Pencarian pada:
 
Detail Cantuman Artikel
Judul : Kita Kekurangan Artis Bermutu
Penulis : A.Thahir Y
Sumber : Majalah Aneka Olahraga dan Film No. 6 tahun XI, 20 April 1960 hlm. 19,21
Subjek : Film

                Kita Kekurangan Artis Bermutu

  •    Disamping kemampuan acting perlu disiplin
  •    Sutradara djadi tumpuan akibat dan kesulitan
  •    Bagaimana mengatasinja?
  •   Actors’ Studio & sutradara jang baik diharapkan berhasil

 

Dunia perfilman Indonesia kini sedang sibuk2nja dengan kegiatan untuk merealiser produksi 50 film dalam tahun ini terasa benar akan kekurangan artis2 terutama artis2 terutama aktris2 jang capable untuk dijadikan leading lady.

Mata hanja tertudju kepada tjalon2 utama atas top-stars Farida Arryani, Mieke Widjaja dan Chitra Dewi, selebihnja mutu aktris kita masih dalam taraf rada tjukupan. Kalau seorang produser tidak sanggup untuk mengontrak salah salah satu dari aktris ini maka mereka akan mengambil aktris jang rada tjukupan sadja untuk peran leading-lady dan untuk peran pembantu dipakailah muka-baru. Dalam persoalan jang seperti ini sutradara akan mendapat tugas jang berat. Terutama untuk menghadapi newcomer, sutradara selalu dihadapkan kepada kenjataan akan kementahan new-comer tersebut. Mentah dalam soal acting, bukanlah suatu jang diluar dugaan. Tapi terutama dibidang pengenalan terhadap apa dunia film itu sendiri perlu dipunjai oleh seorang jang ingin menerdjunkan dirinja kedalam dunia film.

Banjak produser suka memakai new-comer. Ada jang memberikan alasan untuk memberikan kesempatan kepada muka baru. Tapi tidak kurang pula alas an jang tersirat jaitu agar ongkos produksi bisa ditekan. Seperti diketahui untuk seorang new-comer selalu hanja diberikan wang harian jang djuga djumlahnja tidak besar. Sebagai seorang jang ingin mendapat kesempatan untuk terdjun kedunia film, ada new comer jang tidak segan2 untuk menerima honorarium jang besarnja hanja Rp. 100,- sehari dan untuk satu produksi tidak lebih dari Rp. 2.000,-. Ini tidak dapat disalahkan kepada new comer ini karena ia ingin kesempatan dan djuga tidak salahnja produser karena ia ingin menekan ongkos produksi. Tapi untuk semua ini sutradaralah jang menanggungkan akibatnja, apalagi kalau new comer ini tidak mengerti artinja disiplin didalam bidang perfilman. Jang sulit menghadapinja ialah bila seorang new-comer ingin muntjul didalam film tapi honorariumnya sendiri sebenarnja tidak begitu berarti baginja. Kalau sutradara pada satu waktu marah oleh tingkahnja, new-comer ini tentu bisa bitjara bahwa ia bisa mengembalikan honorarium jang sudah diterimanja, karena memang ia orang jang berada. Disinilah bukti kurangnja pengenalan new-comer ini akan perfilman. Ia tidak tahu bahwa apabila dia menghentikan pekerdjaannja setengah djalan, produser akan menderita kerugian besar. Seorang artis jang tidak datang ketika di-call, menimbulkan kerugian jang tidak sedikit. Kerugian biaja dan tenaga. Misalnja untuk opname pada suatu hari telah ditentukan akan dishoot adegan tertentu, set pun disiapkan. Lampu2 diletakkan dan diarahkan pada tempat jang semestinja. Ini dikerdjakan lebih dulu biasanja sebelum artis2 jang dicall itu tiba, supaja begitu mereka tiba latihan bisa dimulai. Tapi belakangan ternjata salah seorang artis tidak dating, padahal opname dengan set jang sudah ada itu tidak bisa dilakukan tanpa artis tersebut. Kalau memang ada set lain jang bisa dipersiapkan lagi untuk opname dengan artis2 jang ada, sutradara tertolong djuga. Tapi untuk persiapan ini tentu memakan waktu dan tenaga jang banjak. Adalah lebih tjelaka pula kalau sama sekali hari itu tidak djadi opname.

Produser selalu pula terpengaruh oleh ketenaran seseorang artis dimata publik. Ini terdjadi karena ia berpikir dari segi komersielnja. Sutradara menindjau persoalan dari segi artistik/kulturil. Seorang artis jang ketenarannja melebihi dari kesanggupannja untuk acting, sangat memusingkan sutradara. Mereka itu umumnja terlalu tahu harga diri, sehingga ia tidak insjaf bahwa kesanggupannaj untuk acting sebenarnja hanja 40% disbanding dengan ketenarannja jang berasal dari sumber lain, karena shape-nja ataupun ketjantikannja. Sutradara lebih pusing lagi kalau mereka kurang mengenal disiplin.

Publik djuga selalu memberikan penilaian lain terhadap seorang artis. Mereka djarang menilai seseorang artis itu menurut kesanggupan mereka acting. Kebanjakan ialah bersumber kepada wadjah, shape dll jang tidak ada hubungan dengan nilai acting.

Adalah seorang sutradara jang beruntung sekali kalau sekaligus ia mendjadi produser. Seorang sutradara jang sekaligus mendjadi, bisa menilai sendiri kesanggupan artis2nja. Ia bisa berpikir dan bekerdja lebih bebas menurut perhitungannja. Ia bisa mendepak keluar artis2 jang indisipliner dan menggantinja sewaktu2 ia mempunyai alas an.

Kita telah bertjakap2 dengan sutradara Liliek Sudjijo seorang sutradara jang telah mendapat hadiah sebagai sutradara terbaik PFI jang pertama tahun 1955. Ia terpilih sebagai sutradara terbaik ketika ia untuk pertama kalinja terdjun di bidang penjutradaraan jaitu dengan film “Tarmina” produksi Persari. Dibawah penjutradaannja Marlina telah mendapat hadiah sebagai “the best child actress” Festival Film Asia di Hongkong dari film “Kekasih Ajah”. Farida Arryani dan Sukarno M. Noor telah pula terpilih sebagai aktris dan aktor terbaik dalam PFI ke VI baru2 ini dari film “Anakku Sajang” djuga dibawah penjutradaraannja.

Oleh prestasi2nja itu kita menganggap bahwa pembitjaraannja tjukup bernilai.

Memberi komentar terhadap kemenangan Farida dan Sukarno itu, Liliek menjatakan bahwa itu memang sudah sewadjarnja. Ia katanja memang melihat kesungguhan kedua artis itu ketika berlakon dalam pembuatan film itu. Disini kita melihat kepribadian Liliek itu dengan mana ia mengakui tidak merasa mempunjai andil dalam kemenangan itu. Mengenai acting Liliek menjatakan sutradara hanja menundjukkan bagaimana kira2 sesuatu adegan itu dilakonkan. Segala sesuatunja terserah kepada siartis untuk membawakannja. “Saja tjuma memberikan tjonto sadja bagaimana kira2 adegan itu mestinja dibawakan, selandjutnya terserah kepada siartis. Kalau saja bisa memberikan tjonto persisnja, dan saja bisa melakonkannja, kenapa bukan saja sadja jang djadi bintang filmnnja sekalian, kata Liliek.

Selain dari film jang tersebut diatas, Liliek djuga telah menjutradarakan film “Kasih dan Tjinta”, “Darah Tinggi” dan pada waktu ini film “Tugas Baru Inspektur Rachman”.

Liliek memberikan komentarnja terhadap artis2 Indonesia bahwa ia baru pernah menjutradarakan artis2 jang berbakat dan berdisiplin 100% jaitu farida dan Sukarno M. Noor. Lainnja katannja kebanjakan ada jang berbakat tapi tidak memiliki disiplin dan ada jang berdisiplin 100% tapi tidak punja kesanggupan untuk acting. Disamping itu ia telah melihat (karena tidak disutradarainja) Mieke Widjaja dalam film “Dewi”. Mieke Widjaja disamping kesanggupannja acting dan disiplin djuga memiliki kesanggupan untuk menilai dirinja sendiri. Suatu waktu ia menjatakan kepada sutradara bahwa ia belum merasa safe untuk opname suatu play-back. Sebelum itu djuga tanpa instruksi sutradara ia berulang2 meminta putarkan tape-recorder supaja ia bisa menguasai tugasnja. Kebanjakan artis2 tidak begitu perlu untuk menguasai sesuatu lagu jang digunakan dalam play-back, karena memang bukan dia jang menjanjikannja djadi asal mulutnja tertutup dan terbuka sadja sudah oke.

Banjak artis2 jang hanja menghafal dialogue jang harus diutjapkannja. Misalnja ditandainja dengan pinsil merah, tanpa ia memiliki pandangan setjara umum terhadap djiwa tjerita itu sendiri. Bahkan banjak jang tidak membatja sekali lintas sadja akan tjerita itu. Tanpa mengetahui setjara umum isi tjerita dimana ia turut main tentunja tidak mungkin memberikan djalan baginja untuk sukses.

Untuk mengatasi semua ini, Liliek hanja melihat djalan satu2nja ialah adanja Actors’Studio jang representative di Indonesia.

Jang dimaksud olehnja dengan representative tentunja ialah jang pimpinan dan guru2nja bisa dipertanggungdjawabkan. Dan kelihatannja Liliek mau Actors’ Studio itu ditudjukan melulu untuk mendidik kader2 bagi lapangan film sadja. Djadi jang diadjarkan selain dari soal acting, pengenalan terhadap dunia perfilman setjara menjeluruh, djuga istilah2 dalam perfilman jang begitu banjak, termasuk nama2 barang jang dipakai. Artis2 jang telah menempuh pendidikan didalam Actors’ Studio ini barulah diterima dilapangan film. Ini tentunja baru bisa terjapai djika sutradara2 di Indonesia inilah jang mengadakan Actors’ Studio ini. Mereka sendiri jang mengudjinja dan seharusnja mereka bisa pula bersatu untuk menolak bintang2 jang disodorkan oleh produser tanpa digodok dulu distudio mereka. Tapi ini mungkin akan emndjadi impian sadja sepandjang masa selama PARFI dimaan djuga tergabung sutradara masih melempem tidur seperti sekarang. Ataukah sutradara sudah waktunja untuk membentuk persatuan mereka sendiri karena memang kepentingan mereka sedikit berlainan dengan artis film lainnja.

Membuat film pada waktu ini tidak sama lagi halnja dengan tahun 1954 jang lalu, dimana waktu itu tjerita2 dibuat menurut keadaan pemain dan biaja jang tersedia. Oleh sebab itu tidaklah benar djika pada waktu itu, Indoensia membuat 80 film, tahun ini bias sukses dengan 50 film. Pembuatan 50 film tidak sukar djika system tahun 1954 itu dipakai. Pada tahun2 sekitar 1954 – 1955 membuat film adalah pekerdjaan jang dianggap gampang, kebanjakan ialah asal djadi film sadja. Publik pada waktu ini sudah djauh madju dalam penilaian film dari waktu itu. Kalau film film jang “gampang” seperti dulu itu dibuat diwaktu sekarang ini ada harapan tidak akan digubris penonton. Kalau ada produser jang tidak pertjaja akan ini mereka dipersilakan membuat film2 seperti film Tarzan ala Indonesia atau fillm2 Bawang Merah, Djula Djuli dsb.nja.

System jang didjalankan sekarang ialah lebih dulu tersedianja tjerita. Kemudian ditjarilah pemain2 jang sesuai untuk membawakan peran didalam tjerita itu. Untuk mentjari artis jang tjotjok inilah suatu pekerdjaan jang tidak mudah. Dan selalu pula terdjadi orang jang telah kelihatan itu tidak dapat diikat karena produser tidak sanggup membajar permintaannja.

Dalam keadaan terdesak beginilah terdjadinja pemakaian bintang2 jang kesanggupan actingnya kurang dan djuga pemakaian new-comer. Mengenai new-comer ini memang untung2an. Tidak djarang pula terdjadi kesuksesan dalam film jang pertama, seperti jang dialami antara lain oleh Indriati Iskak (Tiga Dara), Misnie Arwathy (Hari Libur), Suzanna dan Nurbani Jusuf (Asmara Dara) dllnja. Tapi tidak kurang pula jang berlalu tak berkesan seperti jang banjak kita lihat dan ada baiknja tidak kita sebut namanja.

Bagi seseorang artis jang ingin sukses haruslah pula beladjar segala sesuatu jang mungkin akan didjumpai dalam perfilman misalnja menjetir mobil, berenang, mengetik, main piano dan alat2 musik lainnja, menari dan sebagainja sehingga ketika ia harus mengerdjakan salah satu dari pekerdjaan2 itu ia bisa dishoot tanpa menggunakan sesuatu usaha tehnis atau steunt dan hasilnja akan lebih menundjukan gambaran jang njata.

Misalnya sadja untuk bermain piano, seseorang tidak perlu ahli asal bisa sadja sudah tjukup. Jang sering kita lihat ialah digunakan akal2an. Misalnja hanja dishoot tangannja sadja tanpa menundjukkan siapa jang punja tangan itu atau dengan menundjukkan mukanja tanpa menundjukkan apakah tangannja memang benar2 bisa bermain piano.

Dan tidak pula kurang pentingnja ialah untuk mendjaga kondisi badan. Istirahat harus tjukup. Ada djuga sutradara jang memeras tenaga artisnja dengan bekerdja sedjak pagi sampai djauh malam. Sebenarnanja jang begini tidak bisa dipertanggungdjawabkan karena kelesuan tidak bisa disembunjukan pada camera. Mendjaga kondisi badan adalah mendjadi tugas utama para artis jang bersangkutan. Hendaknja selama opname mereka mendjaga kondisi badannja agar tidak djatuh sakit. Djika pagi akan opname, malamnja harus tidur tjukup supaja paginja tidak kelihatan mengantuk. Sakitnja seorang artis mengakibatkan tertundanja opname dan ini mengakibatkan kesulitan bagi sang produser karena mereka kadang2 punja kontrak untuk memakai studio hanja dalam tempo jang telah ditentukan sadja.

Dimana ada kesempatan banjaklah keuntungannja untuk berkumpul sesama artis pada sesuatu film, apabila djika mereka mau menggunakan kesempatan itu untuk melatih dialogue atau untuk saling mentjeritakan pengalaman2.

Dengan memperhatikan dan mempraktekkan bagian2 jang berguna dari tulisan2 diatas, mudah2an aktir dan aktris film Indonesia jang bermutu akan lekas bertambah dari djumlah jang kini sangat sedikit itu.

 

 

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia