Pencarian pada:
 
Detail Cantuman Artikel
Judul : Membangun Kembali Film Indonesia dengan tjara bagaimana?
Penulis : Zen Rosdy & W. Sihombing
Sumber : Majalah Aneka Olahraga dan Film No. 3 tahun XI, 20 Maret 1960 hlm. 21-22,24
Subjek : Film

MEMBANGUN KEMBALI
Film Indonesia…….dengan tjara bagaimana?

Dengan adanja persetudjuan antara PPFI dan Dewan Film, dengan lain kata: bantuan pemerintah berupa raw-material untuk pembangunan film Indonesia jang berdjumlah 60 unit; dengan memperoleh hembusan jang menjegarkan ini, berarti perkembangan film Indonesia akan mendjadi ramai lagi. Menurut kenjataan2 jang telah dirantjangkan itu, pada tahun muka, pasaran film jang mulai rada2 sepi, disebabkan kesulitan raw-material, akan diisi dengan 60 produksi film Indonesia. Persetudjuan dari perikatan produser dengan instansi jang tersebut diatas adalah suatu peristiwa jang amat menggembirakan dan sangat penting pula artinja bagi perkembangan perfilman dewasa ini dan untuk hari2 jang akan dating.

DISAMPING KEGEMBIRAAN dengan kemurahan hati dari pemerintah itu, dalam hal pembangunan perfilman Indonesia, ada pula terdapat hal2 jang patut diperhatikan dan dipertimbangkan dengan seksama, djika kita menginginkan perkembangan film Indonesia berdjalan lantjar dan baik, tersisih dari sifat2 avonturisme dan free enterprise jang merugikan. Djangan pula raw-material jang didapatkan dengan segala susah pajah tadi diboroskan dalam pembangunan jang negative. Maksud kami: djika tjara bekerdja masih menurut tjara jang lama,pastilah tidak akan dapat dihasilkan film Indonesia lebih baik dari yang sudah2. Dalam hubungan ini musjawarah Film Indonesia mesti diadakan dan harus diadakan, sebab permusjawarahan film nasional bukan soal komersiil dan finansiil ekonomis kaum produser dan sosial ekonomis kaum artis sadja, akan tetapi adalah suatu pernjataan(approach)terhadap suatu masalah kebudajaan jang harus kita petjah dan selesaikan, jang memanggil pertanggungan djawab bersama.Setahu kita, baru kali ini (oleh sebab fasilitet dan bantuan pemerintah tersebut diatas barangkali), para produser mengulurkan tangan kepada golongan kebudajaan dan seniman2(?) diturut sertakan dalam musjawarah tersebut. Suatu sikap jang tidak terlalu siang diadakan, menengok cynisme jang tumbuh dari masjarakat terhadap film Indonesia itu.

Untuk menghilangkan cynisme dari masjarakat tadi terhadap film Indonesia, kita harus merombak dengan revolusioner tjara jang semberono dan tidak ada pertanggungan djawab kebudajaan dalam pembikinan film2 Indonesia dari waktu jg sudah2 itu. Musjawarah film Nasional harus meletakkan suatu dasar dan film kerdja jg baru dan menitik beratkan pada masalah kebudajaan dalam pembikinan film Indonesia untuk hari2 j.a.d.

BAGAIMANA SELAMA INI?
Selama ini kita sudah sama2 menjaksikan karya2 dari sutradara2 tua dan muda. Boleh dikatakan bahwa karya2 itu bukan berdjuang untuk mempertinggi mutu film Indonesia, melainkan asal punja “bezigheid” sadja,atau membikin film sedjadi2nja sadja. Biasanja seorang sutradara mendapat suatu unit, lalu dengan diam2 dan bergegas2 ia mentjipta sebuah tjerita, atau ia membitjarakan sebuah tjerita pilihan produser dalam suatu konperensi skrip dengan pembantu2nja dalam tempo seminggu, sepiluh hari. Sesudah itu terus shooting dengan…… lantjar pada mulanja, tapi makin keudjung mulai mandek, umpa.nja karena kekurangan raw-material,beaja produksi dst. Mulai stagnasi! Apa mau dibikin sekarang?Tidak diselesaikan atau dibengkalaikan begitu sadja, hantjur. Mau tak mau diselesaikan djuga, kadang2 dengan tjara menggadai dulu maka hasil produksi jg.terkatung2 itu kpd.distributor dapat dirampungkan.

Produksi jang tidak berentjana……… inilah menghasilkan film2 jang buruk, terutama karena kurangnja pengolahan dalam urusan tjerita, ditambah lagi dengan kementahan2 tehnis dan filmis jang membawakan sepenuhnja unsur2 jang bisa disebut, maaf, gagal total! Tak perlu kita meneliti satu persatu, tapi tjukup banjak djumlah film kita diwaktu jg.sudah2jang demikian halnja.

Kepada sutradara2 beginilah siempunja-uang (financier) menjerahkan nasibnja. Sekarang “dosa”nja siproduser pula, jg menganiaja sutradara jang sungguh2. Di Indonesia produser film masih bisa dihitung dengan djari, jang ada ialah finansier2 jang menanam wangnja sebagai spekulasi dalam pembikinan film. Dan empunja-uang tadi jang tidak punja banjak pengertian perihal film, “menjuruh” bikinkan sebuah film menurut ukuran komersiilnja, jaitu dengan pembeajaan jang diparuh dan kalau dapat dipaksa2kan dan ditambah dengan adegan2 “komersiil” pula, insert2 dsb.nja mengisi dengan ide jang tak habis2 dalam pembikinan film tadi, hingga mendjadikan boom gerobak jang sarat muatan dan menjajat kuduk machluk jang patut dikasihani : sutradara jang serius. Timbal balik, sama2 avonturismenja dan sama2 lutjunja. Dan biasanja sudah tentu pula menghasilkan karya2 jang gagal total.

Kalau sudah gagal demikian, maka ditjarilah dengan teliti siapa kambing hitamnja, barangkali si produser akan menjalankan sutradara, atau sutradara akan menjalankan terlalu tjampurnja si produser. Dalam kategori pertama memang tepatlah sutradara jang bekerdja tidak mampu dan “penuh rahasia” jang menyebabkan gagalnja film, namun demikian dalam kategori kedua, sifinansiier jang bersembunji daripada pandangan umum itu, jang menjadikan sutradara kambing hitamnja. Sudah tentu film2 jang diusahakan dengan tjara demikian sukar atau tak mungkin bisa mentjapai production-value. Kita kemukakan hal ini, sebab dalam peristiwa pertama merugikan materiil bagi produser dan dalam hal jang kedua merugikan spiritual (reputasi) si sutradara dan menghantjurkan pula seni film Indonesia umumnja dari sudut kebudajaan.

KERDJA BERENTJANA
Sebagai tjontoh lawan dari tjara bekerja rame2 patahtjengke ini dapat pula dikemukakan tjara bekerja berhati2 dan berencana dari beberapa perusahaan, ump.nja perfini. Walaupun ada juga film2 mereka jang tidak berhasil, namun ada beberapa produksi jg sudah mentjapai production-value jang tinggi bahkan dengan “dosa tak berampun” jg sampai ini belum ada tandingannja, orang sudah boleh bitjara perkara cultural-value, sebagai batu ukuran jang matang dari perkembangan film Indonesia umumnja. Film komedi realisme “krisis” jang pertama memperkenalkan film Indonesia di bioskop kelas satu dengan pemutaran sebulan lamanja, djuga telah mentjapai production-value jang diinginkan. Dan achirnja, “tiga dara” jang telah mendapat sambutan jang menjegarkan di luar negeri, membuktikan bahwa dengan pembikinan film berentjana, kita dapat mentjapai production-value tadi.

Berbitjara perkara production-value, dapat pula disebut dua produksi persari: “Tarmina” dan “ Djanjiku”. Jang pertama tjeritanja dan jang kedua qua fotografinja jang indah. Dan beberapa film dari Bachtiar siagian ” Melati Sendja”, “Tjorak Dunia” dan “ Turang”, jang belakangan ini dengan style realisme yang konsekwen, jang pada suatu masa akan diakui dan dihargai oleh masjarakat kita (terbukti benar, dalam PFI VI “Turang”dipanggil sebagai film terbaik. –red. “Aneka”). Film2 itupun sudah mentjapai production-value jg tinggi pula. Tidak berlebihan djika dikatakan disini bahwa hanja dari beberapa film tersebut diatas sadja kita melihat aspek2 kemadjuan dalam pembikinan film Indonesia umumnja.

Bukan maksud kita disini mengatakan bahwa film jang berat sadja bisa mentjapainja, akan tetapi djuga film komedi ringan atau musical bisa memperoleh production value. Seperti telah kami katakana pada permulaan tulisan ini, bukan dengan tertjapai urusan komersiil serta finansiil ekonomi antara PPFI dan Dewan Film sadja, tapi jang tidak kurang penting bahkan inti pati masalah musjawarah film nasional ialah perumusan dasar2 artistik dan kebudajaan nasional dalam perkembangan film Indonesia dihari2 j.a.d., dengan adanja bantuan materiil dan perlindungan jang intensif dari pemerintah itu.

Pembangunan kembali film2 Indonesia hendaknja djangan dititik-beratkan pada pertimbangan komersiil serta finansiil ekonomisnja sadja, titik berat itu harus dipindahkan djuga pada aspek2 artistik dan kebudajaaan dan sifat2 nasional dalam pembikinan sebuah film, baik ia sebuah drama, epik histories, sampai kepada komedi dam musikal jang bersifat menghibur sekalipun. Segi2 artistik dan filmis dari sebuah scenario itulah seharusnja menentukan anggaran belandja produksi, jang tidak bisa dipaksa2kan, djika ingin mentjapai production-value jang akan meningkat kepada cultural-value jang diinginkan, djika sudah menempuh fase jang pertama tadi.

Apa sebenarnja jang dimaksud dengan production-value itu? Djika sesuatu film mendapatkan sambutan hangat didalam negeri dan kita tidak ragu2 mengemukakan, malahan dengan bangga mempertundjukkannja sebagai film Indonesia diluar negeri. Film jang kita kirimkan kefestival2 itu tidaklah hanja sekedar memenuhi undangan sadja, akan tetapi harusnja memang sudah dipersiapkan untuk maksud tersebut diatas, jang oleh para ahli seniman kita umumnja dianggap tjukup baik dan representatif tidak akan memalukan Indonesia; djadi bukan sebagai produser administratif oleh suatu instansi film jang menerima undangan orang luar negeri dan kemudian dengan naïf menjarankan hadiah hiburan jang didapat itu dengan bangga dimana2!

Djika kita mau mengakui kelemahan2 kita, dan mau pula menarik peladjaran dari kegagalan dan kementahan2 banjak produksi dimasa jang sudah2, maka terdapat analisa sebagai berikut:

1. produksi jang tidak berentjana.

2. tidak matangnya pengolahan, baik dalam hal tjerita, lalu disusul oleh kelemahan2 tehnis dan filmis jang bagi penonton bangsa Indonesia sekalipun, adalah sangat mengetjewakan. (Tidak perlu hal ini kita perintji satu per satu, karena semuanja bersumber pada sebab2 pasal 1 diatas).

3. tidak ada susah pajah penumpahan daya kreasi jang sungguh2 untuk menghasilkan karya seni jang baik.

4. produksi hanja sebagai medium social & ekonomis bagi sutradara avontir dan artis2 (aktir & aktris) bersangkutan.

5. Pertimbangan2 terlalu komersiil dari produser2 kita.

Mengapa film Amerika jg masih boleh dilihat? Tidak lain, sebab film jang masuk golongan inipun boleh dikata hasil rutine industriil sadja, masih djuga diusahakan orang plotting dan tjerita jang baik serta kerdja kamera jang bagus, supaja mentjapai production-value tadi.

Dalam hubungan bantuan 60 unit dari pemerintah itu, baik djuga barangkali ditjernakan oleh musjawarah film nasional, tetang pembentukan satu production –board (bukan board of producers jakni PPFI), jang merupakan suatu badan control dari pemerintah jg. instensif tidak langsung dari sudut kulturil dari pembikinan film Indonesia. Kita tidak bitjara tentang suatu “kultuurkamer”, akan tetapi tetapi tidak terlalu siang bila kita bitjara tentang produk si-terpimpin, diteruskan dengan distribusi-terpimpin.

Dalam production-board sebagai bagian otonom setengah resmi jang tergabung dalam Dewan Film, dimana tergabung para pengarang, sutradara jang ahli, penulis skenario, dekorator, ahli montase, ahli musik, (Dalam board ini tidak duduk producer). Dalam board inilah suatu produksi jang masuk dalam rentjana jang tersebut diatas diolah, digodok dari segala segi: tehnis, filmis, komersil maupun kulturil, supaja dapat metjapai production-value, baru disodorkan dengan anggaran belandja dalam suatu produksi jang berentjana kepada producer jang mau membikin film itu dan kalau toh gagal, djika sudah diselidiki bahwa sutradara tidak mengkorup ide pengarangnja, jang kesemuanja dapat diselidiki dari skenario dan konperensi skripsinja. Berkali2 gagal skenario jang keluar dari situ, seluruh angkat kaki, diganti dengan team jang lain. Anggota2 ini dibeajai oleh produksi2 yang akan dibikin.

Pada hakekatnja tidak ada sistem jang tepat untuk mendjamin dengan mutlak suksesnja suatu film. Demikian pula system jang berentjana jang kita kemukakan tadi. Akan tetapi setidak2nja kita mempunjai dasar2 jang progresif, jaitu usaha2 jang bersifat “pembaharuan” dalam pembikinan film Indonesia, untuk mentjapai production-value jang akan meningkat kepada kultural-value jang diinginkan.

Usaha2 jang intensif untuk mentjapai ini akan lemah djuga, djika tidak disertai dengan distribusi-terpimpin. Mengapa kita bitjara tentang distribusi-terpimpin disini? Lain tidak karena producer nasional telah selalu menelan pengalaman pahit dengan booker dan eksploitan bioskop orang asing. Hanja distribusi-terpimpinlah jang bisa menghentikan manipulasi jg kurang adjar dalam politik distribusi dari golongan tersebut terhadap pemutaran film Indonesia. Sudah mendjadi suatu hal biasa bahwa waktu eksploitan asing ini akan memutar film Indonesia, dibioskopnja jg lain diputar film2 luar negeri jang sensasionil, supaja dengan persaingan jang tidak setimpal, film Indonesia itu dapat digeserkan dari screen-quota, dengan alasan tidak mentjapai limit minimum dari recettenja………Menurut hemat kita, bangsa kita jang sudah begitu gallant menerima orang asing tinggal disini, dimana mereka telah mendapat kemakmuran dan ketenteraman turun temurun sebagai sorga dibandingkan tempat asalnja, sangat patut dan lajak pula mereka memperdjuangkan goodwill, dalam pembangunan sosial dan kulturil kepada bangsa Indonesia.

SENSOR & ARTIS
Dalam hubungan pembangunan kembali perfilman Indonesia masih ada dua masalah vital jang rapat sekali hubungannja dengan pembikinan film, ialah soal sensor dan kedudukan artis. Soal sensor adalah soal jang berat sekali untuk dihadapi oleh produser kita, terutama karena tidak adanja persesuaian prinsip, sedangkan jang satu mengawasi dengan intensif perkembangan jg lain. Ketegangan2 berpegang pada dasar2 jang tidak mau dipersesuaikan ini, kerapkali merugikan pihak produser jang berarti pula seni film Indonesia umumnja. Kalau kita boleh mengambil perbandingan: sensor adalah sebagai terusan Suez dari masa jang lampau, dimana pengaruh dari beberapa golongan menekankan “keakuan” golongannja dan beberapa andil dalam pengguntingan urat nadi drama. Dari anasir jang merumus dasar daripada sensor itu, hanja dasar2 dramalah jang tidak diperhitungkan dan turut dipertimbangkan, malahan tidak dimasukkan sama sekali dalam dasar dari sensor itu.

Dalam hubungan ini perlu kiranja dari para ahli sastra, seni drama dan film mengadakan approach jang baik untuk menindjau kembali dasar2 daripada sensor untuk kemadjuan film Indonesia umumja. Kalau tidak, senantiasa ketegangan dan sikap saling tidak mengerti satu pada jang lain. Mengapa tidak? Mari kita tintjau sikap masing2.

Kekuatan susila jalah pengekangan dan pembatasan pelukisan sesuatu setjara realistis………buruk. Kekuatan drama dalam kebebasan dan kewadjaran realisme jang dilukiskan, hingga menimbulkan refleks jang njata, jang menyebabkan orang akan membentji keburukan itu. Puisi dalam drama2 jang realistis itu bisa membawakan unsur2 kemanusiaan jg mendalam……indah, (Dalam hal ini kita djuga tidak bisa menjetudjui pelukisan realisme, zoonder meer!) Perkawinan dari dua aspek inilah akan menimbulkan perumusan2 jang akan memperkurang-tadjamnja gunting sensor. Sebab dengan lain kata: dasar2 drama djuga mendjadikan unsur2 djuga predominerend dalam melaksanakan penjensoran tadi.

Djuga sikap para artis suatu soal jang tidak kurang pentingnja dalam pembangunan kembali film Indonesia. Artis bukanlah alat-hidup, melainkan djiwa jang menghidup dan menggajakan sebuah produksi. Tidak akan ada “desire” tjerita Eugene O’Neill “Desire under the Elms” diatas celluloid, djika tidak ada (Shopia Loren jg mengajakan “desire”nja itu. Banjak lagi tjontoh lain2 jang tidak perlu kita sebutkan seluruhnja disini. Hendaknja ada kesadaran vital dari para artis dan fungsi mereka dalam sesuatu produksi. Kesadaran jang mutlak adanja artis jang baik dalam suatu produks, baru bisa mendjadikan kreasi jang baik dan baru bisa membawa perobahan dalam kedudukan mereka sebagai tokoh representative dari golongannja.

Mengenai soal kedudukan dan fungsinja jang penting tadi, baik djuga barangkali diadakan “retooling” dalam organisasi persatuan artis (Perfi?). sebab selain dari berhasil memperdjuangkan artis mendapat bagian beras, tempo hari tidak dapat ditjatat aktivitet Parfi dalam mengkonsolidir kedudukan kaum artis adalah seorang dari kaum artis, tidak dibidang artistik, maupun sosial. Tapi bagaimana pula bisa diharapkan hasil jang lain dari pada itu, djika pemimpin kaum artis adalah seorang dari kaum producer pula………..Pemilihan jang “tepat dan unik” dari para artis film kita membikin mereka mentjekik kehidupan organisasi mereka sendiri…..Siapa jang lebih dapat merasakan pahitnja diwaktu menekan kontrak atau tidak, selain dari artis bersangkutan? (Kita tidak mengerti sebab kita bukan pemain).

Dalam hubungan pertjampuran jang intensif dalam perkembangan film ada timbul pertanjaan : apakah golongan pengarang harus dipupuk? Kita djawab : tidak perlu! Sebab bagi pengarang sampai sekarang kiranja tidak lebih dan tidak kurang adalah suatu barang-dagangan. Ada Navraag, baru ada aanbod. Navraag kurang, aanbodpun tidak ada. Lebih djelas biasanja karangan jang baikpun dibeli dengan harga jang murah, dirombak dari tragedi bisa djadi komedi konjol, dengan achir gembira barangkali; dan kesemuanja ini djika producer setudju dengan isinja karangan itu. Ini masih dikatakan baik, kalau karangan tadi “tidak hilang” pula dalam arsip simpanan sutradara jang terhormat………

Kita kembali pada kedudukan siartis. Tidak ada kesedaran akan kedudukan dan fungsinja jang penting dalam sesuatu produksi, menimbulkan standardisasi jang dangkal dari pihak producer kepada kaum artis kita jang pandai. Sudah djadi standardisasi jang lumrah bahwa seorang pemain baik seperti Fifi Young, Sofia Wldy, Marlia Hardy dan Wolly Sutinah hanja kebanjakan mendapat penghargaan akan ketjakapannja dalam rol ibu sadja. Abdul Hamid Arief pun sudah mulai didesak kepada rol ajah jang standar, di-smink dan diputihkan rambutnja. Raden Ismail sekali2 djuga dapat penghargaan jang standar mendangkal dari producer2 kita. Apakah mau disalurkan oleh pemain jang baik sekalipun dalam bidang sempit itu? (Bukan maksud kita disini bahwa olderacks atau bukan dari golongan diatas tadi) harus bermainan mendjadi gadis atau anak muda). Lebih djelas kita dapat menggambarkan ini dalam perbandingan orang diluar negeri menghargai pemain2nja jang baik. Kerima sebagai ibu dalam “La Lupa” , Shirley Booth dalam “Come Back”, Little Sheba”, Jane Wyman dalam “Magnifient Obsession”. Tapi peran ibu jang memegang leading. part. Begini penghargaan prodeser diluar kepada pemain2nja jang baik.

Tapi di Indonesia, bila sudah sekali dapat ditawar mendjadi ibu dalam arti jang kita sebutkan tadi, ada harapan pemain2 jang baik mendjadi ibulah dia seumur hidupnja. Dalam hal ini kita bisa lihat dengan tegas pada empat pemain kita jang pandai2 diatas tadi. Mereka dianggap hanja tjukup baik untuk mendjadi ibu, jang disuruh menggosok dan meratapi anaknja waktu anaknja mendapat malapetaka, etc. etc.

Dalam arti artistik & kulturil, produser bukan hanja memberikan sandang-pangan sadja kepada artis, tapi djuga memberikan penjaluran jang tepat dalam bidang jang luas untuk menjalurkan ketjakapan artis tadi dlm. bidang seni drama. Dan hasilnja timbal balik. Apakah tidak ada tjerita jang baik untuk menempatkan pemain2 jg baik dalam bidang jang setimpal? Apakah hanja terbatas pada tjerita2 dengan pendatang2 baru jang tjantik sebagai gadis dan pemain2 hanja sebagai ibunja sadja? Njanji dengan gerak lebar ala India, patjar2an, piknik, sedih sedikit, ditubruk oto, atau masuk angin, timbul kesulitan, sesudah itu sembuh. Bulan madu, achir gembira.

Djika hanja terbatas sampai disini sadja kreasi dalam seni film Indonesia. Kita sajangkan sekali tenaga jang sudah ditjurahkan untuk mengadakan musjawarah film nasional ini. Djika tidak diadakan, tidak apa: malah pembikinan film Indonesia tidak usah ada, masjarakat tidak akan merasakan keberatan sangat. Akan tetapi seperti telah kami katakana : soal pembangunan kembali film nasional ini adalah soal artistik sosial, kulturil, dan bagi para pemain dalam hati ketjilnja sedikit banjaknja ada tertanam rasa tanggung djawab nasional kulturil masing2. Supaja Lagu Lama itu tidak terulang lagi dan supaja bertambah sedikit kesedaran tanggung djawab kebudajaan, kami tekankan sekali lagi bahwa musjawarah film nasional ini mesti diadakan, semoga terikat oleh tanggung djawab kebudajaan tadi memungkinkan adanja kerdja sama jang baik: sebab film Indonesia itu tidak akan habis2nja dikritik dan tidak habis2nja pula dipudji2, jg menolong hanjalah pembaharuan setjara revolusioner keluar dan kedalam, dari tokoh2nja dan tjoba mengkoreksi kedalam untuk konsolidasi pembangunan film Indonesia umumnja. Pembangunan kembali film Indonesia tidak dapat diadakan dengan saling kritik-mengeritik atau saling pudji-memudji, hanja dengan mentjarikan system kerdja sam jang tepat dan pengertian jang baik dalam sebuah bidang jang sama dan saling isi-mengisi, sebab:

Usmar Ismail, itu cineas jgideal, jang punja teamwork jg pekat dan bermutu tinggi, menghadapi kelemahan dalam pembeajaan produksinja.

Djamaluddin Malik, jang bersifat spektakuler, menghadapi teamwork jang sangat buruk: artis2 jang tandus daya kreasinja atau artis2 jang punja daja kreasi tak dapat disalurkan.

Bachtiar Siagian, cineas idealis, menhadapi kesulitan mendapatkan modal jang mengerti akan daya kreasinja untuk memperoleh penjaluran jang permanent. (Carol Reed dari Inggeris baru film dapat menundjukkan beberapa hasilnja jg baik).

Achirulkalam, sambutan ini dibikin bukan karena sentiment perseorangan, tidak kepada sesuatu perusahaan, djauh daripada “mengadjar-guru”. Kita hanja mentjoba menjingkapkan probleemstellingen jang pada hemat kita seharusnja djadi inti permasalahan dan mendapat perhatian lajak dan sepatutnja pula bagi pendukung2 pembangunan kembali film Indonesia jang turut hadir dalam Musjawarah Film Nasional ini. Terimakasih dan dirgahayu. Terimakasih dan dirgahayu.

 

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia