Pencarian pada:
 
Detail Cantuman Artikel
Judul : Sebuah Tjatatan: pada "omong punja omong tentang film Indonesia`
Penulis : Harny Winarta
Sumber : Aneka : Terutama mengenai olahraga dan film,1957.No.11,hlm.11
Subjek : Film

                      SEBUAH TJATATAN : pada "omong punja omong tentang film Indonesia`

Sehabis membatja tulisan sdr. Ajip Rosidi “Omong punja omong tentang film Indonesia” (Aneka no. 10 tgl. 1 Djuni 1957) saja merasa dirangsang oleh suatu keragu-raguan jang ada didalam tulisan itu, jang ditutupi oleh perantjuan2 pengertian dari banjak fakta jang didjadikan landasan. Kesimpulannja adalah, bahwa penulisnja tidak mampu mengadjukan bagan pikirannja jang setiap orang telah pada memaklumi adalah mengambil pokok suatu hal jang mengharapkan penekunan jang bersungguh-sungguh.

DALAM KARANGAN TERSEBUT Sdr. Ajip Rosidi berangkat dari suatu pikiran jang nalar (rasionil) : Kegiatan film Indonesia menundjukkan suatu keadaan jang menjedihkan, para produser berpegang kepada nisbah (sumenhang) film dan duit melulu, inipun dihadapi dengan sempit. Jaitu hanja dialaskan pada resep :njanjian2 ditambah perkelahian2 ditambah pemandangan2 indah dll. Sama dengan film jang bisa mengeruk duit.” Sampai disini sdr. Rosidi benar. Sungguhpun untuk pikiran jang bukan baru ini dia sudah membingungkan saja, barangkali karena miskin saja didalam lingkaran pemikiran tentang film Indonesia, jang terus terang sadja memang belum ada kemampuan saja untuk mengangkat masalah itu kedepan kepala saja. Tetapi saja tahu dengan pasti, bahwa jang dibutuhkan baik oleh masjarakat maupun dunia film sendiri adalah pikiran2 jang lebih djauh daripada tempat jang telah “ditjapai” oleh Sdr. Rosidi tadi. Misalnja sadja jang dikehendaki masjarakat (dan dunia film) adalah djawab dari pertanjaan : Djalan mana jang bisa dirambah untuk bisa menjelamatkan film Indonesia dari malapetaka jang dihadapi sekarang?

Kalau ada suatu djalan jang ditundjukkan oleh Sdr. Rosidi didalam karangannja tersebut,telundjuk djarinja itupun diliputi oleh kabut jang muram, dan saja tidak bisa berkata dapat melihat djalan itu dengan djelas. Apakah dogma magistralnja jang berbunji seni adalah tak pernah kenal kompromi dengan wang itu? Kompromi jang bagaimana, dan seni apa,saja kira perlu -- oleh Sdr. Rosidi -- dipaparkan dengan bagan pikiran jang lebih matang lagi. Karena -- sedikit-dikitnja untuk saja – dogma itu diawang-awang benar rasanja. Dan sekali lagi saja terpaksa ulangkan disini, bahwa selebihnja daripada pemaparan diatas jang ada didalam karangan tersebut adalah betul2 adukan dari banjak perantjauan2 pengertian jang banjak memberikan kesulitan. Misalnja tentang genre (7) Hollywood, film2 Italia, Djepang, watak Amerika, Inggris dll. Jang ada didepan saja bila saja melihat film jang disebutkan Sdr. Rosidi genre Hollywood adalah djuga seperti jang dihadapi oleh setiap orang jang menjaksikannja. Hanja pendapat saja, film Western, misalnja jang selalu mentjeritakan penghidupan (dan toh djuga kehidupan) para djago tembak, peternak, pengembala dengan perkelahian2,tembak2an dan njanjian2 (persis seperti resep jang buat sdr. Rosidi adalah tabu) tidak bisa kita harapkan lebih daripada sebagai film2 entertainment. Tentang seni film dan film – seni saja sengadja tidak lekas2 mendjamahnja. Kawatir saja kalau2 kekurangan pengetahuan saja akan terlalu mengisruhkan djalan pikiran saja sendiri. Sungguhpun ingin djuga pada kesempatan lain saja turut2 ngomong. Kalau kita mengambil tjontoh ukuran tengahan untuk kategori Western tadi kita sebut misalnja “Rebel in town” atau Ghost Town”. Djadi terlalu tidak adil memang kalau kita menjebutkan “Bad Day at Black Rock” atau apalagi “Shane atau High No on”, bahkan, Kedua film Western hampir di benua mana sadja bisa dilahap penonton jang tak usah lekas2 kita katakana pander sebab kesukaannja hanjalah barang2 kodian matjam film2 tentang Wild West, Perang Saudara Amerika, Broadway atau F.B.I. itu. Sebab – klaua kita dengan serta-merta terus melontjat kehubungan kata “watak Amerika” – biar bagaimana baik Wild West, Perang saudara, Broadway dll, itu adalah milik atau bahkan sebagian dari tubuh Amerika. Dan betapa “penjakitan” atau “mendjidjikkannja” milik atau bagian tubuh Amerika itu (saja amat senang dapat memindjam djalan pikiran sdr. Rosidi didalam karangan itu, dan sebelum membatja karangan itupun saja tidak pernah mentjoba menghadapi film2 Hollywood dengan pikiran jang dileleri tjatjing2 politikal,atau boleh djugakah saja mempergunakan politis pembentukan kata2 djadian gaja sdr. Bujung Saleh jang diambil oper sdr. Rosidi ini menjebabkan dahi tergerinjit2 toh kata2 itu djarang saja kuasai dengan teliti, buat kita orang-lauran tidak usah terlalu banjak buang tempo untuk memikr-mikirkannja. Sebab djustru mentjari djalan kearah jang sedjadjar dengan itu untuk kita – kalau bisa menemukan! – adalah pekerdjaan jang lebih bermanfaat. Arah itu maksud saja, keberhasilan industri film Indonesia sebagai pentjetak film2 entertainment, jang toh belum kundjung datang ini.

APA JANG BISA LIHAT antara garis jang njata dari Hollywood dan “garis merana” dari Djakartawood (ini untuk gampangnja sadja, Tuan “Djakartawood” memang tidak ada) adalah kita membutuhkan tenaga2 dari setiap kedjuruan di depan, dibelakang dan pada kamera jang kapabel benar, dan djuga ketjuali berdaja-tjipta tetapi djuga bergaja-tjipta. Manakah penulisan screen-play jang dihasilkan oleh seorang jang memang berhadjad menulisnja dengan segenap keahlian dan kakajaan jang kreatif untuk bisa menghasilkan sebuah screen-play jang lajak? Mana sutradara jang sampai memaksa penonton untuk membatja namanja lagi untuk kita ingat, sebab pekerdjaannja memang berhasil? Ini adalah pertanjaan2 jang tidak mengikatkan diri pada penjelidikan jang bersungguh2. Sekedar djalan pikiran jang umum seperti halnja kita berhak menuntut permainan jang pantas dari pemain2 baik ia memegang peranan utama maupun tidak. Kaget (?), bertjampur ketjewa dan bahkan tersenjum saja bila didalam kain reklame film “Harta Angker” Persari punja, terbatja oleh saja : djuru-kamera : (Nama seorang berkebangsaan India). Bakal “serem” pasti film ini. Jang lebih “serem” buat saja adalah kenjataan jang pahit ini. Bahwa untuk melanggengkan keadaan dunia film Indonesia kita ini nama2 Malaya untuk bintang2 film dan nama India untuk para ahli tehnik bakal berserak2 dibumi Indonesia. Dan bagaimanakah kalau sanggahan saja diatas saja sodorkan kepada Sdr. Rosidi didalam penjetempelan watak Amerika dan Inggeris jang dikatakannja : suka sensasi meluap-luap napsunja dangkal serta lamban ? Dari djalan pikiran Sdr. Rosidi ssaja melihat bajangan diri saja sendiri (seorang jang berkebangsaan Indonesia) berwatak suka melihat atau bahkan berpikiran dengan perasaan. Saja melihat kebenaran jang ada dibalik tulisan Sdr. Rosidi tentang Amerika itu, misalnja, bahwa benua jang dari segi kulturnja dengan kasar bisa dikatakan mandul itu memang menjebarkan bahaja demoralisasi sebab film2 entertainment keluaran Hollywood (se-tidak2nja di Indonesia) memberi banjak kesukaan didalam masalah2 pendidikan. Tetapi ini tak dikemukakannja dengan djelas. Sebuah pikiran jang djenuh tentang film2 Hollywood terhadap masalah pendidikan di Indonesia sudah amat besar artinja buat diri kita sendiri.

SAJA BERBEDA PENDAPAT pula dengan Sdr. Rosidi tentang pengertian kata tehnik jang dipakainja didalam perbandingan Hollywood terhadap Djepang atau Italia. Sdr. Rosidi benar didalam pendapatnja bahwa para orang film jang melakukan pertanggungan –djawab, orang film jang menganggap film sebagai hasil tehnik belaka dll. Tetapi saja tak bisa menerima kalau tehnik antara Hollywood dan Djepang misalnja tidak sepadan. Didalam menghadapi Sdr. Rosidi mempergunakan dan mengartikan kata “tehnik” saja seperti diputar2kan kedalam suatu lingkaran setan jang timbale balik pula arahnja. Sepandjang pengetahuan saja baik Djepang dan Italia (seperti halnja Amerika) telah memulai industri filmnja masing – setjara kasarnja sadja – dengan bekal dan waktu jang hamper bersamaan. Sebab masing2 dari ketiga negeri itu djuga mengenai pembuatan2 film bisu. Kalau Sdr. Rosidi memberi arti kata tehnik dalam pengertian kwantitatif dia bisa benar. Mungkin dia tidak keliru kalau mengatakan bahwa Hollywood adalah pusat industri.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia