Pencarian pada:
 
Detail Cantuman Artikel
Judul : Film dan pengaruhnja
Penulis : Achmad M.S
Sumber : Aneka: Terutama mengenai olahraga dan film, 1957 no. 26 hlm.14
Subjek : Film

Film…
dan pengaruhnja

Dalam hubungan tulisan Wirawan Respati (“Aneka” no. 24) dan pertemuan besar antara produser, sensur, pendidik jg. Diselenggarakan oleh P.P.F.I., masalah penjesuran, bagi para produser, masalah pengaruh film bagi kaum pendidik mendjadi muda kembali untuk (kalau banjak orang telah menganggap perlu) membitjarakannja setjara serius.

Kalau dalam prasaran Asrul Sani mengatakan, dengan matjam2 tjontoh bahwa film tidak ada pengaruhnja bagi penonton, terasa pendapat itu terlalu extrim, sama sadja dengan golongan besar orang2 jang menganggap dirinja (paedagog) jg. djuga mengatakan bahwa kedjahatan2 pemuda, kedjahatan moral dan kerusakan achlak sekarang ini sebagaian besar banjak dipengaruhi oleh adanja (batja : bandjir) film2 aneka warna jang masuk kenegeri kita.

 

DARI DUA PENDAPAT JANG saling bertentangan ini, jang timbul hanjalah saling bertahan, ngotot2an antara kedua pihak jg. berkepentingan itu dan sebelum berachir mereka telah merasa djemu sendiri dengan masih terus membiarkan persoalannja begitu sadja terkatung-katung.

Kita djadi bertanja : apakah sebenarnja film mempunjai penagruh terhadap penonton, apakah dgn adanja crossboys dan kedjahatan2 lain jang berlaku sekarang ini pengaruh film mempunjai andil jang lebih banjak dari jg. lain?    

Djawabannja terletak pada djalan tengah, ini bukan satu sikap bantji untuk mengikuti arus kemana dia mengalir, tapi betul2 dalam soal ini kedua belah pihak (siproduser dan pendidik) harus saling mengakui fakta2 jang terdapat dari tuduhan lawanja, kemudian berfikiran luas dengan menjangkut pautkan segi2 lain jang mungkin berhubungan dengan persoalan guna mentjari djalan keluar jang sebaik-baiknja.

Film bagi orang dewasa dan anak2 (pemuda) memang mempunjai pengaruh. Pengaruh disini tidak berarti pengaruh2 jang mengandung keburukan melulu, sama halnja seperti pengaruh2 lingkungan masjarakat, pergolakan masjarakat, keadaan social dan tetek bengek lainnja lagi jg. terlampau banjak buat disebutkan.

Pertumbuhan djiwa seseorang dalam djalan menudju kepribadiannja sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan dimana seorang  hidup, keadaan ekonomi dalam rumah tangganja, gerak masjarakatnja ketika itu dan jang diterimanja disekolah dan dimasjarakat. Dari segi2 kepribadian jang dipengaruhi itu menginterpretasikan segala jang dilihat, dirasa, didengarnja – mengadakan reaksi atas aksi jang diterimanja dengan tjaranja sendiri2.

Samapi sekarang orang belum dapat setjara patokan2 memberikan definisi mati, dari segala matjam2 reaksi jang sekian banjaknja itu kedalam bundel2, guna dapat setjara teratur disalurkan dan disesuaikan dengan pendidikan bagi tiap orang. Ini memang tidak mungkin, lebih tjandong usaha ini dikatakan jerdja gila2an. Jang mungkin hanjalah setjara masaal kita meraba-raba kurang lebih sedikit demi sedikit, memberikan pengaruh baik lebih banjak dari pengaruh2 buruk jang mungkin dialami seseorang dalam djalannja jang masih pandjang itu. Sehingga orang itu dengan pengertianja, lebih banjak dapat menganggap hal2 jang baik darimpengaruh2 buruk lainnja.

DEMIKIAN DJUGALAH PERsoalan pengaruh film bagi tiap orang. Pengaruh itu ada jang buruk dan jang baik. Sebuah film jang ditonton oleh sekian ribu orang, akan menanamkan kesan jang berlain-lainan pada tiap orang. Kesan jang dipengaruhi oleh sekian banjak segi jang mempengaruhi djiwa orang itu.

Apakah dgn. pandangan ini akan bias kita tjapai kepuasan dlm. memenuhi kemauan kaum pendidik, jang menginginkan pengaruh baik pada setiap film jang dilihat oleh tiap orang (atau golongan pemuda dan anak2)? Djawabannja tentu tidak mungkin, kata siproduser.

Para pendidik djuga dalam funksi film terletak pada (selain mempengaruhi) djuga memberikan hiburan pada tiap orang jang tidak kurang perlunja dari makan dan minum. Suara2 bombas ingin membasmi kedjahatan jang banjak dilakukan oleh para pemuda sekarang ini dengan pengekangan (penghentian?) peredaran film di negeri kita, termasuk suara jang kekanak-kanakkan. Sama sadja halnja dengan membakar rumah karena marah pada seekor tikus. Si tikus tidak (belum tentu) mati, tapi rumah sudah habis terbakar mendjadi abu. Kalau pun tikus itu mati bersama terbakarnya rumah itu, ini bukan berarti kita tidak akan mengalami kedjahatan2 jang akan dilakukan tikus2 lain yang perkembangannja tidak dibatasi.

Dalam pengekangan film di Indonesia buat masa sekarang, sebenarnja dengan adanja panitya sensor hal itu sudah tjukup dapat diadakan pengawasan jang sempurna. Pengawasan akan lebih baik lagi, andaikata sensor bukanlah kumpulan kepala djawatan dan anu, jang kadang2 memandang sebuah film sebagai sesuatu jang harus dibajang-bajangi oleh rasa was2 dan ketakutan.

Penjakit ini tumbuh seperti jamur di musim hudjan dalam tubuh masjarakat kita. Penjakit jg. disebabkan kurang luasnja pandangan terhadap sesuatu, sehingga menghadapi gedjala2 buruk jang timbul dan baru antara masjarakat pemuda, sudah lebih dulu membikin orang2 pitam sebelum djalan keluar sebaik2nja dapat dirumuskan. Kita dapat memudjikan tindakan sensor membagi film buat anak2 dan film buat orang dewasa sebagai suatu tindakan jang bijaksana.

Reaksi anak2 terhadap apa jg. dilihatnja (djadi bukan film melulu) biasanja disertai dengan keinginan, sedang orang dewasa, kesan dari pada penglihatannja membangunkan reaksi jg. djauh berlainan. Tapi sensor djuga harus mengingat, bahwa film buat anak2 bukan tjuma film jang tidak mengandung hal2 jang dapat ditiru penonton anak2 itu. Film anak2, lebih banjak berkisar kepada bidang pendidikan, effek dari pada tontonan visuil itu harus membangunkan kesadaran jang lebih banjak untuk berbuat baik. Dan harapan ini hanja dapat terlaksana dengan bantuan para pendidik, jang selain mentjurahkan perhatiannja kepada bidang2 keilmuan, djuga tidak melepaskan diri dari persoalan2 umum jang mempengaruhi pertumbuhan djiwa anak didikannja di pergaualan masjarakat.

Sudah terang tidak bisa kita berharap lebih banjak terhadap bidang penjensoran ini, andaikata norma2 penjensoran seperti jg. dikatakan oleh wakil sensor film dalam pidato sambutannja, jang lebih tjondong laporan “kesulitan” dan “penerangan” itu tidak berubah atau tjara menafsirkanja masih sperti dulu djuga. Sensor haruslah orang jg. selain punja kedudukan tinggi dalam fungsinja masing2 (!), djuga orang jang bisa memndang film sebagai hasil karja seniman, jang bisa memberikan ukuran2 tersendiri dalam memandang sebuah film.

Film adalah alat sinema untuk menggambarkan kenjataan dalam masjarakat dengan gambar jang bergerak. Apakah gambaran kenjataan ini memberikan pengaruh buruk pada penonton? Belum tentu! Pengaruh banjak ditentukan oleh tjara menggambarkannja, dan untuk ini diperlukan pengertian jang lebih dalam untuk dapat menentukan baik buruknja penggambaran itu.

SEKARANG KITA BERTA-nja, apakah djalan keluar jang sebaik-baiknja untuk menetralisir pengaruh2 buruk, memupuk pengaruh2 baik bagi tiap orang yang melihat film.

Persoalan ini banjak terletak pada bidang para pendidik sendiri. Pendidik2 harus bisa mentjiptakan orang2 jang dapat memilih kebaikan dari sedjumlah gado2 antara buruk dan baik itu. Film memberikan pengaruh jang sama pada masjarakat seperti djuga dunia pelatjuran, pergolakan masjarakat dan tekanan ekonomi. Orang jang sudah dapat menangkap segi2 bernilai tinggi dari apa jang dilihatnja, tidak akan besar perhatiannya terhadap bidang2 sexs, tjara membunuh , merampok dan sebagainja.

Jang rusak pada crossboys (pemuda) bukanlah djengkinja, tuan! Kerusakan terletak kepada mental mereka, dan kekukahan mental ini hanja dapat dibangun melalui pendidikan jang harus lain dari yang ditiupkan sedari kegagalannja sistim idjazah sekarang dimana orang tidak bisa memegangnya sebagai ukuran bahwa si pemegang itu telah matang terisi memupuk goodwillnja dalam mengenali masjarakatnja sendiri.

Seperti saudara Wirawan Respati menjinggung-njinggung soal sekolah partikulir liar jang sekarang ini bnajak tumbuh, itu pun salah satu gedjala dimana sebenarnja persoalan pemuda terletak kepada pengawasan jang penuh dengan rasa tanggung djawab.

Organisasi2 jang menjalurkan setjara massaal pemuda-pemuda ke djalan jang tjojok bagi mereka, adalah salah satu djalan jang membantu berhasilnja usaha kaum pendidik ke arah memperketjil immoralisasi dewasa ini.

Besok dan besok berarti terlambat dan tjelakanya kita tidak bisa lagi menjalahkan gedjala2 jang mengerikan ini pada si Belanda yang mendjadjah kita selama 3 ½ abad, karena waktu sepuluh tahun sudah tjukup untuk menjusun konsep pendidikan nasional jang bisa memberikan kekuatan djiwa, sesuai dengan gerak hidup masjarakat, gun ammebina masjarakat datang jang tidak dibajang-bajangi was2 dan ketakutan.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia