Pencarian pada:
 
Detail Cantuman Artikel
Judul : Artis-artis Film Waspadalah! Djadilah artis jang berpendirian
Penulis : H. Asby
Sumber : Aneka : Terutama mengenai Olahraga dan Film,1957.No.9,hlm.18
Subjek : Film

                                                                     

                                                     Artis-artis Film Waspadalah!

                                                  Djadilah artis jang berpendirian

 

Memang sudah lama terasa angin-anginnja. Terasa angina sepoi-sepoi basah, silir enak ditubuh, menjegarkan. Memang hawa udara di Djakarta belakangan ini terasa bukan main panasnja matahari di musim kemarau. Dunia film berada dalam suasana heboh, pantek. Aksi PPFI pun dilantjarkan studio2 film milik anggauta2 PPFI ditutup. Seluruh masjarakat diseret seolah diputus supaja memperhatikan dan menaruh perhatian terhadap masalah perfilman dinegeri ini.

Dan benar! semua sadja jang merasa ada kepentingan dengan dunia film telah menjatakan pendapatnja. Para artis dan djuga para buruh film. Pers tidak ketinggalan. Semua sadja mentjari djalan kearah penjelesaian pemerintahpun turut tjampur tangan. Berbagai pendapat telah dikeluarkan sebagai reaksi terhadap aksi PPFI itu. Antara lain ada jang mengandjurkan supaja pemerintah ambil over sadja studio-studio film jang ditutup itu. Untuk menjelamatkan kaum buruhnja dan menghindari bahaja pengangguran. Pun pihak PARFI, itu persatuan artis2 film kita tidak ketinggalan mengambil tindakan2 tentu terutama sekali untuk menjelamatkan kaum artis dari bahaja2 jang mungkin timbul. Semua2 itu saja perhatikan. Saja bukan anggauta PARFI atau organisasi lain, melainkan semata-mata hanja sebagai pentjinta seni film. Memang saja akui, kalau dulu2 saja tidak mau ketinggalan dalam organisasi artis film, sekarang sengadja saja berdiri diluarnja sebagai penonton. Dan sebagai penonton terjata saja telah dapat melihat dengan baik dan waspada. Walhasil, PARFI pada waktu belakangan ini, agaknja sudah mulai gojah, aithans ada kekatjauan2 dikalangan pengurusnja. Melihat demikian, apakah memang bias dibenarkan pendapat orang, bahwa artis itu mahluk jang tak dapat diorganisir atau diadjak dalam perkumpulan? Tragedie perkumpulan2 dan atau / atau persatuan2 artis, sedjak sebelum perang dulu hingga sekarang rupanja masih tetap ada.

Tapi, apa jang rupa2nja dialami oleh PARFI jang sekarang ini, agak lain dari jang lain. Konon saja dengar gerutu orang (artis) : --- “Ha : Artis sudah pula ada jang membuat kliek-kliekkan sendiri, dengan alirannja. Kliek artis jang sudah bias dipengaruhi sesuatu aliran politik dan mau membentuk kliek sealiran terpisah dari kawan rekan jang lain. Gerutu rekan artis tsb, kemudian tersusul kenjataan2, jaitu dengan berdirinja Panitia Seniman untuk film, jang pengurusnja terdiri dari sdr. Basuki Resobowo sebagai Ketua Umum, Wakil Ketua I : sdr. Bachtiar Siagian, Wakil Ketua II : sdr. Amir Pasaribu, sekretaris2 : sdr. Dhalia, Basuki Effendi, Tann Sing Hwat ; pembantu2 umum : sdr2 Djokolelono, Sofia Waldy, Rivai Apin, Joebaar Ajoeb, Henk Ngantung dan A.S. Dharta.. Dan membatja berita belakang, bahwa Panitia Seniman untuk film, didalam turut memikirkan penjelesaian masalah perfilman di Indonesia telah mengadjukan saran kearah pembentukan Dewan Film Nasional.

Melihat nama2 para pengurus Panitia Seniman untuk film tsb., timbul dalam pikiran saja, apakah mereka itu jang dimaksud oleh gerutu rekan artis anggauta PARFI itu? Umum tentunja djuga sudah kenal siapa2 jang djadi pengurus PARFI, selain ketua umumnja sdr. Soerjasumanto. Segera timbul lagi pikiran apakah Panitia Seniman untuk film itu bagian atau sub-seksi atau onderbouw dari PARFI? Kemudian setjara intermezzo, perlu saja tjeritakan disini kebanggaan hati saja, bahwa saja telah dapat melihat rekan2 artis film kenamaan pd berpakaian tjantik2 setjara adapt berdiri berdjadjar turut menjambut tamu agung kita dari Rusia. Dan setjara kebetulan, diantara mereka itu adalah pula anggauta2 pengurus dari Panitia Seniman untuk film, dengan lain kata djelas kini bahwa rekan2 artis tsb. Adalah benar2 sudah menundjukkan kartunja, mendjadi kawan2 dekat dgn, misalnja gembong Lkra, sdr. A.S. Dharta atau Pengasuh H.R. Sport dan Film sdr. Joebaar Ajoeb.

Sekarang, saja harus merasa bangga bahwa ada djuga diantara rekan2 artis film jang benar2 sudah memilih djalan ideologie atau aliran jang sedikit banjak dekat dengan ideologie atau aliran sesuatu partai politik. Kepada mereka itu saja harus memberi saluut dan penghargaan, jaitu karena mereka sudah terang-terangan warnanja. Tjuma harapan saja, agar rekan2 tsb dapat mendjadi artis film jang berpendirian politik, misalnja sadja kawan tertjinta saja, A.S. Dharta. Tetapi disamping itu, sajapun perlu memperingatkan kepada rekan2 artis film tsb, bahwa sahabat2 mereka jang sekarang ini, althans bagi saja, kurang sekali pengalamannja dalam dunia film, hingga tentu sadja orang seperti A.S. Dharta atau Joebaar Ajoeb belum dapat diberi gelar artis film. Ini bila disbanding dengan Dhalia atau lain2nja. Nama2 seperti Henk Ngantung, Rivai Apin, Amir Pasaribu misalnja saja belum begitu dengar dikalangan perfilman. Tapi jah, mudah2an sadja, sajalah jang kurang tahu atau kurang mengenal mereka dikalangan perfilman.

Mengingat kenjataan2 demikian, timbul sekali lagi pertanjaan dalam hati: lantas, sebab apa mereka kok begitu tiba2 sadja terjun dalam barisan artis2 film sedjadjar dengan rekan2 Sofia Waldy, Dhalia dll, djustru dimasa terdjadinja kehebohan2 dalam dunia film kita? Saja harap sadja, dengan maksud baik. Dan memang dengan maksud baik. Jaitu turut memikirkan pemetjahan persoalan perfilman di tanah air. Kalau benar mereka tjuma dengan tudjuan demikian, kenapa mereka tidak masuk mendjadi anggauta PARFI sadja? Toh, PARFI sudah diakui sebagai organisasi artis film, dan sebagai organisasi tentu akan dapat menerima mereka dengan tangan terbuka. Tapi, kenapa kok malah djustru terbalik, bahwa anggauta2 pengurus PARFI (sebagian) turut didalam Panitia Seniman untuk film. Saja lantas mendjadi bingung. Dan kebingungan jang serupa telah pula membikin sakit kepalanja sementara rekan2 artis film jang lain. Termasuk rekan artis jang menggerutu2 sebagaimana saja tjeritakan diatas.

Didalam kebingungan saja itu, timbullah pikiran jg nggak-nggak! Siapakah orang jang tak kenal nama dan aliran politiknja kawan sebagai misalnja A.S. Dharta? Atau lapang pekerdjaan rekan Joebaar Ajoeb? Atau jang lain2. Mungkinkah mereka memang sengadja terdjun kedalam dunia film kita, dengan membawa maksud2 tertentu, selain hendak menolong menjehatkan penjakit2 jang diderita oleh dunia film kita. Kalau begitu dugaansaja itu, maka saja dgn ini pula saja mengadjak tudjuan saja 100% bulat. Asalkan semua itu, dimainkan dengan kartu terbuka. Malah dgn ini pula saja mengadjak kawan2 itu untuk turut memikirkan idea/usul/initiatief saja berwudjud pembentukan sesuatu Djawatan Film. Perhitungan saja, hanja dengan djalan inilah penjelesaian masalah perfilman bias didapatkan setjara radikal dan dinamis penuh.

Dalam Djawatan Film, sesudah dibentuk kelak akan dapat dihimpun dan dikumpulkan kekuatan2 segenap tenaga dan potensi jang ada dalam dunia film, tanpa ada perbedaan aliran atau paham politik. Sebab, bagaimanapun usaha untuk verpolitiseren artis film, buat di Indonesia di djaman ini adalah satu hal kurang bidjaksana! Artis film tetap berada diluar pengaruh aliran politik atau ideologie sesuatu partai. Begitu hendaknja! Tapi ini djuga tidak berarti bahwa artis film adalah boneka2 tanpa pendirian.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia