Pencarian pada:
 
Detail Cantuman Artikel
Judul : Perang dalam film
Penulis : Wirawan Respati
Sumber : Aneka Olahraga dan Film No. 28 tahun VIII, 1 Desember 1957 halaman 14
Subjek : Film

Di dalam sebuah bab dari bukunya “End and Means”, Aldous Huxley mempeladjari perang dengan tudjuan penjembuhan manusia dari kegilaan militarisme jang telah parah meratjuni dunia pada dewasa sekarang. Tentu sadja Sputnik selamat dari masalah perang setjara langsung, sebab seperti para pembatja telah pada maklum, pesawat angkasa jang telah beberapa kali dilepaskan oleh Rusia ditudjukan untuk keperluan2 pengetahuan. Tetapi film, jang terutama oleh Amerika, banjak diisi dengan thema2 perang menjebabkan sadja mentjoba membawa-bawa Aldous Huxley kehalaman naskah ini.

Setjara sederhananja sadja mari kita ikuti bagaimana Huxley mempeladjari perang, terutama pada tjiri dan udjudnya. “Para Nabi  dari sedjak Isaiah sampai Karl Max, mempunjai satu persamaan suara: “Didalam Abad Keemasan jang terbentang didepan kita adalah kemerdekaan, perdamaian, keadilan dan tjinta antara sesama. Antara bangsa2 tak akan ada tjedera lagi, dan dunia hanja akan dioenuhi pengetahuan tetntang Tuhan, seperti air mengisi djaladri.
Tetapi tudjuan ideal yang berkembang sedjak kita mengenal peradaban selama 30 abad ini selalu terhalang oleh perang jang setiap kali petjah sesudah jang lain padam.
Djadi kenjataan telah djelas dihadapan kita, setiap djalan menudju kekeadaan jang lebih baik selalu tertutup oleh perang, antjaman perang ataupun persiapan perang. Ini adalah suatu kenjataan. Kenjataan jang jelas dan tak terelakkan.
Film perang banjak punja penggemar. Karena dari dalamnja kita melihat laku2 heroik dari manusia. Sebab manusia selalu tjinta akan perbuatan2 heroik. Tetapi para penggemar film2 perang pasti mungkir, dan memang tentu tidak mau, untuk ditjap sebagai penggemar perang.
Sajang, bahwa hampir kebanjakan film2 perang tidak mengendapkan tudjuan untuk menjadari, bahwa perang harus kita singkiri. Tidak banjak film2 perang jang berhasil mengatakan utjapan ini. Atau se-tidak2nja membawa berita, bahwa perang adalah bukan suatu permainan jang menarik. Baik kita ikuti seterusnja Huxley bitjara: “Perang adalah suatu fenomena manusia jang murni. Binatang2 jang tingkatnja lebih rendah bertanding seekor lawan seekor, disebabkan oleh soal2 seksuil, makanan atau sekali2 untuk sport. Tetapi adalah djelas perbedaannja antara seekor serigala jang makan domba atau kutjing jang menerkam tikus, itu bila dibandingkan dengan perbuatan seorang djagal atau pemburu.
Demikian pula tidak bisa disamakan dengan perang sebagai suatu sistem pembunuhan setjara besar-besaran jang terorganisir dengan perkelahian antara andjing2 kelaparan, apalagi bila kita menjadari, bahwa perang adalah pembunuhan setjara masaal jang diorganisir setjara waras. Benar, bahwa beberapa matjam serangga sosial mempunjai kebiasaan mengadakan pembunuhan setjara besar2an tetapi serangga2 tadi hanja menjerang kepada djenis (species) lain. Manusia mempunjai kebiasaan jang unik mengadakan pembunuhan setjara besar2an terhadap speciesnya sendiri.
Beberapa ahli ilmu hadjat (diantaranja Sir Arthur Keith) beranggapan, bahwa perang merupakan alat pemangkas/pendjaring, mana2 manusia jang berhak hidup lebih lama. Ini sama sekali adalah omong kosong. Karena dengan demikian se-akan2 kita harus beranggapan, bahwa manusia atau bangsa jang paling mulia dan punja arti, adalah mesti mereka jang suka berperang. Dan kenjataan sedjarah membuktikan bahwa bukan bangsa jang paling suka berperang jang hidup lama.
Masa ini masih ada lingkungan bangsa2 primitif, seperti misalnja bangsa Eskimo jang sama sekali tidak mengenal atau memikirkan tentang perang. Tetapi kenjataannja adalah, bahwa semua bangsa2 beradab adalah mengenal dan suka berperang. Pertanjaannja sekarang. Apakah hubungan antara perang dan peradaban itu perlu dan tak dapat ditjegah ? Kenjataan archeologis menjatakan, bahwa perang mulai muntjul dan dikenal manusia disatu masa tertentu didalam kurun sedjarah peradaban purba. Timbul kini suatu alasan jang boleh mengandaikan , bahwa perang mulai muntjul kapan timbul suatu perubahan jang tiba2 dari tjara kesadaran berpikir manusia. Perubahan ini seperti kata Dr. J.D. Unwin, sama sendirinja timbul bersamaan dengan naluri seksuil dari klas jang lebih kuat, jaitu mereka jang suka berperang itu.
Timbulnja perang dihubungkan dengan timbulnja pemimpin2 jang mempunjai piikiran2 tentang pertuanan untuk diri pribadi dan kebutuhan kehidupan kekal sesudah kematian. Bahkan masa sekarang, kapan azas ekonomi mendjadi azas utama, tjita “kegemilangan” dan “kemasjhuran jang kekal” itu masih terperam didalam pikiran para diktator dan djemdral2 jang punja peranan penting didalam masalah2 perang.
Ber-matjam2 peradaban jang ada didunia ini mempunjai tanggapan2 jang ber-beda2 pula terhadap perang. Kita bandingkan sadja sikap Peradaban Tiongkok Purba dan India dengan peradaban Eropa. Eropa selalu memuliakan pahlawan2 perang, sesudah kristianisme timbulpun Eropa masih punja sikap jang sama, jaitu terhadap martir2. Tidak demikian hanlnja dengan Tiongkok dan India Purba. Manusia ideal menurut Konghutju, adalah manusia jang hidup dengan damai. Seperti kata Max Weber : “Mashab- Konghutju lebih mengutamakan kematian2 jang baik daripada kehidupan jang baik. Sebab menurut yjara berpikir perbuatan djahat manusia dapat dihapus dengan perbuatan kepahlawanan jang dirupakan dengan keperkasaan badaniah sadja. Mistisisme Lao Tse melengkapi rasionalisme Konghutju.
Tao adalah prinsip kosmis jang serentak merupakan akar utama dari diri pribadi setiap manusia. Penjair dan filsuf Tiongkok Lama adalah kaum anti-militarisme. Sedang penjair Eropa adalah pemudja dan pengagung perang. Untuk para filsuf dan penjair Tiongkok Lama peradjurit dianggap lebih rendah martabatnja dari pada para tjendekiawan.
Pasifisme India menjatakan ekspresinja dengan sempurna didalam peladjaran Budha. Budhisme, seperti Hinduisme, mengadjarkan ahimsa, tak mengganggu mahluk hidup apa djuapun. Tetapi ternjata djelas agaknja, bahwa keinginan akan berperang masa sekarang adalah demikian besar, hingga akan sia2 pulalah agaknja untuk memadamkannja. Tetapi suatu hal jang amat sukar bukan berarti tak mungkin terlaksana.
Mari kita tinggalkan Huxley untuk kembali pada film. Seperti amat djelas sama2 kita ketahui, bahwa film adalah termasuk suatu barang industri. Arti ekonomisnya langsung kita rasakan bila kita sempat menghitung berapa ratus ribu rupiah, bahkan berapa djuta djuga, jang dikeluarkan manusia untuk nonton film setiap malamnja sadja. Tidak usah terlalu luas kita mengambil batasan geografisnja: Indonesia sadja.
Perang jang setiap kali memang selalu bisa dipadamkan, seberapa djuta korban manusia dan harta benda, djuga selalu diikuti dengan beratus2 film perang jang dibuat berdasarkan perang jang barusan tadi. Perhatikan sadja kedua perang besar terachir: Perang Dunia II dan Korea. Ada ratusan film jang dibuat berdasarkan kedua perang itu terutama oleh Amerika dan Inggris. Setjara ironis kita bisa bilang, manusia mentjetuskan perang hanja untuk tontonan, dengan resiko korban sesama dan beberapa wang jang masih tinggal disaku untuk menjaksikannja dilajar putih.
Anehnya pula, terutama Hollywood, perang djarang ditunjukkan sebagai suatu kesedihan jang patut. Bahkan film2 perang disoroti dengan preparat2 melodramatis, aksi, romantik tjepengan dan seakan2 tanpa kemanusiaan. Bagaimana mendjidjikkannja, se-akan2, musuh2 ditundukkan oleh simenang. Jang benar hanjalah simenang, jang luhur, jang dan seterusnja adalah simenang.
Amat menggembirakan adalah film2 Inggris. Seperti film2nja matjam lain., film2 perang dinegeri ini tidak selalu menundjukkan tjiri jang rendah. “Battle of the River Plate” misalnja, adalah suatu nukilan jang membuktikan betapa besar respek Inggeris terhadap lawannja jang toh adalah djuga manusia seperti mereka. Kapten Hans Langsdorff dari Djerman itu diakui oleh Inggeris sebagai seorang perwira tinggi jang tahu perikemanusiaan, masih bisa memperhitungkan korban djiwa jang bisa disingkiri, baik dipihak musuh maupun dipihaknja sendiri. Sungguhpun upah dari pada keluhurannja itu adalah…….bunuh diri.
Toh pembuat film itu tidak menjatakan, bahwa kapten itu achirnja bunuh diri. Djustru kebesaran respek itu, maka tjeritera dipotong sampai Langsdorff menghantjurkan kapalnja sendiri. Titik.
Lebih naik lagi film sebagai hasil tjipta dan pikir manusia didalam mereview perang. Adalah Italia. “Paisa” buatan Rossellini adalah suatu rintih jang naif, jang mengiris, jang selalu mengingatkan kepada kita, bahwa harga njawa manusia adalah mahal. Sungguhpun ada djuga sematjam dendam jang telah dikikis terhadap lawan, tetapi penghargaan terhadap manusia itu tidak dibatasi, apakah manusia itu lawan atau kawan.
Hingga kesimpulan kita adalah, bahwa para eksploitir perang, tanpa menjebut nama negerinja, memang menggemari perang. Baik ia dilihat sebagai pembukaan pasaran sendjata ataupun pengurangan djumlah manusia. Demokrasi modern tidak bisa djelas dan hanja kabur2 sadja nampak bila ia dipantulkan kembali oleh film2 perang. Ergolakan dunia makin berkabut. Antjaman perang hampir selalu tak bisa tertjegah peletusan perangnja. Hingga nasib manusia hanja ter-ayun2 antara perang2 dan bagi jamg masih sempat hidup sesudah padamnja suatu perang, maka ia boleh dengan lutju melihat kembali tjerita2 perang jang lebih lutju lagi dari pada tingkah sipenonton sendiri, diatas lajar putih.

 

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia