Pencarian pada:
 
Detail Cantuman artikel
Judul : Awas, Pornografi sudah dalam Genggaman!
Gambar : [ Tidak dicantumkan ]
Penulis : Nunus Supardi
Subjek : Perfilman
Sabtu, 14 Agustus 2010

Oleh: Nunus Supardi (Wakil Ketua Lembaga Sensor Film)

Sungguh hebat prestasi Indonesia. Ketika berbagai surat kabar di Afrika Selatan sibuk meliput pertandingan sepak bola dunia (World Cup) yang ditonton oleh hampir seluruh penghuni bumi ini, masih sempat menyelipkan berita tentang tendangan bola pornografi yang tengah menyentak masyarakat Indonesia. Beredarnya video porno yang diperankan oleh orang yang diduga Ariel-Luna ternyata telahGo International. Selain koranThe New York Timesdi AS, koran di Afrika SelatanSaturday Star juga ada mengulas tentang kasus itu. Di bidang sepak bola, Indonesia memang kalah, tetapi di bidang produk pornografi ternyata menjadi pendatang baru.



Orang tua mana yang tidak khawatir terhadap keselamatan mental anak-anak remaja mereka? Gambar adegan seronok yang seharusnya hanya untuk orang dewasa, kini berada di dalam genggaman mereka. Dibantu oleh jempol tangan yang terampil dengan amat mudah dan cepat, gambar-gambar itu dapat dinikmati.



Sepuluh tahunan yang lalu, Prof. Dr. Fuad Hassan (almarhum) telah mengingatkan agar para orang tua, guru, dan tokoh agama berhati-hati terhadap kemajuan ekonomi, ilmu dan teknologi informasi. Generasi jempol dan mal bakal melanda remaja Indonesia. Peringatan itu kini telah menjadi kenyataan. Dengan jempol yang lincah para remaja dengan mudah mengunduh (down load) gambar-gambar porno dari internet kehandphone(HP). Bahkan dengan jempol-nya mereka merekam sendiri adegan porno yang dilakukan bersama pasangannya. Selesai sekolah atau hari libur bukan pulang ke rumah atau belajar, melainkan main ke mal sambil dengan jempol-nya memainkantoetsmendikusikan hasil unduhan atau karya rekam mereka bersama rekan-rekannya.

Seperti apakah potret Indonesia sekarang dalam kaitan dengan pornografi, internet, dan HP? Apakah betul telah mencemaskan?

Bukan yang pertama

Merekam adegan porno yang diunduh dari internet dengan kamera maupun HP, seperti yang sekarang sedang diributkan, bukanlah kejadian pertama. Pada tahun 2000 masyarakat dihebohkan oleh munculnya rekaman gambar yang berjudul Anak Ingusan yang mengisahkan dua lelaki bermain dengan seorang PSK di sebuah losmen.

Kemudian disusul oleh produk yang sama berjudul Bandung Lautan Asmara (2001) dan disusul lagi dengan judul Medan Lautan Asmara. Hanya selang beberapa bulan, muncul pula kasus CastingIklan Sabun yang melibatkan sembilan model cantik dalam berbagai pose yang direkam secara sembunyi-sembunyi, kemudian disusul oleh Gadis Baliku dan Ganti Baju.



Setelah itu mucul rekaman gambar porno yang direkam dengan menggunakanhandphone(HP) yang konon hanya untuk pribadi. Pelakunya tidak hanya kalangan orang dewasa (anggota DPR) tetapi kebanyakan justru anak remaja. Kita masih ingat kasus yang terjadi di Sidoarjo, Jombang, Jakarta, Medan, Bandung. Dan yang baru saya terjadi pada bulan Juni 2010, dilakukan oleh anak di bawah umur, terjadi di Wonosobo dan Magelang.



Maraknya perekaman adegan suami-isteri ke dalam HP para remaja, tidak dapat dipisahkan dari kehadiran berbagai media yang memuat gambar atau rekaman gambar yang berbau porno seperti: majalah, komik, poster, film, video games, CD/VCD/DVD yang didapat dengan mudah dan murah. Setelah muncul internet, serbuan itu semakin sulit untuk dibendung. Sebagai media pelayanan informasi tanpa batas isi (content), waktu, wilayah, usia dan jenis kelamin, internet telah menjadi santapan yang cepat, mudah, dan murah di semua negara.



Betapapun kuatnya benteng etika dan moralitas yang dianut masyarakat akhirnya akan goyah atau bahkan runtuh. Hasil survei Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terhadap 4.500 remaja di 12 kota besar di Indonesia tahun 2007, menunjukkan sebanyak 97% dari responden pernah menonton adegan porno. Dampaknya, sebanyak 93,7% pernah berciuman,petting, danoral sex; 62,7% remaja yang duduk di bangku SMP pernah berhubungan intim. Yang lebih menyeramkan, 21,2% siswi SMU pernah menggugurkan kandungan (sumber:http://erwin-informasi. blogspot. com).



Seberapa dahsyatkah serbuah pornografi yang disiarkan melalui internet terhadap masyarakat Indonesia? Dari data hasil penelitian seorang ahli komputerMr.Jerry Ropelatopadatahun 2007,yang diberi judulPornography Statistics,kita akantahu bagaimana dan di mana posisi Indonesia dalam penggunaan situs porno di internet.(Sumber:internet-pornography-statistics.com).

Posisi Indonesia

Dari penelitian itu disimpulkan bahwa bisnis pornografi pada tahun 2006 meningkat dibandingkan tahun 2005. Dari data jumlah produksi, jumlah pengakses, nilai jual, negara yang menjadi pelanggan, menunjukkan angka yang terus meningkat. Untuk menonton gambar porno ternyata telah keluar biaya sebesar $3,075.64setiap detik. Lalu, berapa jumlah pemakainya? Tercatat setiap detik 28.258 kali pemakai internet memilih pornografi untuk ditonton, yang sesungguhnya hanya untuk konsumsi orang dewasa. Lalu, berapa banyak produksi video porno yang dihasilkan?



Bisa dibayangkan betapa suburnya bisnis ini, karena di AS setiap39menit dihasilkan sebuah video porno yang baru. Industri ini, pada tahun 2006, ternyata mampu menggerakkan bisnis senilai US$97.06 miliar atau sekitar Rp976 triliun. Ini berarti telah menyisihkan pendapatan gabungan perusahaan top dari Microsoft, Google, Amazon, eBay, Yahoo!, Apple, Netflix dan EarthLink.



Jika produksi video porno di AS sebanyak 39 buah setiap menit, lalu ke mana produksi itu dilempar? Ternyata, pangsa pasar terbesar justru sejumlah negara di Asia. Pendapatan pornografi terbesar ada di tangan China sebesar US$27,4 miliar atau sekitar Rp270 triliun. Tempat kedua diduduki oleh Korea Selatan dengan pendapatan sebesar US$25,7 miliar sama dengan Rp250 triliun. Di urutan ketiga, bertengger Jepang dengan US$20 miliar atau sekitar Rp200 triliun. Filipina menduduki urutan kesembilan, sedangkan Taiwan di urutan kesepuluh. Sementara itu negeri Paman Sam sebagai produsen, berada di urutan keempat dengan pendapatan sebesar US$13,3 atau sekitar Rp13 triliun.



Di samping sebagai produsen video porno, AS juga nomor satu dalam jumlah halaman porno dalamwebsite. Pada tahun 2007, AS telah mencapai 244.661.900 (89%). Urutan kedua ditempati Jerman 10.030.200 (4%), sedangkan urutan ketiga diraih oleh Inggris dengan 8.506.800 (3%) halaman.



Untuk wilayah Asia, ternyata Jepang menjadi salah satu dari 9 negara produsen situs, yakni besar dengan produksi sebanyak 2.700.800 halaman. Sementara itu, jumlah pemakai situs berdasarkan usia: antara 18-24 tahun sebanyak 13.61%, antara 25-34 tahun sebanyak 19.90%, antara 35-44 tahun sebanyak 25.50%, antara 45-54 tahun sebanyak 20.67%, dan usia 55 tahun ke atas sebanyak 20.32%.



Wanita ternyata juga banyak yang menggemari situs porno. Jumlah wanita yang kecanduan pornografi sebanyak 17% dan yang mengakses pada saat kerja sebanyak 13%.



Kini perhatian kita alihkan ke penelitian minat anak/remaja pada situs porno. Sebagaimana disebutkan di atas, setiap detik ada372orang pemakai mengetik kata kunci situs itu, yang sebenarnya hanya untuk orang dewasa. Ternyata anak/remaja masuk di dalamnya. Pengaksesnya rata-rata usia anak 11 tahun yang mulai berkenalan dengan situs porno, sedangkan untuk kelompok berumur 15-17 tahun jumlahnya pemakainya cukup besar (80%).



Ditambah lagi, ada pula yang disebut dengan Pornografi Anak(Child Pornography).



Apa isinya? Cocokkah untuk pendidikan anak-anak? Padahal, menurut jaringan yang bernama Gnutella, dalam satu hari, masuk permintaan sebanyak 464.000 pencari. Jumlah yang amat banyak. Mungkin saja di antaranya adalah anak atau cucu Anda yang telah menjadi pelanggannya. Kenyataan inilah yang membuat KPAI dan Aliansi Selamatkan Anak Indonesia (ASAI) khawatir.



Bisnis pornografi melalui internet telah menyerbu ke seluruh negara. Lalu, di mana posisi Indonesia di tengah-tengah serbuan itu? Ditilik dari pemakaiankeywordatau kata kunci untuk membuka situs porno, Indonesia ternyata sudak masuk kategori 10 negara besar sebagai pengakses situs porno.



Memang, dari kata kunciPORN Indonesia tidak masuk dalam 10 besar. Urutannya adalah: Afrika Selatan, Irlandia, New Zealand, Inggris (UK), Australia, Estonia, Norwegia, Kanada, Kroasia, dan Lithunia. Demikian pula halnya dengan kata kunciXXX, urutannya adalah: Bolivia, Chili, Rumania, Ekuador, Pakistan, Peru, Meksiko, Slovania, Lithunia, dan Kolumbia. Namun, untuk kata kunciSEX,Indonesia menempatiurutan 7(Pakistan, India, Mesir (Egypt), Turki, Aljazair, Maroko,Indonesia,Vietnam, Iran dan Kroasia).



Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa bisnis pornografi melalui internet telah merambah kalangan anak dan remaja di seluruh dunia termasuk Indonesia. Dari jumlah permintaan melalui kata kunciSEX,ternyata enam dari 10 negara di dunia berasal dari benua Asia, dan Indonesia menduduki urutan ketujuh. Amerika dan Eropa adalah negara produsen, Asia menjadi konsumen. Sungguh suatu serbuan yang tergolong dahsyat.



Bagaimana menghadangnya?



Dalam harianKompas(25/03/2010) diberitakan bahwa Australia berencana menerbitkan Undang-Undang (UU) untuk menyensor situs-situs internet. Rencana yang sudah digagas sejak Desember 2009 itu diarahkan pada pemblokiran informasi yang berhubungan dengan kekerasan seksual, obat-obatan terlarang, dan pornografi anak. Penyaringan akan dilakukan oleh penyedia jasa internet di bawah pengawasan pemerintah. Meskipun dua perusahan raksasa pengelola internetGoogledanYahoomengkritik kebijakan itu, tampaknya Australia tidak akan mundur.



Hal yang sama tetapi dengan alasan berbeda telah dilakukan oleh pemerintah China terhadap situsGoogle, sehingga mengundang ketegangan antara pemerintah China dan Amerika. China memintaGoogleuntuk melakukan sensor sendiri (self censorship) karena ditengarai isi informasi dariGoogleberkolusi dengan spionase AS. PortalGoogledi China (Google.cn) akhirnya hengkang dan pindah ke sebuah situs di Hong Kong.



Lain lagi dengan kasus terhadapGoogleBrazil. Situs ini tersandung masalah gugatan karena telah menayangkan isu lelucon jorok (dirty jokes). Gugatan yang diajukan oleh dua remaja yang keberatan dengan pemuatan lelucon jorok tersebut membuahkan hasil.Googleoleh pengadilan dinyatakan bersalah dan didenda sebesar $2.700 US per hari selama lelucon itu tidak dihapus.



Menghadang serbuan bisnis pornografi melalui internet bukan pekerjaan mudah. Hasil kemajuan teknologi ini telah membuat pusing banyak negara, terutama negara-negara berkembang. Di banyak negara berkembang, masyarakatnya rata-rata memiliki rasa keingintahuan yang tinggi tetapi belum memiliki daya saring (filtering) terhadap datangnya budaya baru. Sementara itu pemerintah juga belum siap untuk melindungi masyarakatnya karena belum memiliki perangkat hukum dan teknologi untuk melawan serbuan itu.



Pornografi yang dikemas melaui internet akan mudah masuk ke seluruh lapisan masyarakat. Di negara-negara yang menjunjung tinggi nilai moral (Islam) seperti Arab Saudi, Iran, Pakistan, Siria, Turki, Yaman, Emirat Arab, Mesir, Maroko, penghadangan dilakukan dengan ketat dan keras. Para pencari yang tertangkap, diadili dan dipenjara.



Lalu, bagaimana halnya dengan negara-negara yang mendewakan kebebasan seperti AS, Denmark, Swedia, Kanada, Prancis, Norwegia, Australia, Italia, dll? Sebagaimana dijelaskan oleh Mr. Jerry, di negara-negara tersebut, pihak yang pertama-tama melakukan pencegahan adalah orang tua dalam keluarga. Tanpa menggunakan alat pembantu apa pun, anak memiliki kesadaran untuk menghindarinya berkat pengarahan dan bimbingan orang tua. Kedua, adalah peran guru di dalam kelas.



Di AS, berkat bimbingan keluarga dan guru yang konsisten, kesadaran anak (self censorship) terhadap hal-hal yang dilarang, cukup tinggi. Anak-anak tidak akan menonton film, mengakses internet, membuka buku atau majalah khusus untuk orang dewasa. Cara inilah yang oleh Mr. Jerry dianjurkan untuk terus dimasyarakatkan. Selain itu, juga dijual alat High Tech penyaring (Internet Filter Software Review) untukmenambah lapis pertahanan keluarga dari serbuan pornografi yang tak dikehendaki. Harganya berkisar antara $28.99hingga$69.99. Sementara Australia akan menetapkan UU penyensoran internet.



Pornografi via internet, ternyata tidak hanya mendatangkan masalah bagi kejiwaan anak-anak, tetapi juga telah melemahkan produktivitas karyawan. Dari hasil penelitian Kantor Statistik Malaysia tahun 2000, terbukti bahwa antara pukul 09.00 hingga pukul 17.00, trafik situs pornografi meningkat volumenya sebesar 70%. Itu berarti para karyawan yang gemar pada situs porno telah menggunakan waktu kerjanya untuk menikmati gambar-gambar porno. Demikian pula halnya dengan hasil peneltian CBSMarketwatch, membuktikan bahwa 2/3 dari perusahaan-perusahaan di Malaysia telah menyalahgunakan internet untuk mengakses situs porno.



Menyadari betapa besarnya dampak negatif dari situs porno melalui internet, Malaysia membangun sistem penghadangan seperti di AS, yakni dengan sistem yang disebutiShield. Sistem ini mampu menganalisa dan menghalangi tampilnya gambar-gambar porno. Walaupun tidak 100% sempurna, sistem pencegahan ini boleh dikatakan mampu melaksanakan tugasnya (Maklumat: Majalah PC, Malaysia).



Tugas pertama ialah memproses, menganalisa, dan menentukan apakah gambar yang akan tampil itu porno atau tidak. Analisis diarahkan ke beberapa faktor, seperti warna kulit, tekstur, garis-garis objek, bentuk badan, bentuk kaki dan tangan, serta muka. Biasanya, bila mengarah pada gambar porno, hasil analisa akan keluar.



Tugas kedua, hasil analisa gambar dan teks pada layar digunakan untuk menentukan tahap kepornoan gambar tersebut. Selain itu, berkat adanya teks,juga dapat membantu menentukan jenis gambar yang akan dipaparkan. Jika teks pada situs tersebut mempunyai perkataan jorok yang biasa digunakan di kalangan pornografi, secara otomatis gambar itu diklasifikasikan sebagai gambar porno. Tugas ketiga, iShield akan menghalangi keluarnya gambar porno pada layar. Yang tampak pada layar ditukar dengan gambar lain yang tersedia dalamfilepengguna atau dengan menggunakan default iShield yang keluar berupa gambar berbentuk perisai.



Bagaimana cara penghadangan di Indonesia? Hasil penelitian Mr. Jerry, menunjukkan dari 14 negara di dunia, Indonesia menempati urutan kesembilan dalam hal kegigihan menghadang masuknya pornografi(Banning Countries Top Pornography).Urutan negara-negara yang dengan serius mencegah masuknya pronografi adalah: (1) Saudia Arabia; (2) Iran; (3) Syria; (4) Bahrain; (5) Mesir; (6) UAE; (7) Kuwait; (8) Malaysia;(9) Indonesia;(10) Singapura; (11) Kenya; (12) India; (13) Kuba; dan (14) China.



Meskipun Indonesia telah masuk kategori parah dalam hal jumlah pengakses situs pornografi (urutan ke-9 tahun 2006), bila dibandingkan dengan negara-negara Timur Tengah, AS, Australia, Brazil, China, dan Malaysia, tampaknya model penghadangan di Indonesia masih tertinggal. Dalam melakukakan kewajiban melindungi masyarakat dari pornografi oleh pemerintah, belum didukung oleh suatu program penghadangan yang terencana dan berkelanjutan.



Berbagai kasus yang pernah terjadi cenderung tidak jelas penyelesaiannya. Penegakan hukum masih lemah. Penerapan UU No. 44/2008, tentang Pornografi, UU No. 33/2002 tentang Penyiaran, UU No. 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan UU lainnya tidak (belum) berjalan secara efektif karena belum dilengkapi dengan peraturan pelaksanaan. Langkah pengawasan terhadap penjual (VCD/CD/DVD), pengusaha internet, dan pengguna internet juga masih lemah. Demikian pula halnya dengan peran orang tua untuk melakukan pengawasan dan pembimbingan masih kecil karena alasan sibuk dalam pekerjaan. Program pendidikan dan penanaman kesadaran anak/remaja untuk memiliki kemampuan melakukan sensor sendiri (self censorship) terhadap hal-hal yang dilarang berkenaan dengan pornografi nyaris tak terdengar, padahal pornografi sudah dalam genggaman mereka.



Untung ada relawan yang membangun sistem (DNS Server) yang dapat membantu pencegahan jenis-jenis isi yang negatif, yang tidak sesuai dengan peraturan perundangan, norma agama, sosial, adat istiadat dan budaya bangsa, termasuk pornografi. Sistem yang diberi nama Nawala Project memberikan kesempatan bagi para pengguna internet yang membutuhkan penyaringan (filtering) terhadap informasi yang negatif. Di samping melayani permintaan, Nawala Project memberikan pedoman yang jelas dan mudah bagi para pengguna untuk menggunakan sistem itu. Dalam pedoman dilengkapi pula pilihan kriteria yang disaring, antara lain: judi (gambling),malware, penyesatan (phising), pornografi,proxy, dan SARA. Apabila komputer sudah dipasangi sistem penghadangan ini, maka ketika orang membuka pilihan kata kunci yang ada kaitan dengan kriteria di atas, akan langsung muncul tulisan sebagai berikut:

Di samping langkah-langkah pencegahan seperti di atas, pemakaian sistem penghadangan yang berorientasi pada konsep pemikiran teknologi harus dijawab dengan teknologi seperti ini harus didukung oleh seluruh komponen masyarakat. Perlu ada langkah sosialisasi kepada masyarakat secara serius dan berkelanjutan. Seluruh kantor yang menggunakan jasa internet dan semua Warung Internet (Warnet) diharuskan memasang sistem ini, diikuti oleh pemantauan dan pengawasan secara ketat.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia