Pencarian pada:
 
Detail Cantuman artikel
Judul : Tanggung Jawab Internal dan Eksternal Masyarakat Perfilman
Gambar : 93Perpusnas Agustus s_html_7585bef4.jpg
Penulis : Drs. Adi Pranajaya
Subjek : Artikel

Oleh: Adi Pranajaya *)




MEMBUAT film adalah mudah bagi seorang yang mahir sebagai tukang membuat film. Tetapi bagi seseorang sineas, tidak cukup hanya mengandalkan keterampilan saja. Dia akan merasa perlu lebih menukik pada apa yang ingin diekspresikan. Maka sebenarnya, lengkaplah kalau dikatakan bahwa film adalah kerja citarasa kesenian yang menjadi satu dengan kemajuan teknologi mutakhir saat ini. 


Berbicara tentang citarasa berkesenian itu sendiri entah serius atau ringan, maka inilah yang sering kurang mendapat tempat. Sebagai contoh, sejumlah pertanyaan dapat kita lontarkan: Seberapa jauhkah sebuah cerita ditempatkan dalam kesusasteraan? Menempatkan ruang, gambar, warna ke dalam kaedah-kaedah seni rupa, adakah sebagai sesuatu yang juga terpikirkan? Bukankah unsur gerak itu adalah seni tari? Apakah tempo, irama, greget bunyi bukan termasuk seni musik? Bukankah berbagai bentuk konflik adalah seni drama? Dan seterusnya. Joseph M. Boggs dalam sejumlah analisisnya mengakui hal tersebut penting.


Keberadaan film di belahan dunia manapun, termasuk Indonesia, selalu berada dalam dua kurun yaitu sebagai kelanjutan dari genre film, dan film sebagai alat ekspresi atau biasa disebut d`atheur film. Kedua kurun ini selamanya akan dapat kita temui, dan sah karena masing-masing mempunyai penonton tetapi satu hal yang perlu mendapat catatan bahwa kedua kurun itu hendaklah terlengkapi oleh ambisi yang terimbangi oleh usaha dan kemampuan. Atau dengan kata lain, bakat mereka terasah oleh berbagai ilmu dan wawasan, yang kesemuanya memang memerlukan sebuah kesadaran baru, bahwa film yang hendak dibuat adalah produk yang diperuntukkan bagi masyarakat yang sama-sama sedang membentuk citranya di dunia berkembang yang sedang dijalaninya ini.


Film Indonesia, di mata sejumlah pengamat, kurang membawa tantangan ini sebagai landasan ideal sebagaimana yang diharapkan. Film Indonesia juga, menurut Teguh Karya, terlampau menuntut untuk dihargai selagi para pembuatnya tidak mencari atau membuat harga itu. Dan harga itu sesungguhnya dapat diperoleh pada saat kita menyadari bahwa kalau ada kata-kata, .....film bukan semata-mata barang dagangan, maka kita dapat segera menyusul, "Ya, karena media film juga dapat membuat masyarakat cerdas tetapi juga dapat membuat masyarakat bodoh"."


Di balik kesadaran ini sesungguhnya, harus dipertegas tugas atau tanggung jawab masyarakat (per-) film (-an), baik internal maupun eksternal.


Tugas atau tanggung jawab internal, menyangkut kualitas kondisi kedalam dan kajiannya meliputi



  1. Kondisi intelektual,

  2. Kondisi wawasan kebudayaan,

  3. Kondisi wawasan antropologi,

  4. Kondisi wawasan sosiologi,

  5. Kondisi wawasan psikologi,

  6. Kondisi penguasaan ilmu-ilmu film atau sinematografi, dan

  7. Kondisi bakat.


Kondisi intelektual, menuntut masyarakat perfilman memiliki kecerdasan dan mampu berfikir jernih berdasarkan ilmu pengetahuan terhadap berbagai persoalan baik tehnis maupun non-tehnis. Kondisi wawasan kebudayaan adalah wawasan tentang keseluruhan pengetahuan sebagai mahluk sosial yang digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalaman dan yang menjadi pedoman tingkah laku manusia. Kondisi wawasan antropologi, yakni ilmu tentang manusia, khususnya tentang asal-usul, aneka warna, bentuk fisik, adat istiadat dan kepercayaan kepada masa lampau. Kondisi wawasan sosiologi, adalah pengetahuan tentang sifat dan perkembangan masyarakat. Kondisi wawasan psikologi, kondisi wawasan ilmu pengetahuan tentang gejala dan kegiatan-kegiatan jiwa. Kondisi penguasaan ilmu-ilmu film atau sinematografi mencakup segala teori (termasuk sejarah dan kritik, sebagai unsur lain yang ketiga-tiganya merupakan satu kesatuan) yang berhubungan dengan upaya membangun sebuah film. Dan, kondisi bakat, adalah dasar (kepandaian, sifat, dan pembawaan) yang dibawa dari lahir.


Ketujuh kondisi ini, sebagai wujud tanggung jawab internal, haruslah terasah dan terus berkembang. Citarasa berkesenian yang tinggi, di samping terwujud karena - barangkali - bakat, juga adalah karena berbagai kondisi yang ada sebagaimana sudah disebutkan di atas. Dan kondisi-kondisi inilah sekaligus yang membedakan antara masyarkat perfilman (sebagai komunikator) dengan masyarakat penonton.


Sementara itu, tugas atau tanggung jawab eksternal masyarakat perfilman, adalah melakukan pembinaan bagi masyarkat penonton melalui media (film) sebagai alat ekspresi.


Dalam Pasal 5, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1992 tentang Perfilman disebutkan, bahwa: "Film sebagai media komunikasi massa pandang dengar mempunyai fungsi penerangan, pendidikan, pengembangan budaya bangsa, hiburan, dan ekonomi".


Secara implisit, film memang telah dianggap media yang paling efektif untuk melakukan pembinaan bagi masyarakat penontonnya. Namun ketika media ini disalahgunakan atau kurang membawa harapan-harapan ideal, maka kecenderungan yang terjadi adalah masyarakat kurang mendapatkan apa-apa selain sekedar hiburan (belum termasuk dampak negatif yang ditimbulkan).


Jadi sesungguhnya, film sangat dimungkinkan membuat masyarakat penonton cerdas sekaligus juga bodoh! (***)



* Adi Pranajaya adalah Kepala Sinematek Indonesia dan Pemerhati Film

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia