Pencarian pada:
 
Detail Cantuman Artikel
Judul : Film: sebagai kesenian seni abad indusri
Penulis : D.Sj
Sumber : Aneka: terutama mengenai olah raga dan film, No. 8, 1957. Hlm. 15,16
Subjek : Film

Perkataan s e n i – f i l m sudah umum dipakai dalam pembitjaraan sehari-hari sekarang, baik dia dipergunakan dalam hubungan pertjakapan enteng maupun dalam rangka pembitjaraan jang bersungguh atau serius sifatnja. Dengan perkataan “seni-film” telah didapat orang satu per penggambaran tijta jang telah tegas dan tertentu sifatnja sesuai dengan kesadaran dan pengertian orang jang memakainja dalam rangka lingkungan dan kesempatan apa perkataan itu dipergunakan. Dengan ini dimaksudkan bahwa pemakaian perkataan seni-film mengenal penggambaran tijta atas atau berkenaan dengan film sebagai alat untuk mewujudkan pengutjapan harga2 kemanusiaan jang bersungguh atau enteng dan sepele sadja nilainya. Tidak ubahnya sebagai pengertian jang diberikan oleh perkataan s e n i – s a s t r a dan lain2nja. SEBERMULA, PERKATAAN seni film ini tidak dengan demikian sadja mendapat pengertian sepeti jang tergambar diatas tadi. Apalagi dan terutama djika dihubungkan dengan penggambaran dan pengutjapan harga2 kemanusiaan jang serius. Tantangan terhadap hal ini terutama dialaskan kepada sifat2 film jang disangka seperti ini : p e r t a m a, film telah dianggap tidak merupakan pengutjapan tjita jang bermutu seni karena pembikinnja / pentjiptaannja, tidak dilakukan oleh seorang seniman dengan daja tjiptanja jang asli sendiri, seperti apa jang dilakukan oleh seorang pelukis. Malah lebih ekstrim lagi urutan tantangan ini akan berbunji bahwa film telah dianggap hanja sebagai hasil pemotretan semata. SENI ABAD INDUSTRI Terhadap pemikiran dan pendapat jang baru disebutkan diatas ini, para ahli djuru keindahan film mengemukakan pembangkangan, jang djika diringkas akan kira2 seperti ini : perta,a-tama, abad kita hari ini adalah abad industri. Dan film adalah pengutjapan seni dari zaman industri ini, karena satu hal sudah pasti : film tidak akan dapat terwujud terlebih dahulu atau terbelakang dari abad ini. Karena proses pembentukanja menghentikan kemadjuan2 tertentu dari tjabang2 perindusterian seperti penemuan2 kimia dan pemakai tenaga listrik jang hanja dikenal oleh anak2 abad ini. Dengan hal film ini, terbiktilah kebenaran jang terdjadi pada setiap pembentukan tjabang2 kesenian terbaru merupakan sumber dari inspirasi2 baru pula. Seperti keadaanja seni-pahat tidak akan pernah dikenal manusia sebelum diperdapat dan diketahui orang kegunaan pahat dan martil terlebih dahulu. Salah satu akibat dari pengenalan manusia denga sifat abad ini ialah kenjataan, dimana setiap anggotanja dihadapkan kepada keadaan jang keras sekali menantang, apakah dia, anggota2 masjarakat tsb. Dalam usahanja menandjutkan kehidupannja dan dijenisnya, harus hidup sendiri2 setjara individual ataukah setjara berkelompok-kelompok, bersama-sama meneruskan kemanusiaannja. Didalam abad inilah terdapat perdjuangan jang tetap dan terus menerus antara harga2 dan kesanggupan perseorangan denga dasar baru dari zaman ini, dimana tudjuan praktis kehidupan hanja dapat ditjapai dengan mengadakan kerdjasama antara masyarakat. Kita, sebagai anak2 penghuni zaman ini, baik setjara sadar dan terang2an maupun setjara tidak sadar telah melakukan pilihan atas tjara2 hidup seperti jang menerima sebagai sewadjarnja tjiptaan jang bernama f i lm . Sebagai tantangan atas pendirian jang mengatakan bahwa film itu tidak dapat dianggap sebagai pengutjapan seni, karena dia hanjalah pemotretan semata, baiklah dalam hubungan ini persoalan kita ditarik kembali kepada keadaan seperti “ pemotretan jang bagaimana?. Salah satu patokan jang didjadikan pegangan utama dalam merumuskan setiap kegiatan daja tjipta manusia itu kedalam kategori kesenian atau tidak, adalah fakta pemilihan dalam pembuatan/pemotretan sesuatu film tidak sadja berlangsung / dilakukan pada waktu pemotretan semata, tetapi malah lebih memunjak lagi, pada setiap tingkat proses integrasi pentjiptaan mulai daripada waktu tjerita dipersiapkan. Kemudian dalam tingkat perwudjudan lingkungan tjerita, sudah itu pengambilan sampai2 kepada pengaturan kembali gambar2 sebagai hasil dari penggambilan selama ini. Ada djuga orang mensepelekan harga proses pentjiptaan sebuah film itu sebagai hanja pekerdjaan sebuah film itu sebagai hanja pekerdjaan sambung-menjambung (editing) jang sedikit sekali mempunjai kemungkinan2 semata. Terhadap hal jang belakangan ini, baiklah orang diingatkan kepada kenjataan jang mengatakan bahwa penjiptaan jang berupa pemberian bentuk kepada imajinasi kedjiwaan menghendaki bahan2 dengan apa imaginasi itu dibentuk/dibangun. Dalam pada itu sesungguhnjalah, seperti djuga dengan tjabang kesenian jang lain, dalam pekerdjaan penjusunan dan pengaturan inilah terletak wujud kreasi tjipta itu jang sebenarnya. Benih setiap kerja seni dengan hasil jang besar, adalah sebuah pandangan tjemerlang jang bermutu luhur tentang harga kehidupan kemanusiaan jang diwujudkan dalam bentuk pengutjapan seni. Hal jang sama djuga dikehendaki dalam pentjiptaan dengan film sebagai alat. Benih dengan film sebagai alat. Benih ini mungking tadinja berasal dari dongeng seseorang dipinggir djalan, mungkin djuga tjita seorang pengarang, seorang sutradara atau boleh djadi djuga berbuah fikiran seorang produser film, jang kemudian dirobah mendjadi tjerita dalam kemungkinan2 perfilman. SUTRADARA & SCENARIO Kedengarannya barangkali agak menjangkut sedikit, djika dikatakan bahwa sebuah tjerita jang

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia