Pencarian pada:
 
Detail Cantuman Artikel
Judul : BUNUH DIRI dalam film sebagai masalah
Penulis : -
Sumber : Majalah Aneka Sport dan Film No.27 Tahun 1957, Hal.13 bersambung hal.16
Subjek : Film

BUNUH DIRI dalam film sebagai masalah

Orang jang hendak memulai segala penjelidikan terhadap apa-apa jang bersangkutan dengan seni, djadi djuga film, selalu bertolak dari induknya, jaitu filsafat. Karena filsafat “ kurang tjotjok” untuk kita, terutama di halaman-halaman madjalah ini, maka jang hendak anda ikuti disini bukanlah bertjiri “ serba filsafat”. Apa lagi saja memang kurang tahu-menahu dengan ilmu yang angker itu. Bolehlah, untuk iseng-iseng, kita kutip kata seseorang jang menjimpulkan, bahwa Albert Camus, pengarang/ Filosof jang barusan mendapat hadiah Nobel itu berkata, bahwa “ bunuh diri adalah hak setiap manusia”. Sengadja kita tidak hendak mengudji kebenaran iseng-iseng seseorang tadi, apalagi kebenaran jangdikatakan Camus itu.
JANG KITA SAMA-SAMA TAHU: bunuh diri, seperti bias dan (agak) biasa terjadi di kehidupan jang sedjati, djadi bukan melulu dilajar putih, biasanja timbul oleh terganggunja atau rusaknja djiwa atau urat-sjaraf.
Buat seseorang , hidup ini adalah suatu perdjuangan-tak-kenal-ampun. Perdjuangan menudju kesempurnaan rohaniah dan badaniah. Manusia dibesarkan di alam jang tjukup membri konsesi agar manusia bias memperkembangkan pertumbuhan badan dan djiwanya. Bahwa setiap manusia achirnya akan mati, tanpa atau dengan membereskan perdjuangan hidupnja tadi barangkali taklah aka nada sangkal lagi. Ini suatu kenjataan jang benar. Tetapi bahwa manusia “mesti” bunuh diri, disebabkan oleh kekisruhan perdjuangan hidupnja, adalah hanja suatu lelutjon jang murung. Sedjauh hemat tak ada suatu adjaran atau filsafat apapun jang menghalalkannja, apalagi membenarkannja, Sebab, saja kira, segala filsafat, baik filsafat timur maupun barat, jang ruet atau jang tidak, hanja bertudjuan pada kesempurnaan kehidupan, pemburuan kebenaran. Tetapi kita tentu sadja mengakui, bahwa bunuh diri itu ada.
Jang langsung berhubungan dengan film kita tjatatkan sebagai misal jang pertama adalah "The Heart of the Matter", sebuah film Inggeris jg. beberapa tahun j.l. tentu telah didepak sensor, karena sampai sekarang tidak ada diedarkan. film jang dibintangi oleh Trevor Howard sebagai pemegang peranan-utamanja, Scobie, adalah diangkat dari sebuah novel karangan Graham Greene, seorang novelist Inggeris jang sudah sedjak sebelum Perang Dunia II telah keluar dari geredja Katholik. "The Heart of the Matter" mentjeritakan djatuhnja sang pahlawan didalamnja, jaitu Scobie, seorang Inspektur (Douane) jang bekerdja disebuah kota di Afrika djadjahan Inggeris. kisah bermula dengan ekeringan kehidupan Scobie suami-isteri jang tidak punja anak, jang sudah kelelahan oleh kehidupan jang hampir tidak didjalini tjinta dan kebahagiaan. Njonja Scobie adalah seorang Katholik sedjati sedang suaminja rupanja memeluk agama itu mendjelang hendak mengawininja.
Halaman mula2 dari novel itu bermula dengan berangkatnja Njonja Scobie ke Capetown untuk istirahat, sedang wang jang dipakai untuk membeajai peristirahan itu oleh Scobie dipindjamnja dari seorang penjelundup/pemeras berkebangsaan Arab. tjerita makin ditegangkan pula oleh terlibatnja Scobie dengan seorang perempuan lain jang baru sadja ditinggalkan oleh suaminja, karam di ketjelakaan kapal jang mereka tumpangi jang ditimpa prahara. "The Heart of the Matter" hanya berpusat pada huungan antara Scobie dengan djanda muda itu jang disamping itu adalah si penjelundup jang selalu hendak mengantjam Scobie memerasnja dengan djalan hendak menundjukkan surat antara Scobie dengan perempuan djanda itu kepada isterinja. Dan tudjuan si Arab itu tentu sadja adalah agar Scobie me"merdekakan" penjelundupan-penjelundupannja dari pemeriksaan.
Kalau Scobie kemudian mengachiri hidupnja dengan djalan menelan obat-tidur dengan resep tetapi lewat-dosis, ini adalah disebabkan oleh runtuhnja harapan dia terhadap berhasil dia sebagai seorang hamba hukum jang diantjam oleh sipenjelundup/pemeras, bahwa dia tidak mungkin bertjerai dari isterinja, bahwa dia djuga tidak bisa menurutkan djanda muda itu untuk seterusnja, dan jang lebih utama dari itu semua adalah mulai terganggunja kesehatannja dan "ketakutannja" terhadap Tuhan karena sudah diperbuatnja kedjorokan2 hidup.
Pada hemat saja, sungguhpun Scobie adalah fiktif, hanja ada diimadjinasi raham Greene, pengadilan terachir jang dilakukan oleh sipengarang atas dirinja adalah tjukup baik dan adil. bahwasanja bunuh diri diharamkan oleh geredja sudahlah djelas.
Sinopsis jang asli jang telah bertahun-tahun jang lalu saja batja mungkin sekali telah dirubah disana-sini untuk disesuaikan dengan kepentingan2 film, seperti djuga biasa dikerdjakan pada novel2 atau roman2 jang diangkat keatas lajar putih. Bisa tidaknja diterima oleh penonton atau pembatja "The Heart of the Matter" bunuh dirinja si Scobie itu adalah bergantung kepada sikap djiwa dan aliran jang dianut oleh masing2 penonton atau pembatja. Disini bukan hendak diadjukan suatu penentuan jang mutlak atas keputusan Graham Greene.
PEMBUNUHAN DIRI DIDALAM film jang paling menegangkan urat-saraf penonton adalah "The Death of a Salesman" jang diangkat dari tjiptaan-sandiwara Arthur Miller jang sekarang adalah suami bintang tenar Marilyn Monroe itu. Disini pembunuhan diri itu memang melulu oleh runtuhnja kesehatan djiwa dan urat saraf, disamping runtuhnja harapan si Salesman (Tukang Kelontong) sebagai ajah terhadap kegagalan anaknja lelaki jg. digadang2nja mendjadi seorang lelaki jang akan mentjapai sukses hidup. Sebelum sianak pulang, siajah sudah beberapa kali ketahuan oleh keluarganja hendak bunuh diri dengan mempergunakan aliran listrik dari kabel2 jg. terbuka, tetapi setelah harapan hidpunja telah betul2 tandas - sesudah anaknja ternjata diketahuinja hanja pindah dari sebuah kota kekota jang lain melulu dari pendjara kependjara kota2 jang didatanginja dan tak bisa lagi diharapkannja bisa bekerdja atau berkarir jang tulus - maka si Tukang Kelontong telah membunuh dirinja dengan djalan mengendarakan mobilnja dalam keadaan mabuk dan kalap.
"Death of a Salesman" adalah sebuah tragedi modern jang menjedihkan. Mungkn terasa gandjil djuga - melewati seorang Arthur Miller - buat mereka jg. kurang teliti melihat benua mesin dan dollar itu akan ada suatu tragedi sematjam tjerita itu. Tetapi baik anda bisa kira2kan, bahwa diantara mesin2 jang tak berdjiwa itu manusia akan lebih terhimpit dan tertjekik, istimewa manusia kelas ,,plotelar" (beggitu istilah "Beruang Utara"nja barangkali). Karena benua itu adalah benua bordjuasi. Benua sikaja jang menggentjet simiskin. Tidaklah mengherankan kalau tjerita tjiptaan Arthur Miller itu merebut hati para komunis, sampai2 sipengarangnja dimadjukan kehadapan sidang Komite Pengusut Gerakan2 Anti Amerika.
TJONTOH LAIN TENTANG bunuh diri didalam film jg. masih aktual adalah "Lust for Life", sebuah tjerita biografis dari pelukis kenamaan Vincent van Gogh, jg. keatas lajar putihnja diangkat dari biografi tjiptaan Irving Stone.
Didalam "Lust for Life", Kirk Douglas jang bermain sebagai van Gogh telah agak berhasil mentjerminkan kembali kisah-hidup pelukis jang kenamaan itu, malang baginja pentjalonan hadiah Oscar untuk dia ternjata luntjas. Djuri mrmilih aktor pelontos Yul Brynner. Tetapi van Gogh jang menghabisi hidupnja dengan djalan meletupkan udjung pestolnja ketentang dadanja adalah djuga seorang seniman jang sudah kehabisan tjinta, harapan. Van Gogh sakit. Terganggu djiwa dan urat-sarafnja. Mungkin ini disebabkan oleh ambisi hidupnja terhadap seni lukis jang kurang mendapat imbangan sukses kehidupan rutine : tjinta, wang. Djuga geredja mengutuki van Gogh jang bunuh diri. Tapi bisakah geredja merampas "hak" van Gogh untuk bunuh diri ? Van Gogh mengundurkan diri dengan menghabisi njawanja sendiri dari kenjataan2 telandjang jang liat dan kedji, dari kesengsaraan2 hidupnja, kegagalannja sebagai lelaki jang mestinja berhak mentjinta seseorang, sebagai pelukis jang tidak bisa membeli tjat atau kanvas karena lukisan2nja belum mendapat pengakuan dari chalajak. Apakah untuk itu semua geredja mesti memaksa van Gogh tetap hidup digelimangi kesengsaraan2 jang mengeritiki djiwa dan badannja ? Kalau orang meragu2kan kepertjajaan van Gogh terhadap Tuhan, setidak2nja van Gogh tahu siapa Dia, karena sudah dari sedjak mendjadi tjalon-pendeta dipertambangan jang penuh kesengsaraan itu pula njata2 van Gogh mempunjai "perhitungan" sendiri terhadap Tuhan. Dan baik kita akui, bahwa perhitungannja tidak berbau penghodjatan. Apalagi suatu alasan terkuat jang mendesak kita untuk "menerima" bunuh-diri van Gogh adalah terganggunja kesehatan djiwanja, kapan ia dengan suka-rela meminta adik-nja Theo agar memasukkannja kesuatu rumah sakit djiwa.
DJADI HAMPIR BISA dipastikan, bahwa dari para pengarang jang baik seperti Graham Greene atau Arthur Miller, atau dari seorang seniman seperti van Gogh, bunuh diri fiktif (seperti pada tokoh2 imadjiner Scobie atau Si Tukang Kelontong) atau perbuatan bunuh diri jang dilakukannja sendiri (seperti van Gogh itu) adalah bukan permainan2 jang lutju dan menarik. Melainkan adalah pertaruhan sikap hidup atau bahkan hidup siseniman itu sendiri.
Bahwa masalah bunuh diri didalam film itu hanja dikemukakan sebagai "diberitakan" sadja didalam naskah ini, djadi tidak dianalisa sekedarnja, ini memang lebih disengadjakan. Setidak2nja dengan tulisan ini ditjoba hendak dijakini, bahwa pembunuhan diri tidaklah bisa mendjadi barang tertawaan, apalagi tjemoohan, baik oleh seorang jang merasa dirinja terlalu waras dan djauh dari gangguan djiwa atau urat saraf maupun oleh seseorang jakin sekali, bahwa ia chusuk sekali didalam agama jang dipeluknja.
Hanja buat orang2 jang agak pitjik dan fanatiklah, maka bunuh diri bisa mendjadi suatu lelutjon karikatur ketragisan dunia, karena djelas dari dua tiga tjontoh diatas ternjata, bahwa baik sipengarang jang menjutuh seorang tokoh didalam karangannja bunuh diri maupun seorang seniman jg. membunuh dirinja, selalu berdasar pada suatu ugeran jang kuat, jaitu apakah sipembunuh diri sudah terlalu berat digelimangi dosa dan kekedjaman, ataukah dia mengalami keruntuhan djiwa atau oleh kedua2nja.

 

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia