Pencarian pada:
 
Detail Cantuman Filmografi
Judul Film : Sumpah Si Pahit Lidah
Sutradara : Dasri Yacob
Produser : Leonita Sutopo
Pemeran_utama : Advent Bangun; Tobing, Arthur
Pemeran_pembantu : Yan Bastian; Toma Gagah Satria; Sudarmi Suyadi; Camelia Malik; Telly Hendriana; Jamal Jentak; Supranto, K; Tutty Munte; Usman Jiro; Johny Anwar
Keterangan : Dirilis tahun 1989.
Deskripsi_fisik : Film berwarna; durasi 96 menit
Media : Seluloid
Subjek : [ Tidak dicantumkan ]
Bahasa : Bahasa Indonesia
Penulis_skenario : Buce Malawau
Penulis_cerita : Ismail Jalili
Penata_artistik : Ruslan Basrie
Penata_suara : Ibnu Hassan
Penata_musik : Nuskan Syarief
Penata_foto : Tjutju Sutedja
Penyunting : Djuki Paimin
Soundtrack : [ Tidak dicantumkan ]
Judul_lain : [ Tidak dicantumkan ]
Catatan : [ Tidak dicantumkan ]
Sumber : Katalog Film Indonesia 1926-1995 / JB Kristanto.-- Jakarta: Grafiasari Mukti, 1995

Setelah mengalahkan Rie Tabing (Arthur Tobing), Si Pahit Lidah (Advent Bangun) pergi bertapa, sementara Rie Tabing mengadu pada gurunya Si Mata Empat (Yan Bastian), yang malah memarahinya karena kecurangan dan keserakahannya. Selesai bertapa, Pahit Lidah menjenguk dari jauh anaknya dari bidadari yang diasuh neneknya. Ia diam-diam memberi hadiah kijang pada Dirut (Toma Gagah Satria), anaknya itu. Dirut juga diam-diam berulang kali menjenguk ibunya (Camelia Malik) yang membantunya memancing ikan, hingga suatu hari bisa berjualan saking banyaknya perolehannya. Pahit Lidah berkelana terus untuk menegakkan keadilan. Karena ini pula, ia bentrok kembali dengan Rie Tabing, yang kali ini berhasil dihabisinya. Mata Empat yan dilapori tetap menyalahkan muridnya. Di lain kesempatan, Pahit Lidah yang hendak membantu meningkatkan kemakmuran satu desa mengusulkan agar penduduk membendung sungai. Usul ini dilawan para tua-tua di desa itu. Malah mereka dengan licik bisa mengadu Pahit Lidah dan Empat Mata dengan mengadakan sebuah pesta. Mereka bersama-sama tertarik pada putri raja. Pasal itulah yang membuat keduanya adu kesaktian. Keadaan berimbang. Mata Empat lalu berlaku licik, hingga Pahit Lidah tewas. Keserakahan Mata Empat membuat dirinya juga tewas. Ia ingin mereguk kesaktian Pahit Lidah. Akibatnya dia sendiri tewas. Pertandingan akhir ini disaksikan pula oleh Dirut, yang sudah diberitahu ibunya.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia