Pencarian pada:
 
Detail Cantuman Artikel
Judul : Film Kita dan Eksploitasi Perempuan
Penulis : Tarsih Ekaputra (Editor Kepala Majalah “Tradisi” dan Editor Pelaksana “F (Film) Magazine”
Sumber : Http://www.mediakonsumen.com/Artikel366.html
Subjek : [ Tidak dicantumkan ]

Film Kita dan Eksploitasi Perempuan

Ranah perfilman Indonesia saat ini sedang memanas. Hal ini sebagai akibat adanya kemandekan sistem dari tahun ke tahun. Secara khusus untuk lembaga atau instansi terkait langsung dengan industri perfilman nasional. Di tengah kecarut-marutan sistem yang juga landasan ego atas persepsi pengkotak-kotakan antara senioritas atau pemula, gelombang proses yang menuntut adanya perubahan terus menggulir. Beberapa waktu lalu para sineas muda menggelar aksi keras yang berpuncak pada pengembalian Piala Citra untuk rentang waktu 2004 - 2006.

Dari aksi tersebut juga memunculkan ragam intepretasi dari berbagai kalangan. Ada yang setuju dan tentu juga kontra. Tapi terpenting bukan pada perdebatan dan perbedaan pola pikir dan cara pandang yang seyogyanya diangkat, melainkan ada atau tidak kemauan secara kolosal membenahi sistem perfilman nasional kita.

Mencermati beragam persepsi dan tanggapan yang muncul atas reaksi insan perfilman Indonesia yang tergabung dalam Masyarakat Film Indonesia tersebut hendaknya kita tak terjebak dalam polemic yang berkepanjangan sehingga tak ada solusi yang baik untuk kemajuan dan perubahan menuju ke arah yang lebih baik bagi perfilman Indonesia. Saling balas tentu bukan hal yang membangun, melainkan saat ini hendaknya kita duduk bersama dan saling bertukar pikiran guna menciptakan sebuah pemandangan yang membanggakan atas perubahan yang baik di perfilman Indonesia ke depannya. Aksi protes di ranah perfilman Indonesia ini mungkin bukan hal pertama yang terjadi. Jelas dari aksi yang muncul tersebut ada sebuah harap yang muncul. Sebuah keinginan untuk mengubah dan berubah dan menyulut semangat para sineas tanpa harus terkotak-kotakkan antara senior atau pun junior.

Untuk itu kita hendaknya tak terlena dengan mencari-cari apa yang menjadi motivasi di balik semua aksi itu. Lupakan politik eksploitasi dan lainnya. Terpenting, kita yang menamakan dan mengakui sebagai masyarakat yang memiliki kepedulian atas perfilman Indonesia hendaknya mulai peka dan bersama-sama menggagas serta menyiapkan infrastruktur yang sesuai dengan kondisi perfilman nasional saat ini. Sekali lagi, mereka (yang melakukan protes) tak bisa dipungkiri adalah penggairah dan pembangkit perfilman Indonesia setelah sekian lama terpuruk. Ibarat ‘embrio-embrio kebudayaan’ jangan biarkan mereka bertarung sendirian dibelantara global ini. Tak ada salahnya kita mengintip sistem serta kehidupan perfilman di Negara-negara lain tentang bagaimana mereka mengakomodir, melindungi dan mengembangkan industrinya di tengah arus global yang mendorong terciptanya sebuah sistem demokrasi terbaik dewasa ini. Tengok saja besarnya perhatian negeri Siam (Thailand) terhadap pertumbuhan dan perkembangan industri perfilmannya. Kemudian negara-negara tetangga di Asia Tenggara lainnya yang mampu menciptakan pertumbuhan yang lebih baik.

Pemerintah secara absolut dalam hal ini memang menjadi pihak yang paling bertanggung jawab untuk menyiapkan infrastruktur tersebut. Apa pun alasannya, entah itu kondisi ekonomi dan hukum serta kondisi tak terduga yang diakibatkan oleh ketakramahan alam negeri ini, bukan berarti pemerintah atau dalam hal ini lembaga-lembaga perfilman yang terkait boleh melalaikan tugasnya. Tugas mulia untuk menumbuhkan iklim perfilman nasional yang lebih baik serta menanggapi ragam masukan baik itu dalam bentuk protes atau lainnya dengan menyiapkan infrastruktur guna terciptanya sebuah perubahan sistem yang mampu menyerap segala bentuk aspirasi masyarakat perfilman Indonesia.

Film dan Eksploitasi Perempuan Dari ajang yang disebut FFI tahun 2006, ada fenomena yang menarik untuk kita cermati secara seksama yakni tentang tema dan kecenderungan yang terjadi di sektor film Cerita Lepas Televisi. Oleh Dewan Juri FFI 2006 diungkapkan bahwa 85% film cerita lepas yang masuk ke meja juri yang totalnya kurang lebih 162 judul film dinilai isinya adalah mengeksploitasi perempuan.

Eksploitasi tersebut ditampilkan dalam beragam bentuk seperti kekerasan dalam rumah tangga, penyiksaan dan lain sebagainya.

Film sebagai identitas budaya Indonesia yang merdeka, subur makmur dan gemah ripah loh jinawi ini, hendaknya memiliki kekuatan besar untuk menciptakan habitat dan komunitas-komunitas yang sehat bagi embrio-embrio perfilman nasional. Menciptakan sebuah komunitas yang tak hanya menjadikan film sebagaia komoditi bisnis atau politik saja, melainkan benar-benar menjadi identitas sebuah bangsa. Bangsa Indonesia yang merdeka dan terarah. Di lain pihak, para creator dan pekerja film Indonesia tanpa harus membedakan golongan antara yang senior dan junior hendaknya mampu melahirkan karya-karya yang berkualitas dengan senantiasa memahami siapa dan apa kenginginan masyarakatnya.Dengan demikian karya-karya tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari mereka dan bukan menjadi benda asing bagi masyarakatnya sendiri. Bisa jadi benar bahwa orang-orang film sendirilah yang mampu dekat dengan masyarakatnya. Masyarakat Indonesia yang masih terseok untuk menerima dan menjadi bagian dari masyarakat global dengan sejuta permasalahannya.

Setelah gelombang protes yang dipicu atas ketakpuasan masyarakat yang menamakan dirinya sebagai Masyarakat Film Indonesia saat ini atas pertama hasil FFI 2006 maupun lembaga-lembaga perfilman lain yang terkait dengan sistem dan kinerjanya yang dinilai telah usangâ belum mampu mengakomodir lagi masukan dan keinginan para pembangkit perfilman nasional ”kita hanya bias berharap sebuah penyelesaian yang bijak demi kemajuan dan perbaikan industri perfilman nasional. Sehingga ajang seperti Festival Film Indonesia yang telah bangun dari mati surinya sejak 2004 lalu mampu menghembuskan angina segar yang tak hanya mencetuskan harap di tengah gelombang protes untuk perubahan ini serta tak hanya terbatas pada sebuah pertunjukan kolosal saja. Semoga!

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia