Pencarian pada:
 
Detail Cantuman Artikel
Judul : Unsur tjerita dalam musical show film
Penulis : [ Tidak dicantumkan ]
Sumber : Aneka No. 25
Subjek : Film

Unsur tjerita dalam musical – show film

Djangan lewatkan kesempatan baik ini! Djagalah tanggal mainnja! Saksikanlah : drama jang mengharukan, njanjian2 jang merdu, tarian2 jang menggiurkan, perkelahian2 jang seru, lelutjon2 jang pasti bikin penonton ketawa dari mula sampai achir! Saksikanlah film terbesar tahun ini dengan bintang2 kesajangan tuan!

 

BUNJI IKLAN DEMIKIAN tentunja sudah sering anda batja, bukan? Teks advertensi itu menundjukkan kepada kita betapa tjorak film2 Indonesia pada masa permulaan pertumbuhannja jang kedua (1950) hingga kira2 setahun kebelakang. (Tapi bahkan sampai sekarangpun masih ada jang begitu! Jaitu kita tidak tahu lagi film djenis apakah jang disuguhkan kepada kita, sebab unsur2 drama (maksudnja : tragedy!), comedy (maksudnja : comical!), njanji dan tari serta perkelahian sekaligus terdapat dalam satu film.

 

Karenanja kita djadi tak dapat memastikan apakah film itu dari djenis tragedy ataukah musical – show disebabkan unsur2 tersebut diatas – selain sekaligus ditumpukkan! – djuga sama banjaknja, sama menondjolnya, sama pentingnja, (dipentingkan oleh pembuatnja!); hingga film apappun jang kita tonton (kalau sekiranja “djenis”nja memang ada dimaksudkan) kita hanja menjaksikan hal jang sama : sedih-lutju-seru-njanji & tari! Demikian tjorak film2 Indonesia “dulu”!

 

Kemudian mulailah ada kesadaran pada satu – dua orang pembikin film, mereka lalu mulai membuat film jang ber”tjorak” tertentu, film2 jang mereka bikin ada “djenis”nja jang pasti. Walaupun masih terdapat dua – tiga unsure didalamnja, namun sudah ada satu hal jang dikedepankan, sedangkan unsur lainnjatjuma “bumbu” penjedap belaka. Berhubung sukses (!)nja satu – dua film pembuat film jang sadar ini, maka tjara mereka mulailah diikuti oleh pembikin film lainnja jang sebelumnja hanja tahu men”djedjalkan”kan segala matjam, kedalam film jang dibuatnja, dari sedih sampai njanji.

 

Lantas timbullah film jang punja tjorak/djenis tertentu dan pasti : film (untuk) anak2, film comedy, film kotjak, film tragedy, film show-musical. Muntjullah “Si Pintjang”, “Krisis”, “Pilihlah Aku”, “Arni”, “Serampang Duabelas” dan sedjenisnja masing2. Dalam pada itu masih djuga ada ada jang memasukkan dua-tiga unsur tapi jang dengan menekankan pada salah satu, namun ini diluar garis pembitjaraan!

 

Klasifikasi atau “pembagian” pada pembikinan film ini menundjukkan suatu langkah madju film Indonesia jang merebut tempat dimasjarakat, malah tindakan itu menundjukkan pengaruh timbal-balik antara kesadaran para produser kita dan pasaran jang sudah mulai dapat direbut oleh film2 Indonesia. Klasifikasi ini penting serta perlu dipertegas dan diperluas demi mempertahankan kedudukan industri film nasional jang kini mulai merebut perhatian masjarakat. (Semoga kesan-baik dari suksesnja beberapa film kita tidak akan di”nodai” oleh produksi jang dibikin setjara serampangan!)

 

Dan sesuai dengan kepala-karangan ini maka baiklah saja mulai membahas soal musical-show film dengan mengambil “Serampang Duabelas” dan “Tandjung Katung” sebagai titik-tolak. (Tenteng film (untuk) anak2 sudah saja bahas disini pada penerbitan 10 September 1957 jang lalu sedangkan untuk djenis comedy, dll mudah2an akan pula saja bahas nanti).-

           

Film bertjorak musical-show adalah satu djenis film jang baru dirambah para produser Indonesia. Sebagai satu djenis jang baru dirasuki tentunja menampakkan (beberapa) kekurangan, kelemahan jang wajar ataupun jang tidak selajaknja. Menjaksikan film2 “Serampang Duabelas” dan “Tanjung Katung” umpamanja, maka jang paling mentjolok , ialah tiadanja “pengikat”, jaitu tjerita. Untuk suati musical-show film, unsur-tjerita memang tidaklah perlu begitu dipentingkan, tapi ini bukan berarti unsur-tjerita tersebut boleh diabaikan sama sekali. Dalam film tjorak/djenis apapun unsur-tjerita tetap penting, tidak boleh di”buang” begitu sadja, sebab seminim2nja unsur tadi harus ada; tetap musti ada. Buat tali-pengikat apa jang sesungguhnja mau dikemukakan, sebagai perangkai agar isi tak berantakan.

 

Kurang memperhatikan hal lain dan sikap “asal kotjak sadja” atau “asal ada tari-njanji sadja” inilah jang menjebabkan musical-show film seperti “Serampang Duabelas” dan “ Tandjung Katung” itu djadi menjemukan meskipun “penuh-padat” dengan tari & njanji; karena hal lain jang kurang diperhatikan itu djustru unsur (ter) penting, jang tak boleh diabaikan dalam film tjorak/djenis apapun, agar “tari & njanji” dan sematjamnja tidak djadi tertjerai-berai.

 

Kurangnja diperhatikan unsur-tjerita ini membikin penonton merasa “diberati” kepalanja oleh hal jang sebetulnja (!) ringan, seperti “tari & njanji”. Kurangnja diperhatikan unsur-tjerita ini membikin penonton mengantuk karena tak adanja “selingan” diantara tari/njanji itu; jang djuga mengesankan bahwa tari & njanji itu terasa dipaksakan masuknja, pemasukan2 jang tidak “kena” disebabkan tiada (kurang)nja “alas an”. Sedangkan jang bisa memberi alas an ialah : djalan tjerita!

 

Tjerita sebagai pendjalin jang tjukuplah djika bertema tjinta (segitiga) atau sematjamnja jang seringan tari & njanji, asal sadja tjerita itu merupakan pengikat jang “memikat”, jang “tegang”, jang sekurang2nja membikin penonton ter-nanti2 ; meskipun achirnja pastilah hanjalah suatu “happy ending”, sesuai dengan tjoraknja : show-musical. Sebetulnja ini bukanlah hal jang ruwet, untuk mengetahuinja tjuma diperlukan daja-tjipta sedikit sadja.

 

Adapula hal jang bersipat teknis, namun tidak semata2 demikian, karena masih bisa ditjacai dengan djaja-kreasi jang sedikit luas. Jaitu sampai sekarang belum bisa di”tangkap”nja kemeriahan lagu dan kelintjahan tari serta keriuhan pesta, dynamik tak ada! Tari, njanji dan suasana pesta jang bisa menjebabkan orang ikut berdjingkrak kalau menjaksikan diatas panggung atau melintas didepan mata pada suatu pesta ; tapi mengapa tidak membikin penonton turut bertepuk ataupun mengketuk2kan tumit kelantai ketika penonton menjaksikannja (mendengarnja) lewat lajar putih?

 

Mengingat alat2 jang dimiliki rata2 studio2 film Indonesia barangkali hal tersebut barusan sulit dilaksanakan, karena tertumbuk pada segi tehnis, namun sebetulnja masih ada djalan lain jang sedikit memutar : regisur jang menggunakan daja kreasinja. Ah, tapi ini sudah diluar garis pembitjaraan! * (s.m.a.-)

 

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia