Pencarian pada:
 
Detail Cantuman Artikel
Judul : Mengapa Film Horor
Penulis : Hikmat Darmawan
Sumber : Http://new.rumahfilm.org/artikel-feature/mengapa-film-horor-1/#more-1139
Subjek : Perfilman

 Industri Bulu Kuduk

Anda berada di sebuah ruang gelap. Di hadapan Anda, tampak seorang perempuan muda sedang menyusuri kamar-kamar kosong dan gelap. Wajahnya tampak ketakutan. Ia merasa ada yang mengikuti, atau ada yang tersembunyi di rumah itu. Perempuan muda itu menengok ke kanan, ke kiri, dengan cemas. Anda sendiri tahu pasti, sangat pasti, bahwa sesuatu akan terjadi. Perempuan itu tiba-tiba tercekat, ia menyadari sesuatu. Dan tiba-tiba….AAARGGH!!

Anda tentu akrab dengan suasana di atas. Ya, setelah adegan mengagetkan di atas lewat (barangkali si perempuan muda itu selamat, mungkin juga mengalami nasib mengerikan), Anda akan mesem-mesem dan menengok ke kanan dan ke kiri Anda, sesama penonton, biasanya teman-teman Anda (menonton film macam begini paling enak ramai-ramai dengan teman, bukan?).

Dengan berbagai variasi, kira-kira begitulah suasana menonton film horor. Kok, mau saja, ya, kita membayar untuk ditakuti?

Film horor punya sejarah panjang. Sejak awal sejarah film di akhir abad ke-19, film horor telah ada, dan menempati posisi penting. Sejak penemuan awal teknologi dan teknik film yang mendasar, lanjut lewat rute ekspresionisme Jerman, lalu berkembang di berbagai domain industri film di seluruh dunia, hingga kita trendmutakhir film-film horor Asia, film horor berkembang terus.

Film horor juga tumbuh jadi bisnis yang penting. Saat ini saja, yakni pada 2-3 tahun terakhir, industri film Indonesia seperti didominasi oleh film horor. Film-film terlaris di Indonesia sejak 2001 hingga kini, banyak ditempati oleh film-film horor –di samping film-film cinta remaja setelah sukses besar Ada Apa Dengan Cinta?(2001, Rudi Soedjarwo).

Film Jelangkung (2001, Jose Poernomo & Rizal Mantovani), tercatat meraup penonton 748.003 orang di Jabotabek saja, sejak Oktober 2001 hingga Januari 2002. Terakhir, dalam tulisan “Selamat Datang di Republik Hantu (Edna C. Pattisina)” di Kompas, 25 Maret 2007, film ini bahkan disebut mencapai rekor 1,5 juta penonton.

Sukses ini agak mengejutkan, pada mulanya. Para pembuatnya tadinya tak berharap banyak. Mereka bahkan hanya punya ekspektasi diputar di Cineplex 21 paling 1-2 minggu saja. Lantas sesuatu yang aneh terjadi: berminggu-minggu, film ini tetap mengalami antrean panjang. Satu bulan, masih diantre. Dua bulan. Tiga bulan lebih, film ini bercokol di bioskop-bioskop papan atas Jabotabek!

Praktis, pada 2007-2008, film horor telah jadi andalan industri film nasional. Raam Punjabi, Madhu Mahtani, dan Shanker RS, tiga dari sekian produser yang lincah memanfaatkan peluang pasar film horor ini, mengaku bahwa film-film horornya bisa sampai menembus lebih dari sejuta penonton (Kompas, 25 Maret 2007). Film horor jadi tambang emas produser tahun ini. Belajar dari angka-angka kemilau film-film horor pasca-Jelangkung, siapa tak tergiur? Tusuk Jelangkung didaku merengkuh 1,3 juta penonton, sama dengan Kuntilanak.

Apalagi biaya produksi film horor lokal relatif lebih murah daripada film-film drama, misalnya. Ini karena film-film horor bisa diproduksi secara digital murni, dan tak memerlukan sistem bintang (bisa pakai bintang-bintang yang kurang dikenal, sehingga lebih murah). Rata-rata, biaya film horor adalah 2-2,5 milyar rupiah. Pendapatan sebuah film horor lokal yang bisa menembus angka sejuta penonton, menurut hitungan Kompas, kira-kira bisa mencapai hampir 8 milyar.

Sebetulnya, ada persamaan antara Ada Apa Dengan Cinta? dan Jelangkung: keduanya ditujukan untuk pasar remaja! Istilah pasarnya, “teen flick”. Film-film begini, mengasumsikan bahwa penonton terbanyak di bioskop-bioskop yang ada dalam mal adalah para remaja/ABG (Anak Baru Gede). Pasar ini menguntungkan: mereka konsumtif, dan selalu menonton ramai-ramai. Untuk melayani pasar ini, dirancanglah serangkaian pakem: tokoh-tokohnya harus remaja, cerita harus sederhana tapi mengalir cepat, soundtrack yang dinamis, dan sebagainya. Ada pun kebangkitan teen-horror-flick pada 1990-an sampai 2000-an ini, bisa dirujuk pada keberhasilan komersial Scream (1996, Wes Craven). Film ini berhasil menyegarkan kembali film-film horor/slasher yang sudah ‘basi’ karena terlalu banyak dibuat, dengan rumus-rumus yang sudah gampang ditebak, sejak marak pada 1980-an. Ada kepekaan posmodernisme dalam Scream: semangat bermain-main, ironis, sekaligus kaya referensi (tepatnya, self-referential).

Jangan kira ini hanya terjadi di Indonesia saja. Sejak sukses Ringu (1997, Hideo Nakata), dunia seperti dilanda demam J-Horror, hingga kini. Sampai-sampai Hollywood begitu bergairah membuat ulang banyak film-film horor dari Jepang, dirancang sebagai film-film box offices dengan bintang-bintang populer. Bahkan, tak hanya Jepang, belahan Asia Timur lainnya pun mengalami “kebangkitan film horor”, yang memengaruhi lanskap industri film dunia: Thailand, Korea, dan Hongkong.

Di Amerika dan Inggris pun, film horor seolah mengalami kebangkitan ulang pada periode 2000-an. Bukan hanya remake film-film horor Jepang, remake film-film horor Hollywood klasik pun tak kurang bergairahnya. Misalnya, Dawn of The Dead-nya George P. Romero, dibuat ulang oleh Zack Snyder, dan menjadi salah satu bagian kebangkitan para zombie di layar perak Hollywood.

Bukan hanya demam remake, beberapa sutradara generasi baru di Hollywood agaknya tertarik mengeksplorasi film horor sebagai wilayah kreatif mereka. Demikian juga di Australia dan Inggris –namun kedua domain film dunia itu relatif lekat dengan industri Hollywood juga, jadi dianggap satu bagian. Ada sutradara muda macam Eli Roth, yang sukses dengan horor indie-nya, Cabin Fever, dan menggarap Hostel yang sensasional karena sangat sadis –dan laris!

Barangkali, para sutradara itu terinspirasi oleh sukses The Sixth Sense (1999, M. Night Shyamalan) yang meraup penjualan sebesar 293,5 juta dollar di Amerika saja. Film berbujet kecil ini bukan hanya sukses secara komersial, tapi dianggap memuaskan secara intelektual. Film ini seperti membuka kembali kemungkinan eksploratif/artistik dalam film horor, seperti leluhur mereka –film-film horor di awal abad ke-20 yang bermutu artistik tinggi, dan diakui hingga kini. Atau, mungkin juga, para sutradara itu sekadar mau having fun saja, bersenang-senang dengan medium asyik bernama film ini.

Setiap masa punya horornya sendiri. Setiap masyarakat, setiap budaya, punya definisi sendiri tentang apa yang mereka anggap sebagai menyeramkan. Maka demikianlah, setiap masa melahirkan kisah-kisah horornya sendiri. Begitulah pula mengapa film horor dari masa ke masa, atau dari satu tempat ke tempat lain, punya kadar keseraman yang berbeda-beda.

Kadang, ada film-film yang menyentuh syaraf ngeri seolah secara universal –melintas waktu dan tempat (budaya). Elemen-elemen tertentu dalam film, apalagi yang dihidupkan dalam bioskop, dapat dieksploitasi untuk menghasilkan efek menakutkan pada penonton secara umum. Misalnya, suara. Musik bernada rendah, seringkali dari alat-alat gesek atau organ, lazimnya memberi suasana spooky atau angker. Jika tiba-tiba musik itu menjadi bising yang mengejutkan, atau meninggi nada dan suaranya, maka rasa takut pada penonton pun akan terpancing. Ingat, misalnya, musik yang bagai menjerit-jerit pada adegan shower dalam film Psycho(Sutradara: Alfred Hitchcock).

Efek suara yang mengejutkan memang teknik termudah memancing rasa takut. Bukan hanya musik, sumber-sumber bunyi lain pun bisa dieksploitasi. Misalnya, suara guntur, jeritan, raungan, dan sebagainya. Apalagi jika dijalin dengan unsur visual seperti setting waktu (misalnya, malam –apalagi malam ketika hujan lebat) dan tempat (seperti gedung tua, atau kuburan).

Tokoh-tokoh tertentu, atau penggambaran tokoh-tokoh tersebut, pun bisa dengan mudah memancing rasa takut: para “monster”, misalnya –yang biasanya digambarkan bersosok aneh dan cacat. Ada monster hasil penyimpangan alam, seperti mutan, “alien”, atau tubuh-tubuh “abnormal”. Ada monster yang mengatasi alam (supernatural), seperti vampir atau drakula atau setan dari neraka. Ada juga manusia bersifat “monster”, karena intensinya yang merusak atau membawa maut bagi orang lain.

Walau unsur-unsur filmis tersebut bisa kita harapkan sebagai hal yang menakutkan secara universal, tapi ternyata belum tentu juga. Tampilan monster, misalnya, belum tentu menakutkan di suatu masyarakat. Bahkan tampilan monster dalam film di sebuah masyarakat pada era tertentu pun belum tentu akan menakutkan di era lain pada masyarakat yang sama.

Masyarakat di berbagai belahan dunia memang berbeda satu sama lain. Apa yang menakutkan di Jakarta belum tentu membuat takut di New Delhi atau Ontario, Kanada. Apakah masyarakat pinggiran Ontario akan ketakutan dengan isu “Kolor Ijo”? Atau “Sundel Bolong”? Apakah kelelawar dan burung hantu akan menakuti warga Bekasi?

Lagipula, masyarakat berkembang semakin kompleks. Pada 1950-an, film-film B yang mengeksploitasi monster-monster dengan efek spesial murahan bisa cukup menakuti penonton mereka ketika itu. Jika dilihat oleh penonton masa kini, kebanyakan film-film “menakutkan” itu terasa culun dan bloon saja. Sesuatu yang sangat mengejutkan pada saat pertama muncul, akan jadi rumus membosankan setelah beberapa dekade.

Dengan kata lain, film horor terkait erat dengan keadaan masyarakat. Tentu, semua film (bahkan semua produk budaya/seni), dengan taraf yang beragam, terikat dengan keadaan masyarakat mereka. Namun, film horor memiliki ikatan yang unik: mau tak mau, film horor bergerak di wilayah gelap sebuah masyarakat. Film horor hendak menakuti penontonnya, dan untuk itu ia meraih, menggapai-gapai, daerah gelap itu: mimpi-mimpi buruk, prasangka-prasangka irasional, kecemasan-kecemasan yang tumbuh dalam suatu masyarakat.

Seperti kata Greg McLean, ketika ditanya soal adegan-adegan penyiksaan yang amat realistis dalam filmnya, Wolf Creek, yang menyebabkan sebagian penonton (perempuan) berhamburan keluar bioskop, “…aku percaya, adalah tugas seorang seniman …untuk ‘tak memalingkan wajah’ dari dunia kita dan dari pengalaman manusia: baik momen-momen tergelap kita maupun momen paling membahagiakan kita.” (Empire, November 2005)

Namun, dalam posisi tersebut, seniman pembuat film horor berjalan di sebuah titian serambut dibelah tujuh: kapankah sebuah pernyataan artistik terjatuh pada eksploitasi murahan?

Sebelum kita beranjak lebih jauh pada pertanyaan itu, ayo kita dalami dulu seluk-beluk pengertian dan sejarah film horor.

Film Horor, Apa Sih?

Film horor adalah salah satu genre utama dalam film. Genre adalah sekumpulan pakem dalam unsur-unsur naratif. Dalam film, unsur-unsur naratif yang terpola itu tentu mencakup unsur-unsur visual.

Genre film horor kurang lebih adalah sekumpulan film yang dimaksudkan untuk memancing atau menerbitkan rasa takut pada penonton.

Menurut Wikipedia, film horor adalah:

…are designed to elicit fright, fearterrordisgust or horror from viewers. In horror film plots, evil forces, events, or characters, sometimes of supernaturalorigin, intrude into the everyday world.

(…dirancang untuk menerbitkan rasa ngeri, takut, teror, jijik, atau horor dari para penontonnya. Dalam plot-plot film horor, berbagai kekuatan, kejadian, atau karakter jahat, terkadang semua itu berasal dari dunia supernatural, memasuki dunia keseharian kita.)

Dalam pengertian ini, film horor memusatkan diri pada tema kejahatan (evil) dalam berbagai ragam bentuknya. Rasa takut, teror, jijik (sebuah rasa yang menarik kita bahas nanti, khususnya dalam membahas film-film horor Indonesia), atau horor adalah efek yang diinginkan.

Evil” atau kejahatan dalam pengertian Barat (Eropa-Amerika) sangat dipengaruhi oleh mitologi iblis dan kejahatan dalam tradisi Yudeo-Kristiani. Pertama-tama, tumpang-tindih antara pengertian “kejahatan” dan “iblis” dalam bahasa Inggris. Memang, ada kata “devil”, yang lebih jelas menunjuk pada setan/iblis dalam Bahasa Indonesia.

Kedua, dalam tradisi Yudeo-Kristiani, “iblis” dan wadyabalanya (Satan, Lucifer, Beelzebub, segala jenis setan dari zaman antik, hingga ke setan-setan lokal di pelbagai daerah di Eropa yang di-‘angkat’ juga dalam tradisi Gereja lokal), sebagai perwujudan fisik dari kejahatan, biasanya mengambil bentuk makhluk buruk rupa yang menakutkan (monster).

BEDA “TEROR” DAN “HOROR”

Yang pertama kali membedakan antara “teror” dan “horor” dalam literatur modern adalah Ann Radcliffe. Ia mengangkat isu ini dalam sebuah esai tentang topik supernatural dalam puisi, pada majalah The New Monthly Magazine (1826). Dalam esai berbentuk percakapan imajiner itu, Radcliffe –seorang penulis horor “gothic” – menyatakan:

Terror and Horror are so far opposite, that the first expands the soul and awakens the faculties to a high degree of life; the other contracts, freezes and nearly annihilates them. (Dikutip dari Wikipedia)

(Teror dan horor amatlah bertentangan. Teror meregangkan jiwa dan membangunkan unsur-unsurnya hingga ke tingkat hidup yang tinggi; sedang horor mencekam, membekukan, bahkan nyaris memusnahkan jiwa dan segenap unsur-unsurnya.)

Davendra P. Varma, dalam The Gothic Flame (1966), yang mengangkat pembedaan dari Radcliff itu, lebih jauh menerangkan bahwa beda teror dan horor adalah seperti beda antara terciumnya bau kematian, dengan tersandung sesosok mayat. Bau kematian adalah sesuatu yang sumir, kabur, memicu imajinasi. Mayat, apalagi yang termutilasi, misalnya, adalah sesuatu yang gamblang, wujud kematian paling wadag.

Teror bergerak di wilayah ketakjelasan itu. Horor bergerak di wilayah gamblang: segala hal yang mengancam itu diwujudkan, wadag, langsung kita hadapi.

Keduanya bisa saling menyeberang. Sebuah kejadian supernatural, misalnya penampakan hantu dalam Sixth Sense (M. Night Saymalan), bisa mengandung teror sekaligus horor.

Kadang satu unsur lebih dominan dari yang lain. Iblis dalam Rosemary’s Baby(Roman Polansky), misalnya, hanya muncul dalam adegan seperti mimpi dan sepanjang film hanya muncul secara sugestif lewat percakapan, sindiran, dan bekas-bekas kehadiran yang tak bisa dipastikan. Toh kita merasakan kengerian yang dialami Rosemary. Sebaliknya, iblis(-iblis) di Evil Dead III: Army of Darkness (Sam Raimy), tampil di sekujur film dengan wajah-wajah buruk mereka.

Dalam praktik, penyebutan “film teror” kurang populer. Lebih sering, unsur-unsur teror dianggap sebagai bagian dari “film horor”.

Ada pengertian lain, tentu. Menurut sebuah artikel di filmsite.org, film horor:

…are unsettling films designed to frighten and panic, cause dread and alarm, and to invoke our hidden worst fears, often in a terrifying, shocking finale, while captivating and entertaining us at the same time in a cathartic experience.

(…adalah film-film ‘mengganggu’ yang dirancang untuk menakuti atau membuat panik, menimbulkan rasa ngeri dan waspada, dan untuk memancing berbagai ketakutan terburuk kita yang tersembunyi. Sering, pancingan itu ada dalam sebuah akhir kisah yang mengerikan dan membuat shock, sambil sekaligus menghibur kita dengan memberikan sebuah pengalaman katartik.)

Perhatikan bahwa dalam pengertian ini, film horor disebut sebagai film yang “mengganggu”. Film horor bukanlah untuk memberi kenyamanan, keindahan, atau suasana gayeng. Ia dirancang untuk menakuti, bahkan membikin panik.

Tersembunyi di balik kata “rancang” itu adalah sebuah desain: struktur, pola, bahkan pakem. Ada aturan-aturan khusus yang membuat sebuah film menjadi film horor. Dengan kata lain, film horor punya estetikanya sendiri. Tentu, kadang terjadi pelanggaran atau penyangkalan terhadap aturan-aturan itu. Pelanggaran dan penyangkalan ini bisa jadi membuka jalan bagi “estetika (film) horor” baru. Paling tidak, jadi jalan alternatif dalam estetika film horor.

Misalnya, Ringu atau The Ring karya Hideo Nakata. Banyak pakem horor yang dilanggarnya: hantu biasanya keluar malam, eh, di film itu, siang pun keluar. Seperti juga hantu-hantu dalam The Others (2001, Alejandro Amenábar), yang leluasa bergerak di siang hari, di dalam mau pun luar gedung. Atau film Martin karya George P. Romero, yang bercerita tentang vampir tanpa sedikit pun bekas supernatural dari mitologi vampir (Gereja? Tak takut! Bawang putih? Jangan bodoh! Taring? Yang diperlukan hanyalah silet, kok!)

Lucunya, segala rancangan untuk membuat ngeri dan syok itu, sekaligus juga agar kita terhibur. Definisi di atas cukup cerdas dengan mengkhususkan jenis hiburan yang ada dalam film horor: pengalaman katartik, atau pelepasan/pelampiasan. Kita akan bahas aspek ini dalam bab lain.

Film horor juga bisa dibedakan dari jenis-jenis film lainnya. Misalnya, dengan filmthriller. Jika film horor dirancang untuk menakuti penonton, maka film thrillerdirancang untuk menerbitkan rasa tegang atau cemas pada penonton. Sementarafilm misteri, dirancang untuk menuntun penonton meniti gerak maju dari hal-hal yang tak diketahui (unknown) menuju yang diketahui (known) melalui penemuan dan pemecahan petunjuk-petunjuk yang tersebar di sepanjang cerita/film.

Dalam praktik, ketiganya saling bercampur. Sebuah film horor bisa mengandung unsur misteri dan biasa mengandung unsur thriller (ketegangan). Tapi film thrillerdan misteri belum tentu mengandung unsur horor.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia