Pencarian pada:
 
Detail Cantuman Artikel
Judul : Bajaran Sangat Rendah Salah satu sebab rendahnja mutu skrip film Indonesia
Penulis : H. Winarta
Sumber : Majalah Aneka Olahraga dan Film No. 6 tahun XI, 20 April 1960 hlm. 23-24
Subjek : Film

                                                                           BAJARAN SANGAT RENDAH
                                        Salah satu sebab rendahnja mutu skrip film Indonesia

Tulisan ini kutudjukan kepadamu, sebab setidaknja kau lebih dekat dengan kegiatan penulisan skrip film, kau jang pernah mengabadikan nama dengan ,,Terang Bulan Terang Dikali”, tjeritamu jang telah difilmkan itu. Dan dari kau ku harapkan pengamatan jang baik mengenai masalah penulisan skrip film Indonesia. Semoga tulisan ini akan membangkitkan djasa-baikmu untuk merentjanakan pendirian2mu mengenai bidang jang masih sangat sederhana dan hidjau terambah itu.

SEPERTI KEBANJAKAN PEMInat kegiatan film, saja djuga berpendapat bahwa skrip jang baik adalah salah satu unsur jang penting dalam sebuah film jang baik. Sdr. Gajus Siagian telah berkesan dalam karangannja mengenai perkembangan film Indonesia tidak mendapat djaminan hidup dalam film Indonesia. Pramoedya Ananta Toer tjuma pernah ditjatat namanja dengan ,,Peristiwa Surabaja Gubeng” dan ,,Rindu Damai” sadja barangkali. Tetapi novel2 dia jang baik seperti ,,Perburuan”, ,,Keluarga Gerilya” atau ,,Mereka jang dilumpuhkan” tidak pernah dikutuk orang untuk dilihat kemungkinannja didjadikan sebuah skrip. Kenapa ketiga novel baik kepunjaan Pram itu tidak pernah dikutik orang? Saya kira itu bukan karena orang ketiga novel itu telah benar2 dibatja untuk dilihat kemungkinan2nja didjadikan bahan film, tetapi lebih tjelaka karena orang telah berprangsangka bahwa dengan tjerita2 ,,berat” seperti itu filmnja toh tak akan laku, atau paling beruntung kalau dikatakan orang bahwa tjerita2 itu ,,tidak banjak mempunjai kemungkinan jang baik untuk didjadikan skrip film”.

Pada kalimat diatas saja bubuhkan tanda kutip pada kata berat dan tidak banjak mempunjai kemungkinan jang baik untuk didjadikan film, karena tanda karena itu bukan saja tjantumkan begitu sadja. Kata kutip jang duluan pada kata berat punja presensi banjak. Berat sebagai batjaan jang serius, memang benar ,,Perburuan” dan jang dua lagi itu bukan batjaan-batjaan jang dengan mudah bisa ditelan, baik oleh pembatja atau penonton film, maupun oleh para penulis skrip film. Berat jang kedua adalah karena ketiga novel itu pasti belum mentjapai oplah 100.000. baru para peladjar dan beberapa orang selebihnja lagi jang telah mengenal siapa Pramoedya. Eksemplar seluruhnja dari ketiga novel itu jang masih dibawah 100.000 belum mendjamin akan dapat dikemukakan ,,penonton film Pramoedya” .

Saja kemudian membutuhkan tanda kutip pada tidak banjak mempunyai kemungkinan jang baik untuk didjadikan skrip film. Pertama karena ketiga novel itu mungkin belum pernah djatuh ditangan seorang producer film Indonesia, dalam arti djatuh ditangan jang sebenarnja. Kedua karena ketiga tjerita itu memang sangat besar risikonja untuk difilm, risiko duit dan risiko seni.

Dulu waktu roman ,,Arni” terdengar telah difilmkan orang, saja merasa gembira. Barangkali roman dan novel2 Indonesia jang baik bakal menjusul. Tetapi tidak demikian halnja.

Engkau tentu sejakin saja, bahwa hasil kesusasteraan adalah sumber utama perfilman. Walau kesusasteraan Indonesia masih djauh dari film Indonesia dan engkau tahu bahwa Pushkin tjerita2nja bukan sadja difilmkan di Rusia sendiri, tetapi djuga di Italia dan Inggris. Tjerita2 Dostojewski sampai difilmkan dinegeri Djepang, bahkan kabarnja Dr. Zhivago Pasternak jang telah benar2 menggegerkan dunia itu bakal difilmkan bukan oleh Rusia sendiri. Bukankah ,,Perang dan Damai” Tolsoi difilmkan orang2 Amerika dan Italia? Djelaslah bahwa puntjak2 hasil kesusasteraan benar2 ditjatat sebagai bagian dari puntjak2 hasil perfilman. Tidak usah lagi kita sebut2 nama pengarang2 seperti Dickens, Maugham, Bronte, Shaw, atau Sayoran, Steinbeck, Faulkner, Hemingway, Shaw (Irwin), atau Sante, Stendhal Simenori Sagan – begitu banjak nama2 pengarang dari negeri2 mana sadja jang telah mendjadi abadi namanja diatas kredit film2 yang baik.

Saja bisa djadi akan diketawakan orang, karena menjebutkan begitu banjak nama pengarang2 asing jang tjuma berhubungan dengan film2 luar-negeri itu. Menjebutkan nama2 jang tanpa system sama sekali itu. Mau saja adalah menundjukkan bahwa hasil2 kesusasteraan luaran negeri2 mendjadi sumber utama dari perfilman. Belum lagi kita tambah dengan naskah2 sandiwara, naskah2 tjerita2 Western, Science Fiction, dokumen2 kedjahatan, dokumen2 tetek bengek. 

Jang tidak enak terasa kita menonton film kita sendiri adalah bahwa kewadjaran suasana atau dunia dilukiskan dalam film terasa sangat asing. Djarang kita tidak merasa asing dalam suasana dan dunia jang terpampang dilajar jang memprojeksikan gambar2 dari sebuah film Indonesia. Saja kira sebabnja dapat kita uber dan temukan pada skrip filmnja. Kenapa skrip film Indonesia manpaknja masih sangat dibawah tingkatnja jang sepatutnja? Bukankah perfilman Indonesia telah puluhan tahun umurnja?

Setjara kasar dapatlah saja temukan beberapa biang keladi daripadanja :

1.Kurangnja atau hampir tidak adanja sama sekali apresiasi terhadap kesusastraan Indonesia baik dikalangan produksi, suteradara atau penulis2 skrip flim.

2.Terlalu kakunja perfilman Indonesia memberikan kemungkinan hasil2 kesusasteraan Indonesia masuk kedalam film2 kita disebabkan masih sangat sedikitnja ruangan jang bersungguh jang ada dalam kegiatan film negeri kita.

3.Pembajaran jang masih sangat rendah terhadap pengarang atau penulis skrip film (maupun synopsis).

4.Kurangnja pengarang atau penulis skrip film jang mampu menelurkan skrip2 jang bermutu. Hal ini pada sebenarnja merupakan akibat atau biang keladi (?) dari hal2 tersebut lebih dahulu. Saja tidak merasa terkedjut waktu engkau berkata bahwa seorang penulis skrip film kita bisa menjulap sebuah skrip jang semula tidak ada mendjadi ada hanja dalam tempo 3 hari sadja. Ketidak-terkedjutnja saja terutama disebabkan oleh kenyataan didepan hidung seperti jang telah saja sebutkan diatas.

Apakah sebenarnja ada kemungkinan tertjiptanja skrip2 film jang baik? Menurut pendapat saja djawab adalah ada. Karena kita mempunjai gudang bahan jang tjukup tidak terbatas. Selain daripada hasil kesusasteraan termasuk naskah2 sandiwara, kita djuga mempunjai tjatatan2 sedjarah, dokumen2 jang authentic baik jang mengenai peristiwa2 kedjahatan, intrigue2 jang setiap waktu bisa dilihat didinas rahasia, ataupun hal2 lain jang tidak pernah dikutik seperti biografi2 pengarang, musikus, pemimpin, tetang kedjahatan anak2, tetang kehidupan2 jang tidak pernah didengar seperti jang ada diperut Kalimantan, diudjung timur Maluku atau dipodjok barat Sumatra, Bali, saja kira setiap bunji dan udjud jang ada disana adalah sebuah film. Kenapa telah begitu banjaknja perhatian ditudjukan dunia kepada Bali, seperti ternjata oleh kedatangan seorang cineast dari Italia tahun 1954, kemudian beberapa orang Hollywood 2-3 tahun jang lalu, sedangkan kita tjuma mampu membuat sebuah film ,,Damar Wulan” jang berbau ketobrak dan ,,Djajaprana” jang tidak menggetarkan seperti legendanja sendiri?

Kalau pemerintah pada awal tahun 1960 menuntut diproduksinja sekian puluh film dalam setahun ini, saja kira soal skrip film jang sampai sekarang merupakan momok jang tidak lutju itu dapatlah dimulai penggiatannja dengan rentjana produksi tahun ini jang oleh pemerintah tentunja dimaksud bukan sebagai senda gurau atau iseng2, tetapi tentu dengan sungguhan dan tidak serampangan.

Dari padamu sangat saja harapkan pembahasan jang sebaik-baik engkau tentu dapat langsung merasakan dan mengetahui bagaimana sebenarnja soal jang menjangkut penulisan skrip film jang bagi saja sangat kurang saja ketahui persoalan sebenarnja.

Semoga dengan tulisan ini engkau dapat menuangkan waktumu menuliskan sekedar pendirianmu jang informative dan kritis, agar saja dapat turut lega, setidaknja kita tidak bersilang tangan melihat kemelut jang melingkari kegiatan film Indonesia ini, nota bene pada saat terkuburnja studio film Perfini jang kabranja bakal mendjadi kompleks perumahan Bank Industri Negara itu. Beserta salam.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia