Pencarian pada:
 
Detail Cantuman Artikel
Judul : JEAN COCTEAU, seminar film, penjair dan entah apa lagi!
Penulis : Casper de Groot
Sumber : Majalah Aneka Sport dan Film no. 22 Tahun 1957
Subjek : Film

Pagi itu wartawan Tuan membontjeng mobil sport-model kepunjaan seorang sedjawat dari Amerika. Ketjepatannya seperti panah lepas dari busurnja. Dan St. jean ; Cap Ferrat ~ terletak disebelah timur Nice ; ~ dipinggir Laut  Tengah jang Biru itu nampak amat indah. Sedang laut lebih biru dari biasanja dan dari djalan jang berliku2 jang kami tempuh, kami melihat para nelajan  mendjemur djala-djalanja dipantai. Bunga Bougainville jang berwarna ungu tua bergantungan tjabang2 bunganja pada tembok jang tua dimakan hari dan air laut. Tembok itu dibangun seperti hendak menahan batu2 karang. Pagi itu adalah pagi jang indah jang hanja bias Tuan djumpai di Riviera.

 

“KITA TERLALU AWAL” kata sedjaawat jg dari Amerika itu. Dan mungkin ia benar. Sebab di Riviera ini hidup berdjalan terus saban hari sampai larut malam, dan orang jang hendak kami temui  ini adalah djuga seorang djang besar gairahnja terhadapa hidup. Tapi ketika kami berdiri didjalanan berkerikil juga, menudju kevilla putih itu telah nampak oleh kami bahwa pintu villa itu telah terbuka lebar, dan sekedjap kemudian muntjullah dari ambangnja dengan bersorai atau lebih tepat “menari” ~ Jean Cocteau berlari menemui kami. Sungguh pun ia masih berpakaian pajama ia sudah keliahatan segar dan riang. Sedjawat Amerika jang agak kaku dan wartawan Tuan jang tenang telah ber-pajah2 (sedikit2nja pada permulaanja) untuk menemui orang Perantjisjg. Ekspressif. Dan kami tahu, bahwa orang jang kami kundjungi ini adalah seorang dari seniman2 Perantjis jang banjak mendjadi bahan pembitjaraan orang. Awas Tuan akan kata “Seniman” buat Cocteau. Sebab Tuan mendengar sendiri dari dia maka terlebih dahulu dia akan menjebut dirinja penjair. Sungguhpun kemudian ia bakal mentjeritakan kerdjaan2nja jg. Hampir meliputi seluruh tjabang kesenian. Ia menulis roman, mentjipta sandiwara,membuat scenario fim, melukis, merentjanakan dekor untuk film2nja. ……….ja, apasih jang tak dikerdjakannja? Ia memang seorang jang penuh gairah dan gaja tjipta dan djuga charmant.

 

“Hanya dibawah sinar matahari Tuan dapat mengagumi warna2 ini”, udjar Cocteau tentang kain2 dindingja……….

               

                Masih dalam pijamanja ia menarikkan kursi untuk kami. Kursinja rotan, Tuan, seperti diindonesia disini. Dan kemudian ia menjuruh djongos ~ dalam bahasa perantjis djang amat tjepat ~ untuk menjediakan minuman. Kopi, ja , kopi, baik. Atau djuga sedikit cognac. Baik djuga . Lalu ia menghilang ke dlm kamar tidurnja untuk berganti pakaian. Sementara itu diluar burung2 menjanjikan lagu2 pagi dikebun bunga2an djuga. Beraneka ragam, djuga tulip belanda akan Tuan djumpai ditaman Cocteau. Dan saja belum pernah melihat geranium jang lebih besar dikebun bunga seniman ini.

 

PADA TAHUN 1910 COCTEAU menerbitkan kumpulan sadjak2nja jang pertama. Dan dengan bukunja itu orang tahu bahwa Cocteau bagai menantang segala “isme” jang menurut hemat dia bisa dikuasai dan dilantjarkannya. Para kritisi sebenarnja kaget djuga dengan tantangannja itu dan beberapa dari mereka menganggap bahwa Cocteau seorang Snobist, dan snobist ini tentu bakal tertumbuk nanti dengan snobismenja sendiri. Dan beberapa kritisi menjatakan keherananja, bagaiman penjair muda ini bias lahir ditengah keluarga seorang advokat? Tapi kritisi tadi lutjas. Jean Cocteau benar2 mampu mentjiptakan segala sesuatu didalam segala “isme”. Bahkan lebih dari pada itu ia tahu bahwa ia telah mendapat siding pambatja jang telah terpukau oleh ketadjaman yang luar biasa dari penulisannjajang berani, hingga setiap pembatja sadjak2nja tentulah “terbuai” oleh keunggulan tangan seniman ini.

Demikianlah ia kemudian menduduki tempat jang pentng  didalam kesusasteraan mutachir. Kesigapan dan kepintarannja memberikan kemungkinan melantjarkan media-seni-modern (seperti radio, film dan piringan hitam) dan segala tjita dan pemikirannja dapat dibuatnja “bermanfaat”. Kebenarannja tidak pudar2 juga sampai kini sedjak perang dunia 1. Rumahnja masih selalu dikerumuni oleh para seniman lukis, sastera, musik dan ballet. Djuga para decorator muda jang kemudian membantu pekerdjaanja didalam film2nja.

                Orang2 seperti Picaso dan Stavinsky adalah sahabat2nja dan jang mesra (inteem). Picaso merentjanakan dasi2 jang dipakainja dan Stavinsky membuat ilustrasi musik tjiptaan2 sandiwaranja. Bahkan komponist2 lagu Jazz pun tertarik kepada Cocteau. Dan filmya seperti “La Belle et La Bete” bukan sadja tjita intinja, tetapi adalah hasil2 kreasi dari penjuteradaraaanja. Dekorasinja,pendek film jang indah itu adalah gerak djiwanja djuga kemilau dan menjeluruh.

                Dengan bau parfum djang menundjam hidung ia keluar dari kamar tidurnja, dan ia mulai berbitjara dan bertjerita, sampai sore. Dan bila kami meningglakan kamarnja hidung kami masih diberatkan oleh bau bunga mawar.

Tidak pajah2nja ia mentjeritakan dan memamerkan “harta benda” nja, bukan sadja jang dirupakannja dengan kata2 tetapi djuga dengan djalan menundjukkan kepada kami lukisan2nja, hiasan2 didndingnja. Dinding2 kamarnja djuga hamper seluruhnya tertutup oleh beribu2 buku itu disana sini dipisahkan oleh hiasan2 tembok jang indah2. Semua itu direntjanakannja sendiri, dan kesemuanja dibuatnja diatas warna ~ pastel jang lembut dengan gambar2 jang eksotis dan berdasar pada konsepsi jang harmonis.

                Ditundjukannya kepada kami dasi2nja jang baru rentjanaann Picaso. Dan dengan tertawa ia berkata bahwa ia telah menjadi budak kehidupan jang serba – benda (mondain) ini. Ia juga telahmenjadai budak dari opium tetapi juga agama ……Seorang jang ajaib dan charmant, jg. Tak pernah membiarkan gelas nampak oleh matanja kosong. Dari anngur, cognact atau minuman lain. Dan bila ditengah2 lautan bunga seperti dikebunnya itu ia tak pernah tidak memetik beberapa diantaranja. Dan kebunnja jang menatjapdan mendjorok kearah laut itu merupakan tondjoloan warna hidjau jang meretakkan warna2 merah dan djingga dari ikan2 laut.

                Tuan rumah ini meladeni kami hibuk dengan minuman2 melulu dan ia berbahasa perantjis jang amat tjepat dan ~ demi sedjawat amerika saja ~ bahasa inggeris jang manis, suatu hal jang menjebabkan sedjawat kami keheran2an. Cocteau banjak bertjerita tentang kumpulan sadjak manja “Ode buat Picaso” , tentang tjiptaan2 sandiwara dan buku2nja seperti :  “Enfants terrible”, “parents terrible”, atau film2nja seperti “La Belle et La  Bete” , tentang rentjanaan karnavalnja , tetapi terutama adalah tentang pengangkatan atas dirinja mendjadi anggauta abadi dari Akademie Francaise, suatu kedjadian jang sampai sekarang masih menggetarkan kalbunja.

                Dan sekali lagi dinagkatnja tangan2nja tinggi, diarahkannja kekejauhan kebukit2 jang merah cokelat, kekebiruan laut dan ke nice dengan rumah2nja jang putih2. “Hidup memang njaman”, ….. lalu tangannja memutar piringan hitam lagi. Dan kakinja tak berhenti duannja dari detap2 dansa jang gandjil.

                Lalu dikireikannja lagi kain2 dindingnja kebawah tjahaja matahari. “hanja dibawah sinar matahari Tuan dapat mengagumi warna2nja” begitu kata dia. Ditebarkannja kain dinding itu seperti seorang senorita spanjol seraja ia memandjat  berdiri keatas kuda2an kaju jang telah tua, jang katanja dulu dielinja ~ entah dimana dia lupa ~ pada hari kemis.

                Kami merasa letih benar, tetapi kami berhasil denga interview kami. Kami lalu meninggalkan villa putihnja dan ia mengutjapkan “Au revoir ~ Au revoir “ berulang kali, suatu utjapan jang tentu benar2 dimaksudkannja demikian. Dan seniman Jang  bertubuh ketjil dan berambut kelabu itu djauh dibelakang kami tinggalkan.

                Cocteau, lelaki perantjis jang paling inventif, Cocteau anggauta abadi academie francaise, Cocteau penjair, seniman film dan entah apa lagi !*

 

 



 

 

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia