Pencarian pada:
 
Detail Cantuman Artikel
Judul : Editing : pokok dasar seni film (penutup)
Penulis : Dien Sjarief
Sumber : Majalah Aneka Olah raga dan Film No. 3 tahun 1957
Subjek : Film

                                                      Editing : pokok dasar seni film (penutup)

Hasil-hasil Griffith menimbulkan pengertian-pengertian baru dalam dunia film, timbulnya prinsip-prinsip bekerddja modern bahwa yang penting dalam pembikinan film ialah gambar, lebih dari pada ddjika kita perbandingkan dengan bagian-bagian , apa yang disumbangkan oleh para pelaku, dsb. Pengutjapan dramatik berdasarkan kepada shot, rangkaian shot dalam scene dan scene menddjadi sequence, dst. sampai tjerita terbentuk.

Ddjika Griffith dengan hasil-hasil kerddjanya menemukan kepada kita persamaan antara struktur bangunan tjerita buku (sastra/novel) dengan struktur pengutjapan film, maka penemuan baru lagi dalam lapangan editing, sesuai dengan seddjarah perkembangan film, adalah apa yang diperlihatkan kepada kita oleh seorang besar film lain lagi, Pudovkin. Pekerddja djang belakangan ini mentjoba dan memperlihatkan bahwa penguasaan seorang sutradara atas bahan-bahan yang diolahnya (gambar) dapat diperkembangkan lebih maddju selangkah lagi. Pudovkin mengusahakan dengan sadar sekali tjara-tjara penyusuna baru atas redaksi gambar dengan apa interpretasi dapat diberi bentuk dengan lebih effektif. Dia mentjoba mendjelmakan rumusan penguasaan bahan dengan sadar (rational). Sematjam pegangan pedoman bekerdja, yang umum dikenal dengan kostruktif editing diperdapat pula. Dengan Pudovkin datanglah pengertian ketiga yang lebih luas antara dua shot djang dipersambungkan.

Film Pudovkin yang ternama adalah “Mother”. Karya-karya Griffith dan Pudovkin, djika disederhanakan akan berupa usaha bagaimana tjaranya mentjapai kesan dramatik effektif mungkin, melalui persamaan dengan sastra, maka karya Eisenstein, tokoh fil lain lagi, dapatlah disebutkan bahwa usaha pentjapaian kearah kesan terakhir dan mewudjudkan daya abstraksi dari kedjadian sehari-hari yang diabadikan, seperti yang dapat terlihat dalam film-filmnya yang bernama “October” dan “Old and New”. Bangunan editing yang ada dalam film ini, seperti yang dinamakan sendiri oleh sutradaranya, adalah editing intelektual. Titik berat pekerdjaan terutama diletakkan dalam usaha mendjelmakan suatu bentukan tjita tertentu dalam pikiran penonton dari pada merangsang pikiran penonton tersebut dengan dramatik tjerita.

Pikiran pertama yang mendasari setiap pekerdjaan Eisenstein adalah teori, djika penyusunan dan pengaturan film telah membuktikan kesanggupannya mempengaruhi arus emosi penonton, tentu pengaturan dan penyusunan ini djuga dapat diperkembangkan dengan sempurna dan dalam lagi, yitu kearah usaha mempengaruhi seluruh pemikiran yang ada dalam kepala penonton tsb.

Sekarang semua sutradara mengetahui dari pengalaman-pengalaman atau peladjaran-peladjaran yang didapat mereka bahwa satu shot yang terpisah sama harganya seperti sebuah kata dalam tjerita. Berarti, tapi mati/tertentu. Djika berdiri sendiri harganya djadi relatif; harga pasti baru didapat djika ada yang menyambungkannya, baik dimuka ataupun dibelakangnya. Dalam hubungan ini baiklah kita tjontoh George Friedlan yang telah klasik ada sebuah pengambilan orang laki jang tersenjum. Tetapi djika shot ini disambung dengan seorang wanita jang tjantik jang mengerling atau pengambilan pestol jang ditidongkan, artinja akan djauh berobah sama sekali.

Buat jang pertama mungkin kita akan mengatakan seorang laki jang djatuh tjinta dan buat jang kedua mungkin tuan berpendapat dia seorang pemberani. Sama keadaannja seperti kata dalam kalimat, dimana dia mendapat arti jang penuh, begitu djuga satu shot akan berarti bulat djika terdapat hubungannja didalam kalimat film atau sequence.

Kita telah sampai kepada kenjataan bahwa dengan merangkaikan shot2, kita telah mentjiptakan sesuatu jang baru, sesuatu jang ketiga jang berhargadjauh lebih luas dari djumlahnja. Sebuah dasar pikiran utama kearah terbentuknja seni tjerita film.

Djadi djelaslah, bahwa sebenarnja adalah sebuah “seni-gado2”, total art. Seni-gado2 iniakan dapat diketahui dengan lebih djelas lagi, djika kita menjelidiki pengaruh2 apa jang diberikan oleh setiap tjiri gado2/film ini. Dari tjerita (musik dan suara) dia mendapat daja imaginasi, dari tjiri gambar dia memperoleh daja ruang dan bentuk, dan dari sifat pertundjukannja, dia mendapat gerak.

Fungsi pertama pekerdjaan penjusunan dan pengaturan (editing) ialah mendjelmakan kembali segala daja2 jang telah diberikan oleh tjiri2 film ini dalam rangka kesatuan dan keharmonian jang diikat oleh tjerita. Pekerdjaan penjusunan seperti jang disebutkan diatas ini setjara gampangnja dapat djuga diperbandingkan, dengan pekerdjaan penjusunan kalimat. Untuk menjusun kalimat2 jg baik, tuan tidak tjukup dengan merangkaikan kata2 menurut kata2 bahasa sadja. Kalimat tuan akan datar dan hambar sadja djadinja. Supaja menarik tuan harus memakai nilai2 seni bahasa atau lebih tepat lagi style.

Style dalam film dikatakan rythm atau irama. Dalam tjerita jang baik akan diusahakan agar pendengar / pembatja tidak dibawa oleh arus tjerita jang tetap, terus menerus, seolah-olah dibawa menandjak; pendengar akan tjapek djadinja. Tjerita akan djadi membosankan. Oleh pngarang jang baik djalannja tjerita akan didjatuh dan dinaikkan untuk dapat lebih mengasjikkan atau tjerita diberi berirama.

Dalam hubungan jang lebih luas, film mengenal atau memakai lebih banjak unsur2 irama, tetapi tetap dalam fungsi jang sama seperti buku, menarik dan mengasjikkan penonton. Ada irama jang dihasilkan waktu memakai ruang, irama tjerita, irama jang ditjiptakan oleh djuru kamera dengan alatnja, berupa harmono antara lapangan jang dipotret dan tempat dimana kamera diletakkan, dst. Dalam pengutjapan kalimat, djika tuan membatja, pertama-tama harus diperhatikan isi kalimat.

Kalimat untuk menjatakan marah tidak akan diutjapkan setjara lemah lembut, tetapi tjepat dan keras. Dan pernjataan kasih sajang dengan perlahan-lahan dan meraju. Dengan ini kita telah pindah dengan memperhatikan unsur2 suasana dalam kalimat. Sebelum kita berbitjara lebih landjut tentang suasana ini, baiklah diadakan perbedaan antara suasana dimaksudkan djika kita mendjawab pertanjaan2 bagaimanakah ketegangan tjerita seperti marah, sedih, gembira umpamanja. Dalam film djuga begitu. Perbandingkanlah suatu scene pertjintaan dan orang jang dikedjar polisi umpamanja, jang pertama pengutjapannja lemah lembut dan lambat, pada jang belakangan, gambar, sebentar2 bertukar, silih berganti tjepat, kai orang dikedjar, mobil polisi, muka orang jang dikedjar, muka polisi, kaki jang dikejar lagi, polisi menembak, dst. Makin tjepat pertukaran gambar, makin terasa tegangnja penguberas dan sebaliknja. Suasana dapat diberikan antara lain dengan tjepat atau lambatnja gambar dipertukarkan. Tentu ada unsur lain seperti illustrasi musik umpamanja, jang juga mempengaruhi suasana, tetapi hal2 jang belakangan ini, tidak termasuk lingkungan karangan ini. Dalam prakteknja pekerdjaan editing ialah mengolah tjerita, seperti jang diingini oleh sutradara, disinilah pekerdjaan editor betul2 mulai. Pertanjaan2, hasil apakah atau rasa apakah jang hendak ditjapai sutradara dan apakah jang dapat dikerdjakan, selalu meliputi akan pikiran si editor, selagi bekerdja. Sering djuga hasil jang hendak dipertundjukkan, jang direntjanakan oleh sutradara tidak sesuai dengan film jang telah dikerdjakannja sehingga tjita2 dan kenjataan bertentangan, atau ada djarak.

Editor jang baik mengusahakan agar djarak ini djadi seketjil2nja djika tidak dapat dihilangkan sama sekali. Djika kita masih sadja berpegang pada daja kreatif editor, dalam hubungan jang beginilah tjontohnja jang paling tjepat da[pat dilukiskan. Film2 jang dalam bentuk gambarnja tidak baik, mungkin karena kesalahan sutradara atau karena ketidak sanggupannja, sering2 masih dapat diperbaiki oleh editor, djika editor itu mengerti.

Sering djuga terdjadi perbedaan interpretasi atas gambar2 dalam urutan tjerita, terdjadi pertentangan pendapat antara editor dasn sutradara. Sudah tentu biasanja pendirian sutradara jang diikuti, tetapi kurang bidjaksana djika saran2 editor tidak didengarkan atau dipertimbangkan oleh sutradara. Djalan jang paling baik ialah memperbandingkan hal jang berlainan ini, dengan ditjoba lebih dulu. Sebab tidak dapat dimungkiri lagi bahwa ada editor jang pintar sekali. Dia adalah djuru gunting jang berbakat dan mahir sekali dalam vaknja. Dia adalah tenaga ahli jang mengenal betul lapangan pekerdjaannja. Pendapat2 orang jang begini sering djuga betul.

Dalam kesusastrraan atau film editing dengan kata lain pengaturan mentjiptakan nilai2 baru nilai poetis dalam bahasa, nilai cinematografi dalam film. Editing hanja mempunjai satu tudjuan, untuk mendjadikan setiap shot memainkan perananja jang djadikan srquence membentuk tepat dalam sequence, dan keseluruhan film dalam kesatuan jang harmoni dan berirama.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia