Pencarian pada:
 
Detail Cantuman Artikel
Judul : Apakah Sineas Indonesia Harus Menunggu?
Penulis : Nia Dinata
Sumber : Http://www.kompas.com/kompas-cetak/0506/25/Jendela/1836314.htm
Subjek : Film

Apakah Sineas Indonesia Harus Menunggu?

 SELAMA 58 tahun eksis sebagai kota penyelenggara film festival, Cannes telah menjadi simbol kesuksesan sineas dunia. Berada di Festival Film Cannes menjadi mimpi bagi kita-kita sineas pemula, dan dari sekadar mimpi bisa naik setingkat lebih tinggi menjadi mimpi terindah ketika film kita lolos seleksi, apakah itu seleksi Director Forthnight (yang terendah), seleksi Uncertain Regard (yang lumayan bergengsi), ataupun kompetisi untuk Palme d` Or (yang paling bergengsi).

BAGI saya, sekadar mimpi tadi sudah menjadi kenyataan pada tahun 2004 ketika saya diundang, jadi tak harus mengeluarkan biaya yang sangat luar biasa mahal dari kantong sendiri untuk ukuran sineas Indonesia, untuk mengikuti Young Director Program yang diselenggarakan panitia tiap tahun dalam rangka memperkenalkan Festival Film Cannes kepada wakil sutradara muda dari negara-negara di Asia Pasifik dan Afrika. Energi ketika saya datang tahun lalu masih bisa terasa sampai saat ini, wajah-wajah bangga para sineas, yang filmnya berkompetisi ketika menaiki tangga Grand Lumierre Cinema yang berkapasitas 2.400 orang, masih terekam jelas di ingatan saya walaupun waktu itu saya harus mengantre masuk bersama para undangan lain setelah rombongan mereka masuk. Saat itu saya datang untuk belajar dan mengobservasi, setiap pemutaran film tak pernah saya lewatkan, setiap seminar dan diskusi film pun tak pernah ketinggalan.

SATU hal penting yang saya amati adalah setiap film Asia yang dikompetisikan pasti ada nama produser Perancis di dalamnya, jadi produser dari negara itu tak sendirian. Tropical Malady, contohnya, film dari Thailand yang memenangi spesial Jury Prize, diproduseri oleh Charles de Meaux, orang Perancis yang bekerja sama dengan produser Thailand dan hampir semua film Asia dan Afrika yang masuk membubuhkan nama Fonds Sud (yayasan Perancis untuk pendanaan film bagi negara-negara berkembang) pada opening credits-nya. Selain itu, film-film dari sutradara Hongkong ataupun China yang sudah melegenda, seperti Wong Kar Wai atau Zhang Zi Mao, pasti di opening credits sudah tertera nama agen film internasionalnya, misalnya Fortissimo Films atau Celluloid Dreams, dan agen-agen film yang sedang berkibar lainnya. Jadi, saat itu saya sadar bahwa Indonesia sudah mulai harus menambah pekerjaan rumahnya dari segi kualitas cerita untuk melebarkan sayapnya dan mulai belajar bekerja sama dari awal dengan mencari bentuk kerja sama yang menarik dan baik dengan produser independen Eropa (tidak harus Perancis) atau agen film internasional. Ketika saya membaca tulisan Arya Gunawan di Kompas, berapa waktu lalu, yang juga mengamati hal sama dan mengambil kesimpulan bahwa sineas Indonesia harus menunggu gilirannya di Cannes, saya terpanggil untuk mencoba menanggapi. Selain Garin Nugroho dengan Daun di Atas Bantal-nya yang pernah masuk ke kategori sorotan khusus (Un Certain Regard), belum pernah ada lagi film Indonesia yang lolos. Walaupun bukan berarti sineas kita tidak mencoba, selain Shanty Harmayn mencoba dengan Pasir Berbisik dan Banyu Biru, Mira Lesmana dengan Gie, saya juga pernah mencoba dengan Ca Bau Kan dan Biola Tak Berdawai. Saat mengirimkan kedua film itu, sebenarnya tidak dengan ambisi khusus.

JADI, ketika menerima surat penolakan dari tim seleksi Cannes yang bernada sopan, saya tak putus harapan. Kurang lebih bunyinya begini: We have seen your film and it is very good, but that not what we looking for at the moment. Jadi, saya sudah hampir hafal karena bukan film yang mereka cari untuk saat itu. Makanya, ketika Arisan selesai, saya tak mengirimkannya ke Cannes, tetapi film itu tetap diminta panitia ketika menyeleksi undangan untuk ikut ke Young Director Program, yang akhirnya saya dinilai pantas dibiayai untuk datang dan mengobservasi. Lalu, pada pertengahan Maret lalu, seorang wakil dari programmer Cannes Director Forthnight (pekan sutradara) datang ke Jakarta untuk melihat beberapa karya sutradara dengan film pertama. Ia kemudian meminta untuk menyaksikan Janji Joni. Saat itu saya sebagai produser cukup senang bisa berkenalan dengan programmer tersebut dan Joko Anwar, sutradara Janji Joni yang baru memulai debutnya, juga sudah cukup gembira filmnya ditonton orang dari Cannes dan bisa berdiskusi langsung tanpa harapan terlalu tinggi bahwa ini akan lolos, apalagi berambisi untuk di seleksi ke Uncertain Regard ataupun Palme D` Or. Ternyata memang Janji Joni tidak lolos saringan, begitu pula Banyu Biru dan Gie yang juga ditonton oleh programmer ini. Namun, saya tidak geram ataupun kecewa karena kita masih pemula dan banyak pelajaran film maupun melobi yang harus kita lewati. Apalagi ketika pada akhir Maret lalu, saya ke Hongkong Asia Film Financing Forum karena kebetulan salah satu skenario saya terseleksi, saya bertemu kembali dengan si programmer tadi dan kita banyak bertukar pikiran tidak hanya dengan dia, tetapi juga dengan beberapa produser independen Perancis dan agen film internasional.

ADA beberapa pendapat yang sama dari mereka tentang Cannes mengenai pentingnya melobi panitia, kritikus film yang berpengaruh, juga agen internasional, yang biasanya kalau film kita sudah dipegang oleh agen, mereka yang akan melakukan perjuangan mati-matian agar filmnya masuk seleksi Cannes atau festival bergengsi lainnya. Sementara itu, di Indonesia kebijakan pemerintahnya juga belum mendukung sineas yang sedang aktif membuat film, apalagi berpikiran untuk men- support dengan mengorganisasi kami-kami untuk dipromosikan di film festival bergengsi di luar negeri.

HAL itu masih sangat jauh dari program pemerintah yang ada sekarang untuk dunia perfilman, bahkan programnya saja apa, saya kurang yakin ada di kepala petinggi-petinggi pemerintah kita ini. Ditambah lagi, para sutradara dan produser baru sedikit yang sadar bahwa film yang dibuatnya selain harus bisa diterima penonton lokal, tetapi juga harusnya bisa diterima penonton di luar negeri. Kalau mau mulai merambah ke luar negeri, sebenarnya banyak festival-festival film lain yang lebih kecil dan juga terorganisasi dengan baik. Jadi prosesnya dimulai selangkah demi selangkah. Para produser dan sutradara yang sadar akan hal ini biasanya juga mengerjakan segala hal sendiri, dari mulai menulis skenario, produksi filmnya, distribusi di bioskop Indonesia, promosi, sampai membuat posternya pun sendiri. Ketika mencoba mengirim ke festival film internasional pun semua dilakukan sendiri, dari mulai mengisi formulir, membuat terjemahan ke bahasa Inggris, sampai biaya keberangkatan atau akomodasi, karena tidak semua festival internasional membiayai secara total. Sementara berkongsi dengan produser Eropa atau agen film internasional masih dalam taraf penjajakan karena selain kitanya yang masih malu-malu, produser asing ataupun agen film tidak sembarangan mau bekerja sama dengan pembuat film mana saja, Harus ada track record-nya dan mereka teliti sekali mempelajari kekuatan dari masing-masing sineas karena kesuksesan film itu menembus pasar internasional dan film festival seperti Cannes tetap berpulang pada kualitas filmnya. Banyak film yang masuk Cannes, tetapi tetap tak dipercaya distributor asing untuk bisa diputar di bioskop negaranya karena terlalu aneh atau tidak komunikatif.

NAMUN, untuk bikin film yang komunikatif kadang-kadang dicap bukan kelasnya Cannes. Para penggemar film ataupun kritikus internasional juga kadang-kadang sama geramnya dengan Mas Arya Gunawan ketika melihat beberapa film yang terlalu absurd dan aneh atau terlalu dangkal, tetapi bisa lolos Cannes. Ini mungkin berarti usaha melobinya yang lumayan kencang. Namun, yang paling sulit adalah membuat film seperti The Motorcycle Diaries- nya Walter Selles yang masuk Cannes tahun lalu atau All about My Mother-nya Pedro Almodovar (Cannes 2000), dan Punch-Drunk Love-nya Paul Thomas Anderson (Cannes 2001) yang bisa lolos Cannes, memenangi penghargaan dan bisa juga mencuri hati penontonnya, serta didistribusikan ke seluruh dunia. Pembuat film Indonesia tidak hanya harus menunggu, tetapi tetap terus giat belajar, menggali ide dan terus membuat film dengan pakem yang benar, tanpa harus menargetkan Cannes. Karena dengan atau tanpa Cannes, film yang benar-benar orisinal dan bisa berbekas di hati penonton pasti suatu saat akan menjadi omongan pencinta film lokal maupun internasional.

* Nia Dinata Sutradara dan Produser Film

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia