Pencarian pada:
 
Detail Cantuman Artikel
Judul : Produser - Sensor dan Masjarakat
Penulis : Rd. Lingga Wisjnu M.S.
Sumber : Majalah Aneka Olah raga dan Film No.3 tahun 1957
Subjek : Film

                                          PRODUSER – SENSOR dan MASJARAKAT           

Industri film Indonesia dewasa ini sedang menghadapi masa gelap. Dari recette jang telah kita selidiki, ternjata perbandingan pendapat antara film Indonesia dengan film India sama dengan 1 : 3. Entah mengapa, tetapikenjataan masjarakat Indonesia lebih menyukai hasil produksi film India daripada film Indonesia. Berulang kali kita dengar teriakan dan lontaran dari fihak produser, bahwa letak kesalahan ini dibebankan pada kaum intelek, jang tidak mau menghargai hasil bikinan sendiri. Tetapi apabila ada reaksi dari fihak kaum intelek sendiri, bahwa mereka lebih menjukai film Hollywood daripada film Indonesia, karena didasarkan technis maupun nilai mutu jang lebih kuat daripada film Indonesia, maka para produser akan mentjari sasaran lain, ialah karena systeem sensor film jang tidak sesuai lagi dengan keadaan dewasa ini. Fihak sensor pun akan mengemukakan angka2, bahwa masjarakat sendiri jang tidak menjukai film Indonesia, meskipun ditjari usaha dengan memenuhi kehendak dari fihak produser, untuk memperlunak sikap mereka terhadap film Indonesia. Djelas sekali, bahwa produser film merupakan pusat lontaran kritik. Dan dalam membela diri mengelakkan kritik jang datang bertubi dari masjarakat maupun dari sensor film, para produser kemudian mentjari sasaran jang sekiranya dianggap lemah. Demikianlah keadaan industri film Indonesia. Saling menjalahkan dan saling mentjari kelemahan. Meskipun demikian kita harus berdiri difihak kaum produser, untuk bersama menindjau dmana letak kepintjangan sebenarnya. Apakah pd para produser sendiri karena kekurangan ahli, atau pada para anggota panitya sensor film, jang menurut pendapat dan pandangan para produser “systeemnja” sudah tidak dapat dipakai lagi, atau pada masjarakat Indonesia sendiri. Untuk menjalahkan para produser sadja tidak mungkin. Karena tjorak jang dikehendaki atau dibentuk oleh para produser harus melalui film sensor jang mempunjai pedoman dan dasar penilaian. Sehingga dadalam hal ini, produser tidak b e b a s mengeluarkan pendapat maupun idee baru dalam mentjari tjorak jang sekiranja dapat diterima oleh masjarakat. Dan dalam nentjari tjorak jang dikehendaki oleh masjarakat, terpaksa pula peneropongan produser terhalang karena adanja “patung” film sensor jang menggarang dengan gagah dan mempunjai sendjata jang dilindungi oleh undang-undang. Kontak antara produser dan masjarakat terpaksa terputus karena adanja systeem penjensoran jang dapat merusak hubungan baik antara produser dan masjarakat.

Fihak sensor akan mengemukakan alasan, bahwa meskipun systeem sensor didjadikan dasar alasan dari fihak produser, toch hasil pekerdjaan sensor terhadap film India maupun film Amerika tidak pula merusak hubungan antara produser film Amerika dan India dengan masjarakat Indonesia. Bahwa untuk menjalahkan satu fihak sadja sensor mempunjai alasan lagi, bukan systeem jang disalahkan tetapi nilai mutu film Indonesia sndiri jang harus dipertinggi. Demikianlah duduk perkaranja. Baik sekali untuk memperdalam keterangan ini hendak kita analisa bagaimana susunan dan tjara bekerdjanja sensor film pusat. Usmar Ismail, ketua P.P.F.I.dalam perskonferensinja ttg. 6 Maret 1957 bertempat direstoran Lok Jun, mengatakan bahwa sensor film merupakan “parlemen ketjil”. Artinya apabila dalam parlemen duduk berbagai wakil dari berbagai aliran masjarakat, demikian pula panitya sensor film. Sehingga djumlah anggota panitya sensor film ada 33 orang. Setiap film diperiksa oleh 3 orang anggota. Apabila ketiga orang ini mengangap film tadi baik, berdasarkan pedoman jang ada pada mereka, maka film tadi dapat diperundjukkan dihadapan masjarakat banjak. Tetapi apabila ketiga orang ini mengatakan belum memenuhi sjarat-sjarat, maka bagi produserfilm Indonesia masih diberi kesempatan untuk memperbaiki filnja.        

Dengan tjara demikian sikap sensor film memperlunak diri dengan memberi petundjuk beberspa bagian jang dianggap lemah atau melanggar peraturan, supaja diperbaiki kembali. Sikap sematjam ini djarang sekali dipertundjukkan terhadap film India maupun fil Amerika. Kalau film tadi sudah diperbaiki menurut petundjuk dari fihak sensor, kemudian dipertundjukkan kembali. Kalu masih pula ditolak berdasarkan beberapa hal jang melanggar undang2, dan apabila dari fihak produser berkeras kepala untuk meng “goal”kan filmnja, maka terpaksa seluruh anggauta panitya sensor film harus hadir, turut memeriksa, dan mendjatuhkan keputusannja. Apabila seluruh anggauta panitya sensor film jang berdjumlah 33 orang hadir, maka akan didapat keputusan bahwa film tadi tidak baik unt dipertundjukkan dihadapan masjarakat. Karena setiap wakil aliran mempunjai pendapat dan tanggapan jang berlainan. Sehingga wakil agama dan wakil pemuda akan saling berdebat dengan sengit. Misalnja mengenai satu adegan romance didalam pesta dansa. Fihak agama mengatakan itu haram, dan fihak pemuda mengatakan itu suatu kemadjuan jang memang sudah diakui oleh generasinja. Achirnja dalam pro & kontra jang terdjadi antara wakil2 golongan tadi datang lagi wakil dari golongan seniman, jang mengatakan bahwa adegan tadi dapat digolongkan sebagai infiltrasi kebudajaan. Dan dalam perdebatan jang sengit tadi, achirnja wakil dari kepolisian mengambil keputusan untuk melarang film tadi, karena besar kemungkinan akan menimbulkan heboh dikalangan masjarakat. Keputusan: achirnja film disimpan dalam peti besi. Jang menderita kerugian: para produser. Katakanlah, kalau satu produksi telah memakan biaja Rp. 350.000,- dan untuk memperbaiki filmnja kembali, sesuai dengan petundjuk-petundjuk jang telah diterima dari fihak sensor, ditambah dengan Rp. 10.000,-.    

Dengan sendirinja uang sebesar itu akan hilang tanpa pertanggungan djawab. Maka dari itu fihak produser berhati-hati sekali dalam menghadapi “momok” sensor tadi. Karena kalau fihak produksi sedikit rewel, maka fihak sensor mengeluarkan undang2 jang dilindungi oleh negara, tetapi akan mengemukakan suatu”kudde” manusia jang mempunjai pendapat dan tanggapan jang berlainan.

Dan apabila sebuah film dianalisa dari sudut jg ke-33-nja, maka achirnja akan ditemui suatu keputusan, bahwa film tadi buruk. Bagaimana tjaranja agar supaja para produser tidak mengalami rugi? Tjukup dengan pendapat ketiga orang sadja. Apabila tiga orang tadi menjarankan supaja diadakan perobahan sana-sini, para produser memenuhi saran tadi, kemudian di “goal”kanlah film tsb. Ini suatu pengalaman.

Sekarang datang saatnja film dipandang dari sudut kemasjarakatan. “Lutung Kesarung” ditentang oleh masjarakat Sunda. “Sorga terackhir” harus ditarik dari peredarannja, karena menurut masjarakat Bali dapat menjinggung perasaan para radja Bali. “The Desert Fox”, jang menimbulkan geger di-mana2, karena fihak Lekra menganggap film ini sebagai penjebaran benih facisme, harus ditarik. “Rock & Roll” jg dapat merusak nilai2 kebudajaan ditindjau dari sudut kebudajaan timur, dianggap sebagai salah satu alat infitran kebudajaan, harus pula ditarik peredarannja. “darah dan Doa”, dibeberapa daerah jang masih katjau, terpaksa dilarang. “Antara dua Sorga” pun diperdebatkan hangat oleh masjarakat Palembang. Spontanitet masjarakat Indonesia, tidak dapat ditebus dengan kompromi maupun pendjelasan dari fihak produser sesuai dengan istilah2 perfilman. Semuanja ditentang. Harus ditarik dari peredarannja. Dan apabila sebuah film menghadapi hakim sematjam ini, mau tidak mau produser terpaksa pula menarik film tersebut dari peredarannja.

Adakalanja djuga pemerintah turut tjampur tangan untuk mempertjepat penarikannjan, sehingga bagi produser tak ada djalan lain daripada membakar film tersebut. Terang sekali bahwa kedudukan produser film seperti telur diatas tanduk. Dari kedua belah pihak produser diserang mati-matian. Didesak sampai kesudut. Bukan hanja didesak sadja tetapi ditjekik sampai tak dapat bernafas sama sekali. Siapa sekarang jang akan disalahkan. Masjarakat? Produser atau Sensor film? Tentu dengan sendirinja sensor film menindjau kembali film tsb. Dan apa jang mendjadi alasan oleh masjarakat dibenarkan.

Sekarang timbul pertanjaan, bagaimana sikap dan pendapat anggauta panitya jang memuluskan film tsb. Mungkin hanja mengangkat bahu sadja. Karena menurut pendapatnja film tsb. tidak mempunjai segi2 jang merusak. Atau memang dia kurang ahli dlm hal tersebut. Atas dasar pengalaman pd hal tsb diatas, maka kita menjetdjui sekali kalau systeem sensor film dirobah sama sekali dan disesuaikan dengan systeem sensor film di Swedia. Sensor film jang didasarkan pada penilaian jg tetap dan dapat dipertanggung djawabkan. Penilaian jang dilakukan oleh para ahli dan didukung oleh tokoh2 jang dapat dipertanggung djawabkan dalam masjarakat.

Suatu hal jang perlu djuga mendjadi perhatian, bahwa systeem pemerintahan di Indonesia tentu tidak akan sama dengan systeem pemerintahan di Swedia. Demikian pula tjara pandangan hidup bangsa Indonesia akan berlainan sekali dengan tjorak masjarakat di Swedia, tetapi dalam beberapa hal akan didapat suatu aliran jang sama , ialah systeem sensor film jg didasarkan pada keahlian dan standard penilaian jang pretentieus. Mungkin dengan merombak systeem sensor film Indonesia akan pula merobah tjorak film Indonesia kearah suatu penilaian jang dapat dipertanggung djawabkan hasilnja. Dan dengan tjara demikian produser film Indonesia akan dapat djuga membikin sebuah film jang sesuai dengan kehendak masjarakat sendiri.

 

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia