Pencarian pada:
 
Detail Cantuman Artikel
Judul : PESAN KOL. NASUHI Kepada artis film
Penulis : Lingga Wisjnu, M.S.,Rd
Sumber : Aneka: Terutama mengenai olahraga dan film, No. 7, 1957. Hlm. 16-17
Subjek : Film

PESAN KOL. NASUHI
Kepada artis film


Dalam rapat pertemuan antara PPFI dan PARFI tg.16/4-57 tempat di Balai Budaja, Usmar Ismail menjampaikan pesan Kolonel Nasuhi jang berbunji, hendaknja para artis memperdalam penngetahuannja. Disarankannja, agar supaja para artis sebelum terdjun diri digelanggang lajar perak, djadilah seorang artis jang”beheerst” dilapangan nja sendiri. Mempunjai spesialisasi pada vak jang tertentu. Mengenal abc daripada film-maken, abc dari acteren dari abc dalam regieren.

SUATU HAL JANG HARUS diakui bersama, bahwa letak kelemahan para artis film 

Indonesia ialah  tidak mengenal lapangan nja sendiri. Mereka bukan “een geboren artist” tetapi hanja de groot door de omstadigheden”. Besar dan terkenal karena keadaan sekelilingnja. Mereka dibesarkan oleh beberapa wartawan, jang memang kurang mengerti bagaimana tjaranja membesarkan nama seorang artisfilm. Mereka terkenal namanja karena adanja publikasi tanpa mengingat effek maupun ekses daripada pemuatan nama jang serba demonstratef tadi. Sehingga apa jang sekarang ditjapai oleh sebagian artisfilm Indonesia, adalah suatu nama gemilang jang berbentuk fatamorgana belaka. Keharuman nama jang lenjap dalam waktu jang tertentu, tanpa meninggalkan bekas maupun kesan jang dapat  ditjatat oleh sedjarah.

            Mendapatkan nama setjara murah. Mentjapai keharuman nama setjara murah dan achirnja dilupakan masjarakat setjara murah pula. Kita masih dapat orienteren tijdlimit dari seorang artisfilm jang dapat mempertahankan keharuman namanja. Paling lama 5 tahun, kemudian lenjap tak berkesan.  Mengapa?

            Dalam masa psychologisestrijdprogram memang dikenal sensationelegeest untuk mentjatat keharuman nama. Artinja mentjapai keharuman nama dengan tjara jang sensationeel. Kita dapat mengemukakan beberapa artisfilm jang dapat mentjapai keharuman namanja setjara sensationeel, a.l. Nurmaningsih. Systeem dia untuk  mentjapai keharuman nama dengan tjara sensasi  memang dapat diterima.

            Tetapi ingat  bahwa dalam masa-psychologisc strijd-program tadi dikenal fase  dan tingkatan. Artinja kalau sudah mentjapai keharuman  namun setjara sensationeel, harus pula dipertahankan nama dengan mengalihkan diri pada penjuguhan suatu hasil karja jang didasarkan pada nilai permainan jang tinggi. Djadi bukan ”nama” jang diperdjoangkan untuk mendapat  pengakuan, tetapi hasil  karja jang didasarkan pada nilai kreasi jang bermutu

            Apabila fase jang kedua ini telah ditjapai dengan  hasil jang gemilang, usahakan untuk memindahkan diri pada masa-psychologise-strijd-program dalam djangka waktu jang pandjang. Artinja untuk dapat mengabdikan diri dalam tjatatan sedjarah. Tidak tjukup hanja nilai dan mutu permainan jang disuguhkan, tetapi hendaknja dapat ditjatat dalam sedjarah, sebagai salah satu tokoh jang pada tempatnja geapprecieed.

            Suatu tjontoh jang  boleh dikemukakan disini, ialah Fifi Young. Meskipun qua pendidikan  dapat dikatakan tidak memenuhi sebagaimana apa jang kita harapkan, tetapi masa-psychologise strijdprogram dapat kita tjatat sebagai salah satu usaha jang mentjapai sukses. Makin tua kelihatan sekali, bahwa dia menguasai  vaknja. Menguasai tekanan suaranja dan menguasai segalanja. Baginja memperdjoangkan keharuman nama sudah lampau. Fifi Young sudah tidak membutuhkan sorakan lagi, sudah tidak membutuhkan tepukan tangan,  tetapi sekarang jang diperdjoangkan dan didjadikan titik perdjoangannja ialah mengabadikan dirinja dilajar perak. Sekiranja dia meninggal dunia kelak, namanja akan dikenal oleh sedjarah. Kalau perlu masjarakat jang ditinggalkannja akan membikin sebuah patung, sebagai penghargaan terhadap perdjoangannja dimasa hidupnja. Inilah jang dapat kita kemukakan pada para artis.

            Perlukah kita bertjermin pada perdjoangan para artisfilm diluar negeri? Ada perlu dan ada tidaknja. Perlu kita kemukakan sebagai tjermin, dan  tidak perlu mengingat keadaan kita sendiri jang serba darurat ini. Djadi untuk apa kita terlalu djauh mendjangkau, sedangkan keadaan kita sendiri memang penuh facetten jang dapat kita ambil sebagai tjermin.

 

KEMBALI KITA HENDAK mempersoalkan ,,pesan Kolonel Nasuhi”. Mengapa beliau menitik beratkan pada  ,,pengetahuan jang mendalam” Apakah beliau djuga mengetahui kelemahan para artisfilm Indonesia, sehingga beliau perlu menjampaikan pesannja melalui Usmar Ismail?

            Bagi mereka jang selama ini dengan mata tertutup menjandjung-njandjung seorang artis film, baik sekali kita bukakan matanja. Masjarakat Indonesia jang terdiri dari berbagai lapisan, djuga mempunjai lapisan jang kritis. Kritis bukan karena mereka mereka “een geboren kritikus”. Tetapi kritis karena banjak membanding-bangkan apa jang pernah mereka liat dari film luar negeri, kemudian apa  jang mereka djumpai dalam film bikinan sendiri. Banjak persoalan jang dapat dibahas setjara mendalam serta gedetailleerd. Banjak masalah jang dapat dikemukakansetjara logika praktis, dan kelak akan dibenarkan oleh produser sendiri. Pengaruh pendapat ini didjadikan barometer, untuk meneliti sampai dimana kemampuan dan tingkat pengetahuan artisfilm kita dalam dunianja. Dan berdasarkan hal-hal jang kita sebutkan diatas tadi, Kolonel Nasuhi menjampaikan pesannja. Bukan berdasarkan perasaan sentimen, karena jang dilihat  hidung pesek atau mata sipit. Bukan ! Tetapi suatu perbandingan jang tarafnja dapat dikatakan taraf internasional.

            Tentu akan timbul pula suatu reaksi jang menekankan, bahwa usia dunia film Indonesia baru mentjapai lima tahun. Belum ada jg. dapat dibanggakan segala prestatie-vermugen jg. dapat digolongkan dalam kategori nilai standaard. Semuanja serba tjoba-tjoba. Barangkali sekses dalam vak ini. Kalau tidak, bisa pindah tjari matapentjaharian lain.

            Pendapat sematjam ini dapat dikatakan pitjik. Bagaimana djuga, adalah suatu ketentuan, bahwa dalam mentjapai masa-psychologise strijd-program harus  dikenal fase perdjoangan. Kita djangan selalu ditipu dengan nama gemilang sadja. Kita djangan terlalu mudah terpengaruh karena melihat dalam subtitle nama-nama jang tjukup mentereng dan tjemerlang. Masa sematjam ini sudah lampau. Masa demonstrasi nama sudah lampau. Kita menghendaki masa penilaian jang mendalam. Penilaian jang mempunjai ukuran standard internasional.

 

DIKALANGAN PRODUSER memang sudah kelihatan adanja pedjoangan pada fase ini. Para produser kini bukan membikin film dengan “pinjam modal keharuman nama”, tetapi jang didjadikan dasar harapan ialah ,,pinjam modal dari nilai permainan, bukan nilai keharuman nama. Memang keharuman nama dibutuhkan sekali, tetapi disamping itu harus pula dapat presteren apa jang dikehendaki oleh masjarakat kita. Djangan terlalu gampang mengomong, ah, masjarakat Indonsia toch tidak mengerti tentang film. Bikin film berupa apapun toch akan ditonton djuga!. Pendapat sematjam ini sudah lampau. Karena kini kita  bukan berdiri dipinggir kali Tjiliwung sadja, tetapi djuga berdiri ditepi lautan besar, dimana banjak penghuni dan saingannja. Pemerintah perlu pula menimbang-nimbang, apakah sudah saatnja Pemerintah turut tjampur tangan, melindungi para artisfilm jang sudah kelihatan hasil kreasinja jang mengagumkan? Apabila masih sadja mentjapai taraf permainan jang serba kaku dan menjengkelkan, dengan sendirinja Pemerintahpun akan bersikap atjuh tak atjuh. Meskipun para artisfilm mengadakan mogok berhias dan bemakeup tudjuh belas tahun lamanja.

            Ditindjau dari sudut kepentingan Industri Film Indonesia,  pesan Kolonel Nasuhi memang  dapat diterima. Kalau film Indonesia ingin merebut hati serta pasaran dikalangan kaum intellek, rebutlah dirinja dahulu agar supaja mendapat penghargaan jang sesuai dengan pandangan dan perhatian masjarakat tersebut. Bukan saling menjalahkan atau mengatakan bahwa film Indonesia tidak mentjapai kemadjuan jang diharapkan, karena kaum intellek tidak suka melihat filmnja sendiri. Bukan kaum  intellek jang salah. Tetapi letak kesalahannja pada para artisfilm sendiri.

 

KEMBALI KITA MEMPERsoalkan kelemahan dunia film kita. Usmar Ismail pada malam itu menjarankan, agar supaja diadakan spesialisasi dilapangan masing-masing. Djangan main borong! Asal djadi! Dan sembrono dalam membikin film. Kita akui pernjataan ini. Memang kita sering melihat tjara borongan ini. Seorang sutradara adakalanja merangkap djadi soundman merangkap djadi cameraman merangkap djadi penulis scenario-merangkap djadi clapperboy. Pekerdjaan  borongan ini bukan karena keserakahan dari si-sutradara tadi. Tetapi memang keadaan jang menjebabkan demikian. Tak adanja para ahli, tak adanja orang-orang jang spesialiseren dilapangan masing-masing, sehingga untuk mengkrieer suatu  hasil tjipta, terpaksa si-sutradara memborong segalanja. Mengapa? Jah! Dewasa ini paling mudah sekali ,,mengaku” djadi sutradara. ,,Mengaku” djadi cameramen. ,,Mengaku” djadi soundman. Dan ,,mengaku” djadi penulis scenario. Tetapi sebagaimana Usmar Ismail mengatakan, bahwa dikalangan kita kekurangan suatu facet. Ialah keahlian dilapangan masing-masing. Mereka tidak mengenal abcnja. Mungkin ada jang mengetahui a-nja tetapi setjara alfabetis mereka tidak dapat menundjukan dengan bukti kenjataan. Sadakalanja sesudah a mereka lontjat ke f, dan sesudah itu mereka tidak dapat bitjara lebih mendalam lagi. Djadi kita tekankan kembali saran Usmar Ismail, hendaknja mulai sekarang diadakan spesialisasi dikalangan masing-masing. Djangan  pindah lapangan kerdja kalau jang sedang dipeladjari belum betul-betul “beheerst,, abcnja.

            Seperti djuga orang perlu kenal dan fasih dalam salah satu bahasa, untuk mengemukakan segala sesuatu jang ingin dikemukakan. Apabila bahasa jang hendak diutjapkannja belum begitu fasih, dengan sendirinja segala keindahan jang hendak dikemukakan mendjadi suatu pengertian jang kabur dan hilangnja keindahan, karena tidak mengerti grammer dan prespektiefnja. Demikian pula dikalangan dunia film. Apabila seorang  seniman hendak mengemukakan emosinja setjatra mendalam, tetapi dia tidak mengerti abcnja, tentu sulit pula dimengerti oleh sutradara, mau apa dia? Dan untuk menjampaikan segala isi hatinja, orang harus mengenal alfabetis setjara luas dan mendalam.

 

PESAN KOLONEL NASUHI pada para artisfilm, mudah-mudahan didjadikan pegangan jang berarti. Dan pada para produser  producer kita pun turut menjampaikan  pesan, hendaknja dalam mengexploiteer para artisfilm djangan hanja diprofiteren,,namanja” sadja, tetapi disuruhlah mereka memperdalam vaknja masing-masing. Kirimlah kesekolah-sekolah atau akademi-akademi jang memang chusus memberi peladjaran dalam vak tsb. Sehingga dalam mengexploiteer para artisfilm, bukan hanja didasarkan ingin membesarkan nama seorang artisfilm sadja, tetapi djuga menambah pengetahuannja dalam lapangannja masing-masing.

            Suatu hal jang sampai sekarang tidak pernah mendapat perhatian dari para artisfilm Indonesia. Apabila namanja sudah tjemerlang dan gemilang, mereka  tidak mau meneruskan studie. Tidak mau membatja roman dari pengarang-pengarang dunia jang terkenal. Mereka tidak suka mengisi waktunja dengan batjaan rochani jang bermanfaat. Sehingga mereka dapat membanding-bandingkan diri dalam permainan nanti. Kebanjakan, apabila waktunja kosong hanja mentjari ,,surat undangan”, untuk turut meriahkan malam dansa ,,allnight” dengan lampu dipadamkan. Inilah suatu kelemahan artisfilm kita. Kalau untuk berfoja-foja jang sifatnja dapat meruntuhkan moraal kita, merekalah djadi pelopornja, tetapi apabila mereka disuruh memperkaja dirinja dengan lektuur, maka buku romanlah jang disumpah mati-matian, karena buku2 tsb. Dapat mengikat kakinja, padahal kaki tadi sudah  gatal ingin djingkrak-djingkrak ber-Rock & Roll.

            Penutupan studio film dewasa ini, hendaknja didjadikan masa permulaan dalam mempertinggi nilai dan mutu permainan bagi para artisfilm. Bersumpahlah dalam hati para artisfilm, agar supaja masa pembukaan studio-film djadikan arena pergaulan dalam menngedjar nilai permainan standard internasional.*

 

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia