Pencarian pada:
 
Detail Cantuman Artikel
Judul : Bagaimana sikap pemerintah terhadap PPFI?
Penulis : Sibarani, A
Sumber : Aneka: terutama mengenai olah raga dan film, No. 8, 1957. Hlm. 19
Subjek : Film

Bagi sementara kalangan pengusaha film Indonesia ada anggapan san sjak wasangka bahwa bila kita menulis dan mengritiek dinia film kita jang belum djuga madju2 ini, kita ini seolah-olah tidak mengingini perkembangan mereka oleh karena pendapat2 kita itu seakan dipandang sebagai sabot dan destructie dalam sikap dan “perdjuangan” mereka menghadapi pemerintah. Kalaupun kita menulis ttg. Mereka adalah ini disebabkan kehausan kita akan kemadjuan film Indonesia jang selama ini tidak menimbulkan suatu sympatie pada kita, oleh karena tindak tanduk para produser jang tidak sesuai dengan titja2 dalam menginginkan mutu film Indonesia. Djuga dalam menghadapi pemerintah sekarang dengan penutupan2 studio untuk menggoalkan usuk2nja, kita sendiri sajang seribu sajang tidak bisa bersikap solidair. PERNAH KITA MENULIS, bahwa sikap para pengusaha ini dapat kita samakan dengan tingkatah seorang hero jang mengantjam mau bunuh diri bila kekasihnja tidak tjinta padanja dan memenuhi kemauannja. Seolah hero beranggapan, bahwa tidak ada hero2 lain lagi didunia ini dan si gadis akan bernama djelek dan djadi impopulair, dan oleh karena itu si hero makin mendesakkan kemauan2nja, bukan sadja ia ingin ditjintai, akan tetapi ia djuga menuntut, agar sigadis harus terus menerus memandang padanja tiada bosan2, sampai matanja merah dan djemu dan kepengin tidur. Begitulah lalu si hero menantjakan zakmesnja kira2 setengah sentimeter dalam dadanja, sehingga mengalir beberapa tetes darah, dan saudara2nja semua mendjerit-djerit ketakutan, karena mereka sangat mengagumi hero tadi. Tapi dengan tandes sang hero tadi. Tapi dengan tandes sang hero beramanat, bahwa rusukan hero beramanat, bahwa tusukan setengah senti dalam dada itu tidak apa2 dan ia akan terus melandjutkan pekerdjaan2 jang belum selesai. Tapi, demikian katanja, manakala gadis durdjana tak memenuhi tuntutan2 jang dikemukakannja, maka pisau akan ditusukkannja sampai kehulu dan ia terpaksa akan mati dengan senjum dibibir. IDEALIS DAN TIDAK IDEALIS BERSATU Menarik perhatian sekali pembitjaraan2 jang dilakukan oleh utusan Pemerintah, jang rupanja tidak suka melihat studio2 film dari P.P.F.I. jang belum lama berselang dilakukan dan sampai karangan ini ditulus belum mentjapai persetudjuan jang bulat dari kedua belah fihak. Menarik, karena dalam sedjarah perfilman di Indonesia, djuga sebelum perang dan di zaman Djepang, belum pernah kita ketahui adanja tuntutan2 sematjam ini sehingga memaksakan kita berpikir, apakah film Indonesia makin begitu mundur dan begitu merosot, sehingga tiada kemungkinan bisa hidup terus baginja, bila pemerintah tidak melindunginja dan menolongnja untuk terus melindunginja dan menolongnja untuk terus dapat merangkak menjambung hidup? Dalam soal T.P.I. sudah selajaknjalah Pemerintah menundjukan kebidjaksanaannja dan memahami dari para produser, agar mereka commercieel djangan dipersulit dalam usaha mereka untuk membikin film jang baik. Memang kita djuga tentu mengerti tentang kesulitan2 jang dihadapi oleh perusahaan2 film sekarang. Proses perkembangan keadaan dalam negara kita dengan segala pengaruhnja dalam semua lapangan perindustrian, kemadjuan tehniek diluar negeri dengan cinema scoopnja, evolusi perdagangan jang begitu tjepat jang menghasilkan import aneka ragam barang jang semuanja itu belum terkendalikan sehingga mempemngaruhi industrie kita, tentu sadja harus kita perhitungkan bila kita hendak mengukur hasil2 usaha kita sekarang dalam bentuk apapun djuga. Banjaknja importir2 film asing umpamanja, jang merantjuni selera masjarakat dan memikat hati para pemilik bioskop karena gedongnja jang selalu digenangi massa penonton adalah salah satu diantara begitu banjak soal2 jang dihadapi produser film Indonesia dan dalam hal ini kita tetap menuntut pada pemerentah agar memberikan perlindungan jang selajaknja bagi pionier2 kita jang benar2 berpegang pada idealisne dan dalam kejakinannja memang bertjita-tjita untuk mewujudkan filmindustrie kita. Tapi marilah dulu kita bertanja, apakah semua pengusaha2 film jang tergabung dalam P.P.F.I. memang berpendirian sebagai orang2 jang bertjita-tjita demikian?. Apakah tidak banjak djuga diantara mereka jang memang hanja berpedomankan prinsip degang dengan tudjuan moneymaking? Apakah semua mereka jang tergabung dalam P.P.F.I. itu mempunjai ketjakapan dan kebesaran djiwa untuk dapat bertabah hati dalam mengusahakan film jang baik? . Apakah semua produser2 itu berdjiwa seni, jang memahami kesulitan2 jang dimaksud seni itu dan film jang bermutu seni? Apakah dikalangan pengusaha2 film itu tidak banjak djuga jang harus kita golongkan dalam type advonturier jang menganggap dunia perfilman sebagai object untuk tampil kedepan diatas forum agar dengan demikian bisa mendapat kredit berdjuta-djuta? Jah, lalu sekarang tentu kita akan mendapat dkawaban begini: Bung film2 Indonesia tidak menghasilkan duit. Lihatlah, dari film jang kami perbuat hampir semua membawa rugi sadja. Lihatlah balans buku2 kami. Rata2 satu film Indonesia membawa rugi Rp. 100.000 rupiah. Kita belum lupa akan utjapan2 Djamaludin Malik jang kira2 binjinja demikian. Lalu kita bertanja demikian. Lalu kita bertanja sekarang, sedjak kapankah film2 indonesia harus membawa kerugian selalu? Kalau film Indonesia sedjak beberapa waktu memang harus rugi, kenapa para pengusaha masih terus djuga membuat film? Apakah mereka memang begitu idealis besar, sehingga odanks segala rugi toh film Indonesia harus diprodusir terus? Kita tidak pertjaja. Tidak pertjaja pada 2 hal. Hal pertama, bahwa semua pengusaha film Indonesia begitu idealis. Dari begitu banjak film Indonesia jang begitu banjak film Indonesia jang kita lihat dibuat begitu srampangan dengan tidak mengingatkan mutu jang agak baik, kita bisa tahu, bahwa tiada kesungguhan dalam membuatnja. Dan ini sudah merupakan bukti tiadanja tjita2. hal ke 2 : Tidak semua film Indonesia harus rugi. Banjak djuga film2 jang commerciel membawa sukses, itu tidak berarti bermutu. Tapi setdak-tidaknja mereka itu memperhitungkan psycologie rakjat. Dan memang banjak tjontoh2 jang menundjukkan, bahwa film Indonesia djuga bisa laku. (Mengenai soal laku dan adanja mutu tidak akan kita perbintjangkan sekarang disini). TUNTUTAN P.P.F.I. DAN KONSEPSI BARUNJA Komsepsi jang telah dibuat P.P.F.I. dalam penjelasan masalah perfilman bukan tidak banjak mengandung kebaikan dan dari situ bisa ditarik kesimpulan, bahwa sebenarnja industri film Indonesia sekarang, tidak ingin mati. Tapi sebenarnja kita nanti bisa kembali lagi kepersoalan jang telah dibitjarakan tahadi. Kita pertjaja, bahwa bila konsepsi P.P.F.I. jang diadjukan kepada pemerintah itu andaikata terkabul, bahwa ada satu dua perusahaan jang bakal bisa bertumbuh dengan segar dan lalu menghasilkan film2 jang baik. Isi konsepsi jang antara lain mengatakan : “suatu industrie film seperti diinginkan di Indonesia jang dapat mendjamin hasil2 produksi jang tjukup pula dalam nilai dan isi dan mutu tehnik dan arsitek, hanjalah akan dapat terlaksana, djika industrie itu dimasukkan oleh pemerintah setjara peraturan/undang2 kedalam golongan usaha yang harus didorong perkembangannja dan dilindungi pertumbuhan”. Tidaklah tentu akan bisa berlaku untuk semua perusahaan. Selama kita mengikuti perkembangan2 film di Indonesia sekarang dapat sudah kita ukur kedjudjuran berfikir, kedjudjuran mentjipta dan kemampuan serta kapasiteit dari pada beberapa pentjipta, sehingga sebenarnja dapat kita nyatakan, bahwa peraturan2 jang mungkin akan diadakan, akan bisa mereka pergunakan. Akan tetapi sekarang datang pertanjaan : Apakah nanti, andaikata keinginan2 P.P.F.I. itu terlaksana semua, lalu akan pasti datang pembaharuan dalam jiwa film Indonesia semua ? Apakah tidak mungkin jang itu2 djuga nanti hasil produksi dari banjak maskapai2 film ? Apakah dengan terlaksananja konsepsi P.P.F.I., lalu akan berobah kepandaian dan ketjakapan para sutradara dan pemain ? Djanganlah kita lupakan, bahwa banjaknja film2 Indonesia jang tidak betjus adalah disebabkan penjutradaraan dan permainan jang tidak bermutu. Apakah nanti itu akan berobah semuanja dan sekonjong semua actor lalu pandai bermain? Atau apakah para pengusaha akan merombak segala jang ada dan memulainja hidup baru, dalam studionja ? Sebenarnja kalau kita teruskan hal ini, nanti kita akan kembali lagi kepada persoalan mutu dan kehniek, dan mengenai ini sudah habis2an diadakan pembahasan jang tidak berudjung pangkal. P.P.F.I. PANDAI MENUNTUT Begitulah sama2 kita ketahui bahwa dalam organisasi P.P.F.I. tergabung elemen2 dari beraneka watak dan pendirian ,engenai industri film. Tuntutan mereka ini semua sama. Tapi djiwa mereka tidak sama pula. Ada jg. memundjukan genialiteit tapi banjak djuga jang menundjukan ketidakmampuan dan keteledoran2 jang menjolok dalam film2 mereka. Memang genialiteit dan ketjakapan dalam keadaan jang serba kurang tidak selalu bisa mentjapai hasil2 jang menggembirakan dalam fase pembikinan film sekarang. Kesulitan2 keuangan, soal T.P.I. dsb. Sebaliknja orang2 jang tidak begitu memahami pendirian seni dan film jang bermutu seperti jang kita idam2kan dan alangkah tidak setudjunja kita, bila elemen2 seperti begini mendapat perlindungan dari pemerintah. Sebab akibatnja nanti ialah, bahwa film Indonesia tidak akan madju2. bakat2 harus dipupuk tapi penyakit2 djanganlah disajangi pula. Dan keanehan bentuk dari P.P.F.I. sekarang ialah bahwa didalamnja lebih banjak penjakit dari pada bakat. Jang aneh

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia