Pencarian pada:
 
Detail Cantuman Artikel
Judul : Antara Harapan , Tantangan dan Kenyataan
Penulis : Hendra
Sumber : Http://lsf.go.id/index.php?optioncom_
Subjek : [ Tidak dicantumkan ]

6 Februari 2009

Tak banyak yang masih ingat ketika tahun 1980 masyarakat    resah menyaksikan perkembangan film Indonesia  yang cenderung gandrung dan meniru film asing untuk  memenuhi selera dan permintaan masyarakat, yaitu sarat adegan   porno dan sadis.    Hal ini mendapat reaksi dan menggelitik  nurani Majelis Musyawarah  Perfilman Indonesia ( MMFI) dan memikirkan bagaimana caranya menghadang perkembangan film yang merugikan budaya bangsa . Awal Mei 1981 diadakan seminar yang membahas  tentang Kode Etik Produksi Film Nasional , dan tercapai kesepakatan  organisasi perfilman, seperti  Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI), Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI), Persatuan Karyawan Film dan Televisi (KFT), dan Gabungan Studio Film Indonesia (GASFI). Semenjak itu insan film mempunyai rambu-rambu , yang dibuat dan disepakati bersama  sehingga dapat mempersembahkan film yang baik dan berbudaya.

Namun, 26 tahun kemudian, justru para insan film yang tergabung dalam Masyarakat Film Indonesia – yang dimotori oleh insan film yang relatif muda usia dan  mereguk  pendidikan perfilman di luar negeri -  justru merasa risih dengan segala rambu-rambu , aturan dan ikatan, karena dianggap membelenggu kreatifitas. Sebagai seniman atau  creator  mereka menghendaki  bebas merdeka mencipta, dan merasa adanya Undang-Undang No 8 Tahun 1992 tentang Perfilman dan Peraturan Pemerintah No  7 Tahun 1994 dianggap membelenggu dan  memasung kreatifitas. Bahkan   Lembaga Sensor Film dan BP2N  yang merupakan produk Undang-Undang Perfilman bahkan dicap produk  Orba! Di sisi lain, masyarakat justru semakin peduli dan ingin melindungi diri serta keluarganya dari tontonan yang tidak menjadi tuntunan! Apalagi adanya fenomena  baru , dimana dahulu kala , jumlah bioskop lebih 2000 dengan 3048 layar ,sedangkan stasiun Teve hanya satu, yaitu TVRI. Namun kini terjadi perkembangan yang terbalik . Perubahan cepat ini terjadi akibat globalisasi yang membawa kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang amat pesat. Akibatnya jumlah bioskop  semakin sedikit sedangkan jumlah stasiun teve semakin membengkak . Julah stasiun teve berjaringan di Jakarta ada 14 buah, sedangkan stasiun TV lokal di daerah mencapai 98 pada tahun 2006. Maraknya tayangan teve  menjadi ‘makanan’ sehari-hari bagi anak-anak ketika berada di rumah, sedangkan  ayah dan ibu - karena tuntutan ekonomi dan aktualitas diri semakin jarang di rumah karena harus bekerja  sehingga  tak punya waktu  menjalankan fungsi  membimbing dan mendidik anak dengan  kuantitas waktu dan kualitas bimbingan yang memadai. Karena itulah   justru masyarakat meminta agar Lembaga Sensor Film tetap ada bahkan lebih mempertajam guntingnya

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia