Pencarian pada:
 
Detail Cantuman Artikel
Judul : SERAMPANG 12 Berkembang di kota Bengawan
Penulis : K. Sunarjo
Sumber : Majalah Aneka Sport dan Film No. 22 tahun 1957
Subjek : Film

             SERAMPANG 12
Berkembang di kota Bengawan

Sebulan jang lalu  di kota Solo kota Bengawan tau terkenal djuga sebagai kota Serimpi, berdirilah suatu perkumpulan tari jang diselenggarakan oleh Pemuda Melaju Sumatera Timur Tjabang Solo, dan diketahui oleh Sdr.Mansur Samin dan Moh.Chalid. sedang pusat dari perkumpulan tari itu jalah di Jogjakarta jang diketuai oleh nona Mariam Darus.

Latihan tari2an diadakan pada tiap hari Minggu pagi dengan mengambil tempat di salah suatu bangsal di Alun2 Utara. Peserta tari2an itu kini baru 30 pasang orang pemuda-pemudi baik pemuda-pemudi Sumatra maupun pemuda-pemudi Solo dan daerah2 lainnja. Djelas bahwa tari itu tidak provinsialistis. Para pelatihnja dari Jogjakarta jalah Sdr.Cornel dan Sdr.Djohan. Alat2nja sederhana sadja tjuma piringan hitam.

Tari2an jang telah diadjarkan jalah tari: Lenggang Patah Sembilan, Tandjung Katung, Seringgit Dua Kupang dan Serampang Duabelas. Sedang tari2an lainja jang akan dipladjarkan antara lain Tari Katam-katam, Tari Mainang dll

SENI TARI: PENDIDIKAN SEHAT

 Sdr. Mansyur Samin menerangkan, bahwa diadakannya Perkumpulan Tari ini mempunjai maksud untuk mempererat hubungan antar putra2 Sumatra chususja dan pemuda-pemudi umumja, dan maksudja terutama jalah peladjaran tari2an Sumatra kepada anak2 Sumatra di perantauan. Anak2 Sumatra ini sebagian besar sudah tidak tahu lagi tentang tari2an negrinja, disamping itu mereka boleh dikata tak ada jang suka beladjar tari2an daerah dimana mereka berada. Djadi mereka sunji akan seni tari, pada hal seni-tari adalah penting bagi pendidikan.

Selanjutdnja diterangkan, bahwa Tari Serampang 12 dll itu memang sematjam dansa, jaitu ber-pasang2an antar lakilaki dan wanita. Tapi tari2an kita itu adalah tari2an rakjat, tari2an missal, artinja bukan sadja digemari oleh pemuda-pemudi, tetapi oleh segala lapisan rakjat baik tua-muda, anak2 laki2 maupun wanita. Dan tari2an tsb diadakan  pada waktu2 ada peralatan atau keramaian2. Djadi bila dipandang dari sosiologi orang jang tak bias menari adalah berarti orang jang tidak bisa bergaul. Djelas seni tari ini untuk mempererat pergaulan, tari persahabatan. Dipandang dari segi lagi tari2an kami tsb merupakan gerak badan atau olah raga jang baik. Dan didapat kabar bahwa pihak Djawatan PP dan K Jogjakarta berminat supaya tari2an Serampang 12 itu dapat dipeladjarkan di sekolahan2 setjara massal.

 TIDAK BOLEH: GOJANG & BERSINGGUNGAN!

 

          Ternjata bahwa jang senang beladjar menari sematcam Serampang 12 adalah pemuda dan pemudi, karena ber-pasang2an itu mungkin. Dan mungkin sadja apa ekses2nja jang kurang baik dari pergaulan  antara pemuda dan pemudi itu. Bagaimana supaja tidak terdjadi sesuatu jang kurang baik buat pandangan umum?

            Sdr. Mansur Samin menerangkan bahwa menurut keterangan Nona Mirim darus – Pentjipta karja2 baru serampang 12 – menjatakan bahwa untuk mentjegah sesuatu jang kurang baik, antara laim kita harus berdisiplin memgang teguh akan nilai2 keseniannja. Misalnja para peladjar diwaktu menari dilarang keras bergojang pantat ( bergojang  kudian) dan bersinggungan tubuh dengan pasangannja. Memang aslinja tari2an tersebut adalah sedmikian rupa, dimana jang bersinggungan tjuma saputangannja sadja. Serampang 12 jang ada gojang pantatnja berarti sudah kena ratjun rock and roll jang tjuma memproposir nafsu asmara.

BAGAIMANA MUDA-MUDI?

 

            Umum sudah tahu bahwa di Solo adalah tempat kelahiran tari Muda mudi tjiptaan pangeran Prabuwinoto jang mendapat ketjaman hebat dari masarakat ramai, karena tari muda-mudi itu sematjam dansa. Ornag solo kini djuga sudah mulai tahu, bahwa tari2an matjam Serampang 12 itu sematjam tari muda mudi itu, tari dansa. Di Solo dansa setjara illegal. Maka djangan 2 sematjam Serampang 12 ini djuga mengalami nasib buruk seperti tai muda-mudi itu.

            Untuk mentjegah nasib buruk bagi tari2an rakjat Melaju di Solo ini, Sdr. Mansur Samin antara lain djuga menerangkan, bahwa perlu diusahakanja tempat latihan jang terhormat, dan tempat ini sukar didapat. Pihak pengurus pusat katanja sudah berhubungan dengan Bapak Pangeran Prabu winoto untuk mempeladjari apa sebab2nja kegagalan tari muda-mudi itu, dan dengan demikian dapat mendjadi bahan pertimbangan bagi kehidupan tari2an Serampang 12.

            Demikianlah, semoga Serampang duabelas kalis dari wabah rock and roll.*

 

 

 

 

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia