Pencarian pada:
 
Detail Cantuman Artikel
Judul : Indonesia Tak Kenal Selera Pasar
Penulis : [ Tidak dicantumkan ]
Sumber : Http://obrolanlangsat.com/news/2011/03/09/8/indonesia_tak_kenal_selera_pasar.html
Subjek : Perfilman

Identitas film Indonesia dipertanyakan dan bahkan dinyatakan tak ada. Bahkan menurut sutradara Hanung Bramantyo, tidak ada film Indonesia. Yang ada hanyalah orang Indonesia yang membuat film. “Film Indonesia bukan lahir dari sebuah industri, tak ada industri film di Indonesia. Salah satu unsur penyebabnya adalah lokasi jualannya yang sangat terbatas,” kata Hanung, sutradara film Ayat-Ayat Cinta dan Sang Pencerah, dalam Obrolan Langsat kolaborasi dengan Bicara Film bersama Iman Brotoseno dan Paquita Wijaya pada Selasa (8/3) malam. Hanung menjelaskan selera pasar tidak dikenal oleh Indonesia. Di sini, produser atau pemilik uang-lah yang menyetir selera pasar perfilman Indonesia. Hanung secara pribadi pun tidak percaya adanya selera pasar film di Indonesia. “Semua itu hanya pola pikiran untuk komersil. Dan produser tentu hanya akan membuat film berbiaya murah dan berlaba besar,” tegas Hanung. Itulah sebabnya pelaku film Indonesia lebih sering dan banyak memproduksi film berlatar seks dan horor. “Ongkos produksi film horor hanya Rp 2 miliar. Dengan jumlah penonton 500 ribu, produser sudah dapat untung. Jadi mereka tidak akan pernah mentargetkan 1 juta penonton,” kata Hanung.

Intervensi produser Indonesia terhadap pembuatan film memang besar. Bahkan campur tangan itu mencapai urusan teknis seperti warna dan penyuntingan film. Ini semua dilakukan produser untuk menentukan nilai komersil film. Hanung memberi contoh bagaimana Ayat-Ayat Cinta diminta untuk mengadaptasi unsur teknis film India, Kuch Kuch Ho Ta Hai. Artinya, ketika ada film yang sukses di pasaran maka produser Indonesia akan berusaha melakukan cut and paste ke dalam film Indonesia  “Ini bertolak belakang dengan segala yang saya pelajari di Institut Kesenian Jakarta. Saya harus menghadapi produser yang idenya bertolak belakang dengan nilai estetis film. Misalnya bagaimana dia mengatakan warna warm dalam film tidak akan komersil,” ungkap Hanung yang mengaku terus menjalani proses dialektika hingga filmnya diapresiasi penonton. Sementara itu, Paquita mengaku selalu “memaksakan diri” untuk membuat satu film bagus setiap tahunnya. Paquita pernah bermain dalam film garapan Garin Nugroho, Bulan Tertusuk Ilalang, dan kini lebih aktif menjadi produser. “Saya tetap harus bertanggung jawab ketika membuat film, minimal tanggung jawab pada waktu. Namun saya juga tak perlu memikirkan apakah film saya harus laku di pasar. Perhitungan membuat film adalah sesuatu yang tidak bisa diprediksi,” tegas Paquita yang juga pernah mengeluarkan album musik solo. Masalah di film Indonesia, selain faktor produser juga ada pemerintah dan etalase alias tempat jualannya. Pemerintah selalu menarik pajak yang besar untuk film dan itu tak pernah kembali ke masyarakat sineas. Ini persis dengan ucapan produser Mira Lesmana dalam Forum DOT bulan lalu. “Pemerintah selalu menarik pajak dari orang film. Tetapi hasilnya tak pernah kelihatan. Dari dulu sekolah film tetap hanya satu di Indonesia. Namun kita tetap tak bisa terus menerus menyalahkan mereka, para sineas yang harus perlu terus meningkatkan diri,” tegas Paquita. 

Meningkatkan diri yang dimaksud adalah membuat film dengan upaya yang lebih keras. Misalnya bila membuat film horor yang berkualitas meski biaya produksi kemungkinan akan meningkat pula. “Film horor Indonesia ini sebenarnya kaya, tokohnya banyak dan mewakili budaya nasional. Bukan hanya pocong. Tetapi karena dibuat seadanya maka hasilnya pun seadanya pula,” kata Hanung. Namun ketika membuat film yang bagus pun ternyata tidak cukup untuk bisa mewarnai dunia film Indonesia lebih banyak. Tempat untuk memamerkan produksi film hanya sedikit. Jaringan bioskop hanya ada dua, salah satunya hanya ada di kota Jakarta dan Bandung. Pemerintah terlihat tak pernah berupaya menambah gerai bioskop. Tetapi Paquita tetap berpikiran positif di tengah situasi yang tidak kondusif. Masyarakat masih bisa menikmati film Indonesia yang bagus dan pada dasarnya semua film adalah hasil kreasi pembuatnya. “Tidak ada karya sampah, semua tetap sama. Yang membedakan kemudian hanyalah soal selera penonton masing-masing. Indonesia juga sudah punya kemajuan di film, misalnya kini sudah ada publisher,” tutur Paquita. Sebelum obrolan berakhir, Hanung pun mengatakan kreator film sebaiknya melakukan analisa mendalam lebih dulu sebelum berproduksi, membidik tepat presentasi segmennya dan menggunakan jiwa kreatif. “Dengan jumlah uang yang sama, sisi komersil tetap bisa digabung dengan idealisme. Semua tergantung kreator film tersebut. Semakin dia pintar bereksplorasi maka film itu akan berkualitas,” pungkasnya.

 

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia