Pencarian pada:
 
Detail Cantuman Artikel
Judul : Teater IMAX Keong Emas
Penulis : Tarsih Ekaputra (Editor Kepala Majalah “Tradisi” dan Editor Pelaksana “F (Film) Magazine”
Sumber : Http://www.mediakonsumen.com/Artikel380.html
Subjek : [ Tidak dicantumkan ]

Teater IMAX Keong Emas

Seorang kawan yang bisa diklasifikasikan "anak zaman" dan juga anak mall yang penggila film bertanya tentang apa kelebihannya menonton film di teater Imax Keong Emas dibandingkan dengan bioskop-bioskop konvensional yang menjamur dan lebih strategis secara geografis di Jabotabek ini. Bagi yang belum pernah memasuki ruang teater besar tersebut jelas akan sangat sulit mengurai jawabannya.

Nama Keong Emas bertahun-tahun begitu akrab di telinga kita, bahkan ada di pelajaran sekolah pun ada. Itu dulu, sekarang entah masih dianggap relevan atau tidak yang pasti teater Imax Keong Emas dibangun dengan harapan menjadi kebanggaan Indonesia.  

Berbicara teater Imax Keong Emas yang selama 10 tahun menyandang rekor layar terbesar untuk teater Imax di dunia dan masuk dalam Guiness Book of Record ini seharusnya mampu menumbuhkan rasa bangga kita sebagai orang Indonesia. Di mana, Indonesia juga termasuk Negara pertama di Asia yang memiliki teater dengan teknologi Imax yang asal Kanada ini. Pun, kini Negara-negara tetangga memang dengan cepat mengembangkan dan membangun hal yang serupa. Malaysia misalkan, baru pada tahun 2004 memiliki teater Imax-nya dan melakukan studi banding ke Indonesia. Kemudian disusul dengan negara tetangga lainnya, seperti Jepang yang kini telah memiliki 21 teater Imax, atau India dengan 6 teater Imax.

Teater Imax Keong Emas yang secara resmi dibuka pada tanggal 20 April 1984 dan berlokasi di timur Jakarta tepatnya di area Taman Mini Indonesia Indah (TMII) ini mulanya menyuguhkan film-film yang bersifat edutauinment. Tak aneh jika selama kurun waktu hampir 23 tahun usia teater ini hanya dikunjungi oleh rombongan dari sekolah dan keluarga yang ingin memberikan tontonan yang mendidik yang secara khusus tentang dunia luar angkasa.

Memang tak sedikit remaja atau masyarakat yang datang dan menonton di teater Imax Keong Emas ini untuk melakukan perbandingan antara menonton film di bioskop konvensional dengan fasilitas dan kecanggihan teater Imax Keong Emas. Secara teknologi yang digunakan, teater Imax Keong Emas memiliki keunggulan. Salah satunya teknologi audio visual yang menggunakan proyektor Imax horizontal dengan format film 70 mm dan dipancarkan pada layar pasif (Flat Pasive) berukuran 21.5 x 29.3 meter.

Selain juga memiliki daya tampung yang cukup besar hingga mampu menampung 1000 orang, teater Keong Emas juga dilengkapi dengan teknologi Imax (Imax System Corporation, toronto, Canada) dengan crystal clear images dan sistem tata suara digital sound berkekuatan 12000 watt dengan 6 chanel speaker sehingga menghasilkan sebuah perpaduan gambar yang spektakuler dan suara yang sangat jernih. Teknologi itu diyakini mampu membawa penonton masuk dan terlibat dalam setiap adegan film yang sedang diputar.

Film-film yang diputar di Teater Imax Keong Emas selama ini adalah film-film yang diproduksi oleh MacGillivray Freeman Films Los Angeles yang menyoroti Indonesia dalam berbagai aspek kehidupannya, seperti : kekayaan sumber alam, keanekaragaman suku, budaya dan agama keindahan alam serta kemajuan dan hasil pembangunannya. Hingga saat ini MacGillivray Films Canada telah memperoduksi tiga film yang menceritakan tentang Indonesia dan dirangkum dalam Indonesia Indah 1I, II dan III.

Disamping film tentang Indonesia, Teater Imax Keong Emas juga memutar film asing (film import) yang ada relevansinya dengan ilmu pengetahuan, tehnologi, kebudayaan, sumber daya alam, lingkungan dan pelestariannya dengan tidak meninggalkan nilai-nilai hiburannya nilai-nilai hiburannya. Film-film yang diputar di Teater Imax Keong Emas sejak tahun 1984 dibagi dalam tiga kategori, yakni kategori film bertemakan dirgantara atau ruang angkasa, seperti: To Fly, (masih bisa diputar), The Dreaam is Alive (sudah tidak ada), dan Blue Planet (juga sudah tidak ada).

Kategori kedua, film-film ilmu Pengetahuan mekanik, seperti: Speed (masih bisa diputar) dan kategori ketiga adalah film bertemakan ilmu pengetahuan lainnya (sejarah, biologi, fisiologi) seperti: Beafer, To The Limit, The First Emperor of China dan Mexico.

Tak puas dengan sistem Imax biasa, kini Keong Emas menuju ke sistem Imax DMR (Digital Remastering) yang memungkinkan teater Imax Keoang Emas memutar film-film Hollywood yang sudah diubah dalam format Imax DMR. Ada ketentuan khusus film-film dunia yang bisa diputar di teater Imax ini, yakni hanya film-film yang masuk dalam kategori box office dan harus memiliki spesial efek yang bagus, seperti Spiderman-2, Harry Potter-3, Superman Return, T-Rex, Forces of Nature (Best Film of Festival 2004 Large Format Cinema Association) dan lainnya.

Kelebihan di atas diakui oleh Ery Subada, Ass. Menejer Bid. Ren/Bang Keong Mas juga menjadi kelemahan dari sistim Imax ini, di mana tidak semua film-film dalam format 35 mili (film bioskop) dapat di-convert ke format 75 mili sebagai standar untuk dapat diputar di teater Imax. Lebih jauh Ery juga menjelaskan bahwa selain biaya sewa juga sangat mahal, biaya perawatan teknologi Imax ini juga cukup mahal karena semua accecories/ spare part Imax ini tidak disediakan di Indonesia.

Terkait dengan tingginya biaya sewa film diakui Ery, kenapa selama kurun waktu 23 tahun ini teater Imax Keong Emas baru sanggup memutar 30 judul film padahal Imax sendiri telah ada lebih dari 300 judul film. Terlebih, teater Keong Imax Emas yang statusnya 100% milik negara ini tidak ada subsidi dari pemerintah dan hanya mengandalhan tiket dari pengunjung untuk menutup biaya operasionalnya. Namun demikian, Ery bersama tim yang membidani Keong Emas ini masih menyimpan rasa optimis untuk menjadikan teater Imax ini semakin diminati oleh masyarakat dengan cakupan yang lebih luas dan menjadi teater kebanggaan bersama.

Hal ini ditengarai oleh mulai dibukanya teater Imax Keong Emas bagi masyarakat yang ingin melakukan kegiatan peluncuran film barunya atau program-program lain yang terkait dua hal, sosial dan promosi seperti program nonton bareng dan lainnya. Ada satu standar yang diharuskan dalam hal acara peluncuran film yang menggunakan fasilitas teater Imax Keong Emas, yakni monitor yang akan digunakan harus DLP dengan kekuatan antara 10.000 - 15.000 lumen.

Dilematis sepertinya kalimat yang tepat menggambarkan situasi teater Imax Keong Emas saat ini. Di satu sisi teater ini jelas merupakan kebanggaan bangsa yang mampu menunjukkan kemajuan dunia perfilman kita dan di sisi lain, minat masyarakat untuk menonton film di teater Imax Keong Emas masih terlihat minim. Terbukti selama ini dari total pengunjung TMII baru 15% yang mampir di teater Keong Emas. Ada banyak hal pastinya yang bisa disebut sebagai penyebab dan bisa jadi pertama masyarakat masih awam dengan kelebihan teknologi yang ditawarkan Keong Emas atau kedua karena film-film yang diputar masih sangat minim, tak seperti di bioskop konvensional yang seminggu sekali ada lebih dari dua film baru diputar.

Faktor lainnya bisa jadi karena lokasi yang jauh dari pusat kota atau juga pesatnya perkembangan teknologi audio visual dewasa ini yang mampu memindahkan suasana dan pesona bioskop ke dalam rumah. Ada paket home theatre dengan ragam kecanggihannya, vcd dan dvd player yang secara ekonomis jauh lebih murah, lebih-lebih Indonesia juga sorganya film-film dalam format DVD maupun VCD bajakan.

Melihat perkembangan teknologi yang sangat memudahkan ini, sepakat dengan pertanyaan tentang apakah bioskop dewasa ini masih relevan yang dilontarkan oleh Seno Gumira Ajidarma yang juga dimuat dalam majalah F edisi perdana. Pun ia akhirnya juga yang harus menjawab bahwa tentu masih relevan selama bioskop masih mampu memenuhi dan menjadi wahana bagi komunitas, selama bioskop masih menjadi bagian dariritus gauldi kota besar ini.

Ini jelas tantangan terbesar bagi teater Imax Keong Emas, dan akhirnya pertanyaan yang muncul  dengan hanya bersandar dan berharap dari "tiket" pengunjung dengan melihat angka nominal perawatan, sewa film dan operasional pegawai teater Imax kita yang mencapai angka Rp 3 s/d 4 milyar minimnya (tidak adanya) subsidi pemerintah (walau bukan yang harus bertanggung jawab), bisakah teater kita yang dengan kecanggihan teknologi Imax nya bisa atau paling tidak memindahkan antrian panjang bioskop konvensional ke teater Imax Keong Emas?

Tak ada yang tak mungkin terjadi, baik dalam hukum alam atau bisnis dan juga dengan teater Imax kita (yang untuk alatnya saja kalau harus beli baru harganya lebih dari Rp 30 Milyar). Terlebih jika ada pihak lain (swasta) yang nantinya peduli akan kebanggaan negeri ini yang jika harus membangun teater serupa dengan teknologi Imax dibutuhkan dana lebih dari Rp 80 milyar!. Semoga esok tak hanya menjadi kebanggaan negeri yang terhimpit zaman. Dikenal tapi tak disapa..!.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia