Pencarian pada:
 
Detail Cantuman Artikel
Judul : Lokal dan Asing
Penulis : Lembaga Sensor Film
Sumber : Http://lsf.go.id/index.php?optioncom
Subjek : [ Tidak dicantumkan ]

Kenyataan yang tak dapat dipungkiri , yaitu film Indonesia berbanding  1 : 5 dengan film impor sedangkan untuk video buatan Indonesia dengan asing,1 : 2. Walau demikian ini prestasi yang memukau sebab pemirsa mulai menyenangi sinetron buatan bangsa sendiri. Keberhasilan sinetron dapat diukur dari jumlah episode sinetron yang  mencapai ratusan episode. Dari sumber LSF diketahui bahwa selama tahun 2006 LSF telah menggunting adegan film sepanjang  847,9 m karena menampilkan adegan porno. Penampilan sadis yang dipotong ada 116,1 m  dan karena sebab lain-lain terpaksa  digunting 84 m ( pelecehan, penghinaan , dll ) . Untuk rekaman video telah dihapus 96.094 detik karena pornografi, 14.971 detik  menampilkan sadis/kekerasan dan 3103 detik karena alasan lain yang kurang  pantas ditayangkan

Untuk melihat  perbandingan antara produk Indonesia dan asing dapat mencermati i grafik yang sumbernya dari LSF :  

KETERANGAN

2002

2003

2004

2005

2006

 Film Indonesia

11 

13 

22 

34 

33

 Film Impor

269  

227 

201 

202 

167 

 Video Indonesia

7.347   

6.275 

7.149 

10.295 

7.618 

 Video Impor

5.491 

6.362 

8.820

10.293 

14.789 

Mari kita bandingkan ‘selera’ penonton film pada tahun 1996, dengan produksi  33 film. Coba simak  judulnya : Ranjang Cinta, Mistik Erotik, Cinta dan Nafsu, Gairah Malam Yang Ketiga, Lampiasan Nafsu, Extasi dan Pengaruh Sex, Gejolak Nafsu dll. Lebih 50% beraroma sex. Tahun 1997 juga diproduksi 32 film nasional, dengan judul yang syur seperti Permainan Yang Panas, Gairah Tabu, Kebebasan Sex, Gigolo, Gairah 100% dll. Lebih 50% kental nuansa  beraroma sex. Tahun 1998 produksi menurun, Cuma 14 film. Masih ada film dengan ‘bau’ sex  seperti Sentuhan Tabu, Skandal Erotis, Gejolak Sexual ,tetapi mulai muncul film bernuansa seni seperti Daun  Di atas Bantal karya  Garin Nugroho dan Kuldesak. Di tahun 1999, poduksi melorot tajam, cuma 7 film. Simaklah judulnya yang seram :  Nafsu Membara, Permainan Membara, Menentang Nafsu. Tahun 2000 lebih lesu lagi karena Cuma 6 produksi. Judul dan cerita lebih srtistik, seperti Puisi Tak Terkuburkan, Petualangan Sherina yang meledak dipasaran dan sampai sekarang tak tertandingi untuk film anak-anak, Joshua Oh Joshua,Janan Ada Dusta, Reinkarnasi, Kisah Veronika. Demkian pula tahun 2001 dengan 6 film dan tak lagi terpaku dengan judul menyerempet sex tapi sudah memilih judul yang ‘lain dari lain’ seperti Demokras; Jangan Main Hakim Sendiri; Pasir Berbisik; Telegram; Marsinah dan Jelangkung . Rupanya penonton sudah muak dengan pornografi dan ingin sesuatu yang sesuai dengan budaya.. Tahun 2002 cuma  10 film, tahun 2003 menurun cuma 11 film. Baru pada tahun 2004 meningkat dengan 22 film dan  tahun 2005 mencapai 32  film dan dipuncaki tahun 2006 dengan 33 film. Salah satu produk tahun 2006 adalah film Eskul  yang ramai dan diprotes karena dianggap musiknya plagiat dari musik film luar negeri dan hal ini menyebabkan sebagian mengembalikan piala Citra sebagai tanda protes sineas muda. Naik  turun jumlah produksi film rupanya menjadi indikasi  - entah itu karena situasi yang tidak kondusif maupun  kondisi ekonomi dan  perubahan selera masyarakat.

Untuk tahun 2007 sampai dengan pertengahan Maret, ada 7 film. Ini pertanda yang bagus dan ada kemajuan walau merambat tapi pasti. Film adalah potret masyarakat pada suatu saat dan pada suatu tempat. Dari film yang disajikan kita dapat mengukur keadaan masyarakat pada saat itu. Dalam bisnis global  industri film amat memberi harapan. Seperti di Amerika, apabila filmnya digandrungi, seperti film Titanic bisa meraup hampir 1 milyar dollar! Tak heran apabila kesuksesan ini juga diikuti oleh negeri Asia yang mengandalkan industri film, seperti India yang tiap tahunnya memproduksi lebih kurang 800 film ( bandingkan dengan Indonesia yang 33 film , kita hafal film India sebab masuk ke Indonesia, namun belm satupun film Indonesia masuk ke India!). Demikian pula Hongkong, Taiwan, Thailand, dan lainnya yang memacu produk perfilman. Secara hitungan gampangan, dengan modal Rp 3 milar rupiah, apabila dapat meraup 300.000 penonton, produser tak akan  merugi ( Hitungan kasarnya, harga karcis antara Rp 15.000 – Rp.50.000 – diambil rata-rata 1/3 x Rp30.000 x 300.000 , setelah dikurangi pajak dan gedung bioskop). Lebih lagi jika box office seperti film Eifel I Am Iin Love ( 4 juta penonton , rekor yang belum terpecahkan ), Ada Apa Dengan Cinta; Heart;, Kuntianak; Pocong II;  Hantu Jeruk Purut, Hantu Terowongan Casablanca, Hantu Pondok Indah, dan lainnya. Kalau semula film remaja yang jadi box office kini beralih ke para hantu gentayangan…

Bagaimana dengan perkembanan teve? Yang selalu diprotes dari tayangan sinetron   di antaranya  porno ( gerak, ucapan, tindakan ), kekerasan seperti  dihantam berkali-kali, diinjak lalu disepak;  perempuan galak dengan mata mendelik dan maki-maki; siswa   dengan rambut jabrik dan rambut warna-warni, seragam yang tak sopan dan blus tak terkancing rapi dan omong kasar . Ini bak jamur di musim hujan, begitulah kegemaran mengekor yang sukses. Kalau satu sukses dengan sinetron misteri berbalut religi, maka hampir semua teve menyajikan hal serupa! Untung masih ada drama  yang membetot minat pemirsa seperti Intan yang dapat menjadi trend setter . Pasti hal ini akan rame-rame ditiru.

Banyak yang bertanya, mengapa masih ada porno dan kekejaman yang ditayangkan? Bukankan dalam kriteria penyensoran tidak dibolehkan? Sebagaimana biasa  ada aturan pasti ada  yang melanggarnya dan selalu ada celah untuk berkilah. Apalagi dalam persaingan yang ketat dalam  bisnis teve . Belum semua program disensorkan dengan alasan klasik kejar tayang atau berlindung di balik alasan siaran langsung , walau kenyataannya direkam.  Juga tayang ulang yang sejatinya untuk tontonan dewasa tetapi ditayangulangkan pada jam untuk anak-anak. Hal ini tak bisa ditoleransi sebab ada yang mencoba dengan ciuman walau nampak samar dan pada  film buatan anak negeri sudah ada yang berani menjajal adegan senggama, walau tahu dan yakin akan dipotong oleh LSF. Kalau untuk teve selalu ada  alasan , mulai dari kejar tayang , tayang ulang yang mestinya bagi penonton dewasa diulang ke jam tayang untuk anak. Ada juga yang melanggar klasifikasi  usia  .Untung , dinamika masyarakat berkembang cepat dan tumbuh kesadaran bahwa informasi juga punya limbah dan  menyadari bahaya tayangan /film yang tak mendidik bisa merusak perkembangan generasi muda yang dijuluki generasi instan dengan kemampuan daya tiru 70% . Menyaksikan tayangan yang dianggap kebablasan timbul berbagai reaksi dari yang lunak sampai ke demo !

 LSF bekerja berdasarkan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku, yaitu Undang-undang Nomor 8 Tahun 1992 tentang Perfilman dan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1994 tentang Lembaga Sensor Film, yang antara lain mencantumkan Pedoman Penyensoran dan Kriteria Penyensoran. Apabila kriteria ini diikuti pasti tidak akan ditolak dan dipotong. Dengan demikian insan film tak akan merasa dipasung kreatifitasnya. Para insan film  diharapkan melakukan swa sensor sebagaimana masyarakat juga menumbuhkan  swa sensor atau daya saring. Sebab apabila para pihak sudah mempunyai daya saring, tentu tak perlu lagi ada Lembaga Sensor Film, sebagaimana yang dimimpikan oleh sineas muda yang merasa kreatifitasnya terbelenggu. Semuanya menginginkan film Indonesia yang berbudaya  menjadi tuan rumah di negeri sendiri . Sebagaimana judul  film ‘Badai Pasti Berlalu’ yang kini dibuat ulang, hingar- bingar di dunia perfilman juga mereda dan semuanya kembali menekuni tugas mengangkat derajat film Indonesia sejajar dengan film asing namun tetap dalam kerangka  budaya Indonesia. Semoga  kenyataan   itu cepat terjadi.

 

 

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia