Pencarian pada:
 
Detail Cantuman Artikel
Judul : Pers Film & tanggung djawabnja
Penulis : Azhar Bachty
Sumber : Majalah Aneka Olahraga dan Film No. 5 tahun XI, 10 April 1960 hlm. 19-20
Subjek : Film

PERS

Film & tanggung djawabnja


Sebuah bidang jang minta dibangun, jang perkembangannja masih kita tunggu, jang sedjarahnja masih pagi, adalah pers film Indonesia. Sedangkan pers kebangsaan, dunia persuratkabaran Indonesia, masih terlalu muda, apalagi satu sektor dari padanja jang kita kenal sebaga pers-film. Sedjarahnjapun masih lebih muda daripada dunia film kita jang kelahirannja belum begitu lama, disebabkan pers-film ada barang tentu sesudah industri-film itu ada. Dengan demikian sadalah kita akan ada gunanja djuga kita mengadakan sedikit tindjauan mengenai pers-film ini.

POKOK JANG KALI INI KITA

Ambil ialah, mengenai tanggungdjawab, tanggungdjawab pers-film. Segala sesuatu jang kita lakukan didunia ini kembali kepada tanggungdjawab. Apapun jang kita perbuat kepada kepada kita diminta tanggungdjawab atasnja. Tanggungdjawab baik terhadap tugas itu, terhadap masjarakat dsb; tetapi jang terpenting dari semuanja itu adalah tanggungdjawab terhadap diri kita sendiri.

Dalam garis besarnja peranan jang dimiliki oleh pers-film dapat kita simpulkan atas tiga matjam. Peranan pertama adalah peranan memberi laporan. Sesudah itu peranan memberi penerangan, memberi didikan. Dan jang terachir peranan membahas. Kepada ketiga peranan inilah tanggungdjawab pers-film sebenarnja berkisar dan terlingkung.

DJURNALISTIK

Dalam garis besarnja pula tanggungdjawab tersebut dibagi atas tiga bagian pula. Tanggungdjawab pertama adalah tanggungdjawab  -  djurnalistik. Sudah kita sebut diatas betapa mudanja umur pers-film kita. Begitu mudanya pers-kebangsaan jang dewasa ini masih men-tjari2 rumus, mentjari2 dijalan kearah kesempurnaannja. Orang masih harus diberi pengertian apa itu kemerdekaan-pers. Orang masih minta tuntunan sampai sadar apa fungsi-pers terhadap masjarakat. Mutu pers kita masih bisa dipertinggi.

Berkenaan dengan pers-film pun usaha mempertinggi mutu begini masih dinantikan. Wartawan-film sebagai orang jang bekerdja dilapangan publikasi djuga bertanggungdjawab terhadap masadepan djurnalistik kita. Masih banjak kesempatan diharapkan untuk mempeladjari bagaimana tjara2 pemberitaan jang sempurna. Kita masih harus mengadakan research bagaimana mengolah karangan di selingkung pers-film ini. Luas sekali bidang jang akan didjeladjah kearah mempertinggi mutu djurnalistik pers-film. Para wartawan-film akan baik sekali bila ada kesempatan mengadakan diskusi tentang ini. Hasil pertukaran-pikiran oleh orang jang selapangan, jang berkumpul baik oleh ilmu maupun oleh pengalamannja itu, akan ada djuga sumbangannja bagi kemadjuan.

PERFILMAN

Apabila kita lebih landjut bitjara sampailah kita pada tanggungdjawab kedua, tanggungdjawab-perfilman. Wartawan film adalah orang jang disamping mengabdi kepada djurnalistik djuga mengabdi kepada dunia-film. Oleh karena itulah kepada lapangannja diberi nama pers-film, pers jang mengchususkan kerdjanja mengenai perfilman.

Lebih dulu sudah kita sebut bahwa peranan pers-filmjang pertama adalah memberi laporan. Menjuguhkan berita2 disekitar dunia-film. Peranan memberi laporan ini masih belum sempurna terlaksana dinegeri kita. Kita masih bisa hitung dengan djari berapa djumlahnja madjalah jang mengchususkan dirinja mendjadi madjalah film. Pernah beberapa waktu jang lewat madjalah-film tumbuh dengan subur, ettapi masa itu sudah lewat, dan sekarang kelihatan lagi ketandusan dalam djumlahnja madjalah-film.

Kita lihat betapa terbelakangnja, terdesaknja, berita2 film dikoran2. berita2 jang ada pun biasanja dipilih jang ada sensasinja. Jang ada keluarbiasaan atau ekanehan2, disebabkan anggapan buat publik kehidupan bintang2 itu suatu jang luarbiasa dan merupakan suguhan jang mengandung sensasi. Padahal masih banjak lagi jang lebih berguna bisa dilaporkan. Inilah suatu tjatjatnja berita perfilman jang dibuat dalam koran2 kita. Padahal lebih luas lagi hal2 jang bisa dilaporkan diselingkung perfilman. Lebih banjak kita batja bagaimana kehidupan bintang film Hollywood anu jang kelihatan aneh dari jang lain daripada menjuguhkan synopsis jang baik/kepada publik.

Peranan jang penting djuga sesudah peranan memberi laporan ini ialah peranan memberi penerangan jang sifatnja mendidik. Kedalam peranan ini dimintakan kesadaran wartawan-film untuk benar2 mengabdi kepada industri film nasional. Berkembangnja industri film nasional djuga ditentukan oleh faktor kedua, oleh publik sebagai sebagai pihak pemamah. Untuk ini publik harus diberi pengertian dalam tjara mengerti, dalam tjara menikmati, untuk achirnja bisa menghargai. Industri film nasional mendapat desakan dahsjat luarbiasa dari film2 Hollywood jang untuk public rupanja merupakan makanan jang paling digemari. Saja kira akan ada djuga gunanja pers dalam usahanja mendidik public untuk bisa menghargai film buatan bangsanja sendiri. Karangan2 jang bersifat penerangan begini masih amat sedikit sekali kita temukan dalam pers kita.

Kerdja kesenian tanpa ada kritik berarti tak ada koreksi atau perhitungan buruk baik terhadap hasil-kerdja itu. Bagaimanapun kritik itu perlu. Tentu sadja dalam hal ini kritik jang sifatnja membangun. Itulah sebabnja kepada pers-film diharapkan djuga peranan membahas.

Masih terasa betapa kurangnja resensi-film jang dimuat dalam pers kita. Kita membutuhkan banjak resensi lagi. Mutu rsensi jang adapun masih djauh dari memuaskan. Tidak semua bidang-film dibahas dalam resensi itu, pemain dan tjerita sadja biasanja, tapi bagaimana dengan hal2 jang menjangkut dngan bidang tehnik. Kita masih membutuhkan banjak karangan jang membahas tokoh2-film satu persatu. Kita masih banjak membutuhkan karangan jang ada hubungannja dengan bidang-tehnik. Kita masih membutuhkan banjak karangan jang bisa mempertinggi mutu film2 kita.

MORAL

Tetapi jang terpenting dari semuanja adalah tanggungdjawab-moral. Pers harus merdeka. Jang didjundjung oleh pers ialah kemerdekaan, kemerdekaan berpikir, kemerdekaan mengeluarkan pendapat, hal ini djuga berlaku untuk pers-film. Dimana pers tidak/merdeka disitu berlakulah diktatorisme, dan mulai sadarlah kita fungsi-pers terhadap masjarakat mendjadi hilang dan tertekan.

Dalam membikin resensi emmang biasanja wartawan-film tertumbuk dengan publicity man. Publicity-man jang lebih tjondong pada keuntungan perdagangan tentulah sesuai dengan tugasnja ingin filmnja laku, walau dengan djalan apapun. Publicity-man tentu akan berlaku manis terhadap para resensen. Mereka tidak merasa salah kalau mengadjak sang resensen minum kerestoran apabila ia tahu filmnja akan diresensikan dan dengan begitu bisa filmnja dipudji. Rasanja hal jang lumrah djuga kalau sewaktu preview diadakan sedikit makan2. tapi, semuanja itu apa jang dilakukan oleh orang jang bekerja dibidang produksi jang menguntungkan produser. Tapi akankah wartawan-film jang djuga mengabdi pada pers mengchianati kemerdekaannja, azas jang paling didjundjung oleh pers?

Oleh karena budi-baik publicity-man, dan oleh kesadarannja pula, serta rasa sudah termakan-budi dari pihak siwartawan, publicity-man kadang2 sampai mau mendiktekan apa jang hendaknja ditulis.

Kita batjalah resensi jang kerdjanja memudji2 dengan beberapa kata sadja memukulnja dibelakang, agar tidak kentara resensi itu bisa disebut sebuah advertensi. Dalam menulis resensi itu kadang2 dengan sengadja dimasukkan kalimat2 jang bisa dikutip untuk iklan jang akan menguntungkan produksi sebagai balas-djasanja. Publicity man jang maha baik hati itu.

Kita lihatlah betapa kemerdekaan pers dichianati oleh segolongan wartawan jang sudah kemakan-mudi dan menulis asal menulis dan asal dapat makan sadja. Kita lihatlah betapa ide di-indjak2.

Oleh karena itulah kita tekankan betapa tanggungdjawab moral amat penting. Moral wartawanlah jang menyebabkan ia tak mau menchianati apa djuga jang didjundjung. Dengan demikian tersempurnalah salah satu bidang-pers kita.

 

 

 

 

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia