Pencarian pada:
 
Detail Cantuman Filmografi
Judul Film : Rumah tanpa jendela
Sutradara : Aditya Gumay
Produser : Adenin Adlan; Seto Mulyadi
Pemeran_utama : Emir Mahira, Dwi Tasya, Ingrid Widjanarko, Raffi Ahmad, Yuni Shara, Aty Kanser, Maudy Ayunda.
Pemeran_pembantu : [ Tidak dicantumkan ]
Keterangan : [ Tidak dicantumkan ]
Deskripsi_fisik : Film berwarna; durasi 120 menit
Media : Seluloid
Subjek : Drama
Bahasa : [ Tidak dicantumkan ]
Penulis_skenario : [ Tidak dicantumkan ]
Penulis_cerita : [ Tidak dicantumkan ]
Penata_artistik : [ Tidak dicantumkan ]
Penata_suara : [ Tidak dicantumkan ]
Penata_musik : [ Tidak dicantumkan ]
Penata_foto : [ Tidak dicantumkan ]
Penyunting : [ Tidak dicantumkan ]
Soundtrack : [ Tidak dicantumkan ]
Judul_lain : [ Tidak dicantumkan ]
Catatan : [ Tidak dicantumkan ]
Sumber : Http://www.kapanlagi.com/film/indonesia/rumah-tanpa-jendela-keindahan-dalam-kekurangan.html
Film yang diangkat dari cerpen Jendela Rara ini mengisahkan persahabatan tulus antara Rara (Dwi Tasya) dan Aldo (Emir Mahira). Rara yang ingin memiliki jendela di rumah kumuhnya, selalu percaya bahwa suatu saat keinginannya akan terkabul. Sementara Aldo, anak berkebutuhan khusus, yang membutuhkan teman yang mengerti dirinya. Rara, tinggal berdua dengan Ayahnya (Raffi Ahmad) dan Neneknya (Ingrid Widjanarko). Di sepetak rumah bedeng kawasan kumuh pemulung. Rumahnya tanpa jendela, karena bedeng itu harus siap digusur kapan saja. Impiannya mendapat udara segar di pagi hari dan menatap bulan sebelum tidur tetap menhantuinya. Sementara Budhe Asih (Yuni Shara) kakak ayahnya memilih meninggalkan rumah tersebut dan menjadi WTS. Tanpa sengaja, saat menjadi ojek payung, Rara bertemu dengan Aldo. Di tempat kursus melukis, Rara melihat lukisan rumah Aldo yang banyak jendela. Tertarik dengan gambarnya, Rara sengaja menunggu Aldo keluar. Sambil menawarkan ojek payung, Rara mengungkapkan kakagumannya pada gambar Aldo. Malang, setelah menerima bayaran ojek, Rara kecelakaan. Bersama dengan Neneknya (Aty Kanser). Aldo membawa Rara ke rumah sakit dan mengantarnya pulang. Di gubuk reot itulah, Aldo menemukan banyak teman. Di sana ia juga melihat rumah singgah Rara. Melihat teman-teman Rara yang tulus menjenguk, Aldo merasa nyaman. Ia senang berteman dengan mereka. Selain menyumbang banyak buku, Aldo juga mengajak Rara dan teman-temannya bersenang-senang di rumahnya. Orangtuanya yang sibuk nyaris tidak memperhatikan Aldo. Saat pesta ulang tahun kakak perempuannya, Aldo membuat kejutan dengan menari di panggung bersama Rara dan teman-temannya. Ternyata hal itu justru membuat kakaknya malu. Aldo sedih sekali saat kakaknya menyebut dirinya aneh. Sementara pada malam yang sama saat pesta berlangsung ayah Rara mendapatkan kusen jendela bekas. Neneknya yang sendirian di rumah, batuk berdarah, hingga tak sadar saat menyalakan kompor, rumahnya terbakar. Dua sahabat yang dirundung kemalangan, saling menguatkan mengatasi keadaan. Berdua mereka kabur dan membuat semua keluarga bingung. Terkadang kita tak menyadari bahwa yang kita miliki adalah yang paling berharga dalam diri kita. Film ini memiliki cerita yang kuat dan nyaris sempurna karena semua scene terhubung dengan baik. Lagu-lagu dan polah polos anak-anak dalam setiap drama musikal yang muncul menambah keindahan dalam film ini. Alur yang dibawa film ini juga tertata dnegan baik, sehingga bisa menjaga emosi penonton sampai akhir. Untuk film keluarga, film ini sangat layak Anda tonton bersama dengan seluruh anggota keluarga. Karena pesan yang disampaikan selain kuat juga mudah dipahami.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia