Pencarian pada:
 
Detail Cantuman artikel
Judul : Dimana Posisi LSF?
Gambar : [ Tidak dicantumkan ]
Penulis : H.M. Tjasmadi
Subjek : Perfilman
Oleh: H.M. Tjasmadi

Pengantar Redaksi:

Tulisan merupakan bagian dari sebuah artikel panjang yang pernah dimuat di Info-Haji Di Trend Letter (edisi 1 Agustus 2009). Diharapkan dapat membantu pembaca dalam mengenal lebih dekat tentang Lembaga Sensor Film (LSF).Menurut saya pribadi, LSF berada di antara dua kepentingan yang saling bertentangan, dan LSF harus secara arif dan bijaksana menjadi penengah yang adil dan bijak. Pertanyaan berikutnya, dua kepentingan apa sesungguhnya yang saya maksud dalam hal ini? Kepentingan mewujudkandas sollen(cita-cita atau harapan), dan memahami benar bahwadas sein(kenyataan yang ada hari ini) masih memerlukan banyak perbaikan dan peningkatan kualitas secara terus-menerus untuk menjadikan hari esok lebih baik dari hari ini.

Sekarang tiba pada pertanyaan yang paling fenomenal, bagaimana cara LSF untuk berada di antara dua kepentingan tanpa merugikan kedua belah pihak? Jawabannya cukup bersahaja, tetapi bukan berarti mudah untuk diwujudkan. Karena siapa yang harus melaksanakan tugas ini diprasyaratkan memiliki tiga hal penting sebagai pelengkap kepribadiannya, yaitu orang atau orang-orang ybs.

1. Seorang atau sekelompok orang yang berwawasan luas (pakar)

2. Orang-orang itu harus memiliki latar belakang pendidikan dan pengalaman yang cukup memadai (intelek)

3. Orang atau orang-orang dimaksud, arif dalam menjalankan tugas, tegas dalam mengambil keputusan, tetapi bijaksana

dalam menentukan keputusan – tanpa harus punya kepentingan lain – kecuali untuk kebaikan masa depan bangsanya

(berwawasan budaya).










STUDI KASUS

Yayasan Sains Etika dan Teknologi (SET) menyatakan bahwa:

- Mayoritas responden (47,2%) menilai televisi tidak memberi contoh perilaku yang baik

- Meski begitu, televisi berperan dalam menambah pengetahuan, memberi peringatan kepada khalayak seraya memberi

hiburan. Artinya, 52,8% lainnya menganggap, masih bolehlah?!?

- Di sisi lain, survei kualitatif Yayasan SET belum berdampak terhadap pengiklan. Mereka masih menggunakan survei

kuantitatif (ABG Nielsen sebagai pedoman) untuk menempatkan iklan.



Pada kenyataannya, itulah yang ada di tengah masyarakat saat ini. Artinyadas seinpertelevisian Indonesia memang masih begitu adanya. Kenyataan lain menunjukkan ada stasiun TV yang mau menyisipkan program tayangan yang berkualitas sebagaisocial participationdansocial responsibility.

Perhatikan hasil survei Yayasan SET:



KATEGORI TERBAIK DAN BERKUALITAS

Kategori Terbaik:

- Kick Andy (Metro TV)

- Apa Kabar Indonesia Malam (TVOne)

- Liputan Petang (SCTV)

- Seputar Indonesia (RCTI)

- Bocah Petualangan (Trans7)

Kategori Berkualitas:

- Oshin (TVRI)

- Kepompong (SCTV)



Yayasan SET juga memberi penilaian atas sejumlah materi siaran televisi yang dianggap tidak baik.



KATEGORI TERBURUK DAN TIDAK BERKUALITAS

Kategori Terburuk:

-Suami-Suami Takut Istri(SCTV)

-Muslimah (IndoSiar)

-Curhat dengan Anjasmara(TPI)

-Inayah (IndoSiar)

- Ronaldowati 2 (TPI)

-Termehek-Mehek (TransTV)

Kategori Tidak Berkualitas:

-Cinta Fitri 3 (SCTV)

-Nikita (RCTI)

-Melati untuk Marvel (SCTV)

-Air Mata Cinta (RCTI)



Yang dilakukan LSF



Pertama-tama yang harus dilakukan LSF adalah menyadari, bahwa:

1. DPR dan Pemerintah menganggap perlu ada LSF, karena ada film bioskop dan film televisi

2. Semua pihak dalam masyarakat menyadari benar bahwa film memiliki dua sisi yang sangat berseberangan. Di satu sisi,

membawa manfaat (media komunikasi massa yang memberi pencerahan). Di sisi lain, kalau tidak dirancang untuk dibuat

dengan baik dan benar, film mendatangkanmudharat(menyesatkan, merangsang hasrat birahi, kekerasan, dan

kekejaman)

3. Karena sifat ganda dari film itu, seringkali nyaris tidak bisa dibedakan dan dipilah secara tegas, manakala pertimbangan

bisnis menjadi acuan. Padahal yang positif itu sering mendatangkan kerugian bagi pembuat, sementara yang negatif

justru memberi keuntungan bagi pembuatnya.



Menjadi tugas dan tanggung jawab LSF untuk mendorong agar yang buruk mengurangi kadar keburukannya, dan yang baik mengimbuhi daya tarik agar punya nilai jual. Ini tidak mudah, karena kewenangan LSF hanya terbatas pada memberi saran dan pendapat. Untuk itu, Dr.Mukhlis PaEni, Ketua LSF acapkali mengundang para produser dan pemilik rumah produksi untuk mengingatkan bahwa LSF akan bertindak tegas, apabila film yang disensorkan tidak sesuai dengan pedoman dan kriteria penyensoran.



Tugas itu bukan tugas yang ringan, juga tidak bisa dilakukan serta-merta. Sebab, kalau secara ceroboh LSF mengambil jalan pintas dengan menolak habis semua yang kurang baik, yang terjadi adalahchaos. Kenapa? Bioskop dan televisi segera menutup pintu usaha karena kekurangan pasokan film, dan akibat langsung adalah sekian banyak aktor-aktris, sutradara dan para karyawan kreatif, termasuk para musisi dan pembuat cerita yang menggantungkan hidupnya pada dunia film akan kehilangan sebagian besar dari nafkah mereka. Sementara maungomprengke luar negeri, ngeri betul!



Sambil Menyelam Minum Air



Kalau ada dua lembaga yang disebut NGO, dalam tulisan ini sebut saja Yayasan SET yang mewakili kepentingandas sollen, dan ada ABG Nielsen yang mewakili kepentingandas sein. LSF sekarang ini menempatkan diri berada di antara dua kepentingan. Tetapi tidak bisa menjamin bahwa yang bagus-bagus itu memang ideal buat para pengusaha industri hiburan audio-visual. Sebaliknya tidak bisa memberantas habis yang buruk-buruk tanpa pertimbangan yang rasional, karena yang tergolong kurang baik itu justru sumber penghasilan mereka untuk menutupi kerugian-kerugian produksi yang punya kualitas danmerityang mereka putar di bioskop dan tayangan di televisi. Jadi ada subsidi silang.



Jangan lupa rumah produksiCinta Fitriadalah produser yang membuatAyat-Ayat Cinta, dan sedang mempersiapkan filmDi Bawah Lindungan Ka’abah; sedangkan rumah produksiNikitaadalah produser yang membuatKetika Cinta Bertasbih 1danKetika Cinta Bertasbih 2. Memang bagi yang tidak mengerti bisnis film, bisa bicara seenaknya. Tetapi yang mengerti, harus punya alasan yang kuat dan rasional untuk bertindak tegas. Sebab mereka perlu diberi kesempatan berubah secara bertahap.



Orang yang mengidap diabetes saja, ketika kadar gulanya lebih dari 300-400, tidak boleh serta-merta diturunkan menjadi 100. Sebab kalau terlalu drastis, bukan mustahil akandrophingga di bawah 60. Dalam keadaandropjustru akan menimbulkanlevensgevaar(bahaya yang mematikan).



Bisa kita bayangkan, dari sekitar 18-22 jam waktu penayangan materi di televisi itu, hanya lima jam yang disebutprime timeyang mendatangkan penghasilan bagi stasiun televisi (untuk yang membuat materi siaran maupun yang menyiarkan). Sementara untuk bioskop, dalam satu minggu, hanyaweek end days(Jumat, Sabtu, Minggu) waktu untuk pembuat film dan pengusaha bioskop beroleh kesempatan mencari laba. Artinya, 4/7 dalam seminggu merupakan hari-hari yang mengandung risiko rugi sangat tinggi,sedang 3/7 dalam seminggu yang diharapkan mendatangkan laba. Itu pun tidak selalu memenuhi harapan. Jadi untuksupplier(produser dan rumah produksi) maupunexhibitor(pengusaha bioskop maupun pengelola stasiun televisi swasta) harus pandai-pandai menjagaweek end daysmaupunprime timeitu benar-benar bermanfaat buat menjamin kelangsungan hidup usaha mereka.



TIGA TUGAS POKOK LSF

1. Garda Budaya Bangsa

2.Agent of Development

3.Agent of Acculturation



PENGAWAL BUDAYA BANGSA



Kata lain dari “garda” adalah “kawal” atau “pengawal”. Apakah budaya bangsa Indonesia dalam keadaan berbahaya? Dan apakah pengawalnya mampu mengamankan?



Pertanyaan itu bisa juga ditujukan kepada TNI-AD, AU, AL, dan Kepolisian RI. Apakah Negara Kesatuan RI dalam keadaan bahaya? Jawabnya adalah, dalam keadaan paling aman pun, setiap negara harus memiliki militer dan polisi, untuk berjaga-jaga sekiranya datang serangan dari luar bahkan dalam negeri. Artinya, TNI-AD, AU, AL, dan Kepolisian RI harus selalucombat readyuntuk menghadapi segala kemungkinan. Apakah TNI-AD, AU, AL, dan Kepolisian RI sanggup mengamankan NKRI, meskipun ALUTSISTA-nya saja kalah dari Singapura misalnya. Jangan lupa! Untuk membela negara tidak hanya dengan Alat Utama Sistem Persenjataan (ALUTSISTA), tetapi ada faktor yang lebih penting daripada itu,the man behind the gunyang terdidik, terlatih dengan baik, terampil, cerdas, dan punya tekad bulat untuk mempertahankan NKRI. Dan itu bukan omong kosong. TKR telah membuktikan merebut kekuasaan dari tangan Jepang. TNI telah mempertahankan kemerdekaan RI dari rongrongan serta gempuran NICA.



Nah, kalau berbicara tentang film, pada awal tulisan ini sudah saya sebut permasalahan yang cukup rumit. Karena yang dihadapi LSF bukan sekadar serangan fisik berupahardwaredansoftwaremedia komunikasi massa modern yang canggih, tetapi jugacontainyang ada di dalamsoftwareitu (film), baik itu sinematografi maupun videografi, rentan dengan kandungan yang tampaknya biasa-biasa saja, tetapi gambar dan suara bisa menyerempet-nyerempet ke arah yang tidak patut dilihat dan didengar oleh masyarakat – khususnya bagi mereka yangmentallybelum siap menghadapi keterbukaan informasi secara penuh!

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia