Pencarian pada:
 
Detail Cantuman Artikel
Judul : Bintang Film Kontra Produser Film
Penulis : Rd. Lingga Wisjnu M.S.
Sumber : Majalah Aneka Olah raga dan Film, No. 6 tahun 1957
Subjek : Film

Ekses daripada penutupan studio2 Film Indonesia (PPFI) menimbulkan reaksi jang beraneka ragam bentuk dan tjoraknja. Sarbufis menuntut agar supaja ditjegah adanja massale ontslag, didasarkan perburuhan. Parfi berteriak tidak membenarkan penutupan studio2 film, jang berarti membunuh bakat serta mata pentjaharian mereka. Surat2 kabar mulai me-raba2 dan men-duga2 latar belakang dari penutupan studio2 film. Dan seorang artis film kemudian menondjolkan diri sebagai “kuda tunggangan”, untuk mempertadjam dugaan-dugaan tadi, dengan mentjeburkan diri sebagai seorang avonturir dalam kantjah politik. Dengan mata tertutup dan buta abc politik lalu mengetjam dan memantjing dalam air keruh. Akibat daripada tjampur tangan  “kuda tunggangan”  tadi, masuklah Djamaluddin Malik dalam perangkap. Soal ini belum selesai. PPFI pasti akan mengambil tindakan lain. Memberi pendjelasan tentang kekaburan jang sekarang menguasai pikiran para artis film. Pengertian mereka sebagai seorang seniman, jang notabene terkenal sebagai modal raksasa ditindjau dari sudut kepentingan produser film. Bukan sebagai  “manusia” tontonan, menurut istilah seorang artis film, tetapi lebih tegas lagi kita katakan, bahwa mati maupun hidupnja produser film letaknja berada ditelapak kaki seorang artis film. Tetapi karena kekaburannja dalam hal ini, sehingga merasa dirinja sebagai seorang pengemis jang meminta-minta agar supaja dirinja dipakai dalam film, agar supaja bakatnja jang sudah berkembang dapatlah terlihat terus dalam film dan agar supaja penghidupannja tidak tertjekik, karena tidak ada produser jang memakai tenaganja lagi.

Inilah tragedi Indonesia. Artis film jang bersorak dan bertepuk tangan ketika Djamaluddin Malik mendjelaskan bahwa semua alat2 filmnja akan didjual, apabila ada jg mau membeli. Seorang jang sehat pikirannja tentu akan berdukatjita mendengar tantangan tadi, bukan malah turut bergembira karena produser film Indonesia “mampus”.

Lain lelotjon jang menguasai masjarakat Indonesi ialah bekas produser jang notabene baru namanja sadja produser tetapi belum punja studio maupun film, kini berteriak melawan seorang produser. Bukan seorang sadja tetapi serombongan produser jang bergabung dalam organisasi PPFI. Sekarang kita setjara mendalam menindjau kedudukan bekas produser tadi. Bagaimana perasaannja, apabila ada orang mengatakan, mengapa dulu para artis film tidak berteriak, ketika studionja ditutup tanpa ramai2 di Hotel Indes, tetapi setjara “geruis loos” menutup studiona, kemudian kembali lagi sebagai seorang artis film biasa. Sekarang kita hendak bertanja konsekwensinja sebagai seorang seorang bekas produser, jang sudah berteriak setinggi langit hendak menjamai Titin Sumarni jang djuga sudah punja nama sebegai produser. Sekarang kita tidak akan mempersoalkan kepitjikan dari beberapa artis film jang sekarang sedang mabok “nama”nja ditondjol-tondjolkan dalam beberapa harian. Tetapi jang djelas, apakah mereka djuga insjaf bahwa mereka selama ini didjadikan “kuda tunggangan” oleh beberapa top-figur didalam dunia politik, untuk mengeruhkan suasana jang sudah keruh ini. Apakah mereka djuga meninsjafi, bahwa kedudukan mereka dalam headline dipergunakan sebagai badut untuk mempertontonkan wadjahnja sadja?.

 Kita jakin, bahwa badut jg sekarang berteriak dengan istilah politik tadi tidak menginsjafi diri. Karena dengan tangga “kuda tunggangan” tadi, kini merasa dirinja mentjapai kepopuleran jang lebih tinggi nilainja daripada sebagai seorang artis film jang sudah mulai kabur namanja. Dia jakin, setelah gagal sebagai seorang produser, merasakan djuga namanja sudah djarang sekali diutjap-utjap oleh masjarakat. Namanja jang dahulu terkenal dan memegang rekord sebagai seorang artis film jang mempunjai keharuman nama dan termasuk pemain watak, kini kelihatan kurang mendapat perhatian maasjarakat. Pokok utama, ialah gagalnja sebagai seorang produser dan jang kedua karena terdesak dengan muntjulnja new-comers. Ini suatu tragedi jang seharusnja disambut dengan mulut njengir. Bukan dengan sorak sorai jang memetjahkan anak telinga.

Teriakan para artis film dengan menuntut produser2 jg telah menutup studionja, sebenarnja merupakan suatu teriakan jang tidak mempunjai gema sama sekali. Kalau jg berteriak Sarbufis memang tepat dan mendjadi kewadjibannja. Sarbufis berteriak atas dasar kepentingan buruhnja. Buruhnja jang harus dilindungi setelah ditutupnja studio2 film. Tetapi kita tindjau kembali kedudukan seorang artis film dalam hubungannja dengan produser film. Tidak ada ikatan jang menentukan. Tidak ada hubungan langsung, bahwa matinja produser akan membunuh pula kehidupan seorang artis film. Artis film mempunjai kedudukan jang kuat sebagai seorang seniman jang mengabdi pada seninja. Seniman tidak akan mati, meskipun para produser film menutup studionja tudjuh belas kali satu hari. Seniman mempunjai dja kreasi sendiri, untuk mentjari mata pentjaharian lain jang sesuai dengan bakat jang ada dalam djiwanja. Seniman tidak akan gentar, meskipun para produser film akan membekot dirinja. Lapangannja masih luas. Tidak laku mendjadi bintang film dia masih laku main diatas panggung sandiwara radio dengan “honorarium kehormatan” Rp. 100,-. Seniman mempunjai modal jang tidak ada hubungannja dengan kematian produser film Indonesia.

Artis film mana jang mempunjai kebesaran djiwa sematjam ini? Dalam intervieuw jang dimuat diharian “Sin Po” dapat kita kenali keketjilan djiwa para artis film IndonesiaSetelah produser film Indonesia mengubur diri, ada jang mendjawab hendak djadi ratu rumah tangga sadja atau kembali mendjadi pegawai atau, ja, sudah mau mentjari pekerdjaan lain. Kelihatan sekali apathisme jang menguasai djiwa mereka, sehingga apa jang pernah mereka teriakka, ketika pertama kali diintervieuw untuk dimuat biografinja, dengan mengatakan, sedjak lahir sudah berdjiwa seni, bahkan sedjak ketjil telah bertjita-tjita ingin djadi bintang film, tetapi ketika timbul krisis jang memuntjak, mereka tanpa komentar apa2 lari kepada pemikiran jang sangat primitif. Ikatan apa sebenarnja jang ada antara produser dan artis film? Hanja ikatan kontrak satu produksi. Di Indonesia paling tinggi untuk tiga tahun. Jang pernag mengadakan ikatan kontrak biasanja Persari, Perfini dan Garuda Film Studio Ltd. Tetapi lain2 studio hanja satu produksi. Selesai satu produksi. Selesai satu produksi antara artis film dan produser tidak ada ikatan apa2. Apakah si artis akan main di studio film lainnja, apakah ia akan merongrong dirinja dengan mengemis-ngemis agar supaja dirinja diberi peran lagi dalam produksi jang akan datang, atau mati kelaparan, karena tidak mendapatkan honorarium jang tertentu. Habis kontrak tak ada hubungan maupun tanggung dajawab dari fihak produser, artinja hubungan selandjutnja hanja sebagai seorang kawan dengan kawan sadja.

Disini sebenarnja letak kelemahan artis film Indonesia. Tidak mentjari siasat lain, agar supaja seumur hidupnja dapat didjamin karena ada ikatan2 jang langsung dapat dipikul bersama antara artis film dan produser. Jang lampau adalah suatu pengalaman pahit jang tak usah diganggu gugat lagi. Tetapi apabila para artis film ingin didjamin seumur hidupnja, mulai sekarang pergunakan siasat lain. Djangan mau didjadikan manusia “tontonan”, tetapi artis film jg mempunjai pikiran jang sehat. Adakan ikatan kontrak jang didasarkan pada komisi prosentase. Sehingga permainan atau kedudukan artis film dalam setiap produksi merupakan modal raksasa. Dengan tjara dimikian,barulah artis film akan mempunjai kedudukan jang sama dan setaraf dengan produser film. Tetapi selama ikatan kontrak antara produser dan artis film hanja berlaku satu produksi, berarti artis film mendjual dirinja dengan tidak mengingat akan masa depannja. Tidak mengingat bahwa para produser pun akan “profiteren” dari hasil jang telah didapat disebabkan kehadiran para artis film dalam film tsb. Tetapi apabila didasarkan prosentase para produser pun terpaksa djuga memperhitungkan dirinja, bahwa dalam perusahaan dunia film, kedudukan bintang film merupakan salah satu faktor jang penting sekali. Tetapi sekarang? Apa kedudukan seorang artis film? Tak lain dan tak bukan hanja sebagai “alat” untuk mentjapai tudjuan. Kita ingat sadja, ketika produser terdesak karena pemerintah akan mengantjam mengadakan import bebas terhadap Filipina, dan tidak adanja film quota-import terhadap film India, sehingga untuk mentjapai maksud tudjuannja, para artis film didjadikan akat dengan timbulnja resolusi jang dibatjakan dihadapan Presiden Sukarno. Dan dalam kesesatan sekarang ini, dimana para produser mempergunakan “sendjata” menutup studio film, para artis film pun didjadikan kuda tunggangan pula untuk turut menggertak pemerintah.

Djelas sekarang, bahwa kedudukan “bintang film” Indonesia dimata produser hanja sebagai “alat” sadja, untuk mentjari keuntungan. Bukan sebagai salah satu faktor jg menghidupi atau turut mendukung mati atau hidupnja dunia film. Menurut logika alam fikiran para produser, dunia film pun akan bisa hidup tanpa “bintang film”. Karena bukan film mati sadja jang dpat diprodusir, bintang film “mati” pun bisa diprodusir. Ingat istilah “mati” bukan majat, tetapi patung jang dipertontonkan dengan djiwa manusia hidup. Kalian inilah manusia, kalau mau tahu. Tjoba robah ikatan kontrak jang mematungkan para artis film dlm mata pandangan masjarakat mempunjai harga jang setaraf  dan sama tingi dengan para produser. Dewasa ini untuk melawan produser film, sebenarnja merupakan suatu perlawanan jang sia2, toch produser akan mengatakan tidak ada kepentingan jang mengikat antara artis film dan produser. Beda sekali perlawanan antara Srbufis dengan produser, terpaksa produser mentjari djalan lain dengan melalui saluran hukum. Karena kedudukan buruh film dalam dunia film dilindungi oleh undang2 negara. Sehingga kalau diambil globalnja, buruh film lebih berharga daripada artis filmnja. Karena para buruh dilindungi oleh hukum sedangkan para artis bebas dari undang2. Dia sama denga manusia lain jang tak ada hubungannja dengan dunia film. Ini perlu direnungkan bersama. Dan harapan kita agar Parfi djuga turut aktif memikirkan nasib para artis film, jang dewasa ini benar2 terdjepit, karena selama itu disilaukan impian “nama jang tjemerlang” dan djulukan “bintang film” jang menerima sandjung pudjian dari seluruh plosok dunia.

 

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia