Pencarian pada:
 
Detail Cantuman Filmografi
Judul Film : Marsinah: Cry Justice
Sutradara : Slamet Rahardjo Djarot
Produser : Gusti Randa
Pemeran_utama : Megarita; Dyah Arum
Pemeran_pembantu : Tosan Wiryawan; Intarti; Liem Ardianto Lesmana; Djoko Ali; Suparno; Pritt Timothy; Handoko Surya Wijaya; Kemal Rudianto; Djoko Ari Purnomo; Marwito
Keterangan : Jakarta: PT Gedam Sinemuda Perkasa, 2002
Deskripsi_fisik : Film berwana; durasi 115 menit
Media : Film layar lebar
Subjek : Film tragedi hukum
Bahasa : Bahasa Indonesia
Penulis_skenario : [ Tidak dicantumkan ]
Penulis_cerita : [ Tidak dicantumkan ]
Penata_artistik : Berthy Ibrahim Lindya
Penata_suara : Tri Rahardjo
Penata_musik : Djaduk Ferianto
Penata_foto : Yudi Datau
Penyunting : Tri Rahardjo
Soundtrack : [ Tidak dicantumkan ]
Judul_lain : [ Tidak dicantumkan ]
Catatan : Film ini diangkat dari kisah nyata tentang Marsinah, seorang aktivis dan buruh di sebuah perusahaan jam tangan di Sidoarjo yang ditemukan tewas pada 8 Mei 1993. Film berbiaya sekitar Rp 4. milyar ini sempat menimbulkan kontroversi. Salah satu penyebabnya adalah munculnya permintaan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jacob Nuwa Wea yang meminta pemutaran film itu ditunda. Produser film ini juga disomasi oleh mantan Kepala Seksi (Kasi) Intel Kodim 0816/Sidoarjo Kapten (Inf) Sugeng dengan tuduhan melakukan pencemaran nama baik. Film ini masuk nominasi Festival Film Indonesia 2004 dalam tujuh kategori: Film Terbaik; Sutradara Terbaik (Slamet Rahardjo); Aktor Terbaik (Tosan Wiryawan); Aktris Pendukung Terbaik (Megarita); Skenario Terbaik (Agung Bawantara, Eros Djarot, Karsono Hadi, dan Slamet Rahardjo); Sinematografi Terbaik (Yudi Datau); Penata Artistik Terbaik (Berthy Lindia Ibrahim); Hanya Berthy Lindia Ibrahim yang akhirnya berhasil meraih penghargaan.
Sumber : Http://id.wikipedia.org/wiki/Marsinah_%28film%29
Buruh PT. Catur Putra Surya (CPS) berunjuk rasa. Para buruh dan petinggi PT CPS yang berdemo ditangkap oleh sejumlah oknum berbaju preman. Seperti yang biasa terjadi di rezim Orde Baru dulu, setiap orang yang diciduk oleh oknum aparat militer kerap mengalami siksaan. Tiga belas orang buruh yang ditangkap, semuanya dituduh PKI, sebuah stigma yang biasa diberikan masa Orde Baru dulu untuk orang-orang yang mengikuti aksi demonstrasi yang dianggap bisa mengganggu stabilitas keamanan nasional. Tak kurang delapan petinggi PT CPS yang ditangkap tanpa prosedur resmi, termasuk Mutiari selaku Kepala Personalia PT CPS dan satu-satunya perempuan yang ditangkap, mengalami siksaan fisik maupun mental selama diinterogasi di sebuah tempat yang kemudian diketahui sebagai Kodam Brawijaya. Setiap orang yang diinterogasi dipaksa mengaku telah membuat skenario dan menggelar rapat untuk membunuh Marsinah. Awalnya mereka semua mengelak terlibat, tapi akibat siksaan yang tiada henti, satu per satu akhirnya terpaksa mengakui perbuatan yang sebenarnya tidak mereka lakukan. Mutiari yang sedang hamil muda pun, tak urung keguguran saat diinterogasi. Menyadari istrinya hilang, suami Mutiari, Hari Sarwono mencari istrinya ke mana-mana. Mulai dari pabrik PT CPS hingga ke kantor polisi setempat. Bisa ditebak, hasilnya nihil. Dari informasi yang diperoleh dari seorang karyawan PT CPS, Hari mengetahui kalau istrinya dibawa oknum tak dikenal. Hari lalu mendatangi LBH Yayasan Persada Indonesia, Surabaya untuk mencari bantuan. Sementara itu, keluarga Hari merasa malu atas pemberitaan media mengenai pelaku pembunuhan Marsinah yang mengarah pada Mutiari dan rekan-rekannya, meminta Hari untuk menceraikan Mutiari. Hari yang yakin istrinya tidak bersalah, menolak permintaan keluarganya dan semakin getol mencari bantuan. Hari mendatangi SCTV Surabaya untuk menceritakan istrinya yang hilang. Di situ Hari juga mengungkapkan oknum yang terlibat dalam penangkapan istrinya, yang diduganya sebagai anggota militer. Berita seputar terbunuhnya Marsinah dan penangkapan karyawan PT CPS yang semakin gencar membuat aparat militer panik. Apalagi Hari bermaksud mempraperadilankan aparat atas penangkapan dan penahanan yang tidak sesuai prosedur. Aparat balik menekan Mutiari dan mempercepat proses pemeriksaan, dipindahkan ke tahanan Polda Jawa Timur hingga akhirnya Mutiari dipaksa menandatangani BAP dan diajukan ke pengadilan sebagai tersangka. Karena keburu diajukan ke pengadilan, gugatan pra peradilan gugur dan sidang Mutiari digelar lebih cepat dibandingkan rekan-rekannya yang lain sebagai ”hukuman” karena suaminya bersikeras mempraperadilankan aparat. Mutiari dan rekan-rekannya divonis bersalah oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Sidoarjo. Mereka mengajukan banding dan kasasi ke MA yang membebaskan mereka karena tidak cukup bukti. Sementara pembunuh Marsinah yang sebenarnya tak pernah terungkap.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia