Pencarian pada:
 
Detail Cantuman artikel
Judul : Hindarkan Film Indonesia Jadi Kacung Hollywood
Gambar : [ Tidak dicantumkan ]
Penulis : [ Tidak dicantumkan ]
Subjek : Perfilman Indonesia
Jakarta - Surabaya Post

Film Indonesia jangan sampai menjadi kacung Hollywood. Karena itu untuk membangkitkan film Indonesia diperlukan upaya menemukan visi sendiri, dengan mengambil formula tidak hanya Hollywood tapi juga perfilman negara-negara lain, termasuk Iran film humanisnya sangat kuat. Hal itu dikatakan sutradara Garin Nugroho di hari pertama Lokakarya Perfilman Nasional, Rabu (29/4) yang digelar Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N). Menindaklanjuti ikrar Satu Tunggal yang dibacakan Rano Karno pada Peringatan Hari Film Nasional (30/3), yang intinya bertekad menghidupkan kembali perfilman Indonesia yang kini terpuruk.


Lokakarya yang berlangsung hingga Kamis (30/4) sore, dibuka oleh Wakil Ketua BP2N H Rosihan Anwar, dibuka Dirjen RTF Ir Dewabrata mewakili Menteri Penerangan/Kepala BP7 Prof Dr M. Alwi Dahlan. Dalam makalahnya berjudul Menyiasati Perfilman Nasional Menyongsong Era Pasar Bebas, Sumita Tobing PhD menggiring agar perfilman Indonesia meniru industri film Hollywood. Terutama dalam hal profesionalisme sumber daya manusianya .


Namun Garin Nugroho keberatan kalau perfilman Indonesia mengacu ke sana, sebab ia khawatir kita hanya akan jadi kacung Hollywood saja. Sutradara yang film terbarunya Daun di Atas Bantal masuk Festival Cannes ini setuju kalau Holyywood diambil formulanya saja, untuk digabungkan dengan formula-formula dari dunia perfilman lain, termasuk Iran yang sangat humanis. Gabungan


formula tersebut diharapkan jadi formula baru untuk membangkitkan elemen-elemen lokal perfilman Indonesia. Rano Karno menyadari betul bahwa era seperti sekarang ini menuntut pembenahan di semua bidang. Dan itu kuncinya pada peningkatan sumber daya manusia (SDM). Berangkat dari penjelasan


Sumita, kalau di Amerika Serikat terdapat 1100 universitas mengajarkan perfilman, Rano mengajak peserta lokakarya melihat universitas/lembaga yang mengajarkan perfilman. Jumlahnya dapat dihitung jari: antara lain Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dan MMTC (Multi Media Training Centre) di Yogyakarta. Ia mengimbau pemerintah agar memaksimalkan MMTC ini untuk kepentingan SDM. "Tapi visi kita tetang perfilman Indonesia seperti apa dulu? sanggah Dr Salim Said yang dikenal luas sebagai kritikus filmmerangkap pengamat politik/ABRI. Ia sependapat dengan Bustal Nawawi bahwa kita perlu memperjelas dulu visi perfilman kita, dalam arti mau seperti Hollywood, India, Hongkong, dan lainnya. Dalam kaitan dengan visi yang tidak jelas ini, pendidikan yang dilakukan sering mubazir. Sebagai contoh almarhum Wahyu Sihombing yang giat melatih mahasiswa IKJ. Tapi mereka tidak dipakai produser. "Untuk apa dilatih, kalau tidak dipakai produser," tandasnya.


Slamet Rahardjo selaku moderator menyadari apa yang diomongkan Bustal dan Salim Said tentang visi tersebut memang perlu. Karena itu masalah profesionalisme dan SDM yang dibicarakan di sesi pertama ini harusnya dibicarakan di bagian akhir. Sesi kedua lokakarya ini menampilkan pembicara Ali Shahab (masalah produksi), Hendrik Gozali (peredaran), dan Marseli Soemarno (apresiasi film dan tenaga SDM terdidik). Adapun pada hari kedua menampilkan pembicara Alex Kumara (manajemen pemasaran untuk broadcasting), Raam Punjabi (manajemen pemasaran film dari sisi sistem dan sarana), dan Ir Chand Parwez Servia (penyediaansarana pertunjukan). (yus)


Penulis : Garin Nugroho

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia