Pencarian pada:
 
Detail Cantuman Artikel
Judul : Pidato Usmar Ismail dalam Musjawarah Nasional Pembangunan
Penulis : S.R
Sumber : Aneka Olahraga dan Film No. 29 tahun VIII, 10 Desember 1957 halaman 12
Subjek : Film

                                                                            Pidato Usmar Ismail
                                                        dalam Musjawarah Nasional Pembangunan

Usmar Ismail telah mengutjapkan sebuah pidato pandangan umum tentang film di Indonesia pada sidang pleno Musjawarah Nasional Pembangunan jang berlangsung diibu kota baru2 ini. Ia mendapat undangan untuk menghadiri musjawarah sebagai perseorangan, sebagai seseorang jang dianggap mengetahui seluk beluk perfilman di Indonesia, guna memberikan pemandangankepada sidang dalam rangka membuat rentjana pembangunan jang menjeluruh di Indonesia. Walaupun Usmar Ismail pada sat ini adalah Ketua dari Persatuan Perusahaan Film Indonesia, tetapi hadirnja dalam Munap lepas dari kedudukannja dan sama sekali tidak bertanggung djawab kepada siapapun maupun organisasi mana sadja. Dengan demikian maka pidato jang diutjapkannja dalam musjawarah tersebut adalah pandangannja setjara pribadi dan berada dalam tanggung-djawabnja sendiri selaku perseorangan.
 
Usmar Ismail hanja membitjarakan soal film dalam Munap itu. Mengingat bahwa, dia adalah Ketua dari organisasi producer nasional, maka mungkinlah orang menjangka, bahwa dia hanja akan memperdjoangkan kepentingan producer nasional sadja. Tetapi menurut tahu kita tidaklah demikian halnja. Dia tampil kedepan sidang semata2 sebagai seorang pedjoang film di Indonesia setjara keseluruhannja dengan mengingat pentingnja dunia perfilman, dunia film dalam maupun luar negeri, bagi masjarakat dan negara kita. Dalam hal2 tertentu sadja dia akan mendahulukan film nasional dari pada film asing jang manapun djuga.. Kiranja dia tjukup sadar, bahwa film dalam negeri tak mungkin akan madju tanpa adanja pemasukan film2 asing jang baik dalam djumlah2 tertentu. Kiranja disadarinja pula, bahwa asing lagi atau merupakan film2 Amerika sekalipun tidak semuanja djelek,malah ada djuga jang ada gunanja bagi pembangunan masjarakat kita umumnja.
 
Maksud perdjuangannja dalam Munap itu, ialah untuk mengusahakan, agar supaja dalam menjusun rentjana pembangunan, dalam bentuk rentjana 5 tahun ataupun apa sadja, para pemimpin dan pembesar2 negara kita dalam Munap itu tidak akan melupakan film sebagai industri modern maupun sebagai alat komunikasi dan pembangunan kebudajaan masjarakat.
 
Bagi mereka jang biasa mengikuti perkembangan perfilman kita setjara teliti, mungkin sekali isi pidato Usmar Ismail itu tidak lagu lama. Tetapi bagi mereka di Munap maupun para pembatja jang hanja sekali2 mendengar atau membatja tentang perkembangan industri film kita, pastilah memerlukan sari pidato itu sebagai pengetahuan umum.
 
Setjara sepintas lalu kiranja baik djuga saja njatakan disini, bahwa diundangnja seorang tokoh film kita dalam musjawarah besar dan sangat penting seperti Munap itu, adalah suatu kemadjuan selangkah pula bagi dunia film nasional; suatu bukti tentang bertambah sadarnja para pemimpin kita akan kepentingn film dan industrinja dalm suatu negeri modern, suatu pengakuan lagi dari para pemimpin kita akan dunia film Indonesia. Intisari pidato Usmar Ismail itu sebagai berikut:
 
SUMBER PENGHASILAN JANG BSAR
 
“Film trade mempunjai arti jg penting bagi keuangan negara, terutama bagi keuangan pemerintah daerah2” demikian Usmar Ismail membuka pidatonja. Kemudian setjara bergurau dia berkata pula : “Kalau dihitung djumlahnja , maka pengikut film adalah djauh lebih besar dari pada angota seluruh partai jang ada di Indonesia ini.”
 
Penghasilan ini didapat dari padjak produksi dalam negeri, padjak film, padjak import, padjak distribusi dan exhibisi. Memandang film ini dari sudut pembangunan seterusnja, dikatakan Usmar bahwa film adalah hasil industri barang perdagangan, hasil tjipa-kebudajaan, dan alat propaganda, alat penerangan,   alat pendidikan. Pada umumnja film merupakan rahmat jang terbesar dalam dunia modern; dia membawa hiburan dan kegembiraan, kebahagiaan dan kelenaan bagi rakjat. Disamping itu dia dapat pula memadjukan perhatian rakjat kita untuk sedjarah, kesusateraan, seni sura dan persoalan2 kemanusiaan, serta menimbulkan saling mengetahui tentang kesenian dari berbagai bangsa. Diapun mempunjai pengaruh2 sosial, ideologis dan komersil pula. Pada hakekatnja sifat2 film jang dikatakan negatif seperti “crime and violence” hanajalah merupakan sebagian ketjil sadja dari repertoire sebuah film.
 
INDUSTRI FILM DALAM NEGERI
 
Pada waktu ini di Indonesia terdapat 17 producer jang tegabung dalam 7 studio, dari jang paling primitif dengan investasi tjuma beberapa ratus ribu rupiah sadja, sampai kepada studio jg mempunjai investasi beberapa puluh djuta. (Total lebih kurang Rp. 100.000.000 dalam investasi, Rp 20.000.000 dalam produksi setahun)
 
Produksi film adalah usaha jang paling banjak resikonja dari antara semua usaha. Ongkos produksi sebuah film di Indonesia ialah antara Rp. 350.000 – Rp. 1.000.000; pendapatannja antara Rp. 150.000 – Rp. 1.500.000. Devisen jang dipergunakan untuk pembeli bahan2 baku perfilman dari luar negeri selama tahun itu ada lebih kurang Rp. 2.500.000
 
Adalah suatu hal jang spesifik bagi industri film bahwa harga pendjualannja tak dapat dikalkulir dari investasi peralatan dan ongkos produksi jang langsung. Satu2nja djalan jang dapat ditempuh guna menekan ongkos produksi hingga tingkat serendah2nja, ialah mengorbankan nilai produksi. Tetapi hal ini akan berarti mengetjilkan kemungkinan untuk melakukan saingan dengan film2 import jang ongkos produksinja rata2 djauh lebih tinggi dari pada film Indonesia. (U.S. $ 1.000.000.- , India Rs. 500.000,- , Malaysia Str. $ 100.000). Untuk mentjapai standard tehnis minimum haruslah ada modal investasi jang minimum pula.
 
Dalam keadaan seperti sekarang ini risiko pembikinan film di Indonesia hanja mungkin dikurangi, apabila modal investasi kurang dari pada modal investasi jang minimum itu. Demikianlah hal itu menimbulkan suatu vicieuse cirkel.
 
Adapun sebab utama dari ketjilnja hasil film Indonesia, ialah terbatasnja pasarannja, karena di Indonesia hanja ada lebih kurang 700 buah bioskop (Amerika mempunjai lebih kurang 20.000. Djepang mempunjai 7.000 bioskop; Singapura dan Malaysia jang penduduknja hanja berdjumlah 6 djuta orang, mempunjai 600 bioskop).
 
Dengan kemungkinan penghasilan jang sangat terbatas itu, maka studio2 kita dengan peralatan modern tidak mungkin dapat didjalankan dengan memberikan keuntungan, ketjuali dengan adanja tindakan2 promosi dan proteksi.
 
70% dari producer Indonesia adalah warga negara keturunan Tionghoa, jang mana berarti bahwa mereka ini memegang andil terbesar dalam industri film kita. Bagi warga negara asli jang tetap merupakan persoalan terbesar adalah terutama modal investasi dan modal kerdja. 70% dari pengusaha warga negara asli hidup dari kredit jang diberikan pemerintah, jang satu lebih besar kreditnja dari jang lain. Djuga merupakan hal jang spesifik bagi industri film, bahwa tenaga tehnis jang dapat bekerdja setjara disipliner dapat dikerdjakan bersama2 dengan tenaga kreatif.
 
Persoalan2 lain jang timbul diwaktu belakangan ini, ialah soal penggadjian dan perburuhan, jaitu mengenai djam kerdja mereka dan lain2. Dalam industri film diseluruh Indonesia dewasa ini terdapat kurang lebih 1000 orang tenaga kerdja, antaranja lebih dari 300 orang seniman film.
 
DISTRIBUSI & EXHIBISI
 
Industri film berbeda halnja dari pada industri lainnja; pada industri film bukan barang jang didjual, tetapi djasanja melewati 2 tingkat organisasi, jaitu booker & distributor dan bioskop. Booker adalah agen bioskop jang berhubungan dengan distributor. Mereka bekerdja atas gadji atau persentase. Seorang booker umumnja memegang sampai 30 bisokop: oleh sebab itu mereka memainkan peran jang amat penting dalam persoalan pendjualan film. Di Indonesia kini terdapat lebih kurang 15 orang booker dan lebih kurang 35 distributor jang meladeni seluruh bioskop jang 700 buah itu. Guna pertundjukan dibioskop2 itu tiap tahunnja Indonesia memerlukan 1200 copies film (antaranja 424 copies film import).
 
700 bioskop itu seluruhnja mempunjai investasi sebesar lebih kurang Rp. 525.000.000,- Sedjumlah 90% dari bioskop2 itu berada ditangan warga negara bukan asli; 15% dipegang oleh bangsa asing (Belanda). Bioskop2 itu oleh pemrintah digolongkan kedalam golongan perusahaan jang diawasi.
 
Dilihat dari sudut keuangan bioskop2 itu merupakan sumber keuangan jang terbesar bagi pemerintah daerah otonom. Seluruhnja terdapat 500.000 seats (kursi) dalam bioskop2 itu; seharinja ia dapat memuat 1.000.000 penonton diseluruh Indonesia, jang berarti 365.000.000 penonton setahun. 35% dari djumlah penghasilan kotor bioskop2 itu masuk kas Pemerintah.
 
Untuk import film pemerintah menjediakan devisen sebanjak Rp. 7.200.000 untuk 24 importir nasional (224 film) dan Rp. 54.000.000 (200 film) untuk 10 kantor distribusi Amerika atas dasar recette. Dari penghasilan ini ditransfer ke Amerika Serikat setahunnja $ 1.000.000; selebihnja dibekukan di Indonesia, dengan sebagian disalurkan kepada B.I.N
 
Demikian bagian2 terpenting dari pidatonja Usmar Ismail dalam Musjawarah Nasional Pembangunan baru2 ini.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia