Pencarian pada:
 
Detail Cantuman Artikel
Judul : Kewadjaran & Ketelitian
Penulis : Adhy
Sumber : Majalah Aneka Olahraga dan Film No. 1 tahun XI, 1 Maret 1960 hlm. 14-15
Subjek : Film

KEWADJARAN & KETELITIAN

Ide untuk tulisan sebenarnja telah agak lama djuga terkandung oleh penulis, tetapi baru sekarang bias didjadikan bentuk jang dapat disampaikan kepada pembatja2 ini. Dan mungkin sekali pula, Pesta Film Nasional ke VI jang pada waktu tulisan ini dibikin baru dimulai dimana ukuran2 kewadjaran dan ketelitian ini akan sangat diperhatikna oleh para djuri jang menilai film2 nasional kita jang ikut, baik setjara keseluruhannja, baik menurut golongannja (komedi, drama, musical dsb.nja), atau menutut penondjolan2nja diantara pemain2 utama pria/wanita, pemain2 pembantu pria/wanita, sutradara, scenario, montage, kerdja kamera, ilustrasi musik dan dekor serta lainnja, jang telah ikut memberi sedikit dorongan. Tetapi bagaimanapun, mari sadja kita mulai penindjauan berdasarkan djudul tersebut diatas ini.

Kebetulan sekali, pada waktu ini sedang diputar dibioskop “Menteng” di ibukota, sebuah film jang telah memenangkan Palma (?) Emas tahun 1958 di Cannes. Tentu sebuah film asing/luar negeri, dan film ini jang bernama “The Cranes Are Flying” telah pula mendapat penindjauan oleh seorang kawan didalam madjalah kita ini.

Memang film ini jang dibikin disebuah Negara jang djauh jaitu Rusia, membawa sesuatu hawa jang baru dan asing djuga bagi kita penonton jang telah begitu kebiasaan untuk disuguhi film2 hanja dari negara2 Amerika, Inggeris dan beberapa Negara Asia lainnja.

Kita disini tak bermaksud untuk mengulang penindjauan jang telag dilakukan oleh kawan itu, dan djuga tak hendak menjindirkan kedalam Pesta Film Nasional seperti mungkin akan dilakukan sebagian orang dengan pertanjaan, apakah akan sebanding nilai film jang mendapat hadiah tertinggi “anggrek-emas” nantinja, dengan film tersebut diatas ini.

Antara kurung, nama “anggrek-emas” sebenarnja suatu sebutan jang bias baik/sama tengah sekali mengatasi segala pendapat jang sekali lagi beredar mengenai sebutan hadiah2 tertinggi dari Pesta Film tersebut, jang begitu ragam: Piala Rukiah, piala Varia dll.

Dan kebetulan pula, dua buah bioskop lain memainkan dua buah film komedi jang tampaknja djuga mendapatkan sambutan hangat dari penonton ibu-kota. Film komedi sutradara Vincente Minneli jang telah terkenal itu, bernama “The Reluctant Debutante” jang sedang mengalami minggu pemutarannja jang kedua, dan film nasional “Gembira-Ria” jang djuga sedang bergaya dengan minggu pemutarannja jang keempat.

Ketiga film ini jang kita duga masih bias bertahan, untuk selama lima hari telah ditukar dulu dengan film2 jang termasuk atjara Pesta Film. Gerakan ini sungguh punja arti jang besar sekali, sebab para penggemar nonton ibukota – dihari Minggu lagi – diminta perhatian mereka jang penuh akan film2 Indonesia sendiri – tentu termasuk film “Gembira-Ria”, untuk hari2 ini.

Dan pada saat ini jang mendadak, mari kita ngomong2 perkara berikut:

Sudah sama dirasakan djuga oleh para penggemar nonton – terutama ibukota jang telah kebiasaan dengan film2 luar negeri dan chususnja Barat, disebabkan oleh struktur masjarakat nontonnja jang banjak berorientasi ke Barat pula, bahwa film2 Indonesis itu jika dibandingkan dengan film2 luar negeri sana, dan luar negeri sini, biasanja seka kepandjangan, banjak bertele dengan bentuk bangunan tjerita jang belum kompak, kerdja2 kamera jang masih sederhana, suara2 jang mengganggu, pentjahajaan jang ngedip tak tetap atau adanja bajangan2 ganda dari lampu2, akting2 jang belum tjukup sempurna, atau pula telah kelewatan (Over-acting), dekor2 asal djadi kadang2 rame dan kestambulan, tempat2 berlocation jang kentara itu keitu djuga…… dan pendapat2 kebosanan atau merendahkan lainnja, jang semuanja membongkar kekurangan2 dikalangan perproduksian film2 nasional kita.

Mungkin djuga selera film2 para penggemar nonton ini telah begitu halus, sementara sebagian besar para penonton baik di ibukota atau dikota2 daerah lainnja menganggapnja telah lumajan sadja, tetapi …… tak kurang2 pula eksus dikemukakan jang bertudjuan membela diri atau sekurangnja mendjelaskan.

Kita dengar tentang peralatan jang sudah kuno dan sebenarnja banjak telah harus mendapat pensiunnja, tentang kesulitan mendatangkan bahan2 kasar dan obat2 tjatji jang bermutu dari luar negeri, tentang masih seretnja peredaran film, tentang sensur jang merugikan dan menjesak nafas perkaryaan, tentang …….. ja banjak lagi, dan ketjualnja tentu tentang ketak atau kekurang-berjusan membikin film2 jang bermutu itu sendiri.

Ja, dalam perfilman sebagai suatu tempat usaha untuk menggaruk (maaf!) duit, maka sering2 segi mutu ini memang kurang diperhatikan baik setjara sadar atau tidak, sebab siapa pula jang bisa membantah bahwa film jang bermutu lebih tinggi djuga berarti lebih banjak uang tertanam dan waktu terpakai, sementara waktu djuga berarti uang?

Sebab itu, rekor2 produksi baik mengenai djumlah atau ketjepatan waktu pembikinan, sekali2 sampai djuga kepada kita dengan nada2 kebanggaan. Dan sebenarnja pula, siapa jang tak akan bangga?

Kitapun ikut, sebab ini berarti bahwa ada djuga pengusaha2 jang begitu sunguh dan bias mengatasi berbagai kesulitan jang begitu dirasakan sekarang ini, seperti kesulitan bahan2 mentah itu, permodalan, serta serbaragamnja lainnja. Belum dikata pula tentang mutu keahlian disementara pembikin sendiri dan kewibawannja jg semeestinja tumbuh atas dasar keahlian itu, dan penguasaan atas sekalian “alat” baik jang mati, maupun jang hidup seperti pemain2 dll.

Tetapi rekor2 tadi, sajang sekali tertjapai dengan kerugian jang selalu tertumpah pada mutu filmnja. Dan ini tergambar djuga kebanjakannja pada produksi2 tahun terakhir ini jang sekarang sebanjak 22 buah – dari 14 buah peruahaan jang tergabung dalam PPFI diperlombakan merebut hadiah tertinggi Pesta Film. Djumlah ini sebenarnja pula masih begitu sedikit djika dilihat djangka waktu jang beberapa tahun pula sedjak Pesta Film jang lewat, tetapi ….. ja, apa boleh buat, demikian itu telah sjukur, dan memberikan gambaran jang menundjukkan S.O.S dilapangan per-produksian film nasional jang katanja selalu hendak diangkat itu. Dan untuk tidak tenggelam kedalam permasalahan jang mengasihankan diri ini lebih lama, mari menudju kesegi mutu jang telah ikut2 terseret menurun itu.

Mutu film. Apakah film jang bermutu? Dan dalam keseluruhannja?

Ja, begitu banjak segi2 jang menundjang atau mendjatuhkannja seperti telah djuga kita gambarkan tadi djika dilihat dari segi2 pandangan mata sipenonton jang telah agak lebih kritis. Tetapi selalu ada djuga dua golongan segi jang besar, jaitu segi “sangu mata” dan “sangu djiwa”.

Djaranglah penonton jang sehabis menonton tak membawa sesuatu kesan tentang apa2 jang telah disuguhkan kepadanja itu. Kadang2 kesan ini hanja selintas lalu dan tak berbekas apa2 lagi, untuk tak mengatakan pula suatu bentuk kesan lain jang berupa kedongkolan dan kedjengkelan sebab merasa dirugikan. Ini biasanja disebabkan oleh kekasaran atau kesembronoan – lepas dari segala kesulitan2 memproduksi2 jang biasanja toh selalu bisa ditutupi atau disubstitut dengan djalan lebih baik, asal idée tak tjepat buntu dari …… tentu sadja dari sutradara sebagai orang pertama jang bertanggung djawab atas setiap segi pembikinan jang terletak dibawah wewenangnja, jang seharnja mempunyai kewibawaan dan penguasaan atas segala pergabungan tjerita, krew dan pemain2nja, demi kewadjaran dan ketelitian dalam filmnja. Sebab bukankah ini jang harus djadi patokannja? Kewadjaran dan ketelitian akan apa2 jang hendak ditjeritakannja lewat gambaran visual ini?

Ja, dengan bertambah luas dan dalamnja nilai penonton masa ini dengan berbagai pengetahuan baru, maka gambaran2 jang tak kena, kurang wadjar dan kurang teliti, telah lebih dirasakan kepalsuannja. Dan sungguhpun penonton itu boleh dikata hanja disuruh menelan/menerima apa2 jang disuguhkan, tetapi maaf penonton ada djuga batasnja, sebab mereka djuga tahu sedikit banjaknja tentang keadaan2 jang mungkin tak pernah dialaminja itu, tetapi jang bias terdjadi menurut akal sehat jang djalan.

TIGA BUAH FILM JANG KITA sebut tadi, agaknja dapat mendjadi ilustrasi tulisan kita ini, tentang gambaran2 keadaan jang bias terdjadi.

Rusia adalah sebuah negeri jang djauh, tetapi “The Cranes Are Flying” bertjerita tentang tjinta jang direbut perang serta damai jang diinginkan, dan semua ini djuga kita rasakan disini. Tjinta setjara Rusia, sungguhpun kita tak banjak tahu tentang perihal kehidupan dan kebiasaan ditanah Rusia, tetapi semuanja begitu terasa wadjar sekali dan teliti. Sebab dan alasan serta akibat jang adalah pembentuk2 bagi keadaan, dibangun dan berurutan dengan lantjarnja.

Djadinja, sebagai penonton biasa kita merasa puas, dan sebagai seorang peminat film, kita djuga mendapat beberapa pandangan baru, ide2 dan dorongan.

Film kedua, adalah sebuah komedi. Berbada dari film drama diatas, maka “The Reluctant Debutante” jang bertemakan penondjolan seorang dara jang engkar oleh ibunja jang ingin mendapatkan menantu, memang agak djanggal djuga dirasakan. Disini ibu2 tak akan begitu kentara menondjolkan puterinja jang meningkat dewasa, dan terdapat djuga tiara2 lain jang sesuai dengan tjorak ke nasionalan kita.

Tetapi bagaimanapun, film ini jang sangat menondjolkan kesewenannja seorang ibu untuk memikat anak budjang bagi puterinja, adalah gambaran jang bukan tak banjak tjontohnja disekitar kita.

Dan karena itu, kewadjarannja dapat kita terima, lebih karena dengan begitu telitinja dibangunkan keadaan2 sebab dan akibat jang biasa didapat pula digolongan masjarakat-elite kota Londen itu. Tradisi jang dibukakannja, memberi suatu penelitian kita pula akan sematjam tradisi jang sedemikian rupa pula didalam masjarakat kita.

Djadi film2 asing ini sedikit banjaknya telah memberi dorongan untuk mentjari nilai2 didalam masjarakat kita sendiri, dan mngenalnja pula.

Dan bagaimana dengan film komedi “Gembira-Ria”?

Ah, ini tak perlu kita tafsirkan lagi, sebab memang ia hendak memberi gambaran suatu golongan (disini keluarga dan peladjar menengah!) dalam masjarakat jang sesungguhnja pula kita lihat dan kita ketahui pula saban hari, sedikit atau banjaknya.

Maka pandangan kita mengenai kewadjaran dan ketelitiannja, djadi lebih tegar tentu, dank arena itu pula kita merasa betul beberapa kekurangannja atau setjara halus: kedjanggalannja. Eksusnja kita djuga tahu: terburunja dank arena itu kekurangan waktu untuk mendalami segi2 tjiri2 dan esense2 kehidupan dari jang hendak digambarkan itu.

Lalu kematengan tjerita jang sungguh2 menjorot kehidupan seorang peladjar Us-Us misalnja, kita rasa akan lebih menambah mutunjs, dan sekaligus film ini djuga akan berarti sebagai suatu “tjatatan” dari sedjarah, zaman kini dengan anak2 muda, keluarga dan sekolahnja.

Tetapi …………., mungkin djuga keinginan kita ini agak berbeda dengan pembikinnja jang sudah merasa puas melihat segi waktu pemutarannja sadja first run sampai minggu keempat, dan tak ingin susah pajah lebih banjak.

Okay, kita djuga sepakat (karena sama mengerti, lho!).

Tetapi sebagai salah satu media utama dalam pembangunan masjarakat dan kebudajaan nasional kita ketingkat jang lebih tinggi, kita djuga mengharapkan perhatian dan kesungguhan lebih banjak dari produksi2 film akan kewadjaran jang digambarkannja, dan ketelitian pembikinnja, dengan tjatatan: ketjuali djika chajal jang kita gambarkan, maka semua gambaran lain itu adalah kedudukan dari tengah masjarakat kita sendiri jang tentu lebih tahu tentang apa jang hendak kita suguhkan dimedia ini kepada mereka. Sepakat?

Dan sebenarnja, pesta Film djuga akan memberi dorongan untuk pembikinan film2 jang lebih bermutu dimasa2 depan.          

 

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia