Pencarian pada:
 
Detail Cantuman Artikel
Judul : Membangun saling pengertian antara ARTIS FILM & KRITISI
Penulis : Achmad M.S
Sumber : Aneka Olahraga dan Film No. 30 tahun VIII, 10 Desember 1957 halaman 19
Subjek : Film

                                         Membangun saling pengertian antara
                                                 ARTIS FILM & KRITISI

Kadang2 orang dinegeri kita terlalu tjepat terpengaruh oleh publikasi, oleh gagah2an tanpa dapat menjaring lebih dulu mana sensani murah dan mana kesanggupan jang djaja. Memang massa jang terdiri dari individu2 jang bergabung dalam kebulatan, mudah sekali dipengaruhi. Tapi ini tidak boleh terdjadi pada seorang kritikus. Seorang kritikus, sekurang-kurangnja bisa menilai sedjudjur-djudjurnya suatu hasil kerdja. Penilaian ini akan merupakan lapangan dimana antara jang dikritik dan sikritikus sendiri dapat saling menindjau, mempeladjari kebaikan dan keburukan jang ada pada kedua belah pihak.  

ORANG BERKATA : DALAM rangka pembangunan menudju negara jang djaja dan kebanggaan nasional haruslah dibangun aling mengerti antara kritisi film dgn artisnja. Kesukaan mempergunakan istilah2 besar jang biasa dipergunakan oleh politisi buat maksud2 tertentu menjebabkan kita djadi tertanja-tanja – apa sebenarnja jang disebut saling mengerti ?  

 Saling mengertikah kalau kita bisa memaafkan semua kekurangan kawan2 kita, menondjolkan segala kelebihannja, sambil berharap tjuma semoga dilain kali kita akan mendapati hasil kerdjanja jang lebih sempurna ? Saling mengertikah kritik jang manis terhadap sebuah film karena ada perkenalan jang intim, dan kita membuat ukuran jang bertolak terhadap filmlain jang sebenarnja diukur dengan ukuran jang sama djauh lebih baik ?

Kalau ini jang dimaksudkan saling mengerti, pendjualan pribadi kepada kawan dari seorang kritikus terhadap tudjuan jang dkritiknja, maka paling banterlah jang bisa diharapkan, bahwa kemadjuan film Indonesia jg. baru mengindjakan kakinja pada taraf permulaan, akan terdjun kedjurang kedangkalan, hidup karena diteriaki dengan sembojan kehidupan tanpa sebenarnja bernafas segar jang dapat dibanggakan. 

Kritik bukan berarti membunuh, kritisi bertugas memberi tahu jang benar tentang keburukan kebaikan jang dilihatnja – pudjian asal djadi dengan penuh toleransi memaafkan akan lebih berbahaja dari pada sebuah kritik pedas jang djudjur. 

 Kritisi film harus dapat menempatkan diri selajaknja antara orang2 tersangkut dalam tudjuan jang akan dikritiknja, dan pegangan kepribadian tempatnja bertolak melantjarkan kritik2 jang didukung oleh pengetahuan terhadap lapangan itu sendiri.

Tidak baikkah bila terdjalin kerdjasama antara artis dan para kritikus film ? Djawabannja terletak kepada apa jang dimaksud orang dengan kerdjasama itu. Sebab pendjilatan bukanlah kerdja sama. Pendjilatan lebih banyak mengandung segi2 keuntungan antara dua belah pihak, dan keterlaluanlah bila kritisi pendjilat sudah merusak dunia kritisi film Indonesia, dengan akibat2 nilai film sebagai kreasi tidak lagi dapat dipersoalkan.                                                                                                                                                                                 

Tapi negara kita dimana mendjalarnja penjakit tahu sama tahu sudah demikian merusak dan mengobrak-ngabrik pribadi seseorang pada jaman ini, memang sukar sekali berusaha menghindarkan dari langsung ataupun tidak langsung, lebih2 pada orang2 jang tidak mempunjai iman kuat.

Dalam kerdjasama harus sekaligus terkandung kritik jang djudjur. Kerdjasama haruslah meletakkan para kritikus, para artis, dan film sebagai hasil kerja seniman pada darahnja sendiri2.                                                                                                                                                             

Pada djaman ini kita banjak sekali menemui produser2 film jang merentjanakan terlalu banjak dan kerdja terlalu sedikit. Kita banjak sekali menemui hilangnja kepribadian Indonesia dalam film Indonesia, jang sudah ditukar dengan peniruan asal-djadi disebabkan oleh pitam jang terlalu tjepat datang sebelum pikiran waras bisa berdjalan. Film jang baik, jang disukai penonton – memang tidak ada kursus buat melahirkannja. Jang terang bahwa setiap film dilahirkan berdasar hasil kerdja kesungguhan, adanja daja tjipta jang segar dan penguasaan kepala dingin senantiasa. Terang kita tidak bisa berharap karja jang baik dari orang2 jang lekas pitam, seperti djuga harapan hasil jang gemilang dari kerdja jang sedikit.                                                                                              

KITA TJUMA BISA menghitung dengan djari film2 Indonesia jang sudah dapat merebut kedudukan dihati konsumen, tanpa harus menggadaikan diri dalam sikap peniruan. Sedang jang lain, dimana ribuan banjaknja jang beredar, achir2nja toh menemui djalan buntu dan terkapar ditengah djalan. Tapi manusia jang lekas pitam memang tidak bisa diharapkan penindjauannja jang lebih luas.                                                                                        

Dan melihat kenjataan ini, adakah sudah waktunja menondjolkan award2an ? Award sebagai pendorong memang mungkin berguna, tetapi award meminta kesanggupan dan kesungguhan. Kalau ada disebagian orang jang mengaggap award Perpefi sebagai pekerdjaan mahabesar jang mengagumkan, maka saja lebih senang kalau kelahirannja lebih dulu dibajangi oleh kesangsian. Melihat kenjataan pertumbuhan film Indonesia sekarang ini, menindjau djauh kemasa datang dan melihat hasil2 “besar” jang telah pernah dilakukan oleh Perpefi sebagai organisasi Persatuan Pers Film Indonesia “jang sudah meluas kedaerah2 lain”.                                                         

Harapan selalu mengetjewakan, apalagi melihat daerah jang mau diberi award itu meliputi lingkungan jang luas, dari mana ternjata bahwa bukan pemikiran jang keluar dari kerdja jang agung ini namun lebih banjak sifat propaganda, jang harus diterima dengan hati2.                                                                                                                   

Tulisan ini sesungguhnja ingin menjambut ulang tahun Perpefi, dari organisasi mana katanja banjak keluar kritisi film sekarang. Tapi satu jang harus diingat oleh Perpefi, bahwa nilai dari satu organisasi tidak tjukup tjuma dimuat dengan “bangga” dalam satu sebaran ulang tahun. Pudjian harus datang dari orang luar, dan kritik seperti djuga anggota2 Perpefi mengeritik film senantiasa bermaksud mempertinggi dan memperbaiki.

Alangkah baik kalau Perpefi dengan kesanggupannja sebagai suatu organisasi dapat membawa anggota2nja kedjalan bidang kritik jang dapat mempertinggi film Indonesia pada umumnja. Djalan dimuka masih djauh, dan sedjauh itu masih ada harapan. 

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia