5 tahun yaitu pada tahun 1960,  dengan piala yang disebut piala FFI.

Kebijakan perfilman tercermin dalam TAP MPRS 1960 yang  menyatakan bahwa film bukan semata-mata barang dagangan melainkan alat pendidikan dan penerangan. Selanjutnya  dalam impor film perlu ditentukan keseimbangan , sesuai politik bebas dan aktif  dan film Indonesia harus dilindungi dari persaingan dengan film luar negeri. Ya, itulah film yang memang tak dapat dipisahkan dengan politik!

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia