Pencarian pada:
 
Detail Cantuman Artikel
Judul : Sensor & Film
Penulis : S.
Sumber : Majalah Aneka Olahraga & Film, No. 24 tahun 1957
Subjek : Film

Sensor & Film

Pada tanggal 11 jang lalu telah dilangsungkan apa jang dinamakan “Pertemuan Besar Pembahasan Masalah Sensor dan Film” bertempat di Aula Universitas Indonesia di Salemba Djakarta. Pertemuan tersebut diselenggarakanoleh PErsatuan Perusahaan Film Indonesia dengan suatu panitia chusus jang diketuai oleh saudara Surjo Sumanto. Setengah orang menamakanja suatu symposium, tatapi panitya sendiri tidak setudju dengan nama tersebut, karena nama itu sangat mengikat, sedangkan maksud pertemuan adalah lebih bebas dan lebih luas.

PROSEDURE ATAU DJALANnja pertemuanpun tidak presis seperti pada symposium, jaitu dimana mula2 tampil seorang pendebat, semuanja setara chusus, sedang pendjabat2 lainja tampil kemudian sebagai “ekor” dari kedua pembitjara terdahulu. Pada pertemuan diatas kita tidak mengenal seorang predvieur jang harus bertindak sebagai seorang predviseur dan djuga pada hakekatnja tidak dimintakan kepada seorang pembitjcara, bahwa dia haruslah bertindak sebagai seorang pendebat. Tudjuan pertemuan ialah membahas,menganalisa, mengupas. Kepasa maksud inilah pembitjara harus menjesuaikan dirinja. Baik dia tampil setjara mendebat maupun hanja setjara pemberi gambaran atau pembawa saran2 sadja.

Karena sifatnja bukan suatu symposium, maka tidaklah pula diharapkan dari pembitjara chusus bahwa dia memadjukan pendapat2nja sendiri atau kesimpulannja serta medium2nja dalam pembitjaraannja itu, terutama sekali para pengantar, dalam hal diatas saudara Asrul Sani dan saudara Usmar Ismail. Karena maksudnja kedua mereka ini hanjalah memberikan bahan pembitjaraan dan pembahasan kepada hadirin atau pembitjara2 lainnja jang akan memasuki persoalan dengan lebih dalam. Kemudian sebagai landjutan dari kedua pembitjara chusus dari kalangan dumia film itu sendiri, telah pula disiapkan pembitjara2 chusus lainnja oleh panitya, jang sengadja diminta dari golongan2 tertentu seperti pendidikan,agama, wanita, jang diharapkan akan menjorot persoalan dari sudut pandangan golongan mereka sendiri. Djadi mereka ini dapat djuga dikatakan sebagai “inleider” pula disamping atau sesudah kedua inleider jang kita sebutkan diatas. Jaitu sebagai inleider dari golongan mereka.Inleiding mereka ini mereka buat berdasarkan inleiding dari kedua pembitjara diatas. Barulah tampil sama sekali tidak terikat pada salah satu batas atau golongan manapun djuga, bebas untuk mendebat, bebas pula untuk memadjukan persoalan baru dalam rangka masalah jang sedang dipersoalkan. Kiranja tjara jang dilakukan panitya adalah bidjaksana karena dengan demikian bisalah didapatkan tjakupan pemandangan jg. seluas2njadan semerata2nja. Dengan demikian bisalah pula dilakukan pembitjaraan seobjektif2 dan sedjujur2nja dengan tidak melupakan golongan atau segi manapun djuga. Hal ini adalah perlu, karena masalah sensor bukanlah soal film atau producer atau seniman sadja, tetapi dia adalah persoalan seluruh negara dan masjarakat, persoalan kebudayaan bangsa dlm. Arti kata seluas2nja.

Tetapi untuk menilai pertemuan tersebut, memanglah dapat kita memakaikan ukuran simposion biasa padanja, jaitu bahwa kita tidak usah menilai hasil dengan ukuran banjaknya djumlah pengundjung, tetapi lebih dulu memperhatikan mutu para pengundjung. Seperti halnja tiap hasil atau pekerdjaan dan usaha seni, tidak pernahlah dia mendapat perhatrian jang besar dari masyarakatnja, kadang2 malah tidak diperhatikan oleh masyarakat sama sekali. Begitu djuga tiap pembitjaraan soal seni atau filsafat atau soal apa sadja jang berat dan memintakan mutu serta pemikiran jg. Mendalam, tidak pernah mendapat sambutan masjarakat setjara ramai dari publik biasa, apa lagi dalam keadaan masjarakat dan negara kita jang pelik dan menjedihkan seperti waktu belakangan ini. Usaha jang dijalankan P.P.F.I pada tanggal 11 itu adalah suatu usaha jang mendahului pemikiran masjarakat biasa, suatu usaha pemikiran jang tjukup dalam. Oleh sebab itulah dia tidak mendapat perhatian jang hebat. Hal ini telah didasari oleh panitya sebelum dilangsungkanja pertemuan. Itu sebabnja maka panitya sangat membatasi djumlah undangan dan hanja menundjukan kartu-undangan jang hanya 250 buah djumlahnja itu kepada orang atau tokoh2 tertentu dan kepada golongan tertentu sadja. Ternyata djumlah jang 250 itupun masih terlalu banjak, karena banjak pula orang2 dari kalangan film dan sensor sendiri jg. Mempunjai kepentingan besar pada soal jang sedang dibahas, serta wartawan2 film itu sendiri jang selama ini setjara galak memudji atau mengkritik sensor, kadang2 setjara jang tidak dapet dipertanggung-djawabkan, djuga tidak menampakan mukanja. Begitu djuga beberapa produser jang selama ini mendjerit2 karena tindakan sensor terhadap film mereka, djuga tidak menundjukan hidungnja.

Memanglah, pembahasan soal sensor setjara mendalam tidaklah segampang mengkritiknja. Hal ini haruslah kita mengerti dan perlu mereka ini kita ma’afkan. Itulah sebabnja hanja sedjumlah 71 orang sadja jang hadir pada malam itu dari 250 undangan. Tetapi walaupun demikian tetaplah kita berpendapat bahwa pertemuan usaha P.P.F.I tetap dianggap sudah berhasil. Hal ini kita dasarkan atas orang2 jang hadir. Diantaranja tampak tokoh2 seni seperti Sitor Situmorang, Basuki Resobowo, Gajus Siagian, Bujung Saleh, Amir Pasaribu. Kemudian kelihatan pula beberapa pembesar sipil dan militer, diantaranja Walikota Sudiro. Sedang seorang anggota perlemen jang populer dan giat, Dr.H.A.Akbar, tampak pula diantara para hadirin. Diantara para pembitjara chusus terdapat saudara Soediwan Ketua Panitya Sensor Film (Ketuanja Mr. Maria Ulfah Santoso sedang berada di luar negeri); kemudian tokoh kaum wanita jang terkenal Ibu Kartowidjono. Hamka, seniman dan filsof Islam jang tak asing lagi namanja itu, walaupun berhalangan hadir sendiri, tetapi telah mengirimkan naskahnja jang tjukup pandjang. Sedang Pator Djajaatmadja telah tampil berbitjara sendiri. Lalu saudara Anas Ma’ruf dari Badan Musawarat  Kebudajaan Nasional. Dan diantara para penjambut terdapat Dr. Ali Akbar, Sitor Situmorang, Bujung Saleh, Tann Sing Hwat dari kalangan buruh film, A.S. Bey dari Perpefi, dan beberapa orang pembitjara lagi jang telah mendaftarkan namanja tetapi kemudian tidak mendapat kesempatan berbitjara karena sudah habisnja waktu jang 4 djam itu diantaranja Basuki Resobowo.

Nama2 diatas jang telah turut memberikan sambutannja tjukuplah memberikan gambaran, bagaimana hebatnja sabutan dari tokoh2 jang mengerti sungguh tentang persoalannja. Kesemuanja mereka telah berbitjara dengan tjukup mendalam dan ichlas serta tjukup memberikan kritik dan sarannja. Kesemuanja mereka itu boleh dikatakan telah membawakan semua golongan masjarakat mempunjai hubungan dengan soal sensor dan film ini. Itu sebabnja kita berani mengatakan bahwa usaha P.P.F.I jang penting itu sudah berhasil, sudah “geslaagd”

SEKITAR PERTEMUAN

Rapat dipimpin oleh seseorang dari P.P.F.I., dan tidak djadi oleh saudara Surjo Sumanto seperti jang direntjanakan semula karena saudara tersebut sedang berada diluar kota. Pembitjara pertama saudara Asrul Sani fihak pengusaha film, mengupas soal sensor film dari sudut kreati. Mula2 pembitjara menundjukan tjara seniman mentjipta, jaitu dengan sanubarinja dengan mengambil bahan2 dari masjarakatnja. Suatu “gewetan” atau ,,sanubari” membenarkan dirinja recht vaardt zichzelf bukan karena kebersihan dan kemulian dirinja tapi karena ia memperhatikan jg. Buruk dalam bandingan kebersihan jang ia jakini. Djadi ia tidak bisa berwudjud, djika tidak ada keburukan2 terdjadi. Ia (seniman) tidak dapat melakukan kewadjibannja sebagai :”hati sanubari itu djika ia hanja diperbolehkan memakai kebenaran2 jang resmi, jang telah diakui dibangku2 sekolah atau dikementrian2 pendidikan maupun agam, demikian katanja. Demikian ditegankanja dalam hubungan tjiptaan seniman dan sensor, seperti ditegaskannja dalam hubungan tjiptaan seniman dan senso, seperti ditegaskannja bahwa hal diatas djuga berlaku untuk film. Ditegaskannja lagi, bahwa sebuah film bukanlah hanja suatu djumlah dari bagian2nja tapi suatu kebulatan baru jang timbul dari sintese bagian2 (buruk dan baik) kisah jang digambarkan. Selandjutnya katanja:,, Masjarakatkita sekarang ini penuh dengan orang2 jang tidak punya pekerdjaan sedikitpun djuga tentang segi2 kebaikan manusia. Ini sudah mendjadi sematjam penjakit pada golongan2 tertentu dan penjakit ini dihidup2kan. Untunglah rakjat banjak tidak dihinggapi rasa takut ini. Jang pertama2 orang takuti ialah kenjataan.sedapat mungkinkenjataan itu djangan disebut pada namanja, jangan diperlihatkan. Biarlah kenjataan itu nama2 jang betul manis sehingga tidak teraa betul njatanja. Kalau seseorang akan mati, djangan disebut ia mati, sebutlah ia pindah rumah ke alam baka” kiranja tjukup terasa tjemeehan terhadap sensor pada utjapannja itu. Kemudian berdasar tjatatan2 dibuktikannja, bahwa kdjelakan kanak2 sebenarnja tidaklah disebabkannja tidaklah disebabkan oleh film, seperti jang telah dinjatakan para penjelidik di negeri2 Eropa.

Pembitjara pengantar jg. Ke-2 saudara Umar Ismail mengungkap kepahitan2 jang ditimbulkan oleh gunting sensor kepada kantong atau hasil keuangan para producer film indonesia.

Kemudian sebagai pembitjcara chusus, saudara Soediwan dari panitya Sensor film menjatakan bahwa tamparan2 masjarakat terhadap panitya selama ini adalah tidak tepat. Dimadjukannja, bahwa panitya selalu beklerdja berdasatkan perhitungan2 jang dapat dipertanggungdjawabkan.

Dua orang ulama, jaitu Hamka dari kalangan Islam, dan E. Djajaatmadja dari kalangan Kristen, sama2 mengganggap perlu adanja film sebagai suatu medium seni. Pembitjara2 selandjutnya jg. Kira2 10 djumlahnja, diantaranja anggota D.P.R Dr.Ali Akbar dari Masjumi, berpendapat, bahwa perlu diadakan perobahan pada tjara bekerdjanja sensor jang sekarang ini. Umumnja mereka mengandjurkan supaya P.P.F.I membuat rentjana jang langkap mengenai tjara pelaksanaan pekerdjaan sensor selandjutnya.

 

 

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia