Pencarian pada:
 
Detail Cantuman Artikel
Judul : "Pilihlah aku" ditinjau dari sudut massa psychologi
Penulis : Lingga Wisjnu, M.S., Rd
Sumber : Aneka: terutama mengenai olah raga dan film, No. 5, 1957. Hlm. 16
Subjek : Film

Pernah dalam tahun 1950 seorang produser film Indonesia mengatakan bahwa rakjat Indonesia itu rata-rata masih bodoh. Buta Huruf masih meradjalela dimana-mana. Mereka mudah ditipu dengan pertundjukan film matjam apapun. Thema tjerita jang murah. Roman segi tiga yang mendjemukan. Lelutjon tangpa stekking maupun tendens. Dan pengambilan adegan ditindjau dari sudut technis maupun artistik tak dapat dipertanggung djawabkan sama sekali. Dan alasannja, Rakyat Indonesia masih bodoh. Pendapat sematjam ini kemudian oleh P.P.F.I. dalam tahun 1955 diberantas, dengan menegur pada produser jang selama ini atjuh tak atjuh membikin film, tanpa diperhitungkan pada para kritisi jang sudah mulai berakhir dimasjarakat Indonesia. PENDAPAT RAKJAT INDOnesia jang masih bodoh tadi, kemudian dihanjurkan dengan mengemukakan angka kenjataan, bahwa rakjat indonesia jang menurut beberapa produser film masih bodoh, ternjata lebih menyukai film Malaya, Filippina dan pada achir-achir ini film India, jang qua teknis lebih kuat daripada film Indonesia. Rakjat Indonesia jang dahulu dibodohkan sadja oleh beberapa produser film, kini mulai membalas dengan tidak mau melihat film Indonesia. Dan ini merupaka suatu pukulan jang berat bagi perusahaan film tanpa diperhitungkan pada dasar masa-psychologie. Sedjak 1955 sampai 1957 mulai terasa, bahwa dikalangan produser film Indonesia, banjak jang membikin filnya didasarkan pada masyarakat Indonesia. Pemindahaan adegan-adegan jang ada pada film Malaya-Filippina dan India dapat kita temui dalam setiap film Indonesia. Njanjian tarian dan thema tjerita jang mendekati pada apa jang mendekati pada ada jang pernah kita lihat dalam film import, kita temui djuga dalam produksinja. Krisis penuruan terdapat dimana-mana. Dan bahaja sematjam ini tidak pernah pula dipikirkan dalam-dalam, bahwa siapa jang suka meniru-niruachirnja akan ditinggalkan oleh mode, karena masjarakat sudak pindah pandangan pada mode jang terbaru, jang selama ini ditjiptakan oleh masyarakat lain. Perfini jang selama ini mentjalari djalan dengan dasar technis dan artistik menjendiri, kemudian menemui dasar jang tertentu. Tjorak film Indonesia adalah suatu perkawinan yang terdiri dari hasil pemikiran dari struktur kebudajaan India-Malaya Amerika dan Indonesia sendiri. Perkawinan ini kemudian didasarkan pula pada massa psychologie jang menjari hiburan pada lontaran kritik terhadap para pemimpin, jang selama ini berdjandji mimpi dan lupa diri bahwa merekapun tetap mendjadi sorotan mata masjarakat banjak. Sedjak “Krisis”, Perfini telah merebut selera masjarakat. Dan puntjak pentjarian jang selama ini ditjari oleh Perfini, ialah dengan dipertunjdjukannja “Tamu Agung”, dan mengetahui bahwa tjorak film Indonesia pada dewasa ini ialah satire jang tadjam. Lelutjon yang tendensieus. Roman jang murah. Tari dan njanjian jang sentimentil tanpa pendjiwaan jang menundjukan struktur kebudajaan Indonesia. Semuanja serba imitasi. Kedok jang dipakai dimuka film Indonesia adalah kedok penipuan untuk menarik masjarakat Indonesia, lebih menjukai pada produksi bikinan sendiri daripada import dari luar jang ada kalanja dapat djuga mempengaruhi serta merobah kebudayaan asli Indonesia. Tjorak “Tamu Agung”, “Krisis” kita djumpai pula pada “Rumah Gila”, “Dibalik Dinding”, “Pilihlah Aku”. MEMBITJARAKAN “PILIHlah Aku” produksi Geliga Films Ltd. Dari sudut tecknik, akan menghanturkan segala penjeguhan jang pada sifatnja sudah dapat mempengaruhi publik Indonesia. Dan menindjau “Pilihlah Aku” dari sudut massa psychologie, merupakan suatu dasar harapan jang memberi nafas baru bagi perkembangan industri film Indonesia. Apa sebabnja “Pilihlah Aku” kini disukai oleh masyarakat Indonesia? Bukan karena terasa adanja dinamika dalam pengambilan, maupun cutting jang menghidupkan suasana dan iramanja, tetapi djuga karena film ini langsung bitjara dengan masjarakat, “Pilihlah Aku” adalah penjambung pandangan mata rakjat jang selama ini menipu dengan djandji palsu. Kita dewasa ini terpaksa tidak tidak akan membitjarakan nilai dan mutu dahuli. Kita tahu rakyat dewasa ini dalam keadaan extrase. Mereka ingin melepaskan diri dari tjekikan jang selama ini mentjekam dari segala pendjuru. Ingin melupakan segala penderitaan jang selama ini diselimuti oleh djandji pemimpin dengan pernjataan kemakmuran dan kesuburan. Mereka pergi dari rumah dengan membawa filsafat : “Nonton film untuk tjari hiburan”. Dan apa jang mereka tjari, mereka temui dalam “Pilihlah Aku”. Humor jang murah. Ketawa jang meriang, dan wakil lontaran untuk mengeritik para pemimpin jang selama ini berdjandji sadja. Masjarakat disuruh ketawa untuk sedjenak melupakan tekanan hidup. Dan dalam keadaan extase tadi, masjarakat lupa bahwa mereka sebenarnja ditipu. Ditipu oleh siasat dagang jang hendak menjuntikkan djarum “film-Indinesia minded” kedalam djiwa masjarakat Indonesia. Filsafat, bahwa film jang terbaik ialah jang dapat mengutjurkan air mata para penonton sudah bukan masanja lagi. Mungkin dalam tahun 1950 mode menangis mendjadi filsafat para produser untuk membikin filmnja. Tetapi dewasa ini masjarakat Indonesia butuh ketawa. Mereka ingin ketawa. Ingin menetertawakan para pemimpin jang panas-dingin karena adanya konsepsi Presiden. Ingin mentertawakan para pemimpin jang selama ini sibuk memimpin dirinja terantjam. Dan ingin mentertawakan para pemimpin jang selama ini sibuk memimp[in dirinja, bagaimana tjaranja membagi waktu agar supaja isteri jang ke-empat dan ke-lima mendapat giliran jang adil dan bidjaksana Tjermin jang selama ini mereka tonton dengan muka masam dan mendongkol, tidak pernah ada jang berani membuka mulutnja turut menjeringai menertawakan badut pemimpin jang selama ini pernah mereka intjar untuk ditertawakan sepuas hatinja. Edjekan masyarakat, ketika adegan Sulastri-M.P. anom mempersoalkan anaknja (Bus-Bustami), dapat terpenuhi dengan dialog Sulastri : “Ja!... sebelum dia djadi pemimpin, dia harus kenal masjarakat pasar dahulu. Biar tahu harga makanan jg. setiap hari naik turun. Djangan enak-enak djadi pemimpin, tetapi tidak tahu penghidupan rakjatnja!” Spontanitet masjarakat dalam menjambut dialoog ini begitu meriahnja, sehingga mereka lupa, bahwa jang bitjara tadi adalah Sulastri jang menghafal teks karangan N. Ismail (scenario) berdasarkan tjerita Pak Kasur. “Pilihlah Aku” telah menanam kepertjajaan diri pada masjarakatnja, karena dengan dikemukakan lagu0lagu Melaju, jang memang dewasa ini sedang berkuasa dalam djiwa masjarakat Djakarta, merupakan salah satu puntjak harapan untuk melupakan adegan jang mendjemukan maupun a-synchronisasi jang sangan menjolok mata. Lagu-lagu jang terlalu populer dan masih mendjadi buah tutur dewasa ini. Lagu-lagu jang setiap detik dapat didengar melalui RRI jang biasa dibawakan oleh Bukir Siguntaug, Kenangan Masa, Sinar Medan dsbnja. Begitu Sub-title nampak, begitu terdengar lagu Melayu, begitu spontaan mulut rakjat turut menjanjikan lagu kesenangannja. Dan kesan jang menggembirakan dalam djwanja, sehingga menghidupkan pula pandangannja pada segala adegan jang technis banjak salah. Inilah kemenangan “Pilihlah Aku”. Menguasai djiwa masjarakat dengan selera lg. dengan pada masjarakatnja, lagu tarian dan ktritik terhadap masjarakat pemimpin jang selama ini berkedok kedjudjuran dan kebaikan. Lagu jang dapat menguasai hati masjarakat sadja, tidak akan dapat mengikat mereka lebih lama duduk dibangku, apabila tidak ada peran jang terlalu kenal diantara bibir masjarakat Indonesia. Dan kombinasi antara Sulastri-M.P. Anom, Bing Slamet Mien Sondakh-Bambang Hermanto-Mieke Widjaja, Bus Bustami dalam lingkungan keluarga tjerewet, Udjang pemain tunggal, merupakan salah satu daja penarik jang kuat. Nama Sulastri dan Udjang telah dikenal masjarakat dalam film :Krisis”. Bambang Hermanto dan Mieke Widjaja adalah bintang kesajangan para peladjar dan kaum intelek. Pelawak Bing Slamet jang terlalu sering didengar melalui RRI, merupakan “surprise” bagi mereka jang selama ini hanja mendengarkan suaranja sadja.dan individu M.P. Anom jang terlalu “kuasa” dalam “Tamu Agung”, kini muntjul kembali dengan membawa pribadi lain. Mereka ini adalah modal. Modal raksasa jang memberi harapan baik bagi industri film Indonesia. Kurang banjaknja travelling moving-shot, sehingga mimiek jang hidup jang dikuasai M.P. anom, Sulastri, Udjang menjiptakan suasana dan irama baru dalam film Indonesia. Dinamika jang tidak dibikin-bikin dan djiwa jang hidup dapat dirasai pada segala background panorama jang mati. Dan angel jang mendjemukan dapat djuga diseling karena adanja mimiek jang hidup misalnja pada setiap m.c.u. pada di Sulastri, M.P. Anom atau c.u. pada Udjang. “Overacting” jang ada pada diri Bing Slamet dan keserieusan pada diri Mien Sondakh, dapat dirasai sebagai salah satu angle jang mendjemukan. Kehadiran Mieke Widjaja serta Bambang Hermanto jang dimaksud hanja sebagai umpan langkah kaki para peladjar belaka, dapat dirasai tidak ada kehadirannja sebagai tokoh jang harapkan dalam film ini. MESKIPUN FILM,, PILIHLAH Aku “ tergolong film komedi, Bing Slamet lupa, bahwa dia bukan seorang komediant dalam film tadi. Demikian pula Mien Sondakh. Meskipun dalam peran telah ditentukan sebagai seorang isteri jang menguasai suaminja, didalam hal ini dia harus bermain atas dasar humor sehat jang wadjar dan tidak dibikin-buikin. Memang sulit untuk memegang peranan sematjam ini. Tetapi letak suksesnja ialah pelaksanaan tanpa interpretasi jang salah. Kuta tahu watak Bing Slamet. Dia lebih kuat sebagai pelawak tunggal. Dia dapat menguasai masjarakat dengan humornja jang sehat. Tetapi dalam “Pilihlah Aku” Bing Slamet lupa akan peran jang harus dimainkan. Dia hendak menundjukan Bing Slametnja sebagai seorang pelawak tunggal, bukan sebagai seorang suami jang tunduk pada istrinja. Dan letak kesalahan ini tidak kita lemparkan pada Bing Slamet sebagai pemain, tetapi pada sutradara N. Ismail jang kurang teliti dan kurang kontrole terhadap diri Bing Slamet. Tokoh Bus Bustami dalam “Pilihlah Aku” sebagai anak tolol memang kuat mendjiwai. Kita tidak kenali pribadi Bus Bustami dalam “Pilihlah aku”. Bahkan selama film berputar dihadapan mata kita, selama kita kertanja-tanja dan mentjari-tjari dimana letak kelemahan pribadi Bus Bustami, untuk kita kenali : itulah Bus Bustami. Pada Make-up artis Perfini, kita pun mengangkat tangan untuk memberi hormat sebesar-besarnja atas sukses jang telah ditjapainja ini. Djangan dianggap sebagai pudjian jang wadjar jang ada kalanja ditarik kembali apabila dalam lain pekerdjaan didapati kesalahan lagi. Hasil kerdja N. Ismail dalam “Pilihlah aku” adalah suatu prestasi jang patut ditjatat. Tetapi belum saatnja untuk dimasukkan dalam kategori pudjian suskes. Karena dia masih bisa dan mampu untuk mentjipta sebuah film jang lebih baik lagi daripada apa jang pernah dia bikin. Pudjian memang murah, tetapi bertanggung djawab atas kelangsungan hidup perkembangan industri film indonesia, merupakan beban bersama untuk mentjari djalan keluar dari tjekikan jang selama ini djadi kuda tunggang bagi setiap produser film Indonesia.*

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia